Untuk Kamu 2 ( Cinta Terindah )

Untuk Kamu 2 ( Cinta Terindah )
60. Happy with you


__ADS_3

Rival mengambil ponselnya dan menelepon personil kesehatan untuk datang ke ruangan Zein. Zein masih terus memegangi tangan Mutia. Hatinya masih sangat merasa bersalah.


"Kamu sudah pakai pengaman dek? Jangan sampai ada kejadian serupa di hubungan kita" tegur Rival pelan pada Yara.


"Kenapa tidak mas saja yang pakai"


"Mas nggak nyaman dek. Gimana.. sudah apa belum? Semalam mas sudah nyicil lho" bisik Rival pelan di telinga Yara sambil melingkarkan tangannya di perut Yara.


"Sudah mas. Aku juga berpikir panjang lah mas" bisik Yara juga.


"Pintar istriku" Rival merasa tenang sekarang.


Petugas kesehatan datang dan memeriksa kondisi Mutia. Setelah beberapa saat akhirnya Mutia mulai sadar. Zein menghambur memeluk Mutia penuh rasa bersalah. Mutia mengalihkan pandangan ke arah lain, tidak suka menatap Zein.


"Aku nggak suka melihatmu mas. Pokoknya aku nggak suka melihatmu" Kesal Mutia menjadi jadi.


"Iya dek..iya..nggak lihat nggak apa-apa" kini Zein melunak dan mengalah.


"Aku nggak mau mas pegang-pegang!" ucap Mutia lagi.


Zein melepaskan tangannya yang menggenggam Mutia dengan cepat.


"Iya..mas nggak pegang lagi"


"Mas tidur di luar"


"Iya, di teras juga nggak apa-apa yang penting kamu dan anak kita sehat ya sayang" Zein pasrah. Semua demi Mutia dan calon anaknya.


Rival tertawa terbahak melihat Zein dan Mutia.


"Abang jangan ketawa. Kalau kak Yara seperti ini. Habislah kau bang!!" sungut Zein.


"Yara tidak akan begitu. Istriku ini sangat sayang padaku. Iya khan mama sayang???" Rival mengecup kening Yara.


"Iya donk papa sayang" ucap Yara manja. Zein hanya mengikuti gerak bibir Yara, mencibir dengan ejekannya.


-----


"Zein.. istrimu mengandung 14 Minggu. Mungkin kamu tidak menyadarinya karena perut istrimu kurang terlihat"


"Tapi bang Farhan, dia ini hanya sekali melakukan denganku, dan itu hanya satu kali saja di rentang waktu enam bulan terakhir, ( Zein menoleh ke arah Rival dan Yara yang masih berada di ruangan ) dan itu sangat kilat. Jujur aku sendiri tidak puas ( Zein menunduk sedikit malu )"


"Zein..apa yang tidak bisa terjadi. Pria sudah mengeluarkan..terjadi pembuahan. Itu bisa saja terjadi kehamilan. Kamu itu tidak puas hanya karena satu sesi saja" keterangan Farhan membuat Rival menahan tawanya.


"Jangan tertawakan aku lagi bang. Abang pintar sekali merusak harga diriku" saat ini Zein sangat kesal melihat ekspresi Rival.

__ADS_1


"Kita pulang saja dek. Mas masih kangen" ajak Rival pada Yara. Yara pun mengangguk dengan gaya genitnya menganggap ucapan Rival hanya candaan.


***


Yara merasa sangat sakit saat berada di kamar mandi. Rival benar membuatnya sangat kewalahan.


"Apa aku haid sekarang? Bagaimana ini..kenapa ada tandanya"


Yara menyiram bersih kamar mandinya tanpa melihat benda yang ikut tersiram. Ia kembali ke kamar dan mondar mandir di dalam kamarnya.


"Ada apa kamu mondar mandir begitu" tanya Rival dengan suara seraknya.


"Mas..baru semingguan yang lalu aku haid. Tapi ini sudah ada tanda lagi. Perutku juga sangat sakit"


"Nggak mungkin lah. Mungkin mas terlalu kasar, terlalu lama. Maaf ya!" Rival meraih tangan Yara agar berjalan ke arahnya. Setelah mengecup bibir Yara, ia segera pergi ke kamar mandi.


***


Hari berganti bulan. Mutia sama sekali tidak merasa mual. Hanya kesal saja jika melihat Zein. Seperti saat ini, Mutia pergi ke rumah Rival dan Yara.


"Kenapa wajahmu kusut?" tanya Yara.


"Setiap aku melihat mas Zein, kepalaku langsung pusing" Mutia memijat keningnya.


Rival bermain dengan Ay dan Arben. Usia Arben sudah tujuh bulan dan sudah bisa mengangkat badannya untuk belajar merangkak.


"Celaka aku bang, Mutia selalu sinis kalau melihatku" ucap Zein sesekali melihat ke arah ruang tengah khawatir Mutia akan melihatnya.


"Hahahaha... nikmati saja. Itu hukuman untuk suami pemaksa sepertimu"


"Abang bisa bicara begitu karena belum kena batunya saja bang, tunggu saja sebentar lagi" cibir Zein.


"Setidaknya tidak dalam waktu dekat, Istriku sangat pintar. Dia sudah tahu apa yang harus dilakukan" bangga Rival.


***


Tiba di suatu malam. Siang tadi Rival baru saja pulang dari dinas luar. Baby Ben merengek sejak tadi. Rival bangun dan menggendong jagoannya.


"Kenapa anak papa bisa demam begini?" gumam Rival. Sifat kebapakan sangat kental pada dirinya saat ini. Rival menggendong Ben dengan bertelanjang dada menyamakan suhu tubuh dengan Ben.


"Ben kenapa mas?" tanya Yara.


"Demam dek, kamu tidur lagi saja"


"Nggak bisa tidur lah mas, anak sakit begini"

__ADS_1


"Ya sudah..duduk saja di ranjang! kalau Ben minta ASI baru mas kasih ke kamu karena mas nggak punya"


Yara menyandarkan badannya di kepala ranjang. Yara melihat Rival menenangkan Arben sambil bernyanyi hingga Ben tidur.


"Suaramu indah sekali pa" senyum Yara dan kata Yara yang manja begitu menggelitik hati Rival.


"Mama pengen juga to?"


"Iya..masa anakmu saja yang bisa mendengar suaramu mas" Yara tersipu malu. Rival menarik pelan hidung Yara.


"Begitu saja iri. Bagaimana kalau mas minta lima anak. Apa iri mu tidak bisa hilang?" gemas Rival.


"Lima mas????? Satu saja membuatku hampir mati. Mas ini jahat sekali" Yara bersungut kesal.


Rival terkekeh mendengar istrinya yang sedang ngambek. Ia menidurkan Ben pada box nya pelan-pelan.


"Ya nggak lah sayang. Mas mana tega, melihatmu kesakitan seperti itu hati mas nyeri sekali, seperti nyawa ini mau melayang" Rival memeluk Yara yang masih bersandar di ranjang.


"Aku hamil mas" Yara menatap mata Rival dengan lekat.


Rival membelalakkan mata, pikirannya buntu seketika.


"Hahahaha...aku bercanda mas!!!" Rival membuang napas dengan kasar mendengar tawa Yara.


"Kamu ini nakal sekali, tengah malam mengerjai ku"


"Senang sekali mengganggumu mas. Baru begini saja wajahmu sudah panik. Bagaimana kalau benar aku hamil" Yara masih saja tertawa membuat Rival semakin gemas saja.


"Hmmm..nakal.. kamu mau tau rasanya hamil lagi khan? Ini rasakan akibatnya kalau berani dan selalu menantang suami" Rival mencium Yara dan akhirnya mereka melewatkan malam itu hingga hari beranjak pagi


***


Rival nampak segar pagi ini. Batalyon terasa tenang tanpa wajah tegang seorang king cobra. Zein pun nampak cerah seperti sudah hilang bebannya selama ini. Olahraga pagi ini juga nampak menyenangkan di Kamis ceria bergabung dengan istri setiap minggu.


Yara berjalan ke arah Rival yang sedang pull up. Mata para mama muda terkadang sedikit melirik tubuh Rival yang begitu indah untuk di pandang.


"Mas.. aku mau sit up donk" pinta Yara. Rival menyelesaikan pull up terakhirnya.


Hhuuuppp


"Sini..mas bantu" Rival berjongkok di hadapan Yara lalu menekan kaki dan lutut, agar Yara bisa sit up dengan baik.


Baru sampai hitungan ke lima Yara merasa sesak tidak seperti biasanya. Perutnya sakit sekali.


"Sudah mas! Tidak nyaman sekali rasanya perutku mas" Yara memercing menahan sakit. Tak berapa lama Yara mendorong tubuh Rival lalu berlari ke toilet. Ia merasa sangat pusing.

__ADS_1


.


.


__ADS_2