Untuk Kamu 2 ( Cinta Terindah )

Untuk Kamu 2 ( Cinta Terindah )
47. Rival dan Nesya


__ADS_3

Nathan tau usaha Rival mendekati Nesya membuat Nesya sedikit menaruh hati dan harapan pada Rival. Rival pun tidak peduli itu, yang ia cemaskan hanya caranya mendapatkan informasi harus selalu berdekatan dengan Nesya sangat bertentangan dengan hati Rival.


"Apa kamu mau membakar kamar kita?" tegur Nathan pelan mengibaskan asap dan membuka jendela kamarnya. Nathan merebut botol minuman yang akan Rival teguk lagi.


"Cukup Val. Kita akan selesaikan secepatnya dan kamu bisa cepat kembali pada istrimu"


braaaakk


Pintu terbuka lebar, terlihat Nesya menatap tajam Rival dan Nathan, ia sangat marah pada Rival.


"Setelah kamu menikmati tubuhku, kamu mau meninggalkanku? Kamu punya istri mas?? Siapa kamu sebenarnya??"


"Sabar Nesya.. aku akan jelaskan semua!" ucap Rival memercing menahan kepalanya yang berat.


***


Yara menangis di dalam kamarnya di rumah Randy. Yara sangat merindukan Rival yang tidak selalu bisa menghubunginya. Vena sudah tidur di kamar Naya.


Zein masuk ke dalam kamar melihat keadaan Yara.


"Jangan seperti ini kak. Ini bagian dari pekerjaan Abang. Disana Abang juga pasti sangat tersiksa. Tugas Abang sangat berat" bujuk Zein.


Yara memeluk Zein. Ia sangat merindukan sosok suaminya. Zein memahami perasaan kakaknya. Ia pun bersedia menjadi 'pengganti' Rival untuk sementara waktu.


Yara menangis memeluk Zein. Ingin rasanya pelukan hangat ini hanya Rival yang melakukannya. Pelukan yang terasa berbeda membuat Yara semakin terisak dalam sebuah kerinduan.


"Aku rindu suamiku Zein"


"Sabar kak, sebentar lagi Abang pulang" bujuk Zein.


***


plaaaakkk


"Kamu jahat mas. Kamu memanfaatkanku saja" Nesya menampar Rival setelah Rival mencoba menjelaskan semua.


"Nes..tapi aku tidak......." info penting masuk di ponsel Nathan. Rival dan Nathan bergegas pergi meninggalkan Nesya yang terpuruk dengan pikirannya sendiri.


---------

__ADS_1


Nesya berjalan seorang diri, tak lama ia berlari kembali lagi ke kontrakan Rival dan Nathan, ia meminjam kunci cadangan dan masuk mencari sesuatu di antara barang bawaan Rival.


"Jadi kamu seorang tentara mas? Namamu Rival, bukan Aldi. Apa yang harus aku lakukan mas? Kamu pria pertama yang menyentuhku" Nesya menangis bersandar pada dinding menumpahkan semua rasa sakit di hatinya.


Tak lama terdengar suara langkah kaki masuk ke kamar Rival.


"Haii..cantik!" sapa orang tersebut.


***


"Masuk kesana!! tendang!!!" Rival mengarahkan anak buahnya melakukan penyerbuan. Rival telah mendapatkan perintah untuk mengepung jaringan 'Rantai Hitam'. Kini ia berhadapan langsung dengan Negro si ketua Rantai Hitam. Baku hantam dan penembakan pun terjadi disana.


Lama penyerbuan itu sekitar kurang lebih dua jam. Rival menggempur habis-habisan lawannya. Nathan sudah berhasil membebaskan anggotanya yang terlibat sindikat gelap. Tak lama anak buah Negro membawa keluar Nesya dengan tangan terikat dan mulut tertutup. Nesya menangis menatap Rival.


"Saya tau kamu punya hubungan dengan Nesya. Lettu Rival" Seringai Negro.


"Bagaimana kalau sampai istrimu disana menjadi korban serta tau hubunganmu dengan Nesya?"


Rival menurunkan senjata. Tanda kelemahan Rival yang paling fatal adalah tentang istrinya. Degup jantungnya kencang mencemaskan Yara. Negro bertepuk tangan dengan licik.


"Wow..inikah seorang king cobra yang selalu di hindari bandar kami? Lemah hanya karena wanita? Bahkan seorang Nesya bisa membutakan hatimu. Sambil menyelam minum air" ucap Negro sengaja melemahkan mental Rival.


"Jangan banyak bicara kamu. Serahkan dirimu. Kamu sudah tidak bisa lari lagi" tegas Rival mengacungkan kembali senjatanya.


Rival melepas ikatan Nesya dan membuka penutup mulutnya. Nesya memeluk erat Rival, tubuhnya bergetar ketakutan. Rival tidak membalas pelukan Nesya.


"Maaf Nesya..aku tidak bisa mengkhianati istriku"


Nesya menampar pipi Rival dengan sangat keras hingga anggota yang lain bisa melihat keributan itu. Para anggota melihat jelas bagaimana pengorbanan komandannya demi mengamankan dua orang anggota dan juga membawa nama kesatuan dengan pertaruhan rumah tangganya.


"Lalu apa yang selama ini kita lakukan mas?"


"Rival tidak melakukan apapun Nes" Nathan menyela Rival yang akan menjelaskan pada Nesya. Nesya menangis dan berlari keluar dari gudang tua dan menghilang dari sana.


Rival memejamkan matanya. Ada sedikit kelegaan di hatinya.


"Sudah Val, kita akan pulang. Lepaslah semua beban di hatimu. Santaikan pikiranmu" ucap Nathan menenangkan Rival.


***

__ADS_1


Dua helikopter yang membawa Rival sudah tiba. Rival melapor pada komandan dan menyelesaikan beberapa tugasnya. Pukul sembilan malam Rival kembali pulang ke rumah.


-------


Rival membuka pintu rumahnya yang belum terkunci.


Ceroboh sekali kamu sayang.


Rival masuk ke dalam rumah dan berjalan menuju kamar. Di bukanya perlahan pintu kamar. Rival melihat Yara sedang duduk melamun di lantai, bersandar pada nakas di temani suara televisi yang menyala bahkan Rival datang pun Yara belum menyadarinya.


"Assalamu'alaikum sayang.." sapa Rival menyadarkan lamunan Yara. Yara masih menatap ke arah pintu dengan tidak percaya.


"Wa'alaikumsalam" lirih Yara yang sudah yakin bahwa suaminya benar-benar pulang. Yara berdiri dan berlari menubruk Rival yang masih berdiri di sisi pintu.


Rival membalas pelukan Yara. Jutaan kerinduan tak bisa di ungkapkan. Tangis Yara menambah kepiluan dan rasa bersalah Rival. Ada tendangan yang kuat menghentak Rival, bayi di perut Yara merespon kehadiran papanya. Ciuman bertubi tubi mendarat memenuhi wajah cantik Yara mewakili perasaan Rival.


---------


"Maafkan mas ya dek, membiarkanmu sampai seperti ini" Rival mengusap perut Yara yang sudah terlihat besar. Kini Yara sudah hamil tujuh bulan.


Yara terus memeluk Rival dan terus membenamkan kepalanya di dada Rival.


"Lama sekali mas disana" keluh Yara.


"Mas kerja sayang. Fokus kerja" Yara tidak merasa puas dengan jawaban Rival yang dirasakannya aneh. Pelukan Rival lebih pada rasa ketakutan dan rasa tidak mau Yara meninggalkannya.


***


Rival sedang kerja bakti taman di luar pagar kantor Batalyon. Rival sendiri juga ikut turun tangan membersihkan taman. Peluh membasahi keningnya, ia juga merasakan apa yang dirasakan anak buahnya. Jika panas merasakan panas bersama, jika hujan merasakan basah bersama. Itu sebabnya anak buah Rival sangat menjunjung tinggi Danki mereka.


Nathan melihat ada sosok wanita sedang memperhatikan Rival dari balik pohon beringin tua. Nathan mendekati Rival yang sedang membersihkan parit lalu berjongkok di hadapannya.


"Val, ada Nesya di balik pohon itu" Rival melihat ke arah Nesya namun gadis itu segera pergi dari sana. Tubuh Rival seakan lemas melihat Nesya ada di sini.


"Aku sangat merasa bersalah pada Yara" Rival membuang rumput di tangannya lalu duduk dengan pasrah karena kakinya serasa lemas memikirkan hal ini.


"Ijin Let, Praka Anwar dan istri nanti sore menghadap" laporan Dio


"Iya, saya tunggu di rumah saya. Jangan sampai kasus ini naik ke kantor. Selesaikan dulu dengan kepala dingin" perintah Rival.

__ADS_1


.


.


__ADS_2