Untuk Kamu 2 ( Cinta Terindah )

Untuk Kamu 2 ( Cinta Terindah )
77. Dalam keputusan


__ADS_3

David mendekatkan bibirnya pada bibir Yara melepaskan rasa sayangnya pada Yara. Yara mundur ingin menolak.


"Aku tidak akan memanfaatkan status kita. Tapi tanpa bisa kita menolak, status kita belum berubah. Aku sudah membuang harga diriku di hadapanmu. Apa aku harus memohon pada istriku?" David mengecup bibir Yara. Mendorong pelan tubuh Yara ke atas ranjang. Tangannya mendekap erat merasakan setiap jengkal lekuk yang dirindukan.


Dalam kebimbangan, Yara tidak bisa berbuat apapun saat ini.


Tiba-tiba pintu terbuka pelan. Rival kembali pulang karena dahrim kopel nya tertinggal di dalam kamar. Tangan Rival mengambil dahrim yang tergantung di dinding.


Rival melihat dengan jelas kedua bibir saling berpagut. Terdengar napas berat David yang membelakanginya, juga mata Yara yang sembab yang terkejut melihat ke arahnya. Rival meletakkan telunjuk di bibirnya mengisyaratkan agar Yara diam dan tidak merusak suasana hati David karena ia tau bagaimana rasanya hasrat yang tidak sampai padahal suasana hatinya lah yang rusak saat ini.


Rival menutup kembali pintu kamarnya perlahan hampir tidak menimbulkan suara lalu berjalan keluar rumah. Sesampainya di teras, Rival berlari sekencang-kencangnya menuju bukit yang jauh di belakang Batalyon. Tak terlukiskan bagaimana rasa sakit di hatinya kini. Tidak ikhlas, tidak rela, cemburu, sakit hati juga cemas melihat Yara menangis.


Zein melihat Abang nya berlari merasa sangat khawatir dan memutuskan mengikuti nya. Rival berlari sampai di puncak bukit hingga kakinya lelah dan napasnya seakan mau berhenti. Rival mencabut sangkur di saku pinggangnya lalu menebas semua dahan dan ranting pohon di hadapannya dengan kalap dan brutal.


"Kenapa tidak Kau cabut saja nyawaku Tuhan. Aku manusia biasa, aku punya batas kesabaran. Kenapa Kau beri aku dan Yara ujian tiada henti" teriaknya sambil terus menebas segala yang ada di hadapannya.


"Kenapa aku harus melihat Yara bersama bang David dalam ketidak berdayaanku?? Aku punya hati, jangan Kau uji seperti ini" teriak Rival sambil menangis meraung meratapi nasib pernikahannya dengan Yara.


Zein menemukan Rival yang menebas tak tentu arah. Zein paham perasaan Rival saat ini yang tentu sangat berat untuk di hadapi. Zein menyergap tubuh Rival yang sulit di tenangkan padahal napasnya sudah mau habis karena menangis dan berteriak tanpa henti.


"Istighfar bang!!!!! Semua sudah terjadi dan kita harus mencari jalan keluar"


Rival masih saja berontak hingga membuat Zein kewalahan.


"Sekarang tanyakan pada hatimu bang, apa kak Yara tidak terluka dengan semua ini" seketika Rival berhenti. Ia terengah dan mengingat sorot mata Yara yang menginginkan agar Rival 'menyelamatkannya'. Tiba-tiba Rival merosot dan tertelungkup, ia muntah karena terlalu sesak. Zein cemas sambil membantu memijat tengkuk Rival.


"Astagfirullah.. Astagfirullah" tangis Rival kembali pecah, ia kembali berteriak sekencang nya. Rival memukul tanah di hadapannya lalu meremasnya kuat.


Zein tak sampai hati melihat Rival yang sudah cukup lama dengan kondisinya itu.


"Tolong beberapa orang bawa tandu dan naik ke atas bukit" perintah Zein pada anak buahnya melalui sambungan telepon.

__ADS_1


***


Pikiran Rival masih melayang penuh dengan beban, selang infus tertancap di punggung tangannya. Beberapa saat yang lalu Rival benar-benar kehabisan tenaga dan harus segera mendapatkan perawatan di unit kesehatan Batalyon.


-------


Rumah tampak sepi. Randy dan Naya tak ada lagi di rumah.


"Maaf" ucap David mengecup bibir Yara untuk berpamitan berangkat kerja sambil memakai seragamnya karena David harus mengawasi PAM malam lagi.


Yara diam tak bisa bicara sepatah katapun. Matanya masih saja sembab. Ia mengangguk pelan menjawab kata maaf David. Yara menarik selimutnya hingga menutupi leher.


Setelah rapi David keluar dari dalam kamar, saat menarik pintu kamar, Rival sudah berdiri di depan pintu. David dan Rival bertatap beberapa saat. David mengkode Rival agar ia segera masuk lalu David keluar rumah dan menaiki mobilnya.


Deru suara mobil sudah tidak terdengar. Rival mengunci rapat pintu kamarnya. Wajahnya datar tak berekspresi. Kamar itu berantakan tidak karuan. Yara menatap Rival dengan tatapan menusuk. Ia bangun dari tidurnya. Rival melihat tanda merah di atas dada Yara. Hati Rival mengumpat tidak terima tapi Rival tetap datar.


"Kenapa mas pulang? Bukankah mas senang hati kalau mas David bisa selalu bersamaku. Aku pastikan mulai saat ini aku sangat membencimu mas. Mas seperti seorang suami yang sedang menjual istrinya. Mas tidak menolongku saat aku membutuhkanmu." bentak Yara kencang.


"Ya Allah.. tega kamu ya! Bagaimana bisa ada pikiran mas menjualmu???"


Rival menghantam perlengkapan Yara di atas meja rias hingga jatuh berhamburan di lantai.


"Mas juga menyesalkan adanya kejadian ini. Mas juga merasakan sakit sama sepertimu"


Yara berjongkok ketakutan, ia menyembunyikan wajah di balik satu lengannya isakan kuat terdengar disana. Tangan satu lagi memegang perutnya. Entah apa yang dirasakan Yara.


Rival ikut berjongkok menekan ego dalam diri. Rival membelai rambut Yara lalu mendekapnya.


"Pernikahan itu sakral sayang. Suci di hadapan Allah. Jika jalan kita harus seperti ini, kita harus terima setiap ujian ini. Lebih baik kamu jaga saja kesehatan mu dan anak kita. Biar mas yang memikirkan semuanya. Baik-baik lah kamu menjadi seorang istri"


Rival mengangkat tubuh Yara dan menyelimutinya. Saat akan beranjak pergi, Yara menarik tangan Rival.

__ADS_1


"Mas jangan pergi lagi"


Mendengar rengekan manja istrinya, Rival melepas seragam luarnya lalu ikut masuk kedalam satu selimut bersama Yara. Rival terus membelai punggung Yara sampai wanitanya itu tenang.


"Kenapa kamu sampai seperti ini? Apakah bang David kasar padamu?" selidik Rival penuh rasa penasaran.


"Tidak mas. Mas David sangat lembut. Aku hanya tidak nyaman saja" gerutu Yara. Rival hanya tersenyum mendengar ocehan Yara.


"Tidak boleh begitu. Kasihan khan bang David"


"Apa mas tidak cemburu?" tanya Yara. Senyum Rival yang begitu kaku sudah bisa menjawab pertanyaan Yara. Ia pun tidak bertanya lagi.


Bagaimana aku tidak cemburu. Tapi apa dayaku sayang. Untuk marah pun juga tak pantas sebab semua ada di jalan yang benar, dan mungkin aku lah yang salah. Dia yang menyelamatkan hidupmu, menjaga mu untuk ku. Hutang nyawa yang tidak akan pernah bisa aku bayar. Bibir bisa berkata dengan mudah, tapi dalam hati ini tetap belum mengikhlaskan semua yang terjadi.


Belum mengikhlaskan ragamu harus terbagi. Sakit sekali kurasakan saat melihat mu bersamanya. Jujur kukatakan ini sakit sekali sayang.


"Kalau kamu tau ini anak ku, kenapa tidak bilang?" Rival penasaran mengapa Yara merahasiakannya.


"Aku hanya trauma dengan semua kata katamu dulu mas. Kamu begitu menolak anak kita sampai anak kita benar-benar tidak bersama kita saat ini"


Tak terlukiskan lagi bagaimana hancurnya hati Rival saat ini. Yara melihat banyaknya tekanan dalam wajah Rival.


"Aku tidak ingin mengingat lagi mas. Aku hanya berharap mas bisa lebih mengontrol emosi"


"Iya, Akan mas lakukan sesuai keinginan mu....Mas sayang kamu dek. Sangaaaat sayang" Rival mengecup kelopak mata Yara.


Senyum Yara mengembang sekilas.


"Aku tau mas"


.

__ADS_1


.


__ADS_2