Vilanian

Vilanian
18


__ADS_3

Pagi ini sekolah kelihatan lebih ramai dari biasanya, kalo dipikir-pikir lagi anak-anak yang datang tak ada yang menyapanya dengan baik hanya ada tatapan mata sinis serta cibiran yang ditunjukan untuk perempuan itu- Jaesi. Itu membuatnya merasa aneh kaya ada sesuatu yang gak beres dengan semua anak murid sekolahannya.


Jaesi mencoba untuk mengabaikan itu semua karena ia sendiri tidak tau letak permasalahan yang sebenarnya apa, jadi dia bersikap acuh dan tak peduli akan itu. Vanila menghandang jalannya saat mau masuk ke dalam kelas, cewek berambut ikal itu memandangnya lurus lalu berkata, "melet kak Marco tah?" Jaesi mengernyit heran. Menatap wajah gadis yang menghampirinya.


"Maksudnya apa ya?" Gadis itu bersedekap dan menyandar pada tembok anak kelas sebelah. "Gini ya adik manis, gue mantannya, dia mantan gue terus urusan gue gitu kalo kalian tengkar? Urus hidup gue sendiri ajh ribet ditambah dengan kalian? Aduh ... Kagak dah, minggir!" Jaesi mendorong tubuh Vanila dan anak perempuan mendramatisir perlakuan Jaesi tersebut saat ketika Jaeran tampak lewat ingin keluar kelas.


"Akh, ... Kak sakit, iya, kak aku minta maaf." Dramatis Vanila dan Jaeran tampak mengamatinya dengan baik. Vanila tau kehadiran Jaeran yang tak jauh dari tempatnya berada dengan sedikit beri bumbu drama, perempuan itu menarik perhatian cowok tersebut.


"Eh, dek, gak apa-apa?" Tanya, cowok itu yang menoleh tiba-tiba. Jaesi memutar matanya malas' dan menghardik adik kelasnya itu.


"Dih," hardik Jaesi yang tak peduli. "Drama apa lagi si." Desis cewek cantik itu yang melengos pergi meninggalkan Vanila masih melakukan drama. Jaeran menghampiri mereka lalu menolong anak perempuan itu dan menatap wajah gadis yang duduk di bangku mereka.


Jaeran kelihatan lebih peduli dengan pelakor itu ketimbang dengan permasalahan tersebut, namun Jaesi tak mau mengikuti drama yang dibuat oleh Vanila lakukan. Pemuda itu berdeham lalu duduk di bangkunya sambil menatap cewek disampingnya tersenyum, perasaannya mulai tak enak hati. Jaesi takut cowok itu hanya akan menanyainya tentang kejadian di depan kelas.


Jaesi mengangkat alis satu lalu mendengkus sembari memutar bola matanya jengah, handphonenya berdering namun demikian Jaesi tak berniat untuk mengangkat telepon tersebut. Jaeril mengirimkan pesan memberitahukan bahwa orangtuanya akan pergi keluar kota.


Jaeran masih tersenyum misterius. "Hngg, ... Jaes," panggilnya.


"Hm," sahut, perempuan itu yang menoleh padanya.

__ADS_1


Pemuda itu mencoba tenang dan menyamai posisinya dengan cewek di depannya, cowok itu mencondongkan tubuhnya agak ke depan dan itu membuat Jaesi tergugu untuk berkata kepada pria dihadapannya itu. "J-jauhan d-dikit, eh ..." Elaknya yang malu.


"Sebenarnya ..." Ucapannya kepotong saat suara Hermita teriak memanggil kaya orang gila. Jaeran menolehkan kepalanya cepat keluar ke jendela. "He, apaan sih!" Teguran keras itu membuat Hermita mengatupkan bibirnya rapat.


"Cilla, pingsan." Jaeran terkejut bukan main, cowok itu memandang wajah Jaesi yang terlihat biasa ajh. Saat hendak pamit pada sahabatnya itu Hermita udah lebih dulu menarik lengannya. "Ayo, nanti dia pingsan kelamaan!" Pemuda itu berlari terburu-buru ke arah lapangan.


Vilanian


Darren menatap lauk pauk yang dibawakan oleh sang Ibu, sarden kalengan adalah makanan favoritnya. Jaesi meringis yang ada disebelahnya itu, cewek itu menggeser posisi kotak bekal makanan milik pemuda dimple itu. "Gak mau buat gue-" Darren langsung menahannya.


"Eits! Punya gue!" Gadis itu menghela panjang' lalu mengerling malas.


"Pak Hadi noh,"


Jaesi beranjak dari kursi kantin lalu menghampiri pak Hadi yang lagi menunggunya, gadis itu mencebik bibirnya dan melengang pergi ke hadapan sang guru. Pak Hadi menghela panjang' saat gadis itu mengikutinya dari belakang, ketika Jaesi pergi meninggalkan kantin Jaeran datang bersama Cilla masuk ke kantin sekolah. Darren meliriknya sekilas lalu kembali menyantap makanannya lagi, pemuda itu berdeham sebentar saat ditanyai oleh Jaeran.


Darren sempat terdiam sejenak kemudian tertawa keras-keras seakan cowok itu pikir Jaesi marah dengannya. "Mana Jaesi?" Cilla menatap tak suka, sadar dengan hal itu, pemuda itu meringis kecil.


"Ngapain nanya nih, ada perlu apa sama nyai?"

__ADS_1


Cilla menatap wajah mereka yang berdebat tentang hal kecil kemudian ikut tertawa kecil ketika ada hal lucu, perempuan itu tertegun saat mendengar lelucon yang berisi sindiran buatnya. Anak perempuan itu merenung sejenak saat melihat ekspresinya Darren yang tak enak ditatap.


Pak Hadi menangkap pergelangan tangan Jaesi yang hendak kabur dari depan pria itu, namun dengan cepat pak Hadi langsung menahan tangannya yang diam-diam disembunyikan dibelakang tubuhnya yang kecil. "Sebentar ya ..." Kata pak Hadi yang masih menahan pergelangan tangannya.


"Pak kita ngapain di sini, bapak gak ada niatan yang kea ditv-tv kan?" Pak Hadi hampir ketawa ngakak saat dengar penuturan sang anak murid.


"Pfft, kamu kok ngomong gitu. Saya mau nyuruh kamu buat beliin saya siomai doang." Jaesi melongo mendengar hal itu, perempuan itu mengatupkan bibirnya rapat ketika pak Hadi mencibir dirinya.


"Abis bapak nahan saya kea orang gak mau ditinggal gitu, ..." Cibir anak perempuan itu. Pak Hadi memutar bola matanya malas, lalu mendengkus sembari memberikan uang kecil. Gadis itu buru-buru jalan ke kantin sekolah mana itu guru cuma ngasih uang tunai sebesar Rp, 3.000 apa pak Hadi gak tau harga siomai berapa? Hadeah. "Hedeh ... Itu guru kenapa harus jadi guru kalo otaknya seperempatnya doang," gerutuan itu tiba-tiba di dengar oleh pria dihadapannya saat ini.


"Kok ngantin lagi," tukasnya yang langsung bersejajar dengannya disamping. Jaesi menoleh kepada orang itu dan cewek disebelahnya, Jaesi mengatupkan bibirnya dan terus berjalan tanpa menoleh lagi.


Jaesi berhenti di depan kedai warung siomai, beberapa menit kemudian pria yang mengikutinya menarik lengannya hingga gadis yang lagi berdiri di depan tukang siomai itu tersandung tali sepatunya sendiri. Saat jatuh gadis itu ditangkap oleh Marco yang lagi dibelakangnya karena tak sengaja' lewat, Vanila yang ada dibangku pojok mengepalkan tangannya kuat. Jaeran yang ada disebelah kanan langsung mendorong tubuh besar Marco tak lupa dengan manik legamnya yang menyinisi cowok itu.


"Apa sih kalian!" Sentak Jaesi yang langsung berlalu gitu ajh dan membawa siomai buat pak Hadi.


Darren menggeleng pelan kepalanya dan mendengus dingin waktu perempuan itu lewat di depannya, cowok bereyes smile itu langsung mengikutinya.


Selepas shalat Dzuhur Jaesi duduk di pelataran masjid sambil memainkan game online terbaru yang lagi hits banget hampir semua anak kelas punya game ini, disamping Jaesi ada Darren yang lagi adu domba dengan gadis itu. "Yang kalah traktir Chatime?" Jaesi langsung mengangguk antusias dan menjabat tangan Darren.

__ADS_1


__ADS_2