
Motor Rival melaju sekencang mungkin. Rival ingin segera sampai agar Yara bisa beristirahat dengan nyaman di rumah.
Satu jam berlalu
Yara menurunkan kakinya perlahan dari motor Rival yang tinggi. Rasa nyeri menjalar di sekujur tubuhnya terutama pinggang dan perut yang terkena tanduk sapi tadi. Yara yang berjalan pelan masih sulit menyeimbangkan tubuhnya.
Rival melihat istrinya nampak kesakitan segera mengangkat Yara setelah membuka pintu rumah.
"Pelan mas, sekujur tubuhku sakit perutku rasanya nyeri" Yara melingkarkan tangannya di leher Rival.
"Ada apa dengan perutmu, kenapa semua peristiwa selalu mengarah ke perutmu. Akan kuasuransikan perutmu yang mulai mengembang itu agar aku cepat kaya" gerutu Rival dengan perasaan tidak tega.
------
Rival melepas jilbab Yara dan mengganti pakaiannya, tak lama Rival kembali ke kamar sambil membawa baskom dan handuk kecil untuk membersihkan luka dan kotoran di tubuh Yara. Tak lupa teh hangat untuk istri tercinta.
Pelan pelan Rival membersihkan sisa darah dari kepala Yara. Hatinya meringis ngilu. Sesekali Yara menggelinjang karena perutnya nyeri.
"Maaf aku tidak menjagamu dengan baik"
Yara tersenyum menahan sakitnya, Yara tau saat ini Rival sangat cemas.
"Sakit sekali?? Kita ke rumah sakit ya??"
"Tidak perlu mas, ini tidak sakit lagi" terpaksa Yara membohongi Rival.
"Minum ini dulu biar perutmu lebih baik" Yara pun meminum teh yang di bawakan Rival.
***
"Kamu ijin saja hari ini" Rival masih melihat wajah pucat Yara Senin pagi.
"Aku sudah baikan mas, bahkan sudah lebih baik"
__ADS_1
"Jangan jauh dariku" Rival menautkan keningnya pada kening Yara masih menyimpan rasa khawatir.
-------
Kunjungan persiapan dilaksanakan dan di pusatkan di Batalyon tempat Rival bekerja. Anggota dari Batalyon lain sudah tiba untuk persiapan dan gladi kotor di Batalyon.
Mata Rival masih terus mengawasi Yara yang memang tidak terlalu banyak aktifitas. Yara sedikit - sedikit duduk karena belum begitu sehat tapi Yara masih memandu para panitia yang membutuhkan arahan.
Beberapa bus dan truk Batalyon lain sudah hadir. Ada sosok Kapten yang juga disambut oleh Komandan Batalyon. Rival merasa sosok tersebut memperhatikan Yara yang sedang menyambut istri anggota Batalyon lain sejak tadi dan hal itu membuat hati Rival panas.
Acara gladi di dalam ruangan itu berjalan dengan lancar. Acara hampir usai, sosok yang di lihat Rival tadi menghampiri Yara.
"Apa kabarmu dek?"
"Mas David?" wajah Yara memucat melihat lelaki yang melepas kacamata hitam di hadapan Yara, lelaki itu pernah menjadi kekasihnya dulu.
"Baik mas" jawab Yara ragu.
"Ternyata kamu sudah menikah, siapa lelaki yang sudah memenangkan hatimu?" suara lembut mengusik hati Yara.
"Apa kabar bang David!" sapa Rival berbasa basi.
"Baik Val, apa Yara istrimu??" Rival sedikit menegakan badannya memberi jawaban.
"Siap..benar bang. Ijin arahan"
David memaksakan senyum, senyumnya begitu getir terlihat.
"Tidak ada Val, jaga dia baik baik" David melangkah meninggalkan Yara dan Rival. Mata Rival melirik Yara yang menunduk sedangkan David nampak murung. Rival menggapai lengan David.
"Jangan ada wajah seperti ini di hadapanku bang dan jangan membuatku salah paham meskipun itu hanya masa lalu" tegas Rival.
"Jangan salah paham Val" jawab David.
__ADS_1
"Kalau tidak ada apapun, wajah Yara tidak akan seperti ini" Rival menarik kasar tangan Yara yang ternyata sudah menangis.
"Sakit mas!" Yara melepas tangan Rival.
"Jangan menangisi pria lain di hadapanku" tegas Rival tidak melepaskan tangannya.
"Jangan kasar padanya Val, aku tidak membahas yang dulu pernah terjadi" cegah David.
"Aku tidak mempermasalahkan yang terjadi diantara kalian dulu, aku hanya tidak suka ekspresi wajah Abang saat melihat istri saya, juga..aku tidak suka tangisan untuk pria lain dari wajah istriku"
"Maaf mas, aku tidak sengaja" pinta Yara memelas.
"Lepaskan Val, bahkan aku dulu tidak pernah kasar padanya"
"Apa katamu bang??? aku kasar??? Rival menghentak melepaskan cengkraman tangannya.
"Tanyakan pada Yara, kapan aku kasar padanya? pernahkah aku menyakiti fisiknya selama menjadi istriku??" beberapa orang keluar dari ruangan melihat ada keributan di dalam ruang penyambutan.
"Kamu memang tidak menyakiti fisiknya Val, tapi sekarang kamu menyakiti hatinya" jawab David setenang mungkin. Rival tertegun mendengar ucapan David yang langsung menancap di hati.
"Asal kamu tau Val hingga 32 tahun usiaku, aku masih rela membujang demi menunggu Yara, bahkan aku ikhlas dia menikmati hidup merasakan berpacaran dengan Tony agar dia belajar arti hidup secara meluas, tapi aku kehilangan kabar tentangnya dua tahun ini dan setelah aku tau hari ini dia sudah menikah denganmu, sungguh menyesalnya aku terlambat menjadikan dia sebagai istriku" sungguh panas hati Rival mendengar hati itu, rasa tidak terima ingin sekali mengarahkan tangannya untuk menonjok seniornya itu.
Yara melihat tangan Rival segera menghalangi hal yang mungkin saja akan terjadi.
"Aku tidak akan menangis lagi mas, aku tidak akan mengulangi lagi" Yara yang sesenggukan membuat dadanya begitu sesak. Yara kesulitan bernapas
"Dek.. kamu sesak? apa yang sakit?" Rival mendekap tubuh Yara. David memejamkan mata lalu memilih untuk pergi.
Yara menyandarkan tubuhnya pada Rival karena sudah tidak sanggup berdiri.
"Mas, aku mau pulang. Rasanya semua sakit" pinta Yara.
"Iya sayang, ayo kita pulang" Rival mengajak Yara pulang melupakan gelisah di hati, ia mengutamakan Yara daripada perasaan yang tidak penting.
__ADS_1
.
.