
Rival sebisanya menyadarkan Yara hingga beberapa lama Yara tak kunjung sadar.
"Yara.. sayang, bangun. Jangan membuatku takut" suara Rival bergetar menunjukkan rasa takutnya, Rival tetap mengusahakan apapun agar Yara bangun.
"Val, maaf..aku juga tidak tau akan jadi seperti ini. Aku tidak sengaja" Nathan tulus menyesal dengan kejadian hari ini.
"Kenapa aku harus bertemu orang sepertimu" ucapan Rival yang datar sudah cukup membuat nyali Nathan ciut ke dasar samudra.
Rival segera membawa Yara ke rumah sakit
-------
"Yaraaa...ada apa ini nak" Naya berteriak histeris melihat Yara di dorong masuk ke dalam ruang pemeriksaan. Randy tak kalah syok hingga tidak bisa berkata kata.
Zein datang dengan seragam lengkap dengan berlari panik disana.
"Ini kenapa Yara begini bang????" Zein mengguncang bahu Rival. Wajah Rival cemas hingga tak bisa mengartikan apapun, tatapannya kosong.
Tak lama Nathan masuk, dia yang menghubungi keluarga Yara karena bermaksud meminta maaf tapi kehadiran Nathan malah mengakibatkan keributan.
"B*****t kamu Nathan. Punya nyawa berapa kamu berani muncul di hadapanku!?!?!?" Rival maju dengan cepat dan menghajar Nathan hingga babak belur.
"Kalau bukan karena mulutmu yang lancang itu.. Yara tidak akan mengalami hal ini ( Rival terus menghajar Nathan, Zein dan Randy berusaha menenangkan Rival tapi sia dia ). Kalau sampai ada apa apa dengan istriku, nyawamu sebagai gantinya"
"Bang..sudah bang..ini di rumah sakit" Zein menarik Rival sekuat mungkin.
Dokter keluar dari ruangan dan berdiri di depan pintu.
"Istri pak Rival sebentar lagi akan sadar tapi mohon maaf pak, kandungannya tidak bisa di selamatkan"
Rival berdiri, isakan tangisnya tertahan. Pikirannya kalut, hatinya bagai tersayat sembilu. Begitu berat beban yang di rasakannya saat ini. Ekor mata Rival melirik Nathan dengan penuh amarah. Zein yang melihatnya segera mendekap erat abangnya agar tidak melakukan hal brutal.
Saat Zein mendekat, Rival mengambil pistol dari saku pinggang Zein. Zein terkejut karena Rival sempat mengokangnya dan mengarahkan ke dada Nathan.
"Rival, jangan..sadar kamu!!!!!!" Randy yang akan merebut pistol tersebut di kejutkan Naya yang takut sudah pingsan di tempat. Randy panik dengan situasi ini sedangkan Rival sulit di kendalikan hingga Zein terpaksa harus menghantam bahu Rival.
__ADS_1
Rival merasa pandangannya menghilang perlahan. Rival merasakan hatinya sangat hancur, ada bulir bening menetes di sudut mata. Zein menangkap Rival yang mulai hilang kesadaran
"Maafkan papa sayang, aku mencintaimu Yara" gumam Rival lalu tidak tau apapun lagi.
Zein menunduk, ia pun merasa iba melihat Rival yang begitu hancur.
"Sebegitu cintanya kamu pada culunku bang?? King Cobra ini begitu lemah kah sekarang??" Zein menyeka air matanya sendiri.
***
Rival sadar dari pingsannya, mengerjap mencari sosok Nathan yang membuatnya harus mengalami hal buruk ini, tapi saat Rival bangun, ia merasakan bahunya sangat sakit
"Kesampingkan dulu tentang bang Nathan.. bang. Aku, papa dan mama tidak bisa menghentikan tangis Yara. Tolong bang..kakakku butuh Abang!" ucap Zein setelah Rival sadar.
Lamat Rival mendengar Yara yang menangis meratapi anaknya yang tidak ada lagi di dalam perutnya.
Rival mengangkat kepalanya berharap napasnya lebih lega. Rival menguatkan hatinya lebih dahulu sebelum menemui Yara, bagaimana pun juga saat ini dia lah tempat bersandar istrinya.
Rival menarik napasnya dalam, kemudian membuka pintu. Yara terbata bata terisak meronta di pelukan Randy. Rival mendekati Yara dan menggantikan Randy memeluk Yara.
"Hhssstt.. sayang..sudah ya. Tuhan masih belum mempercayakan pada kita untuk menjaga dia" Rival mengusap punggung Yara.
"Anak ini keberuntungan kita mas. Mas tau tau aku sakit. Jika Tuhan tidak memberiku anak lagi bagaimana mas??? Bagaimana????" teriakan Yara membuat perawat membawa suntikan penenang.
"Jangan beri obat itu untuk istriku" tolak Rival
"Kalau tidak di suntik istri bapak akan teriak terus" ucap perawat itu.
"Apa kamu punya anak??? ( perawat itu mengangguk ). Kalau kamu punya anak, kamu akan tau rasanya kehilangan anak. Sekarang kamu keluar, saya bisa atasi istri saya" detik itu juga perawat itu keluar dengan perasaan ngeri melihat Rival. Rival kembali fokus pada Yara.
"Mas tau apa yang kamu cemaskan dek. Sama sepertimu..mas juga menunggu adanya malaikat kecil di tengah kita. Jangan memikirkan sesuatu yang tidak pasti. Mas yakin kita akan segera mendapatkannya lagi" Rival menguatkan Yara.
"Asalkaaann..kamu semangat kerjasama bikinnya sama mas" Rival mencubit gemas hidung Yara sengaja menggoda Yara mencairkan suasana.
"Dasar tidak tau malu" Randy mendengar menantunya berbicara membuatnya ikut tersipu malu tapi hatinya menjadi sedikit lebih tenang juga. Zein mendekati Yara.
__ADS_1
"Jangan menangis lagi kak. Kalau kamu murung lagi suamimu itu bisa membunuh banyak orang. Aku tidak sanggup mengatasinya"
"Kak????? ada angin apa kamu baik hati begitu Zein??" tanya Randy yang tiba tiba memanggil Yara dengan 'kak'
"Aku baru menyadari kalau aku cinta kakakku ini pa, culunku" Semua tersenyum melihat Zein. Zein mendekat mengecup kening Yara dengan lembut
"Percayalah..bang Rivalmu ini akan selalu membahagiakanmu kak"
ddrrtt...ddrrttt
Zein mendapat telepon dari Mutia. Tapi Zein tidak dapat mendengar dengan jelas hingga ia harus mengaktifkan speaker ponselnya. Terdengar Mutia menangis terisak
Mutia : Aku hamil mas
Zein : Tunggu disana. Aku kesana sekarang
Zein mematikan ponselnya.
"Apa ini Zein????" Randy murka melihat kelakuan Zein.
"Kamu harus cepat menikah dengan Mutia nak" Naya tak kalah panik.
"Maaf pa..ma, Aku salah..aku akan bertanggung jawab" Zein keluar dari kamar Yara
"Bagaimana ini mas?" Yara menatap Rival
"Mau bagaimana lagi sayang. Pria sejati harus bertanggung jawab dengan apa yang dilakukannya" ucap Rival.
"Mas.. tentang Vena, apa benar dia bukan anakmu" Yara memastikan sekali lagi.
Randy dan Naya keluar dari kamar Yara memberi ruang agar Yara dan Rival leluasa berbicara.
.
.
__ADS_1