Untuk Kamu 2 ( Cinta Terindah )

Untuk Kamu 2 ( Cinta Terindah )
61. Jinak merpati Sabar dan maaf ya..beberapa episode di buat landai sebelum


__ADS_3

"Makanya kalau pagi jangan lupa sarapan. Kamu selalu melewatkan sarapan padahal asam lambungmu tinggi"


Tak lama Rival dan Yara keluar dari dalam toilet. Mereka bertatapan dengan Nathan dan Nesya.


"Apa kamar kalian kurang nyaman, sampai tidak ada tempat lain selain toilet kantor" tegur Nathan.


"Pikiranmu saja yang jorok. Yara mual..aku menemaninya saja" Nathan melihat Yara beberapa saat hingga Nesya mencubitnya.


"Anak sudah mau dua kenapa matanya masih lincah juga ya mas" bisik Nesya menegur Nathan.


"Bukan begitu sayang. Aku hanya curiga dia hamil lagi. Kamu paling cantik..Yara tidak ada apa apanya" Nathan mulai ngeles tapi ia melupakan Rival yang masih ada di hadapannya.


Rival melipat tangan di depan dada dengan kesal. Ia meninju bahu Nathan pelan.


"Apa katamu??? Istriku ini limited edition. Jangan samakan dengan Nesyamu itu" kesal Rival.


"Berhenti kalian berdua" teriak Yara dan Nesya bersamaan. Mereka sangat kesal dengan kelakuan suami mereka.


Yara ngambek pergi ke arah kanan dan Nesya pergi ke arah kiri tidak jadi pergi ke toilet.


"Mulutmu itu seperti perempuan saja. Suka sekali memancing keributan" teriak Rival pada Nathan.


"Kau juga sedikit-sedikit ngambek seperti nona muda" balas Nathan tak mau kalah.


"Maaaaaaassss" teriak kesal Yara dan Nesya lalu lanjut berjalan lagi.


***


Rival sedari tadi mengintip Yara yang sedang berbaring sambil menonton TV di kamar.


"Waahh..kalau ngambek begini.. habislah aku. Malam Jumat nih" gumam Rival dengan gelisah.


Lebih baik aku membujuknya pakai cara lain.


Rival mengambil kunci motor lalu pergi ke suatu tempat. Yara mendengar suaminya yang pergi dengan motornya tapi ia cuek saja sambil menidurkan Ben yang lelah usai bermain.


------


"Mau pakai yang mana pak?"


Rival melihat ketiganya lalu menelan salivanya dengan kasar.


Astagfirullah..susahnya membujuk istri. Tapi demi kamu dek.. Kulakukan apapun biar nggak ngambek lagi kalau sudah melihat Nesya.


"Soang juga tidak apalah" pasrah Rival.


"Mau berapa ronde sich.. nggak bisa berhenti tau rasa lu" teguran Nathan mengagetkan Rival.

__ADS_1


"Mau apa lu disini" tanya Rival balik.


"Ya sama sepertimu.. membujuk istri itu susah. Apa kau kira mudah?"


Nathan dan Rival mendesah pasrah, terdiam beberapa saat hingga penjual jamu menyerahkan jamu pesanan Rival.


"Ini pesanannya pak" kata penjual jamu itu.


"Astaga..banyak sekali" Rival terperanjat kaget. Rival mengendus baunya yang sangat menyengat dengan sedikit bau amis lalu mengincipnya sedikit dengan ragu. Pahit sekali.


"Yo wes dek.. Sayange mas Rival. Mas ngalah" lirih Rival lalu mulai meminumnya. Nathan terkikik geli melihat ekspresi Rival yang sudah mau muntah. Rival menutup mulutnya, meneguknya cepat dan memejamkan matanya kuat.


Hhkk


"Eehh..jangan di muntahkan. Ini demi Val..demi.." ucap Nathan menyemangati hingga jamu itu benar-benar masuk pada kerongkongan Rival.


Akhirnya habis juga jamu itu. Rival memegang perutnya yang langsung memanas.


"Panas sekali perutku. Astagfirullah" setelah tenang Rival pun pulang setelah berpamitan pada Nathan yang sepertinya tidak mengalami masalah dengan jamunya.


***


Rival mengendap berniat mengintip Yara di dalam kamar. Tapi Yara tidak ada disana. Rival mencoba mengintip sekali lagi.


"Jangan biasakan budaya mengintip" bisik Yara di telinga Rival membuatnya berjingkat kaget.


"Allahu Akbar..." Rival mengusap dadanya karena kaget.


"Mas yang darimana, meninggalkanku di rumah tanpa pamit" kesal Yara.


"Iya maaf. Jangan marah ya. Mas tadi isi peluru" ucap Rival yang mulai genit.


"Apa ada musuh mas" polos Yara tak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya.


Rival menahan senyum geli melihat Yara. Ia mengecup kening istrinya hingga turun sampai ke bibir.


"Polosnya kamu dek. Jelas ada lah"


Rival membisikan sesuatu hingga akhirnya Yara tersenyum manja jinak merpati.


"Busyet dah bini Abang" tawa Rival tak bisa ia tahan lagi.


***


Pagi ini waktunya pengarahan pada para anggota. Rival mendapat laporan kalau istri Praka Anwar mengajukan gugatan lagi. Rival bersandar pada kursinya lalu membaca laporan kasus Anwar lagi.


"Mengerikan!!! Ini penyelesaian yang tidak mudah" gumam Rival, ia memijat pangkal hidungnya berdebat dengan perasaannya sendiri.

__ADS_1


tok..tok..tok


"Selamat pagi. Ijin menghadap" ucap tegas Praka Anwar


"Silahkan duduk"


"Saya sudah menerima dan membaca gugatan istrimu. Ini sudah naik ke meja komandan dan akan di teruskan ke atas" jelas Rival.


"Siap"


"Saya tidak paham dengan jalan pikiranmu. Kamu yang memilih Dini untuk kamu jadikan istri dan kamu punya anak dari Dini. Jelas banyak hal dan hari yang sudah kamu lewati bersamanya, lalu kenapa dengan mudahnya kamu menggantinya dengan wanita lain" tegur Rival masih berusaha memperbaiki keadaan rumah tangga anak buahnya.


"Apa kamu tidak tergerak saat istrimu melahirkan anak pertamamu? Antara hidup dan mati memberimu kebahagiaan. Dimana hatimu saat kamu bersama wanita lain?"


Anwar tertunduk meresapi setiap kata dari Rival dan belum mampu bicara.


"Saya bukan orang suci. Saya akui saya juga pernah salah dengan kasus saya kemarin dan kamu tau itu. Hal itu membuat saya hampir gila. Istri saya hamil besar, saya di tuntut profesional dalam pekerjaan membongkar sindikat narkoba dan penjualan manusia melalui seorang wanita. Setelah semua terbongkar..istri saya tidak terima, sakit hati dan minta cerai. Itu pukulan terberat dalam diri saya"


"Siap salah"


"Resiko dari sebuah perselingkuhan adalah pecat. Jika itu terjadi..bagaimana dengan anakmu, dengan anak yang masih ada dalam kandungan. Kamu tidak bisa lepas tangan begitu saja. Bagaimana kondisi istrimu saat ini? Apa kamu tau? Kesenangan sesaat membawa hancurnya rumah tangga mu" Rival bersandar pada kursinya karena merasa iba juga dengan kasus ini.


Anwar tidak mampu menjawab pertanyaan. Ia menutupi wajahnya dengan tangan dan menangis disana. Rival membiarkannya agar Anwar merasa lega dalam tangisnya. Rival pun terbayang kejadian saat Yara begitu marah padanya. Rival ikut mengusap wajahnya membuyarkan semua pengalaman buruk yang menjadi pukulan terberat di hatinya.


"Ya Allah.. dunia ini sudah semakin tua saja" gumam Rival pelan.


Rival melihat ponselnya. Ada pesan masuk dari Yara. Senyum Rival mengembang mendinginkan hatinya yang semula panas dan tegang.


Bee Honey : Jangan lama pulangnya ya pa. Kangen๐Ÿ˜˜.


Me : Hmm..minta apa ini? Tumben kangen papa๐Ÿ˜˜


Bee Honey : Pulang duluโ˜บ๏ธ


-------


Setelah masalah Anwar selesai, Rival segera pulang bahkan dengan kecepatan tinggi, hatinya sangat bahagia mendapat secuil pesan dari istrinya.


Di depan rumah ia segera masuk ke dalam rumah mencari Yara. Begitu menemukan Yara, Rival langsung memeluk dan mencium kening Yara.


"Mau minta apa?" tanya Rival


"Ada lipstik warna baru. Belikan ya mas!" manja Yara bergelayutan di lengan Rival.


"Merayuku hanya untuk sebatang lipstik?? Itu di kamar ada lebih dari 30 biji mau di buat apa dek" kesal Rival yang sudah berubah jengah.


.

__ADS_1


.


Maaf telat up. kemarin kena proses Review ๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ˜ข๐Ÿ˜ข๐Ÿ˜ข


__ADS_2