
Rival mengulur tarik perasaan nya. Perasaannya terbolak balik melihat Yara yang menyilaukan matanya.
"Jangan seperti itu. Kamu tau khan Farhan melarang kita melakukannya karena itu bahaya?" tolak Rival dengan suara berat.
Entah apa yang ada di pikiran Yara saat itu, ia langsung naik ke atas pangkuan Rival membuatnya semakin kelabakan.
"Mas masih ingat anak dek" Yara membungkam bibir Rival dengan kuat.
"Kunci pintunya mas!"
Rival merebahkan Yara bagai terhipnotis segera mengunci pintu seperti permintaan istrinya. Nafas Rival memburu antara akal dan perasaannya sangat bertolak belakang. Ia setengah menindih Yara, mencium kening turun ke hidung hingga bibir.
"Kalau sudah begini mas harus gimana sayang?" suara Rival nyaris hilang tertelan rasa.
"Mas nggak bisa dek.. mas sayang anak" tolak Rival dengan wajah yang amat tersiksa.
"Berapa lama mas kuat menahan rasa seperti itu?"
"Mas kuat asal kamu nggak ganggu mas seperti ini. Iman suami bisa runtuh total kalau istrinya macam kamu begini" jawab Rival memelas.
Yara mengalungkan kedua tangannya ke belakang leher Rival lalu menandai bahu Rival dengan cintanya. Nafas Yara di samping lehernya membuat pikiran Rival semakin bertamasya kemana mana. Tangannya mulai mengincar kesenangan yang tadinya ia tahan kuat.
"Kamu yakin kuat dek? Kalau kamu nggak yakin lebih baik selesai sekarang" tanya Rival ragu.
"Aku hanya takut tidak yakin bisa menyenangkan hati suamiku lagi" ucapan Yara seolah tidak terdengar karena Rival sibuk menata libidonya.
"Mas lakukan pelan-pelan ya dek?" ijinnya.
Yara mengangguk. Dalam hatinya mengalir ribuan perasaan yang tidak bisa ia ungkapkan.
_______
_______
"Kamu malam ini beda banget" ucap Rival masih menggenggam tissue di tangannya.
"Mas suka?"
"Suka.. puas banget dek"
Yara mengusap pipi Rival dengan sayang, di belainya rambut suaminya hingga Rival terlelap dalam lelahnya.
Yara mengusap air mata beralih mengusap perut buncitnya.
"Kamu harus bertahan sayang"
***
Sorak Sorai para anggota menyambut Danki mereka yang baru. Lettu Oka mengarahkan anggota agar menyerukan yel kebanggaan mereka.
Ibu pengurus melihat Yara hamil besar dan sudah kesulitan berjalan segera mengarahkan Yara untuk duduk.
"Ijin ibu. Lebih baik ibu duduk saja biar tidak capek. Acara serah terima jabatannya masih lama" ucap Bu Willy.
"Terima kasih Bu" ucap Yara hangat.
--------
__ADS_1
Rival mengarahkan Yara untuk duduk saat Rival sedang memberi arahan dan sambutan pada para anggota beserta istri.
"Duduk saja dek" ucapnya saat Yara menggamit lengannya dengan kencang.
"Maaf ya bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian. Nyonya saya sekarang mudah lelah. Mohon memaklumi ya"
-------
Rival menghampiri Yara setelah mengucapkan beberapa patah kata di depan. Rival berjongkok dan melepas sepatu Yara lalu memijat tumit Yara yang bengkak.
"Capek ya? Mas ambilkan minum dingin ya?"
"Iya mas"
Saat Rival sudah berdiri Bu Willy sudah mengambilkan es buah untuk Yara.
"Terima kasih banyak ya Bu" Rival menerima gelas pemberian Bu Willy.
"Sama-sama pak. Apa ibu sedang tidak sehat pak?" tanya Bu Willy.
"Istri saya tidak pernah sehat saat hamil begini Bu" Rival berucap sedih.
"Itulah ibu hamil Pak Danki. Lebih baik suami siap siaga saja" saran Bu Willy seorang istri anggota senior di kompi BS yang baru Rival tempati.
"Iya Bu benar. Saya kadang sampai takut kalau istri saya hamil begini" keluh Rival.
"Sabar Dan.. Hamil kedua istri saya juga parah" Serma Willy ikut menenangkan Rival.
--------
Rival menyuapi Yara makan dan minum es buah saat si kecil Arben berlarian di sekitar taman. Tidak mungkin bocah gendut itu tidak kenyang, Sedari tadi Arben makan apa saja yang di berikan para ibu pengurus dan om-om yang gemas melihatnya sampai papanya tenang menemani mamanya.
"Ya sudah.. mas kembali ke sana ya ( tunjuk Rival pada anggota yang sedang makan di sisi kiri ruangan )"
"Iya mas"
-------
Siang sudah tiba, seluruh anggota sudah bersiap untuk pulang istirahat siang. Yara pun sudah lebih nyaman, ia pun juga berjalan bersama ibu pengurus yang lain untuk pulang. Matanya mencari keberadaan Arben yang tidak terlihat olehnya. Perasaan Yara menjadi tidak tenang.
"Om.. lihat Arben" tanya Yara pada bujangan yang ia lihat.
"Ijin ibu.. maaf saya tidak lihat"
"Iya om, terima kasih!"
"Om Oka, mana mas Rival? Tolong bilang suruh cari Arben. Ponsel saya lowbet om"
"Oohh.. iya Bu Rival, saya bilang Danki dulu" jawab Om Oka menghubungi Rival lewat telepon.
"Bang, istri Abang bilang Arben tidak di tempat"
Tak lama terlihat Rival berlari ke arah aula ditempat Yara tadi.
"Kamu nggak lihat kemana Ben pergi??"
"Kalau aku tau ya aku nggak tanya mas donk" jawab Yara. Rival menepuk dahinya.
__ADS_1
"Ka, ikut cari pemberontak. Saya belum paham lingkungan sini. Ajak yang lain" tawa Oka langsung meluncur begitu saja. Rival melihatnya dengan tajam.
"Apa yang kamu tertawakan??"
"Masa Abang cari anak kecil dua tahun saja harus mengerahkan anggota??" ledek Oka.
"Kamu melawan senior??" kesal Rival.
"Siap salah bang. Oke..kita cari"
"Kamu tunggu dulu disini" Rival mengatur Yara agar menunggunya di pos jaga.
-----
Dua jam berlalu belum di temukan juga si kecil Arben. Para anggota mulai kewalahan.
"Kemana tempat yang belum kita lewati?" tanya Rival.
"Ijin Dan.. sudah semua" Rival menatap kebun jagung di sekitar kantor kompi. Rival memegang kawat berduri yang menjadi pembatas kebun jagung dengan kantor kompi.
"Tidak mungkin Arben lari ke kebun jagung Dan" ucap Serma Willy.
"Anak saya itu super Pak Will" jawab Rival sambil menelusuri kawat duri sampai ke ujung pagar kompi. Rival menarik kawat itu ke atas.
"Putus...." Gumam Rival menunduk karena sudah lelah fisik dan pikiran.
Rival menarik kawat itu untuk melonggarkan nya. Rival masuk ke dalam kebun jagung yang lebat itu diikuti beberapa anggota lain.
"Arben!!!!" panggil Rival.
"Arben main disini?"
"Arben.. Arben.. Arben.." panggil anggota yang lain.
Rival berjalan semakin jauh ke dalam kebun jagung.
Grusak.. grusaakk..grusaaakk
Rival memasang telinga mendekati sumber suara dengan langkah yang cepat. Samar terlihat Arben yang sedang duduk manis memainkan sesuatu.
"Arbeeenn!!!!!!!!!" Rival menyambar seekor ular Welang di tangan Arben. Rival memutus badan ular itu menjadi dua dengan tangannya sendiri lalu melemparnya jauh. Para anggota yang melihatnya ternganga tak percaya dengan kejadian itu.
Rival mengangkat Arben lalu menggendongnya, di lihatnya tubuh putranya baik-baik.
"Kamu tau main apa barusan???" bentak Rival kuat. Anggota disana baru merasakan aura tegas seorang Danki di hadapannya. Mereka terkejut dengan suara itu. Arben yang kaget sampai menangis.
"Ciap.. tau" Arben menegak kan badan di gendongan papanya seperti seorang tentara.
"Apa????" tanya Rival.
"Bulut.." jawabnya polos.
"Belut???????? sejak kapan belut punya lidah" bentak Rival lagi. Arben kesal, ia memberontak di gendongan Rival.
"Kamu ini selalu buat papa ribut dengan mama" kesal Rival di iringi tawa para anggota di belakang Rival.
.
__ADS_1
.