
Komandan kembali ke dalam ruangan melihat Yara dan Rival saling berpelukan.
"Lettu Rival, istrimu belum mencabut laporannya"
"Siap" suara Rival tidak setegas sebelumnya.
"Bu Rival, saya baru menaikan tuntutan cerai ini ke pusat. Apakah ibu sudah siap?" ucap komandan sengaja menguji Rival.
Rival menahan tangan Yara wajahnya memelas memohon agar Yara membatalkan tuntutan cerainya.
"Jangan sayang! Mas mohon"
"Aku akan memberi jawabanku setelah selesai sholat dhuhur"
Rival pasrah mendengar ucapan Yara. Rival memeluk dan mengusap punggung Yara dengan lembut.
"Aku ingin terus memelukmu seperti ini selamanya sebagai istriku. Ijinkan aku melamarmu sekali lagi. Jika Tuhan masih memberi kita jodoh, Aku hanya ingin mencintaimu, memperjuangkanmu hingga berhenti detak jantungku nanti" suara Rival berat menahan perasaan yang sudah tak mampu lagi jika membayangkan Yara akan meninggalkannya. Rival melepas pelukannya pergi ke masjid untuk menenangkan hatinya.
--------
Rival mengambil air wudhu. Para anggota bisa melihat banyaknya memar di tangan, mereka bisa mengira sampai mana luka cambuk itu berada.
Seperti inikah aku sesungguhnya? seorang suami yang rela menahan rasa sakit dan perih demi seorang istri yang sangat kucintai. Aku harus apa Yara?
"Dan..mau saya obati lukanya?" sapa Dio tidak tega melihat kondisi Rival yang terlihat masih menahan rasa sakit selepas sholat dhuhur.
"Terima kasih Dio, saya baik-baik saja" Rival memaksakan senyum pada anak buahnya.
-------
Yara duduk dengan gelisah. Rival menautkan tangan menunduk, antara siap dan tidak, menunggu keputusan dari sang istri.
"Mas Rival, sejujurnya aku tidak ingin membayangkan apa yang mas lakukan bersama Nesya tapi bayangan itu selalu muncul membuatku sangat cemburu" ucap jujur Yara membuat hati Rival begitu teriris.
"Mas paham dek" jawab Rival masih tak mampu menatap mata istrinya.
"Aku hanya manusia biasa mas. Aku bukan dewi, Aku hanyalah wanita yang mas angkat derajatnya hingga menjadi istrimu. Andaikan dia mengandung anakmu, aku tidak bisa menerimanya. Pengajuan cerai aku lanjutkan"
Seketika Rival bersandar pada sofa. Badannya sangat lemas, bibirnya tak mampu berkata-kata. Hanya tangan meremas dadanya yang terasa sakit menguatkan hati sekuat kuatnya bahkan mata saja tidak berani ia buka sekedar melihat istrinya.
__ADS_1
Yara berjalan dan berdiri di hadapan Rival. Ia tau suaminya sedang merasakan sakit sama seperti dirinya saat ini. Yara mencondongkan badannya hingga ia bisa mencium sekilas bibir Rival yang sedang terpejam bersandar pada sofa, Yara tak mempedulikan ada siapa saja di ruangan itu.
"Jangan membuatku semakin berat merasakan semua ini dek" mata Rival terbuka memerah nanar.
"Bantu aku tidak merasakan sakit ini lagi mas. Aku tidak ingin mendengar atau melihat wanita lain dalam hidup kita. Nesha tidak mengandung anakmu, jadi harus aku satu-satunya yang menjadi istrimu"
"Maksudmu dek?" Rival masih menerka apa yang terjadi.
"Aku batalkan pengajuan surat cerai itu mas" Rival bangkit dari duduknya dan memeluk Yara dalam tangisnya.
"Alhamdulillah ya Allah.., Duh Gusti terima kasih banyak" Rival banyak beristigfar merasa lega dengan semua ini, Yara tidak jadi mengajukan permohonan cerai itu.
"Nesya ada di depan bersama Nathan" ucap komandan sambil menutup teleponnya. Mendengar nama Nesya membuat Rival begitu kesal.
"Awas kamu Nesya" amarah Rival tidak tertahan lagi.
"Mas..jangan. Aku tidak mau mas menemui dia lagi" cegah Yara.
"Mas harus buat perhitungan dengan wanita ular itu dek" Rival berjalan cepat keluar ruangan diikuti oleh Yara.
--------
"Maaf mas, aku sungguh minta maaf membuatmu dan mbak Yara jadi bertengkar"
"Bukan bertengkar lagi, aku dan Yara hampir bercerai karena ulahmu. Kamu hampir membuat anakku tidak kenal siapa ayahnya dan sekarang kamu datang membawa maaf dengan mudahnya. Apa kamu pikir dengan kata maaf sudah bisa menghapus semua kesalahanmu? bentakan Rival membuat Nesya ketakutan, ia bersembunyi di belakang Nathan. Nathan menahan tubuh Rival yang terus mengincar Nesya.
"Sudah bang, ini di kantor!" cegah Zein.
Rival geram dan terus ingin menampar Nesya tapi Nathan mencegahnya. Yara pun menarik tangan Rival, bagaimana pun kesalnya Yara, ia selalu takut dengan kemarahan Rival.
"Aku sudah bilang jangan bertemu dan berbicara dengan Nesya lagi mas, aku tidak suka" Rival menoleh ke arah Yara, ia tau istrinya masih sangat sensitif terhadap Nesya.
eegghhh.. huuuhh
"Mas.. tolong?" ucap Yara pelan melihat kakinya basah dengan cairan yang keluar tidak bisa ia tahan. Rival melihat ke arah kaki Yara.
Yara ambruk menubruk Rival membuat suaminya terkejut dan sigap menangkap Yara. Yara mencari sesuatu untuk di jadikan pegangnya.
"Kamu menyembunyikan sesuatu dari mas ya?" perasaan Rival tidak enak melihat Yara yang mencengkram kuat pakaian Rival. Yara mengangguk pelan menyandarkan kepalanya di dada Rival.
__ADS_1
"Sejak semalam aku sudah merasakan kontraksi. Sekarang sakit sekali mas!" Yara merintih merasakan sakit yang luar biasa.
"Kamu keterlaluan sekali dek. Bukannya bilang, malah sibuk bertengkar denganku!" perhatian Rival kini tertuju pada Yara.
Huuuhh..
"Mas, ini terlalu sakit.. Aku nggak tahan mas!!!" Yara nampak sangat kesakitan, Rival mulai panik karena Yara mulai meremas apapun yang Yara pegang di tubuhnya. Tanpa diduga Yara sedikit mengejan.
"Mas Rival.. Kalau boleh biar aku bantu mbak Yara. mbak Yara mau melahirkan sekarang" ucap Nesya dengan takut.
"Diam kamu..ini semua karena kamu!!" bentak Rival.
"Val, kamu jangan egois!! istrimu sudah kesakitan" Nathan merasa sangat kasihan melihat Yara. Ia baru melihat dengan mata kepalanya sendiri seorang wanita yang akan melahirkan.
"Zein.. tolong ambilkan pakaian Yara dan bayi di rumah, minta bantuan mama!!!" perintah Rival pada Zein.
"Siap bang" Zein segera berlari pulang
"Val, berjuanglah..istrimu membutuhkanmu. Yara tidak akan kuat sendirian" Randy menepuk bahu Rival menguatkan menantunya. Rival mengangguk memantapkan hati.
Para anggota dan team kesehatan Batalyon membuka ruang darurat untuk istri Danki mereka karena membawa Yara ke rumah sakit sedikit beresiko sekarang ini.
"Mas ada yang menekan perutku" Yara merintih menahan sakit, peluh sudah membasahi keningnya.
"Apa yang kalian lihat??? Balik badan!!!!" Semua anggota berbalik seketika mendengar perintah Rival. Tangan Rival bergetar menyentuh bagian bawah Yara.
Astagfirullah hal adzim.. sabar nak.. tunggu papa memberimu tempat yang nyaman.
"Bismillah.." Rival mengangkat Yara dan berjalan cepat membawanya ke ruang kesehatan. Rival melupakan tubuhnya yang semula kesakitan ia seakan lupa dengan memar yang ia rasakan.
Randy mengikuti langkah Rival menuju ruang kesehatan. Nathan menggandeng tangan Nesya untuk tetap menunjukan ketulusan hatinya untuk sungguh meminta maaf pada Rival dan Yara.
Wajah Yara sudah memucat. Rival membaringkan Yara tapi Yara merasa tidak nyaman. Yara ingin bangun dari tidurnya.
"Jangan dek.. tetap tidur disitu!!!!" tatap Rival tidak tega melihat istrinya yang sedang berjuang melahirkan penerus tahta keluarga.
.
.
__ADS_1