
Sore ini Yara dan Mutia sedang asyik memasak seblak. Zein yang baru pulang kerja melingkarkan tangan dan mengecup pundak Mutia dengan sayang.
"Iihh..mas kok gitu sih! Ada kak Yara lho" tegur Mutia.
"Dia sudah lebih senior. Abang tidak akan membiarkan dia 'nganggur'. Kakakku tidak akan iri"jawab Zein.
"Bukan itu mas, kamu memalukan sekali" tolak Mutia. Yara hanya menggeleng saja melihat kelakuan adiknya. Zein kesal karena merasa di tolak oleh Mutia. Ia pun masuk ke dalam kamar.
-------
Terdengar canda tawa Yara dan Mutia. Zein mondar mandir dalam kamar. Hatinya resah memikirkan Mutia.
Berapa lama kamu akan menyiksaku, apa sebegitu lelahnya kamu sampai tidak bisa sedikit saja menyisakan waktu untuk ku?.
"Sepertinya memang harus aku pakai" Zein mengambil bungkusan dari dalam tasnya lalu pergi ke meja dapur.
Zein menengok ke kanan dan ke kiri mengawasi situasi lalu mengaduk sesuatu pada sebuah gelas.
--------
Yara mulai merasa pedas menyengat lidah memakan seblak buatan Mutia. Ia berjalan ke dapur mengambil gelas minuman yang sudah terisi sirup karena ia ingin segera pulang karena hari sudah sore.
"Eeehh..kak, kenapa minum itu?" panik Zein.
"Sama saja Zein..sama sama sirup" Yara meletakkan gelas yang sudah habis isi di dalamnya.
Yara pamit pulang karena Ben juga sudah mengantuk. Dalam perjalanan pulang yang hanya berjarak beberapa rumah, Yara merasa badannya sedikit gerah.
---------
Ben sudah tidur, Yara pun memutuskan untuk mandi. Yara merasa tidak enak badan dan merasakan sesuatu yang aneh pada tubuhnya. Hingga suara kedatangan para anggota dari pelatihan juga ia tak merasakannya.
Di Batalyon Rival menyelesaikan laporannya dan segera pulang ke rumah. Ada jutaan perasaan yang tidak bisa ia ungkapkan bagaimana menjabarkan rasa rindunya.
Mobil Jeep yang mengantar Rival sudah pergi mengantar anggota lain.
"Lampu tidak di nyalakan. Kemana Yara" gumamnya dalam hati. Rival membuka pintu rumahnya dan mengeluh lagi.
"Kebiasaan kamu dek!!! Dimana kamu sekarang?"
Rival masuk mengucap salam namun tidak ada jawaban. Rival meletakkan barangnya dengan kasar di ruang tengah lalu mencuci muka dan masuk ke dalam kamar berniat mengambil bajunya.
Ayah satu anak ini membuka pintu kamar dan betapa terkejutnya ia melihat tubuh Yara yang begitu sexy dengan pakaian yang sangat minim. Jantung Rival berdesir dan berdebar kencang sulit di tahannya. Langkahnya tegap dan mantap.
Yara menoleh kaget ada seseorang yang membuka pintu kamarnya. Ia sangat ketakutan melihat Rival.
__ADS_1
"Tunggu.. berhenti disitu!!!" perintah Yara. Langkah Rival terhenti seketika.
"Siapa kamu sebenarnya??? Suamiku atau bukan??" tanya Yara menegaskan penglihatannya.
"Apa katamu dek?? aku tinggal dua bulan saja kamu bisa lupa ingatan begini. Bagaimana kalau aku penugasan satu tahun???" kesal Rival.
"Oohh..ini benar suamiku! Pantas tampan" ucap Yara seperti orang mabuk. Ia mendekati Rival dan mencium bibirnya berkali kali. Rival merasakan tubuhnya menegang apalagi saat ini Yara sangat menantang libidonya tapi hatinya juga merasa jengah dengan tingkah Yara yang aneh.
"Sebenarnya kamu darimana sampai pulang bisa seperti ini. Ingat kamu punya suami, punya anak dek??" Rival melepas pelukan Yara.
"Sadar dek!!! Mas tampar kamu ya!!" tegas Rival sekali lagi.
Shiiit.. darimana Yara ini. Bikin pikiran ku kemana mana.
Yara seolah tak mendengar perkataan Rival dan terus bersikap genit pada Rival. Rival mengambil ponselnya dan menelepon Zein.
Zein : Assalamu'alaikum.. kenapa bang?
Rival : Wa'alaikumsalam.. Yara tadi ke rumahmu nggak?
Zein : Iya bang, kenapa??
Rival : Kenapa dia aneh begini. Nggak mabuk sich..tapi ngigau, genit sekali. Seperti kena OP saja. ( Rival masih sibuk dengan tangan Yara yang meraba tubuhnya )
"Wa'alaikumsalam" lirih Rival.
"Dek, nakal sekali kamu malam ini" kesal Rival. Berhubung Rival sudah dalam mode on, ia tidak melewatkan kesempatan ini. Apalagi saat ini Yara yang begitu menggoda tidak akan sia siakan.
"Sebenarnya mas tidak suka cara seperti ini. Tapi kamu sendiri yang memancing ularmu" Rival melepas pakaiannya membiarkan Yara melakukan apapun padanya, Ia pasrah menikmati segala perlakuan yang Yara berikan dan ia bisa melihat dengan jelas istrinya yang begitu hot malam ini.
--------
Tengah malam Yara terbangun dari tidurnya dan ia mulai menyadari apa yang ia lakukan tadi. Yara duduk dan melihat Rival yang tidur dengan wajah lelah hanya tertutup selembar selimut. Baju mereka berserakan di lantai. Yara juga melihat banyak tanda pada tubuh Rival dan tubuhnya sendiri.
"Apa aku seganas itu" gumam Yara sambil menepuk pipinya sendiri dengan heran.
"Apa kamu baru sadar?" suara serak Rival ikut bangun bersama Yara. Ia merasa sangat lapar karena belum sempat makan sejak pulang tadi.
"Maaf mas, aku nggak sengaja" Yara merasa bersalah.
"Mas senang sekali kalau istri mas pintar merayu. Tapi kenapa kamu bisa begini?" selidik Rival.
"Nggak tau mas, sebelum pulang dari rumah Zein aku hanya makan seblak dan minum sirup" polos Yara.
"Sirup?????" Rival mulai curiga dengan keterangan Yara.
__ADS_1
"Ya sudah temani mas makan dulu. Mas lapar sekali malah harus meladeni kamu dulu. Jahat sekali kamu ini dek!" ucap Rival sambil mengusap pipi Yara lalu mengambil pakaiannya dan pergi ke kamar mandi.
"Maaf mas" ucap Yara lagi.
***
Pagi ini adalah kegiatan lari bersama. Rival melihat lehernya dalam pantulan kaca yang masih meninggalkan tanda merah.
"Cckk.. bagaimana mas menutupi ulahmu ini" Yara menunduk, wajahnya memerah. Rival tersenyum melihatnya.
"Sepertinya mas ketagihan gayamu semalam. Mas mau lagi donk!" Rival menaikan sebelah alisnya, tampak seperti pria mata keranjang.
Wajah malu-malu Yara sungguh menggemaskan.
------
"Sesuai arahan semalam hari ini kita lari dulu mengelilingi asrama. Kemudian nanti lanjut kegiatan bersama istri" tegas Nathan.
Nathan melihat Rival belum membuka seragam nya, sedangkan Rival sendiri yang mengatur kegiatan untuk pagi ini tadi malam.
"Kenapa belum siap?" tanya Nathan pelan di samping Rival.
"Zein saja yang lari, biar aku piket kantor" tolak Rival.
"Mana bisa. Lu yang buat kegiatan malah mau santai. Gimana sich lu"
"Heh..sejak kapan gue jadi orang suka ingkar? Kapan?? Ini semua gara-gara Zein. Karena ulah dia semalam Yara menyerangku" Nathan dan Zein memperhatikan dengan teliti dan mereka menemukan tanda merah yang sedikit tapi masih tertutup kerah seragam.
"Dasar stress lu, sudah tau mau lari malah bikin stempel" ucap Nathan sambil berlalu pergi.
"Apa yang kamu buat sampai kakakmu bisa seperti itu?" tanya Rival tegas pada Zein.
"Sebenarnya obat itu untuk Mutia bang, belakangan ini aku merasa Mutia menjadi frigid. Dia dingin sekali padaku bang" nada Zein terdengar memelas.
"Cckk..ada saja kamu ini. Lain kali hati-hati, Jangan sampai terminum siapapun lagi. Kalau ingat Yara seperti semalam bisa-bisa aku pakai sarung setiap hari dan tidak berangkat kerja" sungut kesal Rival.
"Tapi Abang suka khan??" goda Zein.
"Ya suka lah, siapa laki-laki yang tidak tergoda di pancing ikan asin. Tapi jujur aku lebih suka istriku yang natural" Rival menahan gemas mengingat kelakuan Yara semalam, wajahnya memerah.
"Puas lah Abang semalam. Aku yang susah" Zein menendang batu di depannya dengan merasa kesal.
.
.
__ADS_1