
Yara bersandar di sisi luar kapal melihat hamparan gelombang di hadapannya. Entah pikirannya melayang memikirkan apa.
"Menyesal menikah sama mas?"
Teguran Rival membuyarkan lamunannya, Rival duduk disamping Yara sambil menurunkan Arben dari gendongan nya.
"Aku bahagia mas. Nggak pernah ada kata nyesel nikah sama mas" jawabnya.
"Alhamdulillah.. Mas hanya minta kamu kuat dan tabah menemani mas dalam suka dan duka. Kemanapun mas pergi kamu selalu ada di samping mas dan nggak akan pergi tinggalkan mas"
Yara mengusap wajah tampan Rival.
"Belakangan ini mas sangat gagah dan tampan sekali" jawab Yara.
"Tampan dan gagah ini hanya milikmu. Tidak akan mas berikan pada yang lain" senyum Rival. Warna bibir Yara pink menggoda, tanpa sadar ada dorongan yang membuat Rival ingin mengecupnya. Nafasnya ikut berhembus kasar.
plaaakk
Si kecil Arben menampar pipi papanya yang ingin mencium pipi Yara.
"Jangan gigit!!" katanya.
"Papa sayang mama Arben. Bukan gigit mama" keluh Rival.
"Papa gigit mama" teriak Arben
"Itu sayang mama"
"Ben mau gigit Ay" kilahnya
"Nggak boleh" larang Rival.
"Papa gigit mama boleh" bantah Arben
Astaga Tuhan, anak ku ini!!!!
"Kalau papa harus sayang mama, karena papa sudah besar. Arben khan belum besar. Jadi nggak boleh sayang-sayang. Arben hanya boleh sayang mama" Rival menjelaskan sesuatu yang ia sendiri meragukan apakah ucapannya ada yang bisa di mengerti atau tidak.
Arben menyela duduk di antara Rival dan Yara.
"Papa nggak boleh duduk dekat mama" usirnya menyingkirkan Rival agar menjauhi Yara.
"Ini mama Arben" ucapnya.
"Terserah... ambil semaumu" ucap Rival melirik kesal.
"Kalau malam milik ku sendiri" gumamnya lirih. Yara tertawa bisa mendengar hal itu.
"Iihh.. mas sama anak sendiri cemburu"
"Kalau anaknya begini, lebih baik mas ajak perang" kesal Rival.
***
Rival menginjakan kaki di tanah Jawa. Lewat Semarang ia tiba.
"Selamat datang Kapten Rival" Kapten Agil menyambut Rival secara aturan baku lalu Kapten Agil memeluk Rival sebagai ucapan selamat datang sebagai adik.
"Siap"
__ADS_1
"Selamat datang ya Bu Rival" Sapa Bu Agil.
"Siap.. Terima kasih Bu Agil" jawab Yara.
Arben sudah berada dalam gendongan seorang anak buah yang sejak datang tadi sudah menawari Arben camilan hingga bocah kecil itu mau ikut om Faiz.
"Ini mau langsung saja atau kita makan siang dulu Val. Istrimu kelihatan capek itu" tanya Bang Agil melihat Yara yang sedikit memucat.
"Maaf bang, bukannya saya mau bersikap tidak sopan. Lebih baik saya membiarkan istri saya istirahat dulu"
"Oohh..iya nggak masalah. Biar bumil istirahat dulu. Kasihan lama di perjalanan. Iya Khan dek?" tanya Bang Agil pada istrinya.
"Iya.. benar pa. Bisa di tunda nanti malam juga"
"Terima kasih banyak bang" ucap Rival.
"Santai aja lah, gue juga pernah ngerasain momong bini mlendung begitu" jawab Bang Agil.
Mobil jemputan sudah datang menjemput mereka untuk langsung menempati rumah yang telah di siapkan Batalyon.
Sepanjang jalan Yara merasakan badannya memang lelah. Yara hanya memejamkan mata hingga Rival menyandarkan kepala Yara pada bahunya.
"Jangan mas.. malu" cegah Yara.
"Memangnya mas peluk istri orang??" tanya Rival.
"Nggak apa-apa Bu. Itu tandanya suami sayang istri. Khawatir anak yang ada dalam perut" balas Bang Agil.
"Itu dengar!! suami sayang istri, khawatir sama anak" tegas Rival.
"Iya mas"
"Hamil besar pasti capek om.. perjalanan jauh gini" Bu Agil menoleh ke arah Yara dan Rival.
"Istri saya kurang sehat belakangan ini" keluh Rival.
"Namanya hamil om, kondisi tiap ibu berbeda" jawab Bu Agil.
"Ini istriku saja mabuk sampai sembilan bulan. Kurang apalagi?" Agil melirik istrinya yang memang dulu juga parah saat hamil.
"Jadi sabar aja"
"Siap bang" jawab Rival.
--------
Di pos jaga para anggota piket memberi hormat pada Komandan.
Mobil melaju menuju rumah transit sebelum Rival memasuki rumah Dinasnya.
"Disini dulu nggak apa-apa ya"
"Siap.. aman lah bang!" senyum Rival lega sudah sampai rumah transitnya. Arben sudah berlari dan langsung bermain di sekitar rumah bersama om Faiz.
"Sayang.. bangun!!!! Sudah sampai" Rival mencium pipi Yara membuat istrinya itu bangun. Bang Agil sudah turun bersama istrinya. Tampak Bang Agil memanggil anak buahnya.
"Mas gendong ya?" tangan Rival bersiap menggendong Yara.
"Aku nggak apa-apa mas. Mau jalan saja" jawabnya.
__ADS_1
"Yakin???" Yara hanya mengangguk menjawab Rival.
Yara menginjakan kaki di tempat baru itu. Indah dan asri. Menyejuk kan hati dan mata.
"Sayang sekali.. tak akan lama disini" gumam lirih Yara.
"Namanya juga tugas dek. Kita akan menemukan suasana baru di setiap daerah. Jalani saja!"
"Mas akan merasakan bahagia dari sini. Tidak akan sesakit yang mas rasakan hidup di sini" tatapan mata Yara begitu sendu.
"Tentu saja sayang. Bersamamu tidak akan ada hari yang mas rasakan berat. Kamu adalah semangatnya mas"
Senyum terkulum menghiasi bibir Yara.
"I love you mas"
"Tumben yank.. ada apa nih" tanya Rival meledek.
"Mau mas Rival" Yara mengerlingkan mata.
"Ada apa kamu ini. Tumben banget" heran Rival. Yara menahan tawa melihat Rival yang heran tapi wajahnya begitu menyimpan rindu padanya. Tidak mungkin suaminya itu akan berulah apalagi ini di depan Bang Agil dan istrinya, terlebih ada beberapa anggota di sana.
"Simpan senyum itu, awas mas balas nanti" bisiknya lalu berjalan meninggalkan Yara untuk menemui Bang Agil.
Beberapa anggota membawa banyak makanan untuk Rival. Arben sudah gabung bermain bersama putri kedua Bang Agil yang berusia satu tahun.
"Abang tidak perlu repot begini" Rival merasa tidak enak hati.
"Apanya yang repot, nggak usah sungkan sama Abang sendiri" jawab Bang Agil santai. istri bang Agil pun tersenyum senang.
***
Yara duduk di balkon rumah transitnya menatap hamparan taman bunga indah di hadapannya, mengurai senyum manis di bibirnya. Ia membelai lembut perutnya yang sudah merasakan kehamilan tujuh bulan.
"Mikir apa?" tegur Rival mengeringkan rambutnya setelah mandi.
"Mas, aku pengen anak perempuan juga"
"Ha-ha-ha.. nggak puas donk kamu. Kata orang khan begitu" tawa renyah Rival terdengar nyaring di telinga.
"Hhiiihh.. pikiran mas nih selalu kemana-mana. Semua pemberian Allah mas" jawab Yara
"Iya dek, mas ngerti. Hanya bercanda. Lagian anak kita ini belum juga lahir. Kamu mau minta anak perempuan. Mas masih ngilu lihatnya dek"
***
Rival memarkirkan mobilnya usai makan malam dan membahas gladi untuk pergantian jabatan mereka besok. Arben sudah tidur pulas. Rival menidurkan Arben di dalam kamarnya.
"Mimpi indah ya jagoan papa!" Rival menyelimuti Arben lalu keluar dari kamar Arben.
"Kamu bisa khan melanjutkan acara besok?" Rival masuk ke dalam kamarnya bersama Yara, ia memperhatikan raut wajah istrinya yang sepertinya sudah lebih baik.
"Bisa donk. Acara hari ini sepertinya aku juga bisa mas" Yara menunduk malu melihat Rival.
"Eehheeeemm.. celaka kalau sudah begini"
.
.
__ADS_1