
"Abang.. tolong maafkan saya! Karena saya kembali Abang harus merasakan hal pahit seperti ini" sesal Rival.
"Kamu sampai sakit karena memikirkan hal ini juga??" David melihat sorot mata Rival yang masih penuh dengan beban.
"Ku pikir tidak ada yang salah dengan semua ini Val. Jalan hidup manusia berbeda-beda. Siapa sangka aku bisa menikahi Yara dengan cara seperti ini. Siapa sangka ternyata kamu masih bisa kembali. Dan siapa yang bisa menyangka sekarang Yara hamil anakmu. Semua itu takdir"
"Soal Yara memang aku yang salah bang. Aku yang gegabah"
David tertawa mendengar semua sesal Rival.
"Jika aku ada di posisi mu, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama dalam situasi seperti itu. Jangan banyak pikiran lagi! Kita nikmati saja setiap proses hidup ini" David mengecup kening Yara dengan penuh rasa sayang. Rival menganggap seolah ia tidak melihatnya.
"Aku sayang kamu istriku. Sehat selalu sayang" ciuman David beralih ke bibir Yara lalu membuka jilbabnya agar Yara bisa lebih nyaman dalam tidurnya.
"Hanya saat tidur seperti ini aku bebas memanggilmu sayang. Hanya saat tidur aku bebas menyayangi mu" tatapan sendu membuat perasaan Rival kembali kacau balau. Bagaimana dia harus menempatkan diri pada situasi yang rumit ini.
"Aku akan mengambil dinas luar. Perbaikilah hubunganmu dengan Yara bang!"
"Val, hatiku juga sakit kita bisa dalam posisi seperti ini. Aku juga salah masih mencintai istri orang. Tetaplah disini!" jawab David.
Yara menggeliat, badannya terasa sakit tidur di sofa. Tangan David mengusap perutnya sedangkan Rival tersenyum ke arahnya. Yara ingin menurunkan kaki tapi David mencegahnya.
"Aku suapi makan. Kamu pasti sudah lapar" Yara melirik Rival. Pria itupun tersenyum mengijinkan Yara menerima setiap perlakuan David.
------
Setelah kenyang Yara tidur lagi. Sedari tadi David mengusap perut Yara seolah Yara sedang mengandung anaknya. Jiwa kebapakan dan rasa memiliki jelas tertanam kuat dalam benaknya.
Rival memperhatikan David yang begitu menyayangi Yara bahkan saat Yara mengandung buah hatinya seperti sekarang ini. Rival menarik napas panjang lalu menghembuskannya dengan berat. Hanya Tuhan dan ia saja yang tau apa yang ia rasakan saat ini.
-------
Rival sudah tidur karena pengaruh obat yang di berikan dokter. David keluar dari kamar dan menuju ke ruang rawat ibu Indira yang hanya berbeda lorong dari kamar Rival.
Entah kenapa langkah kaki David mengarah ke tempat Indira di sela hatinya yang kosong.
Dari kaca kecil, David bisa melihat Indira menghapus air matanya, tidur menggenggam tangan ibunya kuat. Tak tau kapan datangnya, hati David terasa sakit melihat kesedihan Indira yang baru dikenalnya. David membuka pintu kamar rawat ibu Indira.
"Jangan tahan tangismu. Hatimu akan semakin sakit" Indira menoleh pada arah suara yang membuatnya menghapus air mata yang akan menetes sekali lagi.
"Ibuku sakit jantung. Aku tidak tau bagaimana lagi caranya agar ibuku bisa sembuh " tatapan takut dan pasrah tersirat dari wajah cantik Indira. Tanpa sadar tangan David mengusap punggung Indira.
__ADS_1
"Aku yang akan membantu mu" ucap David serius. Indira terperanjat mendengar ucapan David.
***
Empat hari telah berlalu dan Rival di perbolehkan pulang. Rival sudah sangat sehat sekarang.
Sesampainya di rumah, Rival sudah langsung mulai dengan semua kegiatannya. Rasa tanggung jawab pada pekerjaan tak sekalipun ia tinggalkan.
"Black... siapa yang ada di lapangan tembak kemarin?? ceroboh sekali kalian!!! masih ada satu kotak peluru tertinggal di sudut lapangan" tegur Rival pada anak buahnya saat ia baru saja pulang dari rumah sakit satu jam yang lalu.
Yara pun tidak bisa mencegahnya karena ia tau sifat Rival.
Panas menyengat tidak di rasakan Rival. Dua hal dalam pikiran Rival adalah pekerjaan dan Yara seorang.
***
Sore hari Rival sudah pulang dari Batalyon. Ia hanya melihat Yara sedang memasak. Hari ini ada Arben di rumah, begitu senangnya Rival bisa bermain dan bercanda dengan jagoan kesayangan.
"Tumben Abang belum pulang dek?" tanya Rival yang melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul tujuh malam.
"Iya ya mas" jawab Yara ikut melihat jam dinding.
"Nggak mas, aku baik-baik saja" jawab Yara sambil mencoba menghubungi David.
Tak lama sambungan telepon itu terangkat.
"Hallo.. Assalamu'alaikum dek" jawab David di seberang sana
"Wa'alaikumsalam..kenapa belum pulang mas??" tanya Yara.
Tiba-tiba terdengar suara teriakan seorang wanita yang menangis. Awalnya Yara mengabaikan suara itu, namun saat mendengar nama David di sebut, baru lah rasa terkejut Yara membuatnya tidak sanggup bicara.
"Mas David, ibuku mas" teriak wanita itu. Seketika sambungan telepon itu mati. Yara tertegun sesaat sampai Rival menegurnya.
"Apa kata Abang dek?"
"Aah..Ehmm..itu mas.. Mas David ada pekerjaan. Masih sibuk. Mungkin tidak pulang" senyumnya kaku, lalu Yara ikut bermain bersama Rival dan Arben
Malam itu Yara, Rival dan Arben menikmati makan malam hanya bertiga karena David tidak pulang.
--------
__ADS_1
Yara dan Rival keluar dari dalam kamar Arben. Jagoan mereka sudah tidur dengan pulas. Rival memeluk Yara dan mengecup keningnya.
"Abang tidak pulang khan?"
***
Dua hari kemudian Rival ke rumah sakit dan harus kontrol kesehatan, ia di temani dua orang anak buahnya.
Dari jauh Rival melihat dengan mata kepalanya sendiri, dengan sejelas-jelasnya David sedang merangkul pundak seorang gadis yang menangis di sampingnya. Rival mendekat dan bersembunyi di balik dinding untuk melihat apa yang terjadi.
Dokter keluar dari ruang perawatan.
"Maaf..pasien sudah tiada"
Gadis itu menangis sejadi-jadinya. David berusaha menenangkan dan menghapus air mata gadis itu.
"Ibuku tidak ada lagi, hanya ibuku yang aku punya. Aku ingin menyusul ibuku" teriaknya
"Tidak baik melangkahi takdir Allah dek. Masih ada aku..Kamu masih punya aku" David menarik tubuh wanita itu dan membenamkan dalam dadanya. Rival merasakan ada aura kasih sayang dalam diri David untuk gadis yang berada dalam pelukan David.
"B******n kau bang. Apa yang Abang lakukan di belakang Yara" Rival menendang dinding di sampingnya dengan kesal.
***
Malam hari David pulang dan mereka semua makan bersama. David menata pakaiannya ke dalam tas. Rival hanya diam enggan menyapa David sejak tadi. David pun merasa kali ini Rival sangat berbeda.
"Mas mau kemana?" sapa Yara lembut. Rival sedang menggendong Arben, menidurkan putranya.
"Ada pekerjaan di luar. Beberapa hari aku tidak akan pulang" jawab David. Yara hanya bisa diam melihat pakaian yang di bawa David memang cukup banyak.
Rival sudah membawa Arben ke dalam kamar dan menutup rapat pintu kamarnya.
"Kita harus bicara bang!!"
"Ada apa?" David menghentikan kegiatannya.
"Kamu keluar dulu dek. Mas mau bicara sebentar dengan Abang" perintah Rival pada Yara. Yara mengangguk lalu menurut perintah Rival untuk keluar dari dalam kamar.
.
.
__ADS_1