
Rival semampunya berusaha mengontrol perasaan. Sebab ia tidak ingin kondisi mental Yara menjadi down.
"Bagaimana perasaanmu cantik?" David sengaja menguji Rival. David tersenyum memandang Yara. Yara tersenyum sekilas.
"Sangat tidak nyaman mas. Suamiku ini begitu galak, pencemburu, pemarah, kaku........"
"Sayaaaaaangg... masih berapa banyak lagi keburukan suami ini?" Rival mencolek bibir indah Yara.
"Jika dia tidak sayang padamu, bilang padaku!!" ucap David.
"Lalu Abang mau apa? Tidak mungkin aku tidak menyayangi istriku" kesal Rival.
"Aku tidak dengar" ucap Yara.
Rival merasa David dan Yara sedang mengerjainya.
"Eehhmm..Itu masalah pribadi" ucap Rival gengsi.
"Baiklah..aku saja yang mengucapkannya" David tersenyum genit sambil mengulurkan tangan pada Yara.
Rival berdiri di hadapan David menepis tangan 'saingannya'. Rival berbalik dan mencondongkan tubuhnya ke arah Yara membisikan sesuatu.
"Kagem garwane mas Rival, Sigarane Nyawa mas Rival. Sanalika mas Rival ngucap janji nyeyanding kowe, Gusti Allah uga dumadi saksi tresno lan sayang mas Rival amung kanggo kowe cah ayu. Mas Rival nyuwun pangapura tansah asring nglarani atimu. Kangmasmu mboten saged nadamel ukara ingkang sae"
( Untuk istri Mas Rival, Belahan Jiwa mas Rival. Sejak mas Rival mengucap janji menjadikan mu istriku, Allah pun menjadi saksi sayang dan cinta mas Rival hanya untuk kamu cantikku. Mas Rival minta maaf sudah sering menyakiti hatimu. Masmu ini tidak bisa membuat kalimat yang indah )
Rival mengecup bibir Yara penuh perasaan. Senyum Yara tersungging manis menghiasi wajah sendunya. Di usapnya pipi Rival dengan lembut.
"Artinya apa mas?" lirih Yara. Rival tersenyum geli mendengar pertanyaan Yara.
"Iiisshh..kamu ini" gemas Rival.
"Kamu yang merayu, aku yang tersipu malu" wajah David memerah menggeleng kepala. Jelas bagi tentara sangat mudah memahami perbedaan bahasa. Zein pun ikut tersipu mendengar ucapan Rival.
"Kita bicara di luar bang!" ajak Rival.
--------
"Saya minta maaf bang, saya tidak bisa mengontrol diri"
__ADS_1
"Sudah jangan di bahas lagi, yang penting istrimu sudah tidak apa-apa. Kamu juga jangan berpikir jelek lagi. Masa lalu di antara kami sudah berlalu"
"Ada satu masalah lagi bang. Ternyata Azizah adalah bagian dari masa lalu papa" ucap Zein.
"Masalah apalagi ini? bisakah rumah tangga ku dan Yara tenang?" Rival duduk di bangku ruang tunggu.
flashback on
"Yara tidak salah apapun padamu" tegur Reno.
"Dia memiliki papa yang sayang padanya, sedangkan aku tidak. Sejak dulu aku hanya bisa memandang papa dari jauh, memandang tawa bahagia Yara dan perempuan perebut kebahagiaan mama" teriak Azizah.
"Tidak seperti itu ceritanya. Saya saksinya!! Mamamu bertemu dengan pak Randy saat sedang bertugas di seberang. Pak Randy hilang ingatan dan keluarga mu yang menolong. Posisi mama mu sedang hamil, Bu Naya juga sedang hamil Zein. Mama mu depresi dan menganggap pak Randy sebagai Ahmad suaminya" ( Cerita ini ada di 'Untuk Kamu' ya😉 ).
"Aku tidak percaya!!! Aku harus mendapatkan pak Rival agar Yara tau bagaimana rasanya ditinggalkan orang yang sangat dia cintai" Azizah menangis, berlari keluar dari ruang introgasi. Zein ingin mengejarnya tapi di cegah oleh Randy.
"Bagaimana nasib kakakmu Zein" kaki Randy lemas. Reno menarik kursi agar Randy bisa duduk dan lebih tenang.
"Sekarang Rival pun menyakiti putriku" keluh Randy.
"Abang seperti tidak pernah muda saja. Rival memang salah, tapi dia sangat mencintai putrimu. Bahkan mungkin jika Yara meminta nyawanya pasti akan di berikannya juga. Menantumu hanya terlalu barbar. Sesuai lah dengan julukannya King Cobra. Intai..temukan..serang tanpa ampun t " jelas Reno menenangkan hati Randy.
"Boleh lah sekali kali" jawab Reno.
flashback off
"Ular betina. Pusing sekali kepalaku harus terus berurusan dengan wanita. Ada saja ulah mereka yang membuatku pusing" kesal Rival.
"Kamu harus kuat iman. Kasihan Yara mu Val. Dia wanita yang kuat, tapi wanita tetaplah wanita. Tegakah kamu melihatnya terus seperti ini" tanya David.
"Aku akan selesaikan masalah Azizah ini" ucap Rival.
"Hati-hati.. ide wanita bisa menguras tenagamu" cemas David.
"Tidak ada wanita yang lebih bahaya daripada istriku. Kalau dia menyebut cerai lagi. Matilah aku bang"
braaaakk
Rival terkejut lalu masuk ke dalam ruangan Yara.
__ADS_1
"Ada apa dek??" panik Rival.
"Perutku sakit lagi mas" jawab Yara terbata.
"Apa sulit keluarkan suaramu sedikit untuk memanggilku?" mata Rival melotot tajam mengangkat Yara kembali ke ranjang. Yara menahan rasa sakit menggelinjang di atas ranjang.
"Jangan kamu tahan. Lepaskan kalau sakit" Yara mencengkeram kaos Rival merasakan perutnya yang seakan di peras.
"Zein.. tolong panggilkan Farhan!!!!" teriak Rival dari dalam ruangan.
Zein melongok ke ruangan sesaat sebelum lari mencari Farhan. David nyelonong masuk, tampak wajahnya juga begitu panik seperti Rival. Rasa cinta belum sepenuhnya hilang dalam hatinya. Ingin sekali ia membantu Yara, namun apa daya.. wanita itu tidak akan pernah halal baginya.
Farhan masuk dan segera melihat kondisi Yara.
"Kamu harus tau Val, obat itu memang terkuras dari perut istrimu. Tapi pasti sudah ada yang hancur juga dalam perut istrimu"
"Katakan dengan jelas, aku tidak suka penjelasan yang berbelit-belit. Bagaimana kondisi istriku" kesal Rival.
"Sudah ada yang bereaksi dalam rahim istrimu. Satu obat saja sudah berpengaruh Val. Yang tersisa di tubuh istrimu 10 butir, 6 yang bisa kami ambil. Kalau malam nanti tidak ada pendarahan. Istrimu aman Val, tapi kalau ada pendarahan..maaf Val, sebaiknya di kuretase saja" jelas Farhan.
"Ya Allah.. apa kau mau membunuh bayi yang baru tumbuh?" bentak Rival pada Farhan.
"Kalau pun anakmu bisa lahir, dia akan cacat Val" jujur Farhan.
Rival bagai tersambar petir. Jantungnya terasa sakit hingga sampai ulu hati. Ia menyanggakan tubuhnya yang seakan tak bertenaga pada ranjang Yara. Perih di hatinya tak ingin ia tunjukkan pada Yara yang terus merintih kesakitan.
"Mas bisa apa untuk mengurangi rasa sakitmu dek?" suara Rival sudah terdengar parau.
"Aku ingin anak ini lahir apapun yang terjadi mas. Kalau mas tidak inginkan anak ini, mas masih punya kesempatan untuk meninggalkanku sebelum anak ini tau siapa ayahnya" bisik Yara pelan.
"Bicara ngawur apalagi kamu? Apa kamu kuat jika terjadi sesuatu pada anak kita?" tanya Rival hati-hati.
"Cukup satu aku kehilangan. Aku ibunya mas, akan aku jaga dan lindungi dia sampai kapanpun" ucap Yara mantap dalam suaranya yang tercekat.
"Baiklah sayang, mas juga tentu akan menerima segala apapun yang akan terjadi pada anak kita. Mas tidak akan pernah meninggalkanmu dalam menghadapi setiap ujian dalam rumah tangga kita" janji Rival dengan hati bimbang memikirkan Yara.
.
.
__ADS_1