Untuk Kamu 2 ( Cinta Terindah )

Untuk Kamu 2 ( Cinta Terindah )
105. Anak berulah


__ADS_3

Yara menunggu Arben, mondar-mandir di tempatnya dengan tidak tenang. Perutnya mulai kencang. Ia menghirup dalam nafasnya lalu membuangnya perlahan.


"Ijin ibu.. Ibu duduk saja. Danki sebentar lagi pasti datang" Pratu Dika menarik kursi agar Yara bisa duduk. Pratu Dika serba salah menarik kursi kesana kemari mengikuti langkah ibu Danki agar ibu Dankinya mau duduk.


"Iya om. Maaf saya nggak bisa tenang" Yara meletakkan kedua tangan pada dinding lalu mengurangi nafas seperti tadi.


"Ijin Bu, itu Danki datang"


Yara menoleh ke arah yang di tunjuk Pratu Dika.


"Arbeeenn... Mas kenapa Arben nangis?? panik Yara sambil berlari. Rival menurunkan Arben detik itu juga melihat Yara memercing memeluk perutnya.


"Jangan lari. Mas berkali-kali bilang, Jangan panik, jangan lari" tegas Rival.


"Arben bagaimana mas?"


"Seperti yang kamu lihat, anakmu sehat wal afiat, jantung ku saja yang hampir lompat. Anakmu ini seperti kucing, punya nyawa sembilan. Jadi tenang saja"


"Kamu main dimana nak?" tanya Yara.


"Di taman" polos Arben.


"Ya.. sudahlah.. kebun jagung kau bilang taman, sekalian kubangan lumpur di belakang kantor itu kau bilang pantai ya Ben!! Heran papa.." kesal Rival.


"Apa mas?? di kebun jagung???" Yara tidak kalah terkejut.


"Main belut itu anakmu"


"Mana ada belut dalam kebun jagung mas" kilah Yara sambil tersenyum sedih melihat kelakuan Arben.


"Belut apa yang punya lidah?? ya itu dia yang anakmu mainkan tadi" ucap Rival.


Yara terdiam sejenak sembari mengusap punggung Arben.


"Astagfirullah.. ular mas????" pekik Yara.


"Yang mamanya takutkan ya itu yang Arben suka" Rival bersandar di dinding meluruskan kakinya.


"Arben.. kenapa kamu usil sekali. Bagaimana kalau mama tidak bisa menjagamu lagi??? jangan begitu donk nak" air mata Yara menetes memeluk Arben.


"Mulutmu itu benar-benar nggak bisa di jaga ya dek! mau kemana nggak bisa jaga Arben? Mau kabur jadi istri mas????" Rival sungguh marah saat ini mendengar ucapan Yara.


"Bukan begitu maksudku mas"


Rival berdiri lalu meninggalkan Yara dan Arben.


"Abang ini memang harus di kerjain.. kalau ngambek apa harus main tinggal istri sembarangan begitu?" Oka menggelengkan kepala.


"Hmm... di kerjain ya!!!!" gumam Yara.


"Aawwhh... Maaas.. perut ku sakit sekali" pekik Yara membuat Rival menoleh kembali.


Saat itu juga Rival tergesa berlari ke arah Yara.

__ADS_1


"Apa yang sakit dek, ayo kita ke dokter" ajak Rival yang panik bergegas membopong Yara. Yara tersenyum manis melingkarkan tangannya di leher Rival.


"Hatiku sakit kalau mas marah-marah terus" manja Yara yang ternyata baik-baik saja.


"Jangan bercanda dek. Mas cemas betul ini. Keterlaluan kamu aahh" Saat Rival akan menurunkan Yara, istri manjanya itu tidak mau di turunkan. Yara semakin mengeratkan pelukannya.


"Untuk suami yang suka marah. Harus menggendong istrinya sampai ke mobil sana" tunjuk Yara pada mobilnya.


"Mas nggak kuat" Rival memasang tampang jengkelnya.


"Waduuhh.. pak Danki nggak kuat. Om Oka jangan seperti Danki ya" ledek Yara.


"Eeehh.. ini malah ngajak ribut. Ayo pulang" Rival membopong Yara sampai mobil nya tanpa masalah.


"Arben!!!! Ayo pulang..Jangan main terus. Kamu itu harus sungkem sama mama papa, Kalau nggak.... Papa sunat kamu nanti" Ancam Rival.


"Pulang pa.. Aben mau pulang" Arben kecil berlari membawa perutnya yang bergetar.


***


"Kamu istirahat aja dek. Biar mas yang rapikan pakaian untuk pindah ke rumah dinas"


"Iya mas, sedikit lagi" jawab Yara.


"Kenapa pakaianmu di pisah di kotak itu?"


"Pakaianku terlalu buat sempit mas. Nanti sebagian mau di pindahkan ke rumah mama" ucap Yara.


"Iya suamiku sayang"


dddrrrttt.. ddrrttt... dddrrrttt


"Mas mau ke kompi dulu dek. Ada masalah sedikit"


Rival meninggalkan Yara, tangannya menggapai atas lemari mengambil pistol di atas sana.


"Hati-hati mas" pesan Yara.


"Pasti sayang" Rival mencium sekilas sudut bibir Yara sambil mengisi peluru di pistolnya.


--------


Yara menyentuh seragam Rival dan mencium nama dada di seragam loreng Rival 'R. Alfario' .


Biarkan seluruh dunia ini mengatakan dirimu yang terburuk, tapi bagiku.. Mas adalah suami dan ayah terbaik di hatiku.


Tak terasa linangan air mata membasahi pipinya. Yara segera menghapusnya, ia takut suaminya tiba-tiba pulang dan melihat nya menangis.


"Aahh.. kemana Arben.. tidak terdengar suaranya sedikitpun"


Yara mencari Arben ke sekitar rumah, tidak ada sosok gendut itu dalam penglihatannya. Yara bertanya pada tetangga, tidak ada yang tau Arben ada dimana.


"Kalau lihat Arben, tolong bilang segera pulang ya om" pinta yara. Langkahnya sudah semakin berat menyangga perutnya yang memang terlihat besar.

__ADS_1


Yara masuk ke dalam rumah langsung ke arah dapur, tenggorokan nya mulai terasa kering.


Langkah Yara terhenti melihat sesuatu yang membuat Yara terkejut. Yara membuka pintu gudang di rumah transit.


"Astagfirullah....Arbeeeeeenn" Yara ambruk melihat Arben tergeletak bersimbah darah sambil memegang pisau dapur. Teriakan Yara mengundang tetangga dan anggota lain.


Rasa sesak dan lemas membuat Yara langsung pingsan saat itu juga.


"Pa.. cari Danki sekarang!!!!" ucap Bu Imanuel.


Serda Imanuel segera pergi mencari Danki.


----------


"Ya Allah dek... Arben!!!!!!" Rival tak kalah kaget.


"Ijin Dan.. Kakak belum bangun, dia lagi tidur siang. Kakak Arben hanya main pewarna makanan dan itu hanya potongan tahu" Jika tidak disadarkan Prada Dian mungkin Rival ikut pingsan juga.


Rival membantu Bu Imanuel menyadarkan Yara.


"Sayang.. bangun dek. Arben nggak apa-apa" berkali-kali Rival menepuk Yara akhirnya Yara sadar juga. Mata Yara perlahan terbuka.


"Arbeeeeeen... Arbeeenn maaass" Yara sangat sedih berusaha bicara dalam tangisnya.


"Arben hanya tidur" jawab Rival.


"Sebelum melihat dengan baik jangan suka mengambil kesimpulan. Kebiasaan mu itu buruk sekali. Tidak bisa di toleransi" tegas Rival walaupun tangannya masih mengusap punggung Yara.


Bu Willy mengambilkan Yara segelas minuman agar Yara lebih tenang.


"Kakak Arben sering seperti ini sekarang, besok kalau kakak sudah besar pasti akan jadi orang yang hebat dan sukses Bu" doa ibu Willy.


"Mamanya pasti akan mendidiknya dengan baik Bu" balas Yara.


"Aamiin.. Kamu yang terhebat dek" bisik Rival.


***


Hari ini akan dia adakan pertandingan volly. Yara dengan perut besarnya pun ikut hadir menyemangati.


"Arben mana yank?" tanya Rival.


"Main bola sama om Oka" jawab Yara.


"Kamu mundur, itu bolanya kencang sekali. Jangan kamu kira ibu-ibu kompi nggak profesional main volly" ujarnya mengingatkan.


Rival mengarahkan Yara agar sembunyi di belakang punggung nya. Permainan sangat seru hingga Yara melompat girang.


Tak lama sebuah bola melayang tinggi. Satu smash di layangkan. Bola itu melambung ke arah Danki.


.


.

__ADS_1


__ADS_2