
Yara membuka pintu rumah dan melihat beberapa anggota.
"Selamat siang" sapa seorang anggota.
"Iya pak..ada apa?" tanya Yara dengan perasaan tidak enak.
"Tahan pak!!!!" suara Reno yang berlari menghentikan laporan anggotanya. Reno tidak ingin keponakannya terkejut dengan berita yang akan di sampaikan.
"Ada apa yah??? Ada apa dengan mas Rival???" panik Yara.
Seorang anggota datang membawa selembar kertas yang mungkin berisi berita.
"Tenang sayang..." Reno menenangkan Yara.
"Ijin Dan... namanya Rancu. Berita yang kita terima. Korbannya Lettu Rival"
"Aaiiisshhh.. Kamu lancang sekali.. Saya bilang tahan dulu!!!" bentak Reno.
Yara mundur beberapa langkah. Ia sangat syok mengingat Rival yang hampir saja meninggalkannya, kini harus kembali merasakan perasaan yang sama.
"Mas Rivaaalll..." Jerit Yara yang begitu kencang mengagetkan para tetangga.
***
"Let... Bisa dengar suara saya" petugas kesehatan lapangan menepuk pipi menyadarkan Rival. Mata Rival mengerjap melihat asap mengepul di samping hanggar. Dada, perut dan punggung sangat sakit karena sempat terlempar beberapa meter dari hanggar.
"Tolong ambilkan ponsel saya!!" perintah Rival.
"Maaf Let.. Ponselnya sudah hancur"
"Ya Allah..." Rival mengusap wajahnya.
"Tolong pinjamkan saya ponsel. Saya harus mengabari istri saya"
***
Randy dan Naya sedang berada di luar kota. Hanya ada Velly dan para tetangga yang menemani Yara di rumah. Yara di tidurkan di ruang tengah. Sesaat setelah mendengar kabar kecelakaan pesawat itu Yara berteriak histeris tak terkendali. Perasaan takutnya dulu terulang dua kali lebih menakutkan dirinya. Seketika ia demam, peluh keringat mengucur, tangannya begitu dingin.
"Bagaimana ini yah, apa belum ada kabar dari sana?" tanya Velly cemas melihat kondisi Yara.
"Belum ada bunda! Sabar.. ayah juga menunggu info" jawab Reno. Tak lama ada kabar masuk pada ponsel Reno.
"Atas nama Lettu Rivaldi.. aman. Yang tewas adalah Lettu Afrizal" Reno merasa lega sesaat sambil melihat Yara yang terbaring lemah di ruang tengah rumah. Tapi juga cemas karena anggota nya yang lain tewas dalam kecelakaan itu.
"Pantas.. Rival dan Frizal, hampir sama" Reno memastikan penyebutan nama korban ledakan pesawat di landasan.
__ADS_1
kriiinngg.. kriiinngg..
Reno melihat ada nomer telepon tidak di kenal sebanyak enam belas kali. Dering telepon ke enam belas Reno mengangkat panggilan itu.
"Val????" tanya Reno memastikan.
"Assalamu'alaikum yah.. iya ini Rival. Mana Yara yah?"
"Wa'alaikumsalam.. Alhamdulillah kamu baik-baik saja. Yara tidak bisa menerima telepon mu sekarang, Yara belum sadar. Dia tidak sanggup mendengar berita tentangmu" jawab Reno.
Rival duduk lemas di lapangan samping hanggar. Matanya masih tertuju pada puing pesawat yang berserakan lalu menyembunyikan wajahnya di balik lengan yang ia tumpukan pada lengan yang di tekuk pada kedua lutut.
"Tolong dekatkan ponselnya pada telinga Yara. Biarkan Yara mendengar suara ku yah" pinta Rival. Reno mendekat pada Yara dan menempelkan ponsel pada telinga Yara, membesarkan volume speaker.
"Assalamu'alaikum sayang... Apa siang ini sudah makan?" terdengar suara Isak tangis Rival yang berat ia tahan sekuat mungkin. Setelah menarik napas dan menghembuskan berulang kali. Rival menguatkan untuk berbicara lagi.
"Dek... ini mas sayang!! Jangan cemas.. mas baik-baik saja disini. Mas sudah berjanji untuk kembali padamu, utuh tanpa kurang suatu apapun. Mas ingin mendampingimu dan melihatmu melahirkan anak kita. Kita berjuang bersama. Jaga dirimu sayang. Sabar ya! Mas akan segera pulang" Rival dengan cepat menutup ponselnya. Ia terisak disana.
Air mata Yara menetes di sela kelopak mata, ia bisa merespon ucapan Rival walaupun belum bisa membuka mata.
------
Yara sayang... cepat sehat. Apa yang mas janjikan akan mas penuhi. Mas tidak ingin berpisah denganmu dan anak kita lagi.
--------
"Astagfirullah hal adzim" Rival melepas topinya, ia memejamkan mata. Tak sanggup melihat jasad rekannya telah hancur tak berbentuk.
Apa yang harus kusampaikan pada istrimu nanti. Menghadapi istriku saja aku belum tentu mampu.
"Bagaimana Let.. apakah anda sudah yakin ini jasad siapa?" tanya seorang anggota POM.
"Iya.. itu adalah jasad Lettu Afrizal" tegas Rival melihat jam tangan masih melekat erat pada bagian pergelangan tangan.
***
Rival menutup panggilan telepon nya dengan sangat khawatir. Ia menuju kantor Komandan Pendidikan.
"Mohon ijinkan kami pulang dulu menemui keluarga kami Dan. Ini bukan pendidikan seperti biasanya. Kami sudah kehilangan banyak rekan kami"
Komandan mendesah pasrah. Bagaimana pun Komandan telah melihat sendiri bagaimana kondisi mental para siswa dan anggota yang terlibat pasca insiden itu.
"Baiklah Lettu Rival. Saya juga mendengar istrimu dalam kondisi yang sangat terpukul mengingat trauma kasus hilangnya dirimu dulu"
"Siap.. Ijin arahan"
__ADS_1
"Silahkan temui keluarga dan segera kembali. Saya hanya bisa memberi waktu satu minggu. Apa itu cukup???" tegas Komandan
"Siap.. Lebih dari cukup. Terima kasih banyak arahannya Komandan"
***
Rival segera mengepack barang serta membawa dua 'wasiat' rekannya.
"Saya akan pulang sekarang juga. Nanti kalian harus standby jemput saya. Tolong saya.. Waktu saya hanya sedikit. Kalau kalian terlambat, nyawa anak istri saya taruhannya. Sekali lagi saya mohon, tolong saya!!!"
***
Rival turun dengan tergesa di bandara. Ia berlari segera menaiki mobil jemputan yang di mintanya. Perasaan cemas begitu kuat. Ia ingin segera melihat kondisi Yara. Dua hari ini, Yara mampu membuka matanya. Tapi ia tidak bisa makan dan minum. Naya menyuapi makan tapi selalu Yara muntahkan. Dua sendok minuman pun tidak masuk dalam mulutnya. Setiap bangun hanya bisa memanggil nama Rival dan menangis histeris.
"Kalau tetap seperti ini sebaiknya Bu Rival di bawa saja ke rumah sakit Bu Randy. Kasihan bayinya" saran seorang tetangga.
Tiba-tiba ada mobil mobil yang belum sepenuhnya berhenti. Nampak Rival membuka pintu mobil segera turun dan berlari masuk ke dalam rumah. Tetangga Yara ikut merasakan haru dan bahagia melihat Rival dalam kondisi sehat.
"Assalamu'alaikum.. Mana istriku ma?" panik Rival bertanya pada Naya sesampainya di ruang tamu.
"Wa'alaikumsalam. Itu di ruang tengah. Cepat temui dia" langkah cepat Rival menuju ruang tengah.
"Ya Allah dek.." Rival masuk dan melihat Yara sangat pucat dengan perut yang kian membesar sudah terlihat jelas di usia kandungan menuju lima bulan. Beberapa tetangga ada yang mengipasi Yara juga ada yang mengusap perutnya. Kondisi Yara membuat batinnya begitu teriris nyeri.
Begini kah di waktu yang lalu saat mendengar kabarku yang tidak bernyawa. Sekarang aku melihat dengan jelas, dengan mata kepalaku sendiri rasa kehilanganmu itu dek. Hatiku tak pernah merasa sesakit ini melihatmu begitu terluka dengan semua keadaan kita.
Para tetangga berdiri meninggalkan Rival dan Yara memberi ruang pada mereka berdua.
Rival memgangkat punggung Yara dan menyandarkan pada dadanya agar bisa ia peluk.
"Dek.. ini mas pulang. Bangun sayang" kecup Rival di kening Yara. Belaian lembut tangan Rival terasa kuat dalam diri Yara, ia membuka mata perlahan. Samar terlihat wajah suaminya.
"Mas Rival???" pelan dan berat suara Yara mengiringi tangis Yara yang pecah masih tidak percaya apa yang di lihatnya.
"Iya..ini mas. Suamimu sudah pulang" bisik Rival.
Tangis Yara begitu kuat, ia langsung memeluk Rival dengan erat, bahkan sangat erat. Yara sangat ketakutan melebihi apapun hingga Rival bergerak pun tak bisa.
"Jangan pergi lagi mas! Aku tidak mau mas kemana mana. Tetaplah disini. Aku tidak mau mas tinggalkan aku lagi. Mas hanya punyaku, milik ku" histeris Yara terdengar hingga halaman depan rumah.
"Hhssstt istighfar.. iya sayang.. iya.. Mas nggak akan pergi kemana-mana. Mas hanya punyamu. Milikmu saja, tidak akan kemana-mana" bujuk Rival menenangkan hati Yara.
.
.
__ADS_1