
Pagi ini seorang gadis cantik melangkah masuk mengarah ke kelas, ia tak sendirian tentunya dirinya bersama dua seorang pemuda tampan yang selalu mengikuti langkahnya ke manapun dirinya pergi. Selalu menemani hari-harinya di masa sekolah menengah atas, ketiganya sudah menjalin pertemanan sejak lama. Mungkin sebagian orang percaya akan kisah persahabatan tanpa melibatkan hati, namun sepertinya tidak dengan gadis belia ini. Walaupun dia telah memiliki kekasih akan tetapi hubungan keduanya terjalin sudah begitu lama. Sebuah panggilan menggema ke satu arah, gadis itu menolehkan kepalanya perlahan sambil mengulas senyum tipis pada dua pemuda tersebut, parasnya yang cantik tak diragukan lagi. Sampai-sampai gadis itu sering sekali merasa perhatian khusus yang diberikan oleh salah satu temannya itu untuknya. "Jaesi," panggil pemuda itu. Karena lelaki itu kini seluruh mata menatapnya dengan pandangan tajam.
Satu hantaman melayang tepat mengenai tungkai pemuda tersebut, dengan cepat lelaki itu mengelak lalu mengusap tungkai kakinya. "Dih, sakit! Jaes!" seru pemuda itu tak terima.
"Bisa diam gak?" desis gadis itu yang tak menghentikan langkahnya.
Jaeran Petter. Atau yang lebih dikenal dengan nama Jaeran, pemuda itu mengembungkan pipinya kesal moodnya turun akibat gadis yang tengah menunduk karena sibuk memainkan ponselnya, pemuda itu menghentikan langkahnya tepat dihadapan sebuah papan besar berwarna putih yang terlapisi kaca. Maniknya membeliak saat melihat nama seseorang yang ia tau itu siapa, pemuda itu masih tetap bertahan pada posisinya hingga temannya yang lain mulai tersadar akan apa yang terjadi terhadap sang pemuda. Gadis itu mengulum bibirnya dalam ketika di depannya sang kekasih telah menunggu dengan gagahnya, Jaesillya Pearce. Ya itulah namanya, gadis cantik tersebut dan dihadapannya adalah sang kekasih Marco, "udah lama nunggunya?" pemuda itu menggeleng.
"Tidak baru sampai juga," ujar lelaki itu sembari menggenggam tangan gadisnya dengan erat, gadis itu tak melunturkan senyum yang terukir disudut bibirnya. Marco menatap lurus jalanan setapak menuju kelasnya sendiri, setelah menunggu beberapa menit di dekat kelas sang kekasih. Itu sontak saja membuat pemuda tersebut merasa agak sedikit bosan, dengan kegiatannya setiap pagi. Jaesi mengembangkan senyumnya sepanjang hari ini, ah, ya, tentu saja dirinya tak boleh merasa kesepian selama mereka bersamanya. Gadis itu terus saja tersenyum manis pada setiap anak di dalam kelasnya sendiri setelah menunggu beberapa menit agar Jaeran dan Darren datang. Jaesi tentu saja berinisiatif untuk menyusul keduanya yang sangat begitu lama mendatanginya.
Walaupun dia dikenal sebagai sosoknya yang dingin namun adakalanya gadis itu bisa melakukan hal yang diluar dugaan teman-temannya yang lain, memiliki kemampuan yang cukup handal dalam ilmu bela diri. Gadis itu agak terkejut ketika melihat semua orang berlari ke arah lapangan. Namun itu tak membuat Jaesi merasa penasaran akan apa yang terjadi, sampai salah satu teman kelasnya menginterupsi sesuatu padanya. Di dalam kelas yang gadis itu lakukan hanya memandangi langit dan menatap pemuda yang sedang melakukan pemanasan untuk olahraga. Giska yang mengamatinya sedaritadi dengan isengnya meledek gadis itu hingga membuat sang gadis merasa malu sendiri, Jaesi terus mengarahkan pandangannya pada kelas Marco. Ketika tatapan mereka saling menumbuk satu sama lain, tiba-tiba tubuhnya Tremor begitu saja tanpa ia minta. Perempuan itu agak sewot saat Jaeran menghalangi pandangannya, "dipandang mulu," ledek Giska yang masih duduk bersamanya.
Jaesi tersipu lalu menghela panjang sesaat setelah bel sekolah berbunyi gadis itu masih setia memandang wajahnya. Ah, ya, pasti Giska salah menyangka jika dirinya mengamati sosok Marco sehabis diledek oleh temannya itu. Gadis itu membersihkan meja dan kursinya tak lupa meletakkan barang-barangnya di atas sana. Jaeran duduk begitu saja saat Jaesi meliriknya sekilas.
"Kurang-kurangin lihat jendela, nanti jadi gadis penunggu jendela lho, kan gak lucu kalau ada berita yang tak sedap."
"Loe doain gue mati?" tukas Jaesi yang seperti disumpahi mati oleh temannya itu. Jaeran meringis mendengar penuturan itu, kemudian menggeleng kepalanya cepat namun pemuda itu masih tetap bertahan pada reaksi wajahnya saat ini.
__ADS_1
Jaesi mendengus dingin lalu mengarahkan pandangannya pada papan tulis, dan mengeluarkan alat tulisnya dari dalam tasnya. "Ya enggak juga si, kali loe mati gitu aja, nanti gue sendirian? Mau gue jomblo?" Jaeran berujar dengan mudahnya tetapi tak membuat sang gadis belia merasa itu adalah hal lucu.
"Kan loe memang jomblo," cetusnya yang tak mengalihkan perhatiannya dari papan tulis, gadis itu menghentikan gerakan tangannya saat pemuda disampingnya menahan lengannya. Jaesi memiringkan kepalanya perlahan sambil menatap manik legam sang pemuda, pandangan mereka bertubrukan satu sama lain. Keduanya memutuskan tatapannya saat Darren datang membawa beberapa buku-buku besar ke arah meja keduanya, Jaeran agak sedikit kesal karena pemuda itu selalu mengganggunya dengan momen seperti ini, seharusnya dari dulu saja ia membuang Darren ke dalam kali di dekat jalan raya.
Darren menderible bola yang ada ditangannya dengan tubuh yang penuh akan keringat mengucur deras, pemuda itu menyeka keringatnya lalu mendudukkan dirinya di depan rerumputan lapangan basket outdoor. Suara jeritan para siswi memenuhi satu ruangan, ah, ya, Darren salah satu anak yang menjadi siswa berprestasi tersebut. Ia juga merupakan teman dekat Jaesi juga. Saingan berat dari Marco dan termasuk jajaran pemuda tampan sekolah Langit Sastra high school,
Jantho yang mendengarkan tersenyum menghina, pemuda itu tentu saja tidak ingin melewatkan kesempatan untuk melakukan hal yang paling ia suka, "weh, fans loe gak ada habisnya ya?" pemuda berdimple itu memutar bola matanya malas, ia tau hal ini akan terjadi jika dirinya berlatih bersama teman baiknya itu.
"Otak loe gak bakal sampai kalo gitu terus," cibir cowok itu yang melengang keluar dari lapangan basket seraya melepaskan Jersey miliknya.
Dispen adalah salah satu hal yang paling ia dan Jaeran suka, namun lelaki bermarga Smith itu tak mengambil kesempatan bagusnya untuk kali ini. Pemuda tersebut lebih memilih belajar bersama sahabat perempuan mereka, yang tentu saja tidak mau menanggapi kompetisi apapun selama menjadi pelajar di sana. "Mana, Jae? Tumben gak bareng?" tegur Risky yang menatap manik gelap itu.
"Prioritasnyakan jadi bucinistik, jadi bisa loe tebak dia di mana sekarang! Geleuh banget emang punya temen kaya gitu," sahut Virza yang berada disampingnya.
"Elo aja juga gitu! Ngaca sana!" sambar Jaeran yang baru memasuki ruang radio, ah, rupanya pemuda itu mendengar ucapan teman-temannya itu. Meski aktif dalam kegiatan siaran radio, akan tetapi itu tidak menjadikan extraculicular itu sebagai kegiatan yang tetap.
Darren hanya aktif dalam bidang basket, ia agak sedikit malas jika terlalu banyak mengikuti kegiatan yang sama sekali tidak dirinya kuasai. Namun walau begitu pemuda itu cukup rajin datang ketempat itu dan menjadikannya sebagai tempat beristirahat. "Cuma orang tolol yang mau jadiin tempat kaya gini buat bolos." sahut Jaeran yang menggelengkan kepalanya heran. Pemuda yang lagi memejamkan matanya, membeliak saat dengar apa yang ia dengar.
__ADS_1
Hey! Itu adalah sebuah sindiran pedas yang sengaja Jaeran lontarkan untuk temannya itu, Darren tersenyum skeptis terhadap pemuda tersebut. "Cuma orang bego yang anggap teman baiknya sebagai saudara perempuan," yang lain saat mendengar kata-kata itu hanya terkekeh, Risky agak sedikit menjauh lalu mendengus dingin ketika itu saat terbiasa akan balas membalas seperti ini.
"Apaan sih ah, loe berdua?!" lerai Yoko yang tak tahan akan suasan itu.
"Gue memang anggap dia cuma saudara perempuan gue doang, " bela pemuda itu yang masih tetap pada pendiriannya.
"Ya udah terserah," ucap Darren mengalah lalu beranjak dari duduknya beberapa menit kemudian ia menghentikan langkahnya kemudian berbalik menghadap ke arah teman-temannya, pemuda itu menyunggingkan senyum tipis pada Jaeran yang juga tersenyum guyon padanya. "Terserah bucin Jaesi aja, hahahaha," Jaeran tergelak renyah lalu berdiri hendak mengejar lelaki itu.
Jaesi meliriknya sekilas lalu menghela pelan, saat dibelakangnya pemuda jangkung itu terus mengikutinya, Marco tersenyum meledek lalu merangkul pundak sempit gadis itu. Dengan cepat gadis itu menurunkannya dari atas bahunya, Marco senang jika gadis yang berada disampingnya itu merasa kesal. Karena itu membuat gadis itu jauh lebih cantik, "Co, jangan mulai deh," dengus Jaesi yang mulai hilang kesabaran.
"Abis kamu gemas banget kalo lagi ngambek gitu."
"Aku gak ngambek, lagi kesal aja," Marco menghentikan langkahnya lalu menatap wajah sang gadis dengan pandangan menggodanya.
Marco menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan, dan sukses membuat gadis itu salah tingkah karena tatapan mata mereka yang bertemu satu sama lain. "Gemesnya, hehe." semburat merah memenuhi pipi mulusnya itu. Gadis itu mendorongnya lalu berlari menuju kantin sekolah, Marco tergelak renyah lalu pergi menyusul perempuan yang tengah merasa malu itu.
Jauh dari pandangan keduanya seseorang sedang mengamati dengan tangan yang terkepal bebas, gadis itu mengulum bibirnya dalam lalu melangkah pergi meninggalkan tempat itu. Gadis cantik tersebut sengaja menabrak dirinya pada sisi tubuh kekar milik Marco yang membuat sang pemuda menatapnya dengan tatapan terpanah. "Maaf, kak," Marco mengangguk lalu mengikuti arah pandangnya pada gadis yang baru saja ia tabrak.
__ADS_1