
Gadis itu duduk di sebuah taman yang terlihat sangat sepi entah mengapa ia lebih suka belajar di malam hari saat berada di taman sendirian tanpa ada yang mengganggu namun suatu ketika suasananya menjadi sangat creepy sampai-sampai ia ingin segera cepat pulang hanya karena sendirian berada di dalam taman itu padahal kalau dipikir-pikir jam menunjukan masih pukul 07.00 malam tetapi terlihat sangat sepi dan mengerikan. setelah selesai mengerjakan semua tugas sekolahnya Jaesi langsung bergegas pulang dengan motor mio miliknya hey! jangan dikira gadis itu gak punya motor hanya karena lebih sering pakai mobil dan menumpang sama Jaeril.
Pak hansip menegurnya untuk segera pulang karena semakin malam semakin menakutkan, "neng cepetan pulang ntar dicariin," ujar pria setengah baya itu yang menggoes sepedanya. saat menuju perjalanan pulang Jaesi melihat Jacob bersama Cilla untuk kesekian kalinya namun kali ini gadis itu gak mau melewatkan kesempatan lagi dan langsung melakukan panggilan video sama Jaeran menggunakan kamera belakang. Jaesi diam dan membiarkan sahabatnya itu melihat semuanya, gadis itu juga mengirimkan pesan teks padahal ia bisa langsung ngomong begitu tersambung. Jaeran merasa hancur melihat semua apa yang dilihatnya beberapa hari menjelang ujian memang ia tidak pernah berhubung sama sekali ke kekasihnya padahal pesan terus saja banjir masuk ke ponselnya ... Jaesi menghela napasnya panjang.
Jaesi
capture trs kirim ke Cilla
read
Jaeran merasa bodoh selama ini telah ditipu oleh pacarnya sendiri gak sangka kalau apa yang dialami olehnya ini semua terjadi sebelum kenaikan kelas tiba kebohongan yang dilakukan sama Cilla memicu pertengkaran mereka, apasih yang gak dilakukan sama Jaeran setiap permintaan dari gadisnya pasti selalu dituruti meskipun sedang latihan ataupun tengah bersama teman-temannya. pemuda itu selalu melakukan apa yang diinginkan oleh kekasihnya tetapi gadis yang menjadi alasannya untuk melakukan semua hal malah selalu menuduhnya dan mendiktenya untuk mengertikan hal-hal yang gak pernah ia pahami, Jaeran merasa hubungannya lebih beracun daripada Jaesi dulu saat masih bersama Marco.
Pagi itu Marco menjemputnya kelihatannya Jaesi sedang di dekati kembali sama mantannya tersebut, gadis itu melirik Jaeran lalu menghela panjang. "gue hampir banget ketemu kunti, merinding banget Ko." saat ingat kejadian semalam sehabis memergoki Jacob dan Cilla berduaan.
__ADS_1
"Kok bisa?"
"Ya bisalah!" Marco mengangguk paham lalu tersenyum simpul mendengarnya. disekolah anak-anak kelasnya tampak menunjukkan rasa malas karena pelajaran pertama adalah kimia dan fisika, gadis yang lagi membuka lembaran buku itu hanya menatap kosong Jaeran. laki-laki itu belajar sendirian entah apa alasannya Jaeran gak mau bergabung dengannya lagi padahal hubungan persahabatan keduanya juga gak ada masalah lagi, Marco lagi mengajari Jaesi kimia karena otak gadis itu sudah mulai panas.
Jaeran menghentikan langkahnya saat tatapan bertemu dengan tatapan Jaesi. gadis itu mengulum bibirnya lalu memutuskan pandangan keduanya begitu saja, terlebih lagi fokusnya pada jalanan menuju kelas Cilla: gak butuh waktu lama buat ia menemukan kekasihnya. "gue cari Cillaria." Mitha menghembuskan napasnya kasar lalu mengarahkan pandangannya pada lantai belakang kelasnya.
"Jae, kok gak bilang mau ke sini?" gadis yang lagi memainkan ponselnya itu terlihat sangat gugup. Jaeran menatapnya dengan sendu bahkan terlihat begitu sakit hanya untuk sekadar ngomong, Jaeran hanya memandang wajah cantik itu mungkin untuk terakhir kalinya sebelum semua selesai di sekolah ini. senyum itu masih sama namun gak dengan pengkhianatannya sosok di depannya udah bukan miliknya lagi sebagai adik yang baik ia harus bisa merelakan gadisnya untuk sang kakak.
"Lets break up." Cilla tertegun atas apa yang di dengarnya.
"Aku bosen sama kamu."
"Bohong," lirih gadis itu. sungguh alasan yang tidak masuk akal karena selama ini hubungan mereka jauh dari kata masalah tetapi entah mengapa rasanya udah enggak kaya semula lagi hubungannya mulai hambar nggak ada lagi rasa percaya di dalam hati pemuda itu hanya dengan melihat satu bukti itu menunjukkan bahwa kekasihnya sudah tidak menginginkannya lagi. "Jaeran jawab aku, kamu bohong, 'kan?"
__ADS_1
"Gak untuk apa?"
"Gak mungkin kita break cuma karena kata bosen doang!" pemuda itu terkekeh sinis pada gadis yang masih saja menuduhnya memiliki hubungan sama sahabatnya sendiri, "kamu suka sama Jaesi, aku tau akan hal ini. tapi apa secepat itu kalian mau resmiin?" Jaeran membungkam gak memberikan kata apapun bahkan mengenai hal itu juga.
"Bukan."
"Karena apa? Karena apa kalo bukan gadis biadab iti!!?" Cilla mulai muak sama semuanya dan ia gak paham lagi dengan cara apa menekan Jaeran untuk gak dekat-dekat lagi sama Jaesi, bahkan semuanya udah ia lakukan tapi gak berhasil sama sekali. seusai mengatakan itu sang pemuda bergegas pergi dari sana tetapi Cilla mengikuti jejaknya bahkan mengejar cowok tersebut.
"Jacob kakak aku!" yang kali ini Cilla diam. kini ia tau alasan dibalik putusnya mereka, Jaeran salah paham akan kedekatannya sama Jacob bahkan mereka melebih kata teman itu sendiri: ada raut wajah frustrasi dari Jaeran ia sudah lama sekali gak melihat kakaknya bersama perempuan tetapi kenapa harus Cilla? apa gak ada gadis lain? lelaki itu benar-benar galau berat saat ini.
Cilla masih menahan lengannya lalu mengendurkannya begitu saja, gadis itu terlalu kaget dengan apa yang di dengarnya baru saja bahkan Jacob belum katakan segala hal mengenai mereka berdua. namun lelaki itu dengan gerakan cepat menangkis lengan perempuan yang ada di belakangnya dan langsung jalan begitu saja gak lama cowok itu melihat Jaesi yang berjalan mengarah ke perpustakaan dalam perjalanannya ia bertemu Jaeran, hampir gak mau percaya kalau dirinya melihat sahabat laki-lakinya bersedih dengan raut yang gak pernah ditunjukkan ... agak gak tega sebenarnya tetapi sebelum melanjutkan langkahnya untuk ke perpustakaan, gadis yang melangkah mendahuluinya itu mengirimkan pesan pada Marco agar gak menunggunya.
Kabar mereka dekat lagi itu sudah lama menyeruak di kalangan sekolah tetapi gak ada pernyataan balikan sama sekali, "maaf," satu itu membuat atmosfer semakin canggung. Jaesi masih belum mau buka suara terlebih lagi cowok disampingnya masih menangis dan galau berat, "seharusnya gue percaya sama loe. tapi gue malah meragukan elo." Jaeran bercerita tanpa jeda kemudian memeluk pinggang sahabatnya dengan erat bahkan seperti gak mau berbagi, tanpa sengaja Marco melihatnya hati dari pemuda tersebut sakit jujur masih mengharapkan Jaesi adalah keinginan terdalamnya. namun saingan dengan Jaeran bukanlah pilihannya.
__ADS_1
"Terus loe kasih kesempatan mantan loe?" Jaeran diam sebentar dan gak menjawab lagi pemuda itu terlalu hancur ketika ingat kejadian tersebut, ia gak akan bisa melakukan semuanya saat hubungan mereka masih berjalan satu tahun terlalu awal hanya karena bosan saja. dan Cilla masih setia mengirimkan chat penjelasan yang menurut Jaeran gak penting lagi, ia percaya sama semua perkataan gadisnya— atau bisa disebut mantan gadisnya. tetapi cowok itu hanya gak habis pikir aja kenapa harus kakaknya sendiri.