
Jaesi tersenyum saat melihat dua adik kelas yang telah membuatnya kesal itu menjadi kapok berurusan sama dirinya tetapi itu nggak membuat pacar dari mantannya itu menyerah dan bertindak semaunya karena itu si gadis terpaksa harus melakukannya lagi agar beberapa adik kelas gak songong sama yang lebih tua bukan berarti itu tindakan membuli bukan tetapi hanya memberikan sedikit pelajaran agar yang lain gak menirunya. Jaesi melakukannya hanya saat sedang latihan boxing di luar itu dia nggak mau berurusan sama adik kelas bahkan beberapa diantaranya ada yang merasa segan karena tegurannya itu, "gue gak mau kalian kaya gini lagi. pokoknya kedepannya siapa orangnya gak usah sok jadi penguasa, gue kaya gini bukan cuma sama kalian berdua kalo ada yang lain dari kelas ekskul lain ... gue bakal melakukan hal yang sama. kasih tau ke Vanilla untuk gak songong kali ini kalian dimaafin tapi next time itu gak akan pernah terjadi paham kalian."
Darren bertepuk tangan melihat sikap tegas temannya itu lalu berdecak kagum seraya memberi dua jempol. "nyai! elo keren sumpah! tadi grrr abis!" Jaesi melirik malas lalu berjalan selepas mengunci lokernya, pemuda berdimple itu masih mengoceh.
"Berisik!" ketus gadis itu.
"Loe gak takut kena serang sama gangnya?"
"Kenapa harus takut, gue gak buli mereka. itu cuma sedikit dari besarnya kesalahan mereka yang udah nyari gara-gara sama gue. lagian gue cuma ngasih mereka pelajaran selama masih ada dikelas boxing di luar dari itu bukan tanggung jawab anak boxing lagi."
"Iya sih," ucap Darren membenarkan kata-kata sahabatnya. "biar mereka gak sengak ya." Jaesi mengangguk dan melengos ke arah lapangan bola menatap sekelilingnya. meski pembulian kerap terjadi disetiap sekolah tapi gak semua cewek yang ada hampir tiap sekolah itu adalah cewek lemah, kebanyakan diantara mereka cuma bersikap apatis saja terhadap masalah di dalam rumah. dan Jaesi gak mau jadi gadis yang seperti itu berlaku kasar pada orang lain.
__ADS_1
"Gue tau sih tiap orang punya sifat yang beda-beda dan gak sama kaya gue, tapi coba loe yang ada diposisi kaya gitu. apa elo bakal diam aja kalo seandainya elo gak punya masalah sama orang lain tapi elo dilabrak? gak, kan?" jelas gadis itu yang mengulas senyum pada beberapa adik kelas yang menyapanya. "be smart bukan berarti bertindak seenaknya, tapi lakuin yang buat mereka jera dan gak akan mau mengulanginya lagi." Darren terperangah sama untaian kata dari Jaesi, pemuda itu mendramatisir setiap tingkahnya.
"Ayah bangga sama kamu nak!"
"Gue geli loe ngomong kaya gitu." keduanya tergelak bersama lalu menyiapkan pelajaran yang bakal mereka bahas buat ulangan harian nanti. Jacob memandang ke arah luar saat ini dirinya tengah disibuk mengurus pembukuan restoran ketika lagi menyambut tamu pemuda tersebut dikagetkan akan kehadiran seseorang yang pernah mengisi hatinya ... itu mantannya bersama pacar barunya perempuan tersebut diam saja seraya memerhatikan sekeliling resto, dan yang lebih terkejut lagi adalah pacar barunya itu temannya sendiri. entah suasananya yang memang pas atau apa saat Jacob menatap lurus Vallerie terputar lagu playlist resto hari itu Raisa kali kedua, pemuda itu tersenyum lalu ia langsung mengantar buku menu dan membiarkan pegawainya melakukan pekerjaan selanjutnya.
Temannya hendak mengejek namun selintas saat mendengar sapaan para pegawai lelaki itu urungkan, "jadi dia yang punya," gumam lelaki itu khawatir. jelas ia takut jika kekasihnya kan memilih kembali pada temannya itu yang notabenenya pernah dikecewakan oleh mereka berdua tetapi saat dipikir-pikir kembali itu nggak akan terjadi.
"Santay dong gak usah ngegas gitu." Jacob berdecih gak nyaman kemudian kembali ke ruangannya seraya menatap sinis cewek yang duduk dengan nyaman di sampingnya, bahkan Vallerie pura-pura gak mengenalnya hanya sebatas senyum sapaan doang. perempuan itu masuk ke dalam ruangannya tanpa atau mengetuk dahulu kemudian perempuan itu tersenyum tipis, dikala Jacob membalasnya hanya dengan mengulum bibir dalam. perempuan itu merasa menyesal karena telah melakukan kesalahan yang bahkan nggak bisa dimaafkan oleh pemuda di hadapannya tetapi perempuan tersebut juga merasa ingin bahagia karena selama ini mantannya itu nggak pernah memberikan kebahagiaan itu apa yang ia miliki sekarang ini sudah terlambat buat mengubah keadaan yang semakin menjadi canggung.
Vallerie menghela saat hendak berbicara, "aku cuma mau—" ucapannya langsung dipotong oleh sang lawan bicara dan membuat keadaan semakin rumit.
__ADS_1
"Kalo ke sini cuma mau balikin semua barang pemberian gue, lebih baik buang. gue gak mau menerima lagi sampah yang pernah gue kasih ke elo karena itu gak akan ada bedanya buat hubungan kita dan harga diri loe yang udah dibuang layaknya sampah." ketus lelaki itu.
"Tapi aku hanya mau kembaliin cincin yang pernah kamu kasih ke aku." lirih perempuan tersebut yang menatapnya penuh luka, Vallerie tau dirinya telah melakukan kesalahan fatal banget hanya karena Jacob tinggal ke Indonesia tapi perempuan tersebut sudah meninggalkannya.
"Buang."
"Jack—" pemuda itu menggeram kesal lalu merebutnya seraya melangkahkan kakinya ke arah tong sampah kemudian di buangnya semua barang yang ada di tas cewek itu dan dirinya juga membuang cincin yang pernah dirinya kasih. perempuan itu meneguk air liurnya kasar lalu menghela pasrah atas sikap acuh dari cowok di depannya bahwa sudah menjadi resikonya mendapatkan perlakuan seperti itu, Jacob gak bergeming lagi dari depan mejanya pandangannya lurus menatap buku yang ada di atas meja lalu nggak sekalipun dari cowok itu menoleh bahkan mendongak ke atas hanya untuk sekadar menatap si mantan.
"Buat dia balikin barang yang pernah gue beliin. sekalinya sampah ya tetap aja sampah, gue jadi makin yakin kalo selama ini kita berhubungan bukan karena perasaan gue terbalas tapi karena harta. tch! picik banget." lantas semuanya gak membuat sang pemuda lupa akan pengkhianatan itu dan mengembalikan sisa kisah mereka, hanya sekadar nangis saja gak artinya bagi Jacob. semua sudah berakhir bagi lelaki itu dan sekarang hanya ada kenangan saja. Jaeran tersenyum ketika melihat kedatangan Cilla gak lupa tas yang ia sampirkan ke samping pundaknya, selepas pertemuan itu keduanya bergegas pergi dari area parkir dan sedangkan Jaesi menunggu dikelas karena seingatnya ada praktikum kimia.
Hebohnya Darren mengalahkan ibu-ibu sekomplek, berharap sahabatnya yang lain datang mana udah begitu Jaeran gak baca pesan darinya. "niat gak sih kerkom bareng gue," lirih Jaesi yang sudah mengeluarkan perlengkapan alat tulisnya Darren mengerutkan keningnya dalam hati bertanya siapa yang gadis ini tunggu.
__ADS_1