Untuk Kamu 2 ( Cinta Terindah )

Untuk Kamu 2 ( Cinta Terindah )
79. Kucinta dia.


__ADS_3

"Ada apa?" tanya David ikut panik.


"Mas Rival lemas sekali sejak pulang tadi"


"Kamu rawat dulu sebisanya dek. Aku segera pulang"


Setelah beberapa kali berdebat dengan Indira karena gadis itu menolak di antar pulang. David akhirnya bisa mengantar Indira pulang dan ia segera melaju ke tempat Yara.


***


Rival menahan sakitnya di hadapan Yara agar wanitanya itu tidak semakin khawatir. Yara mengusap wajah Rival yang mulai bercucuran peluh. Bibirnya kering memutih.


"Sini!! Tidurlah di samping mas. Mas tak apa sayang" bujuk Rival. Tak berapa lama karena merasa lelah, Yara tertidur di samping Rival. Pria itu menyelimuti Yara. Sungguh rasa sayangnya tidak pernah pudar.


"Apa yang terjadi. Yara panik menelepon ku?" suara David pelan melihat Yara sudah tidur pulas.


Rival mencoba bangkit tapi masih dalam posisi berjongkok, rasa berat di kepala dan rasa perut terpelintir semakin menjadi-jadi ia rasakan. Rival memercing merintih kesakitan. Melihat Rival yang menahan rasa sakit.


"Bang.. tolong bantu saya ke toilet!"


"Kamu ini kenapa??" panik David sambil memapah Rival yang jalan saja hampir tidak mampu.


Sampai di toilet Rival menghabiskan seluruh isi perutnya. Muntah berkali kali membuatnya kembali kehabisan tenaga.


Aarrgghh..Eghm..


Tak ada kata lain dari mulut Rival selain merintih.


"Itu di tanganmu ada bekas tusukan jarum infus. Kamu sakit ya???" selidik David


Tak lama Rival merasa nyeri di ulu hati. Nampak bekas warna merah di sudut bibirnya.


"Kita ke rumah sakit saja" ajak David kembali memapah Rival.


"Jangan bang, Yara pasti panik" Tolak Rival. Baru saja Rival selesai berbicara, rasa mual kembali membuatnya tersiksa lagi.


Yara bangun dari tidurnya karena tidak merasakan ada Rival disampingnya. Ia pun mencari Rival.


"Maasss..kenapa mas????" pekik Yara melihat Rival di papah oleh David. Yara ingin membantu David tapi David menolaknya.


"Sudah kamu tunggu di ruang TV. Kamu tidak akan kuat menyangga Rival"


Rival merasakan badannya menggigil tiba-tiba. Sekujur tubuhnya sakit dan kepalanya berat. Hampir saja ia ambruk kalau David tidak kuat menahan tubuhnya.

__ADS_1


"Aahh..sudah..kita ke rumah sakit saja! Bahaya ini" David membuka pintu dan membawa Rival yang mungkin sudah pasrah jika David mau membunuhnya.


"Aku ikut mas!!!" rengek Yara.


"Ya sudah hati-hati. Licin!!!"


David terpaksa mengajak Yara karena tidak ada yang menemani Yara di rumah.


***


Dokter sudah memasang jarum infus pada punggung tangan Rival. Rival sudah bisa tidur setelah ada cairan yang masuk ke dalam tubuhnya.


"Sakit apa dok?" tanya Yara cemas. Dokter yang sudah mendapat kode keras dari Rival, terpaksa berbohong pada Yara karena Rival tidak ingin Yara yang sedang mengandung buah hatinya menjadi resah memikirkannya.


"Pak Rival hanya kelelahan Bu. Makan sembarangan di tambah faktor kelelahan ini. Mungkin saja pak Rival tidak merasakannya hingga harus di rawat karena sampai ada sedikit luka di lambungnya" jawab dokter Gunawan.


Yara tak tahu harus berkata apa lagi. Bahkan Rival sakit pun masih di sembunyikan dari dirinya. Yara mengusap kening Rival yang tidur dalam rasa sakit nya. Di genggamnya tangan pria di yang terbaring lemah di hadapan nya.


Ini salahku yang sempat melupakan mu mas. Harusnya dulu aku bisa mengingat semua dan menolak pernikahan dengan mas David. Aku tau mas.. tubuhmu juga hatimu begitu sakit saat ini. Maafkan aku, jika bukan karena kelalainku semua ini tidak akan terjadi pada hubungan kita.


---------


Yara tidur tertelungkup di samping ranjang Rival. David ikut menunggui Rival di rumah sakit. Tak lama Rival bangun dari tidurnya. Di lihatnya Yara tidur dengan posisi tertelungkup. Tangan kanan Rival yang masih lemah itu membelai lembut rambut Yara yang tertutup jilbab.


"Dek..bangun sayang" Rival menyapa Yara yang masih tidur. Yara menggerakkan badannya dengan berat dan pegal. Yara melihat Rival yang sudah bangun dan tersenyum ke arahnya.


"Aku mau disini menemanimu" perasaan sensitif Yara kembali muncul. Hormon kehamilannya sudah mulai membuat perasaannya mudah sekali berubah ubah.


Rival mengisyaratkan pada David agar segera membawa Yara pulang. Rival sangat paham dalam keadaan mengandung seperti ini. Yara akan sangat mudah lelah.


Yara tau Rival sengaja menyuruhnya pulang agar ia bisa sedikit lebih berbakti pada David. Tapi perasaan hati memang tidak bisa di bohongi. Rasa sayangnya pada Rival masih sangatlah kuat.


Hari semakin malam. Saat Yara berada di toilet, rasa sakit Rival kambuh.


"Abang..tolong bawa Yara pulang saja. Aku tidak mau Yara melihatku seperti ini" bisik Rival terbata.


"Siapa yang akan menemanimu disini. Apa kamu minta anak buahmu untuk menemanimu?" tanya David.


"Tidak bang, saya sendiri saja" jawab Rival.


"Kau jangan cari gara-gara ya. Kamu sendiri disini hanya dilayani para perawat sexy itu? Apa besok kamu ingin mendengar kisahmu hanya tinggal nama?" David melotot tajam karena tau Yara memang sangat pencemburu tak ada bedanya seperti Rival.


"Nanti aku urus bang ( Rival menahan sakitnya ). Bawa Yara pergi dulu!!!!" pintanya tidak tahan. Rival melihat Yara keluar dari toilet dan ia pura-pura tidur.

__ADS_1


"Dek..ayo pulang saja! besok aku akan mengantarmu kesini lagi. Biarkan Rival tidur, agar dia cepat pulih" bujuk David sekali lagi. Akhirnya dengan berat hati Yara menurut.


Langkah kaki Yara sudah tidak terdengar lagi. Rival membuka matanya, di ambilnya sapu tangan di bawah bantalnya dan membersihkan hidungnya yang mulai mengeluarkan darah lalu memencet tombol bantuan.


Yara melihat beberapa orang perawat berlarian ke arah kamar Rival, tapi Yara tak menyangka para perawat itu akan datang ke kamar Rival.


"Kamu jalan duluan dek. Mas mau menjawab telepon kantor. Pelan-pelan ya!!" alasan David.


____


"Zein..minta anak buahmu menjaga Rival di rumah sakit! Abangmu gawat darurat terkena DBD"


"Haahh?????" Zein terlonjak dari tidurnya mendengar telepon dari David.


____


***


David menyelimuti Yara di dalam kamar. Jelas sekali ia mencemaskan Rival yang sedang sakit. David sesekali memantau kondisi Rival dari Zein yang sudah berada di rumah sakit.


Zein sibuk menandatangani surat pernyataan di atas kertas yang di berikan dokter padanya.


flashback on


Zein berlari di koridor rumah sakit menemui Rival. Para perawat mendorong brankar memindahkan Rival ke ruang penanganan.


"Abang.. ada apa ini bang??? Kenapa Abang bisa tiba-tiba sakit" cemas Zein melihat raut wajah Rival.


"Kau jangan bersikap seolah aku akan mati esok hari" gerutu Rival melihat kepanikan Zein.


"Apa kakak ku tau Abang sakit separah ini???" tanya Zein.


"Cckk..kau ini. Ini hanya sakit biasa saja. Tidak perlu berlebihan" jawab Rival santai. Zein melihat brankar itu hilang masuk ke sebuah ruang penanganan.


Belum cukupkah Abang merasakan sakit ini sendirian? Cepat sehat Abang!!! Yara akan mencekik ku kalau sampai terjadi apa-apa denganmu bang.


flashback off


--------


David tidak bisa tidur. Pikirannya mencemaskan Yara yang selalu gelisah dalam tidurnya.


Aku tau di hatimu tidak ada aku lagi dek. Aku hanyalah secercah masa lalu dan aku sadar diri bahwa kamu tidak akan pernah kumiliki.

__ADS_1


.


.


__ADS_2