
"Ada apa kalian berdua ini?" tanya Mbah Kakung sambil membawa tongkat mencari kemungkinan ada ular di sekitar bawah meja.
Tidak ada jawaban dari kedua yang pura-pura fokus dengan kegiatan masing-masing. Rival melirik Yara yang terlihat sangat salah tingkah.
***
Dua hari telah berlalu disana. Kini giliran Nathan harus pamit untuk membawa Vena bersamanya ke Kalimantan. Bagaimanapun juga sekarang ia mulai tidak bisa jauh dari Vena.
Sedikit perdebatan antara Rival dan Nathan di jalan. Bagaimana nasib Vena nanti jika Nathan harus bertugas yang bahkan mungkin harus berbulan-bulan lamanya.
"Biar aku saja yang mengurus Vena mas" ucap Yara menghentikan perdebatan kedua lelaki itu di dalam mobil.
"Nggak sayang!!" tolak Rival.
"Tapi mas, Vena juga butuh sosok seorang ibu. Apa mas tega membiarkan Vena tumbuh tanpa merasakan pelukan seorang ibu" Yara memangku dan membelai rambut Vena yang tidur di pangkuannya. Yara sedikit meringis karena Vena menekan perutnya. Rival menepikan mobilnya
"Mas tau maksudmu sayang. Tapi ada anakku dalam kandungan yang harus kamu jaga. Bagaimana sayangnya mas dengan Vena, tetap mas punya kewajiban dan tanggung jawab untuk mengingatkanmu, menjagamu dan anak kita. Mas juga paham perasaanmu, jangan berdebat lagi denganku"
"Sudahlah, masalah Vena akan kuselesaikan sendiri. Bagaimanapun dia adalah anakku. Aku ayah kandungnya, nanti akan kupikir caranya. Kalian jangan ribut karena Vena dan kamu Yara jaga kesehatanmu baik-baik, itu lebih penting" Nathan merasa tidak enak dan menengahi aura tidak nyaman yang terjadi pada mereka.
--------
Siang hari Yara duduk di bale panjang belakang rumah. Nathan sedang mengambil barang Vena, Mbah sedang berada di sawah, hanya tinggal Yara dan Rival di rumah. Yara melepas jilbabnya merasa panas dengan udara hari ini, tak sadar ikat rambut Yara putus dan mengurai rambutnya yang wangi.
"Aku senang menikmati istriku seperti ini kalau sedang berdua" Rival menyandarkan punggung Yara pada dadanya. Rival membelai perut Yara, angin semilir melegakan perasaan yang sangat bahagia. Ada gerakan kecil yang ia rasakan. Rival tersenyum menikmati setiap gerakan bayinya sambil memejamkan mata.
"Anak papa lincah sekali"
Mbah Kakung dan Mbah Putri sangat bahagia melihat kemesraan Rival dan Yara yang duduk berdua. Mereka tidak ingin mengganggu calon orang tua baru itu. Tak lama Nathan datang bersama Vena. Ia melihat Yara yang sudah tidur manis dalam dekapan Rival.
"Pantas saja..tanpa jilbabnya Yara sangat cantik sekali, dia juga wanita yang lembut dan sangat lugu. Tak heran jika Rival sangat tergila-gila dan mencintai Yara" gumam Nathan dalam hati.
"Ma-ma" sapa Vena yang tiba-tiba meluncur menekan perut Yara. Rival terperanjat kaget sigap menangkap Vena. Yara pun ikut terbangun karena kaget.
"Nat, hati-hatilah kamu ini" tegur Rival menghindarkan Vena yang lincah dari perut Yara.
"Maaf..maaf..aku nggak sengaja" ucap Nathan mencoba meraih Vena tapi gadis cilik itu tidak mau karena ingin di peluk Yara. Tanpa sengaja kaki Vena menendang perut Yara. Yara meraih Vena dan menenangkannya.
__ADS_1
"Aduh.. nggak apa-apa dek?" tanya Rival cemas melihat Yara meringis sakit. Yara hanya tersenyum.
"Ya sudah sini sama mama, tapi Vena harus menuruti mama dan papa ya!" Yara mendekap Vena, akhirnya Vena bisa tenang. Rival pun ikut mendekap Yara dan Vena.
Nathan masuk ke dalam rumah daripada harus melihat pemandangan keluarga kecil yang bahagia itu.
Mungkin jika aku dulu tidak bodoh, aku sekarang sudah memiliki keluarga indah itu dan mungkin juga kita sudah akan memiliki anak lagi. Aku kangen kamu Laras. Lihatlah anak kita sudah besar.
Sore sudah tiba. Rival, Yara, Nathan dan Vena berpamitan pada Si mbah untuk pergi ke Bali. Dengan berat hati Si Mbah mengantar mereka.
"Hati-hati jaga istrimu. Jangan bawa banyak beban" pesan Mbah Kakung.
Akhirnya mereka semua pergi menuju pulau Dewata.
***
Malam hari tiba. Mereka menuju sebuah penginapan dan menginap disana. Penginapan yang sangat kental nuansa pedesaan karena Yara jarang melihat pemandangan seperti ini.
Kamar Rival pun tidak berdekatan dengan kamar Nathan. Rival ingin memberi privasi untuk liburannya kali ini karena liburan ini hanya untuk menyenangkan hati Yara.
"Apa kamu suka tempat ini?" tanya Rival memeluk Yara dari belakang, sesekali bibirnya mendarat di sudut mata kiri Yara. Yara melihat kelap kelip lampu yang terhampar di atas sawah.
"Besok pagi kita jalan-jalan ya. Siang kita pergi kota. Kita hanya akan fokus pada liburan kita tanpa ada beban lagi" Yara sangat senang mendengar ajakan Yara. Tangan Yara melingkar pada tengkuk Rival. Yara mengecup pipi Rival berkali-kali.
"Mas kuat nggak gendong aku?" tanya Yara yang lebih mirip ejekan menurut Rival.
"Kamu kira kemarin siapa yang mengangkatmu saat kamu tidak kuat berjalan???" kesal Rival.
Tanpa aba-aba Rival langsung mengangkat tubuh Yara yang memang sekarang sudah lebih berasa bobotnya bagi Rival. Yara tersenyum manis manja.
Rival menidurkan Yara di ranjang king size di hadapannya.
"Tidurlah!!!" Rival memijat tubuh Yara pelan-pelan.
"Tidak usah mas, kita tidur saja" Yara memegang tangan Rival.
"Mas tau kamu sangat lelah, Sudah nikmati saja selagi suamimu bisa memanjakanmu. Kalau mas sedang penugasan, mas akan merasa sangat bersalah tidak bisa berbuat hal kecil seperti ini" Yara menurut, ia melirik suaminya..tak terasa air matanya menetes.
__ADS_1
Rival mengusap olive oil pada punggung Yara. Perutnya yang mulai membuncit membuatnya hanya bisa memiringkan badan saja.
"Tidak usah menangis lagi!!!!" ucap Rival sambil terus memijat punggung Yara. Walau Yara tidak berbicara, Rival seolah selalu tau apa yang di pikirkan istrinya.
"Aku ini tidak sembarang memijat wanita" bisiknya ikut tidur sambil mendekap Yara. Yara menoleh dengan tatapan heran, bagaimana bisa Rival tau isi hatinya.
"Saat Laras hamil dulu, tidak ada perlakuan spesial untuknya. Kalau ngidam..iya mas carikan. Beli perlengkapan bayi..iya mas temani, tapi tidak untuk hal-hal seperti ini. Mas tau lah batasannya"
Yara mengangguk pelan, menangis dengan mata yang mulai mengantuk hingga ia tertidur karena merasa sangat lelah.
Malam semakin larut, angin terdengar berhembus. Yara mengigau dalam tidur, ia terisak membangunkan Rival yang juga sudah terlelap memeluk Yara.
"Aku tidak ingin cemburu, aku tidak cemburu" Rival membelai lembut rambut Yara.
"Maaf kalau dulu aku mencintai dia, tapi semua hal yang kamu takutkan itu..hanya kulakukan padamu" gumam Rival.
***
Suara burung menyambut indahnya pagi ini. Rival meletakkan secangkir kopi yang di pesannya tadi di meja balkon kamar. Yara sedang berdandan di meja rias.
"Astaga sayang..make up biasa saja! udara disini panas. Kamu mau jalan-jalan atau main reog?? tebal sekali" Yara cemberut dan meletakkan alat make-up di tangannya.
"Mas pengen aku terlihat jelek biar mas bisa lihat bule cantik ya? yang bahenol berjemur di pantai seperti ikan tongkol?" ketus Yara.
"Nggak sayang!! maksud mas, pakai makeup tipis aja. Kamu sudah cantik" bujuk Rival melemahkan suara karena sebenarnya ia merasa khawatir banyak pria yang melirik istrinya, jujur Yara sangat cantik dengan make-up nya tadi.
Yara menipiskan make up menurut apa kata Rival. Rival pun tenang dan menuju toilet. Setelah selesai dengan make-up Yara berjalan ke balkon dan meminum kopi hampir tiga perempat cangkir dan mengabaikan susu hangat yang khusus Rival buatkan untuknya.
"Astagfirullah dek, kenapa kopi mas yang kamu habiskan!!" ucap Rival menahan kesal menghadapi bumil kesayangannya setelah kembali dari toilet.
"Aku nggak mau minum susu mas, mas saja yang habiskan!" jawab Yara enteng. Rival hanya bisa mengusap wajahnya menyabarkan hati.
.
.
***Haii semua. Apa kabar?? Nara harap pembaca semua sabar membaca tiap bab ya! Kadang kalian tidak suka comment tapi langsung bertanya. Nara jelaskan ya😊.
__ADS_1
Disini Yara adalah wanita yang tidak banyak tau dunia luar, lugu, juga di kisahkan sering sakit. Mengapa?? Disinilah poin penting untuk ketulusan hati Rival. Intinya Yara berusaha kuat dalam situasi dan "hidup baru" dari Zona nyaman yang di buat papa Randy dulu. Seberapa kuatnya Yara dan Rival menghadapi setiap konflik "keras" mereka😉***