
Rival sudah lepas kerja sore hari karena sudah berniat mengantar Yara pergi ke rumah sakit.
Hwaaaaaaaaa
Teriakan Yara dari arah belakang rumah membuat Rival kaget setengah mati. Rival berlari menuju belakang rumahnya.
Tawa Rival pecah seketika melihat Yara terpojok sambil melihat dua ayam jago yang sedang bertarung. Lompatannya mengenai Yara berkali kali. Seekor angsa juga dengan berlari mengejarnya, lehernya yang panjang mengarah ke badan Yara.
Secepat mungkin Rival menangkap leher angsa itu dan menjauhkannya dari Yara, juga menyingkirkan kedua ayam jago yang sedang bertarung.
"Anak buah yang nakal. Bisa bisanya kalian menyerang permaisuri ku. Apa nasib kalian mau berakhir dalam wajan" gumam Rival sambil memasukkan peliharaanya ke dalam kandang.
Kaki Yara masih gemetar ketakutan. Ia melotot tajam melihat Rival.
"Bawa mereka kerja di Batalyon!! Ini khan anak buahmu mas, kenapa harus aku yang kasih makan?" kesal Yara.
"Biar mereka nakal tapi kalau terjual, semua uangnya khan juga pasti masuk kantongmu dek"
"Bisakah punya peliharaan yang tidak bikin keributan seperti ini? Mas suka sekali main ayam" tanya Yara.
"Ok..besok mas pelihara ular, dia hanya tidur dan tidak berisik. Kamu tau khan mas pecinta ular"
"Jangan mas, aku tidak suka semua yang mas suka" kesal yara
"Kamu pilih aku main ayam atau main perempuan?" tanya Rival menahan senyum.
"Ya ayam lah. Tapi aku tidak suka ayam. berisik dan kotor sekali" jawab Yara.
"Mas janji akan membuat petak yang jauh disana khusus ayam dan tidak sembarang berkeluarga seperti ini. ok sayang!" Rival mengusulkan.
--------
Rival sedang berganti pakaian dan sesekali bermain dengan Ben yang mulai lincah.
"Mas..sini!!!" ajak Yara dengan wajah khawatir dan ragu.
"Ada apa dek?" Yara menyerahkan sebuah benda kecil pada Rival untuk di lihat. Rival memperhatikan benda itu beberapa saat.
"Alhamdulillah Ya Allah.. Sehat-sehat ya kamu dek! ceweknya papa juga ya! jangan nakal dalam perut mama sampai waktunya anak kita lahir nanti" Rival memeluk Yara, menghapus haru di pelupuk mata.
"Apa mas tau ini perempuan? sembarangan!!. Tapi aku benar pakai kontrasepsi mas" ucap Yara meyakinkan.
"Lihat saja nanti ( senyum Rival )! Kita cek saja sekarang!" ajak Rival tak sabar.
__ADS_1
***
"Disini tidak ada tanda ada kontrasepsi yang sempat terpasang kemarin. Mungkin alat itu lepas dan istrimu tidak menyadarinya ( Farhan menoleh pada Rival ). Kandungan istrimu 5 Minggu. Masih kecil sekali, harus hati-hati dan tidak boleh kerja berat dulu. Ingat riwayat kehamilan istrimu" jelas Farhan sekaligus memperingatkan Rival. Rival mengangguk mengerti.
"Begitu ya! Istriku sehat saja dan tidak ada tanda kehamilan seperti mual dan lainnya"
"Belum paaakk... Tunggulah satu bulan lagi!" jelas Farhan. Rival hanya mengangguk tanda mengerti.
"Kakak Ben mau punya adik tuh. Jangan nakal sama mama ya! Kasihan mama kejar kakak terus" Arben hanya melihat layar monitor. Ia belum paham dengan apa yang terjadi. Usia yang masih sangat kecil untuk dapat adik baru.
-------
Rival memandang istrinya yang sedang membelai Ben dalam pangkuannya. Yara nampak bersedih. Rival tau pasti kegalauan hati Yara, tapi mau bagaimana lagi. Semua sudah terjadi.
"Jangan dipikirkan! Kita rawat dan kita jaga sama-sama" bujuk Rival.
"Mama bee mau makan apa?" belai Rival.
"Pulang saja ya mas! Aku nggak ingin makan"
"Mulai lagi nih dramanya. Kamu harus makan dek. Mau marah sama papanya, mau eneg liat papanya..tetap harus makan!" tegas Rival.
"Nah itu ada nasi Padang, Mau nggak dek" Rival tak putus asa membujuk istrinya yang polos dan manja itu.
***
Suara burung bersahutan menyambut pagi. Yara sudah menyiapkan sarapan. Pagi ini adalah ulang tahun Batalyon dan akan di adakan lomba.
Yara akan mengarahkan para istri anggota saja dan tidak partisipasi dalam kegiatan apapun sebab Rival sudah menegaskan dengan jelas agar dirinya tidak ikut banyak dalam kegiatan.
-------
"Ibu Rival mau ikut tarik tambang atau balap karung?" tanya Nathan pada Yara yang sedang mengarahkan istri anggota.
"Saya tidak ikut kegiatan pak Nathan" jawab Yara lembut.
"Waahh..mana bisa begitu. Harus partisipasi juga" ledek Nathan.
"Istriku tidak ikut kegiatan. Jangan paksa dia" Rival terpaksa menjawab Nathan yang begitu memaksa padahal Rival sedang sibuk dengan anggota lain.
"Tarik tambang saja ya!" Nathan akan mencatat nama Yara. Rival begitu kesal hingga menghampiri Nathan sambil melepas topi nya lalu memukulkannya di punggung Nathan.
"Cckk..kau ini selalu cari gara-gara denganku. Apa butuh alasan kalau aku menolak istriku ikut lomba"
__ADS_1
"Jelas saja. Itu tanda kita senasib dan sepenanggungan" jelas Nathan sok bijak.
"Ya..itu memang benar, tapi ada Chibi junior disini ( Rival mengusap perut Yara ). Apa kamu mau berhadapan dengan bumilku???" Nathan mengangkat tangan tanda menyerah.
"Astaga..kenapa para pejantan di sekitarku ini pintar sekali bikin penerus bangsa" Randy tak kalah kaget.
--------
Hari semakin siang, terik matahari kian menyengat. Olahraga belum juga usai di jam sebelas. Yara sudah memegang sisi tiang, ingin berjalan masuk ke ruangan Rival tapi jaraknya lumayan jauh. Ingin bersuara, tapi suaranya terasa hilang.
"Mbak Yara kenapa?" tanya Nesya tulus. Perutnya sudah besar menandakan ia sebentar lagi akan melahirkan. Sesekali Nesya juga memercing ngilu merasakan perutnya.
Yara tak bisa menjawab apapun. Nesya mengambil ponselnya lalu menelepon Nathan.
"Mas..tolong cari mas Rival. Mbak Yara pucat sekali di lapangan" Nesya sudah mematikan ponselnya, di lihatnya Rival sedang berbincang bersama anggota lain yang sedang memperbaiki papan di lapangan tembak.
"Bini lho mau tepar di lapangan. Cepat sana" Rival terkejut dan segera berlari ke lapangan. Tapi begitu di lapangan ia kembali terkejut. Istri Nathan sudah sangat kesakitan dan mau melahirkan.
"Lho dek..ini siapa yang sakit?" tanya Rival bingung.
"Tadi aku pusing mas, tapi mbak Nesya tiba-tiba sakit seperti ini. Pasti mau melahirkan, tolong cari mas Nathan" jawab Yara.
Astaga.. ada-ada saja sich.
Rival kembali ke tempat tadi saat ia sedang berbincang dengan rekannya. Kesal sekali Rival melihat tingkah Nathan yang asyik bermain dakon.
"Manis sekali kelakuanmu! Duduk manis bersila sedangkan istrimu kesakitan mau melahirkan"
"Jangan bercanda. Nesya hanya diare saja sejak malam tadi" jawab Nathan santai.
"Baiklah..kau jangan menyesal ya kalau tidak bisa menyaksikan anakmu melihat dunia" ancam Rival. Nathan berhenti bermain dan tertegun sesaat.
"Kau serius ting?" tanya Nathan lagi.
"Aahh.. kau ini lama sekali. Sejak kapan aku tidak serius?"
Mendengar jawaban Rival, Nathan kembali diam lalu ia berlari mencari Nesya. Di lapangan, Nesya sudah tidak tahan dengan sakitnya. Nathan baru menyadari betapa sulitnya seorang wanita harus melahirkan anaknya.
Rival sudah datang disana dan membantu mengangkat kaki Nesya masuk ke dalam mobil. Yara tidak mau melihatnya dan memalingkan wajah.
.
.
__ADS_1