
Azizah mendekati Rival yang tidur pulas padahal jam dinas masih sangat pagi. Pukul delapan disana.
"Aku tidak mencintaimu, tapi aku harus mendapatkanmu" sinis Azizah. Ia meletakkan laporannya lalu mendekati Rival.
Azizah membuka sabuk Rival lalu membuka kancing bajunya sendiri, mengangkat rok seragam dan duduk di antara tubuh rival merebahkan diri di atas tubuh Rival.
"Masih pagi sayang. Mas capek sekali, nanti ya" ucap lembut Rival mengigau dari tidurnya dan mengira yang mengganggunya adalah Yara.
Pintu ruangan Rival terbuka lagi. Yara membukanya perlahan.
"Ya Allah..mas Rival" pekik Yara lalu menutup mulutnya sendiri. Nafasnya terasa sesak, perutnya pun ikut menegang. Sontak Rival kaget dan membuka matanya yang belum fokus. Nyawa yang belum sempurna melihat Yara yang gemetar dan bersandar pada dinding.
"Kenapa kamu di ruangan ku Zi?????" Rival mendorong Azizah hingga jatuh di sofa.
Rival melompat ingin menghampiri Yara tapi kemudian ia menyadari pakaiannya yang berantakan.
"Ya Tuhan..ada apa ini??" gumam Rival bingung, ia membenahi posisi kancing celananya dengan benar. Semalam egonya memang naik begitu tinggi, tapi semua itu menghilang saat melihat Yara yang sangat terpukul melihat kejadian ini. Rival sudah berjanji tidak akan ada kejadian seperti ini lagi. Namun ternyata semua tidak sesuai dengan janji.
"Ini nggak seperti yang kamu lihat dek. Sungguh" Rival panik menggapai tangan Yara dengan hati-hati. Yara menepis tangan Rival.
"Mas nggak mengakui kalau ini anakmu! Mas menuduhku berselingkuh dengan mas David, menyuruh ku menggugurkan kandungan ku. Tapi apa yang mas lakukan? Mas tidak pulang dan malah berduaan dengan Azizah. Aku akan mengabulkan keinginan mu mas. Anak ini akan aku gugurkan" teriak Yara melengking.
Tak disangka David datang ke Batalyon untuk menjelaskan kesalah pahaman ini namun ia malah mendengar hal lain.
"Oohh.. jadi itu yang kau pikirkan Lettu Rivaldi. Sekarang kalau kau merasa laki-laki lepas seragam dan atribut mu. Kali ini bukan kau yang menantang ku, tapi aku yang menantangmu. Jika aku menang.. tinggalkan Yara dan kamu tidak boleh lagi menganggap anak yang ada dalam kandungan nya itu sebagai anakmu karena kamu tidak mengakuinya dan mulai detik itu, dia anakku" geram David sambil membuka seragam atasnya.
Rival kesal mendapat tantangan yang ia anggap sangat 'kurang ajar' itu. Ia pun melepas seragam atasnya. Mendengar keributan itu Zein berlari ke arah ruangan Rival dan melihat duel yang sedang terjadi. Perasaan Yara sangat hancur, ia berlari pulang dalam hujan gerimis. Petir mulai terdengar pagi itu.
Zein memanggil provost Batalyon untuk menghentikan perkelahian sengit seniornya. Empat orang provost datang melerai. Zein sendiri menarik tangan Azizah untuk di mintai keterangan terkait timbulnya keributan tersebut.
"Amankan dia di ruangan. Introgasi!!!!" tegas Zein.
"Siap"
__ADS_1
Zein kembali ke ruangan Rival dan melihat duel yang semakin menjadi jadi. Satu tendangan David tepat menghantam telak sisi bahu Rival. Sesaat pandangan Rival hilang ia pun tidak sadar selama beberapa detik. David melepas kasar cengkeraman dua orang provost yang ikut terkena imbas hantaman Rival.
"Kau kalah!!!" tegas David masih terengah. Rival mengerjap menguatkan badan agar sadar.
"Tapi percuma.. kalaupun Yara menjadi jandamu. Jujur aku masih sayang padanya tapi dia tidak akan mau bersamaku karena dia begitu mencintai mu. Kemarin aku bertemu dengannya saat Yara mencari lapak martabak, tapi ternyata lapak itu belum buka. Yara mual hebat dan pusing, ia hampir pingsan. Apa kamu tau dia selalu menolak bantuan ku dan memintaku segera menghubungi mu. Namun setelah kau datang, segala ucapanmu malah menyakiti perasaannya karena kecemburuan mu"
Rival mundur selangkah. Kakinya terasa berat hingga sulit ia gerakkan.
"Bro..buka telingamu baik-baik. Saat Yara dinyatakan hamil, aku masih belum kembali dari penugasan. Menurutmu kapan aku sempat membuatnya hamil?" Rival berjongkok pening memahami kebodohannya. Penyesalan menguasai hatinya.
Danyon tergopoh-gopoh masuk ke ruangan Rival yang sudah bagai kapal karam.
"Ya Allah Rival. Kamu memang benar-benar ingin membuatku cepat mati" Danyon menarik kaos Rival lalu melayangkan tamparan yang Rival terima dengan pasrah.
"Ijin Danyon ( hormat David ), Siap salah sudah membuat keributan, tapi ijinkan Lettu Rivaldi pulang" ucap David.
"Tidak bisa, dia harus menyelesaikan semua keributan yang dia buat" tegas Danyon.
"Ijin Danyon. Kondisi istri Lettu Rivaldi sedang tidak baik. Mungkin saja sekarang sedang tidak menginginkan anaknya" Lirik David pada Rival.
"Bocah tengik tak tau diri" lirih Danyon dengan geram sambil memijat kepalanya. Mungkin saja saat ini gula darahnya naik karena ulah Rival.
Rival menyesali perbuatannya, ia terus berlari pulang. Langit gelap, hujan turun dengan begitu deras, petir menyambar dan kilat berkelebat hebat.
Sesampainya dirumah, Rival tidak menemukan Yara. Hatinya begitu risau. Penyesalan sangat menggores hatinya.
Dimana kamu sayang..maafkan aku.
Rival duduk memikirkan ke mana arahnya harus mencari Yara. Tubuhnya basah tersiram air hujan. Ia khawatir Yara akan kedinginan di luar sana. Di lihatnya sekitar ruang tengah. Tidak ada botol obat yang kemarin ia beli.
Tak lama pintu garasi terbuka. Rival berlari ke arah suara. Dilihatnya Yara masuk dengan pandangan kosong tak berarah. Bajunya basah kuyup. Rival melihat Yara masih menggenggam botol obat dengan kuat.
"Dek.. kamu darimana sayang?" lembut Rival berusaha melunakan hati Yara. Yara masih tetap diam.
__ADS_1
Mata Rival tertuju pada botol obat yang sudah terbuka. Perasaan Rival sangat sakit di buatnya.
"Kamu apakan anakku dek???" Bentak Rival memekakkan telinga.
"Anakmu mas?? Dia bukan anakmu!! Dia anak yang tidak mas inginkan. Aku mau buang anak ini mas" Yara menghapus air mata yang ingin sekali di tahannya.
"Apa katamu?? Jangan lancang kamu" Begitu kaget Rival hingga dadanya terasa sangat sakit.
"Bukankah mas tidak percaya kalau ini adalah anakmu?"
"Mas memang sangat cemburu sampai akal sehatku hilang. Mas yang salah sudah melukai hatimu dek"
Yara tidak mau mendengar apapun lagi. Hatinya masih tidak bisa menerima perkataan Rival. Yara mengeluarkan 15 butir obat penggugur kandungan tersebut dan memakan obat itu. Rival tersentak, ia berlari menghalangi Yara. Rival merebut obat itu dan membuangnya jauh.
Obat sial!!!! Kenapa aku bisa begitu bodoh sampai membeli obat laknat ini!.
"Buka mulutmu!!" Perasaan Rival tidak karuan. Batinnya tercabik sangat sakit ia rasakan. Rival berusaha keras agar mulut Yara terbuka. Rival serba salah di buatnya, ingin menekan perut Yara, tapi ada calon bayinya di dalam rahim istrinya dan tak mungkin pula ia menekan dada Yara, istri yang sangat di sayanginya. Rival memeluk Yara yang meronta dengan sisa tenaga yang nyaris hilang.
Tubuh Rival lemas tak berdaya hingga ia jatuh bersama Yara di pelukannya. Rival menangis sekuatnya, menindih tubuh Yara. Hanya suara pilu menyayat hati terdengar disana.
"Aku tidak sanggup melihatmu seperti ini Yara. Salahkan aku, jangan sakiti anakku. Aku mohon sayang"
Tak lama Yara terbatuk memuntahkan obat yang ditelannya karena Yara tidak tahan dengan rasa pahit.
"Muntahkan lagi sayang! Keluarkan obat itu!!" Rival bangun dan memijat tengkuk Yara. Tiba-tiba Yara merasa sakit pada perutnya, dadanya sesak membuatnya menegang.
Eehhgghhh
Rival melihat Yara sekilas. Ia menghapus air matanya.
"Ya Allah Tuhan.. Anakku"
Tubuh Yara mengejang. Rival mengangkat tubuh Yara dan segera membawanya ke rumah sakit.
__ADS_1
.
.