
Jaesi banyak melamun beberapa hari ini kemudian Jaeran berjalan melewatinya begitu saja mata gadis itu berbinar dan berdiri hendak mengejarnya akan tetapi saat melihat kehadiran Cilla dan sahabatnya tampak mengabaikan dirinya, Jaesi kaget bahkan cowok itu benar-benar gak menyapanya sama sekali. gadis tersebut membeku kemudian menoleh ke arah pintu dan Jaeran gak meliriknya sama sekali, ada yang berubah dari cowok itu lalu setelah semuanya pasti Jaeran melakukan hal yang membuatnya benar-benar merasa dipermainkan. Jaesi kembali melamun bahkan saat Darren mencoba menghiburnya saja gak ada rasa senang sama sekali, "apa gue aja yang terlalu cepet ambil kesimpulan?" Darren mengangguk sambil memakan sardennya jangan lupakan nasinya juga.
"Maybe doi lelah."
"Mungkin."
"Udahlah gak usah sok paling sedih, lagian ngapain sih kita masih disekolah?!" protes lelaki berdimple itu yang langsung dibalas bola mata memutar sama gadis di sampingnya, Jaesi menghela lalu kembali duduk ke kursinya seperti semula. Darren juga gak mengerti kenapa Jaeran sepenurut itu sama kekasihnya lagian kenapa Cilla harus melarang persahabatan mereka bertiga kalau pada akhirnya laki-laki bersamanya cuma mau mengikutinya saja. "Jaeran tuh apa ya ... pea gak sih?" Jaesi mengangguk selagi mengunyah siomai.
"Bisa jadi dia cuma pacar yang baik," ujar gadis itu agak membela cowok yang lagi gak bersamanya.
"Belain aja sih, Maimun!" cibir lelaki itu dengan raut wajah julid sedangkan gadis yang dicibir itu malah terkekeh lalu mencubit gemas temannya, di sisi lain Gita memerhatikan interaksi mereka. bukan karena gadis pujaannya Darren itu cemburu sama kedekatan keduanya Gita tau betul bagaimana proses mereka menjadi teman karena gebetannya— ah, bukan pemudanya itu selalu menceritakan kegiatan normal mereka. "Gita," tukas Darren yang melihat kehadiran cewek tersebut. Jaesi menoleh kebelakang lalu menyapanya dengan mengulas senyum tipis.
__ADS_1
"Gue takut Gita salah paham sama kaya Cilla," ungkap Jaesi yang mengutarakan kekhawatirannya tapi Darren tau ceweknya itu bukan tipe orang yang pencemburu. "apa gue panggil aja ya? Gita!" ujar Jaesi meminta persetujuan dari lelaki tersebut, Gita berjalan ke arah mereka berdua selepas sahabat dari cowok yang ia sukai itu memanggilnya kemudian duduk di dekat cowok tersebut Jaesi tersenyum. mereka bertiga saling bercakap-cakap dan membicarakan hal-hal yang sewajarnya anak remaja bicarakan namun saat di tengah pembicaraan mereka tiba-tiba suasana hati Jaesi mendadak berubah ketika membahas soal Marco.
"Gak sama Marco?" tegur Gita yang menoleh le kanan dan ke kiri: Jaesi diam sebentar lalu mengulas senyum canggung pasalnya gak ada yang tau kecuali anak kelas mereka saja. pemuda yang ada di sampingnya itu menatap sendu seraya meminta maaf atas apa yang sudah diucapkan oleh pujaan hatinya tetapi gadis yang diam saja itu gak mengatakan apa-apa lagi lalu tersenyum mengambang. "ah maaf ya, lupa kalo udah putus."
"Kalo mau bales dendam jangan gini dong." kata Jaesi yang agak menaikkan nada bicaranya dan membuat dua orang itu kaget, gak lama gadis itu tergelak lalu meminta maaf karena sudah mengerjainya. "monmaap nih kalo agak keterlaluan ngepranknya, tapi cewek loe juga yang salah bahas Marco depan gue." cibirnya yang langsung dibalas helaan lega dari mereka berdua, Darren menoyornya selaku orang yang ada di depannya.
Jaeran bosen kalau harus menemani Cilla ke salon tapi gak ada pilihan lain juga, kekasihnya itu tersenyum kemudian mengecup singkat kening pemuda tersebut gak lama setelah selesai keduanya jalan-jalan di mall dekat rumah Cilla.
"Liat yang seksi belok~" sambung Gita dengan riang.
"Sampe yang disebelah gak ditengok!" Jaesi terkekeh mendengar nyanyian mereka petikan nadanya agak melenceng dari nada awal mereka bertiga. gadis itu main hingga malam saat waktunya pulang ke dua sahabat itu langsung buru-buru bergegas naik motor dan menancapkan gasnya ke arah pulang kebetulan banget karena rumahnya Gita itu masih di daerah perumnas 2 jadi nggak terlalu jauh kalau mau putar terbalik. selepas turun dari motor cewek itu langsung berlari masuk ke dalam rumah karena takut dimarahi oleh mama, bahkan mata elang Jaeran sempat menangkap pergerakkan mereka berdua.
__ADS_1
Mama mengerutkan kening heran saat anak perempuannya baru sampai, "darimana sih? tadi papa telpon lho. masa gak kamu angkat." ucap mama yang mengingatkan kembali perihal sore tadi, "emang ngapain aja? gak aneh-aneh, kan? atau pake narkoboy?" Jaesi tertawa mendengar suara mamanya.
"Ya gaklah ma! nanti latihan bela diri aku sia-sia." Jaeril dari arah belakang dapur ikut tergelak mendengar penuturan sang mama lalu menatap wajah polos ibunya yang sangat lucu, "mama gaul amat. emang tau singkatannya apa?" goda Jaesi yang masih saja terbahak karena sikap polos ibunya.
"Narkoboy bukannya narkoba?" sahut adik laki-lakinya mama hanya mengangguk dan tersenyum malu karena dua anaknya. suasana itu berbanding terbalik dikediaman Smith Jaeran bahkan merasa bosan kalau harus tetap berada dikamarnya, pemuda itu mengirimkan pesan kebeberapa temannya yang laki-laki saat mendapatkan balasan dari Yoko: kakak kelasnya cowok tersebut langsung bergegas pergi lagi. saat sampai Yoko rupanya lagi bareng sama anak basket bahkan ada alumni juga dan di sana ada Marco lagi berbincang dengan Virza dan juga Yusuf.
Jaeril masih tergelak di bawah sofa hingga terguling-guling karena mamanya selalu mendapatkan penuturan polos, "mama gaul darimana? kok tau kata-kata yang awalannya meng? meng apa mama polos! bwahaha!" Jaesi gak bisa lagi nahan ketawa dengan sikap lugu ibunya.
"Itu mengapa bodoh! ahelah! ma kasih paham ma!"
"Dasar anak-anak kurang ajar kalian minta dihujat banget sih!?" Jaesi dan Jaeril makin terbahak-bahak dengar perkataan mamanya yang gak tau keberapakalinya, "MAMA KAN JUGA MAU KEREN!!!" waduh siaga dua ibu mereka mulai meninggi nada bicaranya dan sebentar lagi bakal mengamuk, Jaesi menelan air liurnya.
__ADS_1
"Mama jangan potong saku aku," rengek gadis itu yang tau akan ke arah mana mamanya bertindak. mama hanya memejamkan matanya sejenak lalu menghela panjang kalau soal uang saku siapa yang gak takut 'kan. apalagi masih minta sama orang tua juga, gak mau lah mereka buat mamanya kecewa sampe gak dapat jajan. "mama tadi kan cuma berjanda!" mama membelalak memelototinya. "becanda maksud aku!" seru Jaesi yang agak mencicit takut.