
Rival meletakkan semua barang pilihan Yara. Perjalanan malam ini, Rival membelikan apapun yang di minta sang istri juga mengalihkan perhatian Yara dari hal-hal ekstrem yang diinginkannya.
"Kamu senang sayang?" tanya Rival gemas memeluk Yara dari belakang. Yara tersenyum bahagia.
"Iya mas, senang sekali. Terima kasih ya mas"
"Nggak perlu berterima kasih. Itu kewajibanku untuk menyenangkanmu" jawab Rival.
---------
Kaki Yara mulai pegal, usia kandungannya sudah empat bulan lebih. Yara menunduk memijat kakinya saat Rival masih di toilet. Yara tidak ingin Rival tau jika sebenarnya ia sangat lelah karena Rival pasti juga pasti sangat lelah.
Yara mendengar Rival keluar dari toilet, ia segera pura-pura tiduran agar Rival tidak memijat kakinya lagi. Tapi sayang Rival sudah sempat melihat Yara memijat kakinya sendiri sebelum dirinya datang.
"capek dek?"
"Nggak mas, biasa aja" kilah Yara.
Rival merasa kasihan melihat Yara, ia tau Yara hanya berpura-pura agar tidak menyusahkannya. Rival naik ke atas ranjang dan mulai memijat Yara seperti biasanya.
"Sudah mas! Mas juga capek Khan!" Yara menggenggam tangan Rival.
"Mas lelah bekerja keras, banting tulang peras keringat hanya untukmu dan anak kita. Yang mas lakukan ini juga untukmu dan anak kita. Jangan buat jarak antara kita. Apa mas salah jika mencurahkan seluruh kasih sayang dan perhatian untukmu?" Perlahan Yara melonggarkan genggamannya dengan posisi miring melingkarkan tangan ke pinggang Rival.
Rival memijat tubuh Yara hingga tertidur sangat pulas.
Selamat tidur sayang! Semoga mimpi indah
tok..tok..tok
Ada suara ketukan pintu. Rival turun dari ranjang dengan perlahan agar tidak membangunkan Yara. Rival berjalan ke arah pintu dan membukanya.
"Ma-ma" sapa Vena dalam gendongan Nathan.
__ADS_1
"Tumben..ada apa?" bisik Rival melirik Nathan tapi tetap tersenyum pada Vena.
"Anakku demam" wajah Nathan terlihat cemas.
Rival dilema, ia memikirkan Yara yang sedang tidur karena kelelahan. Tapi Vena juga membutuhkan bantuan Yara. Jika mengatasi demam pada orang dewasa mungkin Rival masih mampu, tapi menangani balita baru kali ini dirasakannya. Nathan menoleh tanpa sengaja ke arah Yara. Lingerie Yara sangat sexy meracuni mata Nathan walau hanya terlihat sebatas kaki Yara yang putih mulus.
"Astagfirullah... ku colok matamu itu, tunggu disana!!!" tegur keras Rival yang menyadari kebodohannya hingga istrinya terlihat pria lain. Rival berlari dan menyelimuti tubuh Yara dengan benar.
"Maaf, aku tidak sengaja" sesal Nathan.
"Istriku sangat lelah hari ini. Bagaimana kalau kita urus berdua?" ide Rival dengan nada yang masih kesal. Akhirnya Rival dan Nathan 'menangani' Vena. Kedua pria tidak terampil ini lama kelamaan membuat Vena tidak nyaman dan menangis kencang. Suara tangis Vena membangunkan Yara yang sudah kental dengan naluri seorang ibu.
Yara memakai piyama panjang yang di belinya tadi, lalu memakai jilbab bergegas keluar mengambil Vena dari gendongan Rival. Rival terkejut dan melarang Yara tapi Vena langsung diam dalam gendongan Yara.
Hampir satu jam Yara menggendong Vena dan Yara sudah terlihat lelah. Vena tidak mau di ajak duduk padahal Yara sudah memberinya obat demam. Rival dan Nathan mulai cemas melihat Yara berkeringat. Akhirnya Vena tidur juga.
"Vena biar tidur di kamarku mas" pinta Yara menyerahkan Vena ada Nathan.
"Baiklah mas, kalau Vena demam lagi, antar saja Vena ke kamar kami" ucap Yara.
----------
Yara mengelus punggungnya, memang terasa pegal dan nyeri saat ini. Bagaimanapun ia sudah bisa merasakan beban di perutnya. Yara membungkuk berdiri memegang sisi meja dengan kedua tangannya.
Rival menghadapkan tubuh Yara ke arahnya lalu menaikannya ke atas meja. Tanpa diminta Yara langsung menyandarkan kepalanya di bahu Rival dan memeluknya. Rival mengusap punggung belakang Yara.
"Mas nggak tau harus bilang apa, mas juga tidak merasakan yang kamu rasakan"
"Cukup ini saja" Yara tersenyum sambil menikmati setiap sentuhan suaminya. Begitu nyaman di rasakan.
***
Yara mengedarkan pandangan ke sekeliling alam pegunungan. Vena sudah lebih baik membuat Yara tenang meninggalkan Vena. Rival membawa Yara ke kolam air panas. Yara sangat senang Rival mengajaknya kesana. Rival memesan ruang pribadi untuk mereka berdua.
__ADS_1
"Mainlah sepuasnya di ruangan itu, Mas berenang sebentar kesana ya?" tunjuk Rival pada satu kolam yang cukup dalam.
"Nanti mas menyusul ke dalam" Rival membuka kaosnya menyisakan celana pendek yang melekat. Dada bidang dan perut yang indah gagah membuat para gadis di sekitar sana memandang Rival dengan tatapan genit. Yara sangat jengkel di buatnya.
Rival melompat masuk ke dalam air, Yara masih memandangi suaminya di pinggir kolam. Beberapa orang ada yang mengambil gambar Rival dan Rival tau hal itu, ia segera naik sebelum istrinya marah besar.
Tetes air berjatuhan dari tubuh Rival semakin memperlihatkan jantannya seorang Rival. Yara mengambil handuk dan melemparnya ke arah Rival. Rival melilitkan handuk itu di pinggangnya.
"Ayo mas temani! Kamu saja yang melihat" ajak Rival.
"Kalau aku saja yang bisa melihat kenapa mas pamerkan di hadapan gadis gadis itu" sewot Yara.
"Iya..iya sayang, yang penting hanya kamu yang tau semuanya" bisik Rival.
Yara mengikuti langkah Rival yang menggandeng tangannya masuk ke ruang yang sudah di sewa privat oleh Rival. Ruangan kolam itu begitu bersih dengan pemandangan yang sangat indah. Kolam berlantai dan berdinding batu alam terasa sejuk dengan kolamnya yang hangat mengalir sumber kecil di sudut dinding.
"Di ruangan ini kamu bebas dek" Rival membuka handuk dan menggantungnya. Yara nampak salah tingkah melihat tubuh suaminya. Yara pun membuka jilbab dan tersisa kaos tipis dengan hot pants. Rival menggandeng Yara masuk ke dalam kolam yang tidak seberapa besar disana. Hati Rival ngeri melihat Yara berjalan pada lantai yang basah, takut bumilnya akan terpeleset.
Yara senang sekali bermain air sambil duduk di tangga pinggir kolam. Rival sesekali berenang bolak balik lalu berdiri di depan Yara.
"Ayo turun, mas ajari berenang!" ajak Rival. Yara mengikuti ajakan Rival masuk ke dalam kolam. Terlihat sesekali Rival bercanda mengerjai Yara yang penakut. Terdengar suara teriakan kesal Yara yang panik saat Rival melepas pegangan tangannya di tengah kolam.
"Aku mau naik saja. Aku takut" Yara bersungut kesal berjalan pelan ke pinggir kolam.
"Jangan kesana sendirian. Ada ular!" ucap Rival menakuti Yara lagi sambil tangannya menangkap pinggang Yara. Yara secepatnya berbalik badan memeluk Rival dengan wajah takutnya.
Rival menatap lekat wajah Yara. Di pandangnya wanita yang kini sedang mengandung buah hatinya.
"Bumilku yang sexy. Kamu selalu menggoyahkan imanku" Rival mencium Yara mengikuti alunan gemericik air yang membuatnya berdesir.
.
.
__ADS_1