Untuk Kamu 2 ( Cinta Terindah )

Untuk Kamu 2 ( Cinta Terindah )
68. Seorang King Cobra


__ADS_3

"Tolong pertahankan anakku" suara Rival tercekat memutuskan di antara perasaan yang bimbang.


"Ini akan sakit dan beresiko Val. Anakmu mungkin akan baik-baik saja tapi apa kamu yakin Yara akan kuat?" Farhan berusaha menjelaskan lagi.


"Aku terima resikonya. Cepat lakukan!!!" ucap Rival tidak tega melihat Yara, Rival menyembunyikan wajahnya dan tidak menatap Yara.


"Baiklah" jawab Farhan. Setelah obat siap, Farhan menyuntikan obat pada selang infus Yara. Tak lama obat itu bereaksi, Yara merasakan sakit dua kali lipat rasa yang tadi tapi seberapa sakitnya rasa yang ia terima kali ini, ia lebih tegar merasakannya hanya genggaman tangan erat yang merespon rasa sakit itu membuat Rival mengerti rasa sakit yang diterima istrinya.


Rival membelai puncak kepala Yara yang masih tertutup. David menggenggam erat sisi ranjang, hatinya pun tak tega melihat Yara.


"Kalau begini caranya, aku juga tidak tega Val. Maaf, aku pamit pulang saja" David berjalan cepat keluar dari ruangan. Tapi saat melihat Azizah, ia mengurungkan niatnya dan bersembunyi di balik dinding.


"Val, ular betina ada disini"


Rival menoleh, hatinya yang sudah sakit menjadi semakin sakit.


"Temani Yara, dia membutuhkan mu. Biar aku yang menyelidiki dan mengawasinya" cegah David yang melihat Rival ingin pergi ke arahnya.


"Apa motifmu sampai mau membantu ku bang?" nada Rival penuh penekanan.


"Aku tidak munafik Val, aku masih mencintaimu istrimu. Maaf!!"


"Aku hargai kejujuran mu bang, itu lebih baik" Rival menarik senyumnya walau dengan hati merasakan aura kecemburuan mulai datang lagi. Tapi saat ini ia tidak ingin ada perdebatan apapun. Pikiran Rival hanya terfokus pada Yara.


"Mas.." panggil Yara pada Rival. Rival menoleh pada Yara yang memejamkan mata, wajahnya memerah dan keringat membasahi wajah.


"Kenapa sayang? masih sakit sekali?"


"Tidak lagi. Aku ingin pulang mas. Ingin beristirahat di rumah" pinta Yara.


"Sabar ya! Mas harus tanya Farhan dulu. Kamu masih lemah seperti ini"

__ADS_1


Tak lama Naya datang dengan Mutia bersama Velly, Ay dan Ben. Mereka tidak berani mendekat pada Yara yang sedang terbaring di ranjang. Randy masuk ruangan bersama Reno.


"Ganti bajumu dulu!" Randy menyerahkan kantong berisi baju pada Rival.


"Iya pa" Rival menerima kantong baju itu tapi Yara menahan tangan Rival seolah tidak ingin di tinggalkan.


"Mas hanya mau mandi dek, bukan mau berangkat perang. Apa mau ikut mandi sama mas?" tanya Rival. Yara melepas tangan Rival, wajahnya memerah malu.


"Dasar tak tau tempat" gumam Randy. Hanya tawa terdengar dari mulut Rival sambil berjalan masuk ke dalam rumah mandi. David hanya bisa tersenyum membesarkan hati mengikhlaskan semua yang terjadi.


Naya mengusap pipi Yara dengan sayang. ia juga sedih melihat kondisi putrinya yang terbaring di atas ranjang.


"Mama tau Rival salah. Tapi kita tidak bisa menyalahkan semua keadaan yang sudah terjadi sayang. Kamu tau sifat suamimu keras dan frontal kalau sudah cemburu, tapi tindakanmu meminum obat sebanyak itu juga salah" air mata Yara menggenang.


Tampak para pria sedang berunding sesuatu termasuk David dan para wanita sedang menemani Yara. Rival sudah keluar dari kamar mandi dengan wajah lebih segar dan tampan.


Pintu kamar terbuka ada sosok wanita yang Naya kenal dan itu membuatnya syok. Yara pun tak kalah syok melihat mereka.


"Apa kabar bang?" sapa wanita setengah baya seumuran Naya pada Randy. Randy tak menjawabnya. Hanya senyum dari wajah wanita yang familiar di lihat semua.


"Apa dia calon menantu mama?" tanya Fahira sok lembut pada Azizah.


"Iya ma, tampan tidak?" tanya Azizah sambil maju mendekat ke arah Rival.


"Iya sayang. Sama seperti papa mertuanya" jawab Fahira.


Berhari-hari Rival menahan banyak beban yang tersimpan dalam dadanya. Tak bisa di ungkapkan lagi bagaimana beratnya seorang pria yang sedang memikul tanggung jawab berat untuk sebuah keluarga.


"Kamu tidak mencintaiku, tapi menginginkanku?? Terlalu serakah?" Rival berhadapan dengan Azizah mungkin hanya sekitar dua jengkal saja.


"Kamu sudah di hadapanku. Apa yang akan kamu lakukan sekarang?" sinis Rival. Dengan tak tau malu Azizah ingin mengecup bibir Rival tapi Rival menghindar.

__ADS_1


"Sayangnya ini bukan milikmu"


"Mungkin tidak sekarang, tapi nanti Yara dan mamanya akan menangis bersama saat kehilangan orang tersayangnya" ancam Azizah.


Kaki Naya gemetar mendengar ucapan Azizah. Yara menahan kesal dan cemburu dalam hatinya. Sedangkan Velly dan Mutia memilih keluar bersama anak-anak.


Rival menatap mata David.


"Tolong tutup tirainya bang!!" David melihat sebuah ketegaran yang di paksakan dari wajah Rival. David menutup tirai dengan cepat agar Naya dan Yara tidak melihat apa yang akan di lakukan Rival.


"Nanti??? kalau kamu mampu kenapa tidak lakukan sekarang juga!" tantang Rival. Rival melangkah maju mendekati Azizah, melepas pakaian atasnya di hadapan Azizah dan membuangnya dengan kasar. Randy, Reno, David dan Zein memperhatikan Rival dengan tenang.


"Yang kamu hina itu adalah istriku, istri yang sudah memberiku seorang putra, sudah menyerahkan jiwa dan raganya untuk ku. Dia wanita pilihanku" ucap Rival tajam pada Azizah.


"Dan kamu.. Mau tau apa artinya kehancuran??? Aku akan tunjukkan di depan mata mu apa artinya hancur" seringai Rival menatap tajam Fahira. Fahira mulai khawatir dengan apa yang dilihatnya. Naya memeluk erat Yara tak hentinya air matanya berlinang.


"Jika kamu tidak punya kemampuan seperti yang istriku miliki untuk memuaskan segala apa yang aku butuhkan, maka kamu tidak pantas bersaing dengan istriku. Tapi sepertinya kau ingin lebih dekat denganku. Tak apalah kucoba bermain dengan mu" Rival melangkah maju sedangkan Azizah mundur dengan langkah tidak pasti dan ketakutan.


"Mau kamu apakan anakku?" bentak Fahira.


"Mengabulkan keinginanmu agar aku bersama Azizah. Membantumu menghancurkan keluarga bapak Randy Prawira juga Yara. Ini Khan yang kau mau??? Aku tidak punya pilihan lain sekarang. Keluarga pak Randy hancur..begitu pun dengan anakmu ini. Akan kuhancurkan seadil adilnya" seringai Rival tajam dan menakutkan.


Rival menekan tubuh Azizah dan menguncinya di tembok. Hembusan napas Rival di sisi leher Azizah seakan mencabut nyawanya saat itu juga.


"Kau harus rasakan pahitnya setiap perbuatan yang kamu lakukan" Rival mencengkeram tubuh Azizah dengan kasar.


Rival menarik tangan Azizah dan mendorong nya di sofa dengan keras. Azizah begitu takut melihat sorot mata Rival. Rival menarik paksa pakaian Azizah hingga sobek. Randy dan Reno berbalik badan masih punya rasa tidak tega pada Azizah sedangkan Zein sekilas menutup mata karena ia telah beristri, lalu mengawasi pintu. Hanya David yang terus mengawasi Rival yang brutal dengan kemarahannya. Pandangan mata David hanya melihat amarah tanpa nafsu meskipun pakaian Azizah telah koyak.


Fahira berteriak memohon agar Rival melepaskan putrinya. Rival tak mengindahkan teriakan Fahira, ia ingin memberi pelajaran Azizah hingga gadis itu menendang nendang ingin melepaskan diri.


"Mas, sudah mas.. apa mas mau merusaknya di hadapan istrimu?????" pekik Yara.

__ADS_1


.


.


__ADS_2