
Rival sampai di kantor dengan wajahnya yang sangat cerah. Tanpa beban dan terasa ringan. Hari ini Rival akan melakukan persiapan acara kenaikan pangkat menjadi Kapten.
***
Yara membongkar semua pakaian Rival untuk dicuci. Disana ia membawa semua pakaian itu. Saat membongkar, mata Yara tertuju pada satu baju yang terlihat noda. Noda lipstik.
--------
Rival pulang tapi tidak ada yang menjawab salamnya. Ia meletakkan ponsel di atas meja makan. Degub jantung Rival berubah kencang melihat Yara sedang memegang baju upacara Rival yang terkena noda lipstick melisa. Rival takut Yara salah paham.
Astaga.. kenapa aku bisa lupa mencuci bekas lipstik itu. Alamat Yara marah besar ini.
"Mas bertemu si Melisa itu lagi????" tanya Yara dengan wajah datarnya.
"Iya dek" jujur Rival.
"Mas main gila di belakangku???"
"Main gila dimana sih dek. Mas juga pulang lebih cepat khan?" jawab Rival dengan sabar.
"Jangan-jangan mas minta semalam itu karena kangen dengan Melisa dan bukannya aku"
"Ngaco aja mikirnya. Apa kamu pikir mas ini buaya darat, tebar pesona sana sini? Jelas mas kangen kamu lah. Kamu istri mas. Kemana lagi mas melepaskan rindu kalau bukan ke kamu" kesal Rival tapi masih bisa mengontrol emosinya.
"Terus lipstick ini dari mana mas???" Yara membuang baju itu di depan dada Rival.
"Melisa tersandung sampai menabrak bahu mas dek"
"Banyak sekali alasan mas ini. Dimana mas ketemu Melisa? Kenapa bisa sampai tersandung dan yang dia tabrak harus suamiku? Apa harus juga meninggalkan bekas lipstick ini di baju mas"
"Kamu mau tanya bagian yang mana??? Mas bingung jawabnya?" Rival mendengus kesal.
"Tuh khan... mas kesal dan malah membela Melisa?"
"Allahu Akbar dek.. siapa yang membela Melisa????"
"Dia ikut acara penutupan pendidikan karena di undang pimpinan. Selesai upacara dia meminta maaf karena sempat memaksa mas untuk nongkrong. Tapi saat mau minta maaf itu dia tersandung" tidak ada yang ditutupi Rival dari Yara.
"Apa mas?? mas nongkrong sama dia?? Jangan bilang hanya berdua??"
"Iya dek.. berdua. Maaf! Mas khan sudah bilang waktu itu" jawab Rival.
"Terlambat mas, mas melupakanku demi perempuan itu. Sekalian saja mas bilang dia janda anak satu!!!!!!" ketus Yara sambil membulatkan matanya tajam.
"Iya dek" kepala Rival menunduk merasa bersalah.
__ADS_1
"Mas keterlaluan"
"Maaf sayang" sesal Rival melihat Yara terus melihat ke arahnya.
dddrrrttt... dddrrrttt... dddrrrttt
Nomer tidak di kenal menghubungi Rival. Rival baru melirik nomer itu, suara Yara keburu mengagetkannya.
"Siapa itu???"
"Mana mas tau dek. Angkat saja!!"
Yara menyambar ponsel Rival dan mengangkat panggilannya.
"Mas.. ini aku Melisa. Mas sudah pulang ya?"
Seketika itu juga Yara menjadi marah dan memberikan dengan kasar ponsel itu pada pemiliknya.
"Nih Melisa mu. Yang memberi tanda cinta di tubuhmu" ucapnya lalu beranjak pergi. Rival menarik tangan Yara agar tidak pergi dari sana. Tanpa sadar Melisa di seberang sana mendengar perselisihan Rival dan istrinya.
"Tidak ada tanda cinta seperti yang kamu maksud. Semua tidak sengaja. Sekarang kamu dengar sendiri dari Melisa"
"Mel.. katakan pada istriku apa yang terjadi kemarin!"
"Sialan kau Mel. Kau mau membuat rumah tangga ku hancur??" bentak Rival dengan kesal. Ingin minta tolong malah berujung hancur.
Yara melepas kasar tangan Rival dan meninggalkan nya.
"Jangan hubungi saya lagi!!!!" Rival memastikan panggilannya dan masuk ke dalam kamar menyusul Yara.
Dilihatnya Yara mengambil koper dan membuka lemari memasukkan pakaiannya ke dalam koper.
"Mau kemana dek?" tanya Rival lembut mencegah tangan Yara memasukan pakaiannya ke dalam koper.
"Aku mau pulang ke rumah mama. Kenapa mas sulit sekali untuk setia?"
Rival berdiri di depan lemari menghalangi Yara yang ingin pergi. Ia tau sebenarnya Yara tidak benar-benar ingin pergi, ia hanya kesal dan cemburu saja. Selain hormon kehamilan yang kadang membuat perasaan ibu hamil jadi sensitif, Rival menyadari selama di tinggal tugas memang istrinya itu kurang waktu dan sentuhan kasih sayang darinya. Tapi tetap saja jika Rival tidak bisa mengerti, akan menjadi pertengkaran juga nantinya.
"Pernahkah kamu melihat mas menduakanmu di depan matamu?" Saat Yara mulai tidak peduli dengan ucapannya dan sibuk lagi dengan pakaiannya, Rival mencabut sangkur dan pistol dari pinggangnya, lalu melemparkannya di atas kasur.
"Itu ada sangkur, ada pistol. Mana yang mau kamu pilih. Mas pasrah kalau kamu mau bunuh mas sekarang. Mas ikhlas Mati di tanganmu kalau mas bohong"
"Nggak ada dalam pikiran mas untuk menduakanmu. Satu istri saja sudah begini repotnya kalau sedang cemburu. Apalagi dua, mas nggak mau jadi gila dek, nggak sanggup melihat kamu sampai tawuran"
"Bagaimana kalau mas bohong?" tanya Yara.
__ADS_1
"Laporkan mas di Batalyon. Mas akan mempertanggung jawabkan semua" jelas Rival.
Yara mulai luluh dan tidak marah lagi. Rival pun bisa melepas pegangan tangannya. Rival mengusap punggung Yara.
"Salah satu syarat rumah tangga tenang itu adalah percaya dek. Sekarang mas tanya.. Setelah ujian yang kita lewati. Apa kamu yakin mas mampu membuat rumah tangga kita berantakan? Mas hanya ingat anak istri di rumah. Ingat Arben, ingat anak kita yang masih dalam kandungan, ingat susahnya kamu mengandung anak kita. Mas tidak ingin anak-anak kecewa melihat papanya gagal memimpin rumah tangga."
Yara mengangguk karena suaminya memang tergolong pria setia.
"Mas pakai baju upacara. Menurutmu dimana mas punya kesempatan berduaan sama Melisa sedangkan selesai acara mas langsung pulang"
Yara mendongak melihat suaminya memastikan apa ada kebohongan disana.
"Mas pulang karena sudah terlalu rindu. Tidak ada waktu memikirkan wanita lain. Karena rindu kamu saja berat sekali mas rasakan"
"Terima kasih mas" Yara menunduk tidak sanggup melihat ketulusan Rival.
"Untuk apa? Mas tidak masalah meladeni cemburu mu itu dek. Mas juga masih suka cemburu"
Rival duduk di samping Yara hendak menciumnya. Tangan Rival memegang pinggang Yara yang mulai padat, bibir mereka semakin dekat bahkan napas berat terdengar dari telinga mereka.
kkkkrrrkkk..kruyuuukk..
"Mas lapar?" tanya Yara mendengar perut Rival bunyi. Pria itu hanya bisa nyengir kuda sambil menggaruk kepalanya dengan salah tingkah karena sudah merusak moment.
"Iya dek.. maaf ya?"
Yara tertawa melihat wajah Rival yang salah tingkah.
"Nggak apa-apa mas. Bisa di lanjut nanti. Aku masak cumi asam manis. Mas mau nggak?" tanya Yara.
"Waahh.. enak itu dek. Mas mau.. cepat ambilkan mas makan. Sudah kelaparan nih"
--------
"Mas.. aku cuma mau tanya.. tapi mas jangan marah ya!"
"Tanya apa?"
"Apa saat remaja dulu banyak wanita yang mendekati mu??" tanya Yara ingin tau.
"Lailahailallah... masih penasaran saja kamu dek!" senyum Rival menggelengkan kepala.
.
.
__ADS_1