
Sepanjang perjalanan pulang tak Ada suara Sama sekali dan itu membuat Darren kesal karena—sungguh ini bukan gadis itu sekali. Jaesi menatap kosong jalanan dan tak terasa air matanya menetes lagi tanpa ia minta, dengan cepat dirinya hapus. Darren menepikan motornya dipinggir Japan, cowok itu memeluk gadis itu yang mulai terisak kecil.
Walaupun Jaesi tak mengatakannya tapi pemuda itu paham bagaimana perasaan gadis itu saat ini. Gadis itu hanya memerlukan waktu untuk menerima kenyataan yang sulit dirinya terima.
Handphone gadis itu terus berdering. Jaesi mengusap wajahnya lalu mereka melanjutkan perjalanan. Saat sampai dirumah gadis itu Darren menatap raut mukanya yang langsung melengos begitu ajh. "Bilang makasih ke!" Sungut, cowok itu yang melajukan motornya menjauh dari sana.
Jaeril memandang muka kakaknya, yang semula ingin minum gelasnya is letakkan kembali dan menyusul sang kakak ke dalam kamar. Pemuda itu tak mengetuk terlebih dulu, dan langsung bludus masuk.
Pemuda itu mengusap kepala kakaknya pelan, lalu menanyakan apa yang sebenarnya terjadi sampai-sampai pulang nangis kaya gini. "Kenapa kak? Ada yang bully elo? Atau loe dikasarin Marco?"
Jaesi menggeleng pelan kepalanya lalu kemudian menunduk. Gadis itu membasahi bibirnya, Jaesi mendongak pelan dan menatap wajah Jaeril sendu. "... Marco, dia gak ngasarin gue," adiknya itu masih belum bertanya apa-apa lagi sampai cewek itu melanjutkan omongannya. "Marco, ... Dia mutusin gue gitu ajh, pas kami masih saling berhubungan. Marco—dia sama cewek lain— Ril." Jaeril mengepalkan tangannya just, pemuda menggeram marah karena melihat kakaknya menangis seperti ink.
"Gue udah bilang sama loe, jangan tangisin cowok brengsek kea dia! Loe tuh cantik, pintar, atlit. Siapa yang gak mau sama loe?" Geram cowok itu.
Malamnya gadis itu mengusak matanya ngantuk, Jaesi berjalan sempoyongan seperti orang bangun tidur ketika ke lantai bawah. Ia melihat rumahnya tampak ramai dengan teman-teman adiknya dan ada beberapa temannya yang cewek. "Kak," sapa salah satu dari mereka.
Jaesi mengulas senyum dan mengangguk ajh. Gadis itu tersedak air liurnya ketika melihat Jacob berdiri di depan kompornya, Jacob tersengir saat melihat gadis itu menganga. Jaesi hendak mau protes tapi dering handphonenya terus mengganggu sepanjang hari ini, cewek yang menatap Jacob sebel itu langsung mengalihkan perhatian pada pesan yang masuk.
Ruth
Berita yg mengglegar banged ya?
Apaan
Berita putus loe sama jedornya sahabat piyik loe
Read
Jaesi melirik Jacob sesaat lalu mengalihkannya lagi pada handphone. Kini gadis itu membuka groupnya, gadis itu menatap sinis pemuda jangkung yang berdiri tepat di depannya dan mengerling malas.
Pecinta Nona Pears
Aren
Mabarlha hakuy
Jaeran
Apaan sih Lil
Ada Cilla,
Aren
Buceen l anying
__ADS_1
Jaeran
Bdo
Mencari seseorang yang beda itu tak susah berawal dari masa yang panjang untuk melewati batas akhir seorang pertemanan
Lalu saling bercerita tentang rasa yang tak sampai dan pada akhirnya ada sebuah pengikat yang selalu membuatmu tersenyum akan kenyataan
Awal yang bahagia namun tak bisa berbuat apa-apa karena dia menganggapmu sebuah fakta yang harus kamu terima
Awal itulah yang membuatmu sadar kalau kalian berdua itu adalah teman
Awal yang selalu menyimpan sejuta kemirisan tersendiri
Awal yang membuatmu bahagia dan sadar akan fakta menarik itu
Terima kasih atas awal yang sangat menyakitkan ini
Dari temanmu yang selalu mengawali hari
Aren
Tmbnan bucin bu?
Bru pts cnta lgsg bucin ye?
Jaeran
Aren
Titik l gk ad faedahny
Dsr kutil jamblang
Jaeran
Bicot!
Read
Jacob meletakkan gelas yang lagi ia pegang kemudian memandang Jaesi dengan gerut serius, "loe udah tau kan si Jaeran jadian sama gebetannya?" Gadis itu tersentak dan mengangguk. Jacob megenggaman tangannya, lalu menatap nanar wajah gadis itu yang berusaha untuk baik-baik ajh.
Jaesi mendengkus, "gue bukan siapa-siapa adek loe yang setiap saat cowok itu laporan sama gue kan," kekeh Jaesi yang menyimpan luka dalam tawanya itu.
Jacob mengelus bahunya yang mulai turun. Pemuda yang lebih tua darinya beberapa tahun, tak yakin dengan idenya itu. "Gue ada cara supaya Jaeran nunjukin rasa sukanya sama loe." Saran, Jacob. Jaesi memiringkan kepalanya tertarik kemudian mengerjapkan matanya lucu. "Gak usah sok lucu! Muka loe kea pantat babi!"
__ADS_1
Baru ajh pemuda jangkung itu serius, Jacob sudah membuatnya kesal lagi karena tingkah konyolnya. Jaesi menoyor kepala Jacob lalu menyahutinya dengan nada ketus. "Apa ide loe, jangan yang aneh-aneh ya kutil jamblang." Jacob menarik satu sudut bibirnya lalu membisikan semua idenya. Gadis itu terdiam sebentar, idenya gak buruk si.
Jaesi menimang ide tersebut apalagi tadi saat chat di group dirinya sudah mengirimkan sinyal pada teman-temannya yang bahlul itu. Jacob tersenyum skeptis kemudian memajukan tangannya yang mengepalkan mengajak tos bersama cowok itu. Gadis itu membalas tos tersebut dengan melakukan hal yang sama, Jacob merogoh saku kemejanya dan mengambil handphonenya. Ckrek. Jaesi yang dengar suara jepretan kamera dihadapannya itu langsung menolehkan kepalanya cepat.
Jacob memposting hasil jepretannya itu ke semua sosial media bahkan pemuda itu mendapat dukungan dari beberapa temannya dan ada pula yang mengatakan bahwa keduanya serasi. Dilain tempat, Jaeran hampir membanting handphonenya sendiri karena kesal dengan kakaknya itu. "Maksudnya apa si!" Serunya, marah-marah.
Cilla memerhatikan itu namun dirinya hanya diam ketika Jaeran mengumpati sang kakak'. Cewek cantik itu mendengus dingin lalu mengalihkan perhatiannya dari wajah cowok itu.
Vilanian
Jacob sedang menunggu balasan komentar dari sang adik, gadis yang duduk di karpet merah dibawah sofa kamarnya itu tak lekas melepaskan tatapannya dari pemuda putih yang lagi mengutak-atik handphonenya sendiri. "Loe yakin dia bakal respon?"
"Yakin!" Kata Jacob dengan yakin.
"Kalo gak gimana?"
"Gak mungkin," pongah Jacob yang masih pada keyakinannya itu. Belum ada beberapa saat dirinya mengunggah foto tersebut, adiknya—Jaeran berkomentar savage pada postingan itu.
Jacob tersenyum menang pada gadis yang mendelik tajam kearahnya, lalu mencebik kecil bibirnya. Jaesi mengerling sekilas ke samping, dan matanya pada menangkap sorot mata marah pada seseorang yang berada diseberang sana. Lebih tepatnya di rumah depan. "LIHAT?! YAHUUU!! AKHIRNYA GUE BERHASIL?!!" Pekik, pria itu heboh sendiri. Gadis itu tak merespon dengan baik karena dirinya masih saling bersitatap sama Jaeran.
Jacob masih asik dengan kehebohannya sendiri. Pemuda itu menatap wajah Jaesi yang tidak pernah meresponnya dari beberapa menit lalu. Gadis itu mulai keganggu dengan kehebohan pemuda di depannya itu, lalu menoyor pria itu.
Satu menit kemudian sebuah pesan masuk gitu ajh membuat Jaesi menoleh sejenak. Jaesi mencari letak handphonenya, ia terkejut saat handphonenya yang berada digenggaman Jacob. Jacob mengubah nama kontak adiknya dalam ponsel gadis itu, lalu mengulas senyum santai.
Milik Jaesi
Loe ada hbgn apa sama Jacob?
Kita pcran
Puts!
Read
Gadis itu benar-benar terkejut melihat balasan Jacob untuk adiknya sendiri apalagi liat namanya. Jaesi memincing mau berubah jadi petarung kala itu juga. "BANGSATTTT!!!! JACOBBB?!!!" teriaknya, murka. Jacob tertawa terbahak-bahak dan puas liat perubahan transformasi gadis itu.
"Kenapa? Kan itu rencananya, bwahahaha!"
"GAK GINI ******!!"
Jacob berlari keluar dan turun kebawah namun gadis itu tetap mengejarnya hingga keluar rumah, mereka bahkan tak memakai sandal sama sekali. Jacob masih meledeknya hingga cowok itu terpingkal, Jaesi semakin mengganas saat liat tawa Jacob semakin keras. "Bwahahaha, Allahuakbar, perut gue sakit.." keluhnya, sambil memegangi perutnya.
Jacob berlarian menjauh dari Jaesi yang terus mengerjarnya. Pemuda itu masuk kedalam rumahnya namun gadis itu tetap mengejar cowok itu, Jaeran menahan tangannya dan itu membuat Jaesi menghentikan langkahnya untuk mengejar Jacob.
Jaesi menangkis tangan besar itu namun genggaman tangannya semakin kuat. Dan itu membuat Jaesi meringis sakit, "Ren, nanti ajh. Gue—"
__ADS_1
Ucapannya terpotong saat cowok yang menghadangnya itu menyela pembicaraannya.
"Gue gak suka loe dekat sama Jacob." Jaeran melepaskan tangannya dan melangkah masuk ke kamar gitu ajh. Jaesi membeku lalu menyunggingkan senyumnya.