
Nathan sudah selesai membuat sambal khusus untuk Yara. Semua orang sudah pulang ke tempat masing-masing. Hanya ada Rival, Yara dan Nathan di rumah itu.
Nathan melihat Yara tidur di bahu Rival. Terlihat wajah Yara begitu lelah dan letih. Kini rasa haru. Nathan duduk di pinggir pintu memberanikan bertanya pada Rival.
"Apa dulu Laras juga seletih itu saat mengandung anakku?"
"Iya, hamil muda memang sangat menyiksa. Laras juga mual dan muntah setiap hari. Hanya saja Yara jauh lebih lemah daripada Laras. Yara punya asma juga" jelas Rival mengusap pipi Yara.
"Apa Laras dulu juga mengidam seperti Yara dan susah makan seperti Yara?"
"Laras tidak begitu rewel soal makan, mungkin ia tau kalau ayah dari anaknya tidak peduli padanya" ucapan Rival membuat hati Nathan terasa tersayat.
"Apa ada yang ia inginkan saat hamil dulu"
Rival tersenyum tertahan namun pilu untuk di rasakannya.
"Saat hamil seusia kandungan Yara ini, hormon wanita kadang meninggi dan aku tau itu. Laras menginginkan apa yang tidak bisa kulakukan. Bagaimana mungkin aku melakukannya pada wanita yang bukan istriku, terlebih setelah kejadian itu, rasa cintaku sudah hilang. Laras sempat sedih dan berniat menjauhiku. Tapi setelah aku menjelaskan alasannya akhirnya dia mau mengerti"
"Seperti itu kah kamu menanggung apa yang sudah aku lakukan? Maaf Val?" sesal Nathan begitu dalam.
Rival tersenyum kecut, Rival terus mendekap Yara yang kini sudah ia pindahkan tidur ke pangkuannya. Rival terus mengusap perut Yara. Nathan bisa melihat jelas bagaimana Rival yang sangat garang di luar begitu mencintai Yara dan begitu bahagia menantikan calon anaknya.
Air mata Nathan menetes mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu saat Yara sangat terpukul ketika dirinya meminta maaf karena telah membuat calon anaknya hilang. Yara sungguh tidak bisa menerimanya dan Nathan memahami itu. Rival menenangkan Yara dengan bijak hingga Yara mulai bisa menerima keadaan, tapi tidak bagi Rival yang saat itu menyimpan lukanya sendirian kehilangan bayi yang sangat ia nantikan.
Nathan melihat kerapuhan Rival yang kala itu menangis menumpahkan isi hatinya ketika Nathan meminta maaf pada Rival. Di biarkannya Rival menghajar dirinya hingga puas dan Nathan ingin menyelesaikan semua sebagai seorang pria sejati. Sampai hari ini Rival baru bisa membuka hatinya dan maaf itu ia dapatkan.
***
__ADS_1
Danyon melihat dua surat ijin cuti ke arah yang sama dan tanggal yang sama pula. Danyon sempat memanggil mereka dan akhirnya Danyon mengabulkan surat cuti mereka.
Siang ini Rival dan Yara baru pulang dari rumah sakit untuk memeriksakan keadaan Yara sebelum pergi cuti ke Jawa esok hari. Semua aman dan Rival bisa tenang.
--------
Tas untuk di bawa esok sudah di pack Rival. Tidak banyak barang bawaan Rival karena Rival orang yang praktis dan tidak ingin seperti orang kena gusur.
Rival melihat kembali baju anak perempuan berusia dua tahun yang tadi sempat di belinya untuk Vena dengan ijin dari Yara. Rival memeluk baju itu kemudian mengerjapkan mata agar tidak tumpah air matanya.
***
Esok harinya setelah beberapa jam naik kapal, sampailah mereka untuk naik pesawat menuju Jawa. Yara bolak balik harus ke kamar mandi karena merasakan sisa mabuk laut. Juga naik pesawat adalah pengalaman pertama seumur hidupnya. Rival tetap setia siap siaga menemani Yara yang sedang mabuk perjalanan juga di tambah mabuk pada kehamilannya.
"Bagaimana istrimu?" tanya Nathan ikut khawatir saat Yara kembali dengan wajah pucat.
"Ya begini ini" wajah cemas Rival membuat Nathan ikut sedih.
***
Nathan sudah menurunkan barang saat mereka semua. Yara turun dari mobil dengan keadaan lunglai dan lemas. Yara terus saja muntah di kebun halaman depan rumah nenek Rival.
"Oalah Le.. sudah datang. Ini istrimu ya?" tanya nenek Rival yang masih nampak sehat bersama kakek di sana.
"Iya Mbah. Istriku lagi mabuk. Hamil muda Mbah" jawab Rival tersenyum bahagia. Yara menyalami kedua Mbah sepuh walau dirinya hampir tumbang karena tidak kuat berdiri.
Mbak Kakung dan Mbah Putri mempersilahkan semua untuk masuk ke dalam rumah. Rival memapah Yara yang menyandarkan badan padanya karena masih mabuk.
__ADS_1
"Kasihan kamu ndhuk. Ya begini kodratnya wanita. Ini tanda bakti pada suami. Mau dititipi berkah dari suami" ucap Mbah Putri membelai Yara sambil membawakan jahe hangat untuk Yara.
"Yang sayang sama istri. Kasihan istrimu payah sekali. Ini Khan juga karena kamu Le" imbuh Mbah Kakung. Rival hanya tersenyum mengiyakan.
Nathan yang baru hari ini bersama Rival semakin menyadari betapa ia dulu sangat menyusahkan Larasati.
-------
"Mas temani mandi ya! Mandinya di sumur belakang sana" tunjuk Rival pada sumur yang harus di katrol dulu untuk mengambil airnya.
"Kenapa rumah Mbah nggak di perbaiki mas?" tanya Yara yang melihat rumah Mbah masih sangat tempo dulu dan mungkin tidak ada yang berubah lengkap dengan kayu bakarnya.
"Kalau Mbah mau, sudah dari dulu ayah dan om Suherman merenovasi rumah ini. Mbah tidak ingin ada yang berubah dari rumah ini. Rumah ini penuh kenangan"
Yara sudah mengerti dan berjalan mengikuti Rival pergi ke sumur. Dilihatnya Rival membawa ember berisi kain dan alat mandi. Sampai di sumur yang sekaligus dengan tempat mandi, Yara melihat tempat mandi itu hanya tertutup bilik bambu sebatas bahu orang dewasa. Ada sebuah gentong berukuran sangat besar, kendhi dan batu yang bisa di pakai untuk duduk.
Yara celingukan bingung tidak tau bagaimana caranya mandi di tempat seperti itu. Rival paham kebingungan Yara. Ia tersenyum dan mengambil kain untuk Yara.
"Buka bajumu dan pakai kain ini untuk mandi" perintah Rival sambil ia sendiri melepas pakaian dan hanya menggunakan celana pendek untuk mandi. Rival menimba air hingga bak mandi itu penuh untuk Yara dan dirinya mandi.
"Mas nggak keluar dulu?" tanya Yara dengan wajah memerah.
"Nggak..kita nikmati saja setiap moment di antara kita" lembut Rival dengan tangannya membuka jilbab Yara. Yara pun membuka pakaiannya di hadapan Rival. Pemandangan indah itu membuat silau mata batin Rival. Jiwa pria Rival seketika melonjak tajam, Rival berdehem melonggarkan napasnya yang kian memburu tapi ia berusaha menepisnya.
Yara menikmati sekali mandi di suasana pedesaan. Senyumnya mengembang sempurna. Hampir setengah jam lamanya Yara tidak mau selesai dari acara mandinya. Nathan yang menunggu Rival dan Yara mandi sampai bosan di buatnya. Mbah Kakung pun menghampiri Nathan sambil membawa dua cangkir kopi.
"Anakmu sudah besar Le"
__ADS_1
.
.