
Rival mendekatkan putra kecilnya pada Yara. Ayah satu anak itu membangunkan Yara perlahan, Istri Rival itu begitu bahagia menggendong bayi mungil yang langsung tertidur dalam dekapan Yara.
"Arbenero Inzagi Puma.. aku akan menamai anakku dengan nama itu" Rival mengusap pipi Yara.
"Kenapa namanya seperti itu mas??" protes Yara tidak suka.
"Itu anakku, terserah aku" jawab Rival dengan cuek. Yara hanya bisa menghela napasnya dengan kesal.
---------
Malam hari Yara melihat Rival tidur dengan pulasnya. Ia ingin ke toilet tapi tidak enak membangunkan Rival. Yara turun dari ranjangnya perlahan. Masih ada sisa pusing yang langsung menderanya. Baru beberapa langkah, Yara berpegangan pada dinding.. napasnya sesak memburu, pandangan matanya seakan berbayang. Kantong infus di tangannya jatuh membangunkan Rival walaupun suara itu begitu pelan.
"Kamu mau kemana dek???" Rival melompat cepat dari tidurnya.
"Mau ke toilet mas" lirih Yara.
"Kenapa berjalan sendiri? Apa kamu sudah kuat?" Yara menggeleng menjawab pertanyaan Rival. Rival segera mengangkat tubuh Yara masuk ke dalam toilet dan menunggui istrinya disana.
Yara memercing, wajahnya memerah menahan sakit.
"Masih sakit sekali?" Rival membelai rambut Yara dan hanya di jawab dengan anggukan saja.
"Aaawwww...sshh" Yara menghentakan kakinya pelan berharap sakitnya segera usai.
"Apa yang sakit dek?" tanya Rival ikut panik.
"Hmm..itu mas" Yara menunduk, ia malu mengatakannya pada Rival. Rival menarik napasnya mengerti mengapa Yara langsung terdiam.
"Sini mas lihat! Mas kompres ya dek" Rival mengangkat lagi tubuh Yara kembali ke ranjang setelah Yara selesai.
-------
Berkali kali Yara menolak tangan Rival yang akan mengompres luka Yara.
"Ada apa lagi sich dek???" Rival mulai gemas dengan kelakuan Yara.
"Untuk apa kamu malu dengan suami sendiri. Itu lihat!! kamu bisa punya Ben dari siapa??" tunjuk Rival pada Ben yang sedang tidur pulas.
"Dari mas"
__ADS_1
"Bagaimana caranya kamu dapat Ben?? Aku sudah lihat semuanya khan?" omel Rival sambil membuka penutup Yara.
"( Eegghhmm ).. Ya Allah dek" Rival menutup wajahnya dengan sebelah tangan setelah melihat bagian Yara yang sedikit membengkak. Rival langsung duduk dengan lemas. Ia melanjutkan mengompresnya.
Ya Tuhan.. di antara semua luka yang pernah kulihat, Hanya luka Yara saja yang membuatku lemas melihatnya. Begitu kuatnya kamu dek..menahan sakitmu sendiri untuk memberiku kebahagiaan ini.
Rival melihat Yara mulai nyaman, Rival menggenggam tangan Yara dengan sebelah tangannya.
"Terima kasih dek.. Mas sangat bahagia kamu sudah memberiku seorang anak. Maaf mas membuatmu seperti ini, menyakiti hatimu juga tubuhmu. Maaf ya" Rival mengecup bibir indah Yara.
"Aku juga bahagia mas" senyum Yara begitu cantik.
***
Yara berjalan pelan masuk ke dalam rumah. Rival menggandeng Yara sambil menggendong Baby Ben. Naya menyambut dengan bahagia cucu keduanya, Randy pun tak kalah heboh mengingatkannya saat ia mendapat Zein dalam hidupnya.
"Biar Ben ikut denganku saja ma" pinta Randy berebut dengan Naya.
"Nggak pa, mama dulu" tolak Naya yang masih ingin menggendong Ben.
Kaki Yara bergetar kembali, ia belum terlalu kuat berdiri.
"Biar mama dan papa menjaga Yara. Kamu istirahat saja di kamar!" Naya meminta Yara untuk beristirahat.
-------
"Ada bang Nathan bersama Vena dan......Nesya" Zein memanggil Rival.
Wajah Rival sudah berasa panas, ia berjalan ke arah ruang tamu. Vena langsung menghambur memeluk Rival dan Rival tersenyum senang melihat kehadiran Vena disana namun senyumnya kembali tenggelam melihat wajah Nesya.
"Ada apalagi kamu kesini? Apa belum cukup tangisan Yara? Kurang puas melihatnya seperti kemarin?"
"Bukan mas, aku kesini mau meminta maaf. Aku tidak tenang karena mbak Yara belum memaafkan ku" ucap Nesya.
"Lebih baik kamu pulang. Yara sedang istirahat dan tidak bisa di ganggu" tolak Rival. Vena turun dari gendongan Rival dan berlari memeluk Nesya.
"Val, kita bicara dulu lah. Aku tau Nesya salah dan aku berusaha membereskan masalah ini. Aku dan Nesya akan menikah. Setelah itu dia ada dalam pengawasanku" Nathan menjelaskan tujuannya.
"Apa kamu gila??? Mau menikahi wanita macam dia ini???" kesal Rival tak percaya.
__ADS_1
"Sudahlah Val, kalau ini bisa memperbaiki semua tak apalah. Lagi pula sejak melihatnya dalam penugasan..jujur aku sudah jatuh hati" Rival menggeleng tak percaya pada keputusan Nathan.
"Kamu menebus semua kesalahanmu dengan cara seperti ini?? Jangan bermain dengan pernikahan" nada Rival meninggi.
"Tidak begitu juga penjabarannya. Setelah seringnya kami bertemu belakangan ini, kami punya ketertarikan sendiri, jadi..aku sudah menaikkan berkas pengajuan nikahku ke kantor"
"Benar bang, bang Nathan sudah menaikan pengajuan tadi pagi" ucap Zein membenarkan pernyataan Nathan.
Rival tidak serta-merta percaya ucapan Nathan. Ia masih menyaring setiap kata yang terlontar dari mulut Nathan, apalagi Nesya hanya menunduk dan tidak mengeluarkan sepatah katapun.
"Lehermu patah? kenapa hanya diam dan menunduk sejak tadi?" bentak Rival pada Nesya.
"Sudah Val, jangan bentak Nesya terus. Aku yang akan bertanggung jawab jika istriku berulah lagi" Nathan mencegah amarah Rival.
"Haahh..?????" Rival bersandar pada sofa, tidak bisa bicara lagi. Zein pun terlihat santai dengan ponsel di tangannya.
"Siapa mas?" tanya Yara, ia terbangun dari tidurnya mendengar suara kencang Rival. Yara berjalan pelan menuju ruang tamu. Rival bangkit dari duduknya memapah Yara yang sesekali masih mengeryit menahan sakit.
"Kamu?????" Yara terkejut melihat Nesya duduk di hadapannya.
"Sabar dek.. tenang dulu" Rival mengarahkan Yara untuk duduk perlahan. Yara berusaha duduk walaupun rasanya sangat tidak nyaman.
"Biar aku yang jelaskan Ra. Kamu jangan cemas masalah Nesya lagi karena dia adalah istriku sekarang dan aku pastikan dia tidak akan menggangu rumah tanggamu. Jika Nesya sampai mengganggumu lagi. Aku sendiri yang akan menindak istriku" ucapan Nathan membuat Yara sedikit lega meskipun ia sempat terkejut.
Yara menatap wajah datar Rival yang masih melihat Nesya dan Nathan dengan lekat. Wajah Rival menunjukkan banyak pertanyaan dalam hati.
"Sekarang jelaskan pada istriku sejelas jelasnya agar ia mendengar sendiri dari mulutmu. Aku menyentuhmu atau tidak?" tegas Rival. Nesya malu, wajahnya memerah dan Nesya menyembunyikan wajahnya di belakang punggung Nathan.
"Tidak" Nathan menjawab cepat.
"Aku bicara pada Nesya, bukan padamu" Rival semakin kesal.
"Aku yang menjawab karena aku saksi mata di TKP. Aku yakin sekali karena aku yang melakukannya pertama kali" jawab Nathan yang kini juga tersipu malu.
"Dasar tak tau malu" Rival melempar bantal sofa ke arah Nathan.
"Tak jauh beda denganmu Khan!" ejek Nathan.
Rival tak tau lagi harus menyembunyikan dimana lagi wajah malunya itu.
__ADS_1
.
.