
Jaesi terus saja memberikan jarak pada kedua orang yang sedang bertamu di rumahnya itu. Saat handphonenya berdering lagi. Gadis itu memilih untuk mengangkat telpon tersebut dan pergi meninggalkan ketiga cowok yang memandangnya dengan tatapan mata bertanya.
Setelah mengangkat telepon tadi. Jaesi langsung bersiap untuk pergi menemui Marco. Kekasihnya di ternyata sudah menunggu di depan rumah sejak tadi. Tak seperti biasanya, gadis itu yang akan menghampiri cowok itu. Ini tumben sekali Marco mau repot-repot menjemputnya.
Saat mau berpamitan dengan teman-temannya itu. Dia tak melihat satupun orang diruang tamunya. Gadis itu langsung mengambil Hoodie dan pergi tanpa meminta izin kepada orang tuanya. Jaesi melirik Cilla yang memandangnya dengan tatapan mata aneh. Lalu gadis itu segera berlari tanpa menghiraukan pandangan mata cewek itu.
Ting
Areen
Loe di mn?
Knp?
Loe nnya knp?
Hellowww, rmh lo ksng bangsta
Yg lain mnee
Ya mna gue tempe!
Read
Jaesi mendumel tak jelas. Pak supir taksi meliriknya sekilas melalui kaca spionnya. Gadis itu diam dan tersenyum canggung pada pria tua itu. Setelah sampai Jaesi agak terpukau dengan gaya arsitektur bangunan ini. Gadis itu segera menyadarkan dirinya sendiri dan langsung menekan bel pintu.
Gadis itu menggerutu kesal karena masih teringat dengan chat roomnya bersama Darren. Jaesi mengomel kecil hingga tak sadar bahwa pintunya sudah terbuka. Keluarlah seorang wanita paruh baya bernampilan sederhana. Bisa jadi itu adalah asisten rumah tangga Marco.
"Marco ada?" Tanya Jaesi pada wanita itu. Wanita tersebut mengangkat satu alisnya heran lalu mengangguk sambil tersenyum dan masuk ke dalam rumah.
"Ada mba," sahutnya ringan.
Assisten tersebut memanggil sang empunya rumah. Marco habis mandi belum saja mengeringkan rambutnya yang basah. Marco berjalan dengan sangat santai dan menyambut kedatangan kekasihnya itu dengan riang. Pemuda itu mengajaknya masuk ke dalam, Marco menyuruh Jaesi duduk dan mengambilkannya minuman.
Mama Marco lewat sepulang dari arisan. "Co, cantik banget. Itu yang sering kamu ajak kan?" tanya sang Mama.
"Bukan," ujar, cowok itu yang kemudian balik ke dalam kamar mandinya untuk melanjutkan aktivitasnya lagi.
"Maaf ya, Marco tuh sering bawa temen cewek ke rumah. Jadi tante nggak tau kalau anak itu punya pacar." Mama Marco melengang pergi meninggalkannya begitu saja di depan ruang tamu.
Agak kaget dengan apa yang di dengarnya itu. Jaesi menguasai diri agar terlihat kaget. "Emang sesering itu tante?" Tanya gadis itu iseng. Mama Marco mengangguk lalu tersengir, wanita paruh baya membentuk dua tanda jari damai.
__ADS_1
"Ya kamu taulah, anak muda. Jadi tante kaget pas tau Marco punya pacar," Mama Marco tertawa renyah dan langsung mencuci tangan setelah itu pergi ke dalam kamar.
"Mama ngomong apa ajh sama kamu?" Jaesi tak mau terlihat bodoh dan langsung melabrak kelakuan bejat cowok di depannya itu. Setelah Marco keluar dari kamar mandi tadi. Mamanya tersenyum pongah pada pemuda itu ketika lewat.
"Nggak ada,"
Marco agak memicingkan matanya curiga namun tak bertahan lama. Cowok itu duduk di sofa single yang ada disebelahnya. Jaesi menggenggam tangan cowok itu erat dan mulai merenggang.
Di dalam mobil keadaan hening seperti kuburan. Jaesi mendengus dingin lalu menyalakan lagu dari radio mobil pemuda. Marco yang melihat itu langsung marah dan mematikan musiknya begitu saja. "Emang harus ya segala setel lagu, ha!" Marco meninggikan suaranya.
Jaesi terkejut melihat Marco marah dengan hal sepele seperti ini. "Kenapa kamu marah?" Marco merapat bibirnya dan gadis itu membuang pandangannya ke arah lain.
Gadis itu masih diam tak mau menegur padahal mereka sudah sampai di cafe. Marco juga tak berusaha untuk membujuknya untuk tak marah lagi. Tiba-tiba saja pemuda itu berdiri dan meninggalkan dia sendiri di cafe itu dan ditengah hujan.
Vilanian
Jaesi berdecak bukan karena tak suka sendirian. Namun karena cowok itu pergi begitu saja tanpa mau repot-repot mengantarnya pulang ke rumah dulu. Gadis itu menghubungi Jaeril untuk menjemputnya pulang. Jaesi menangis tanpa suara, air matanya terus turun dan itu membuat dadanya semakin sesak.
Jaesi masih menanti kedatangan adiknya yang entah kenapa begitu lama. Hatinya semakin sesak, berlama-lama dalam cafe ini. Pada detik kedua ada seseorang yang datang namun bukan Jaeril. Tapi sahabatnya, Jaeran.
Jaeran memeluknya erat dan gadis itu menumpahkan air matanya dipundak cowok itu. Jaesi meraung keras sampai semua pengunjung melihatnya dari berbagai sudut. "Siapa yang buat lo kaya gini?" Tanya Jaeran lembut. Gadis itu menggeleng pelan lalu menghapus air matanya.
"Bukan siapa-siapa,"
Jaesi tetap menggeleng cepat lalu Jaeran menghela nafasnya mulai lelah dan berjalan menuntunnya yang kehabisan tenaga karena menangis. "Gak usah dibahas." Pintanya memelan dan cowok itu mengangguk.
Selama perjalanan Jaeran tak bertanya apapun. Biar bagaimanapun juga dia masih belum mau bicara tentang permasalahannya dengan Marco. Rasanya tangannya gatal untuk tidak menghajar cowok biadab itu.
Setelah sampai rumah Jaesi langsung turun dan berjalan tanpa mau membalas teguran Darren. Cowok berdimple itu mengernyitkan dahinya heran. Jaeril melangkah mendekati sang kakak dan masuk ke dalam kamarnya.
Jaeril mengetuk pintunya agak kencang. Jaesi tak menyahut seruan apapun. "Kak, ..." Panggil pemuda itu masuk ke dalam. "Ciee, yang jalan sama sahabat jadi cinta." Goda Jaeril. Namun gadis itu tak bersemangat dalam membalas seruan adiknya.
"Apaan sih," sahut, Jaesi malas lalu memukul lengan adiknya pelan. Jaeril meringis liat kakaknya yang mulai menunjukkan senyumnya.
Jaeril menatap wajah gadis itu menyendu lalu memeluknya dengan hangat. Cowok itu tau apa yang sang kakak rasakan saat ini adalah perasaan yang bukan seharusnya. "Kak, jangan tangisin sesuatu yang gak pernah jadi milik lo." Ujar, pemuda itu yang menepuk-nepuk punggungnya. Jaesi diam dan entah kenapa rasanya dia ingin menangis lagi.
"Jangan jadi cowok bangsat ya, Ril." Tuturnya sambil mengusap air matanya yang menetes.
Jaeril meringis dengar nasihat itu. Pemuda yang sedang memeluknya itu, berkata menenangkan. Lalu dia diam-diam mengepalkan tangannya kuat. Maniknya menembus ke arah luar, gak tau kenapa perasaan Jaesi berubah jadi tak enak. Dia takut Jaeril berbuat nekat. "Lo mau gue apain dia?" Gadis itu melepas pelukannya dan menggeleng cepat. Cowok itu masih menatap wajah kakaknya tak mengerti. "Gak usah kaya orang bego. Bilang ajh, lo gak perlu siapapun buat lindungi diri lo. Gue masih hidup, jadi bilang kak, lo mau gue apain dia." Nada dingin yang Jaeril keluarkan cukup membuktikan bahwa dirinya sedang tak main-main.
Jaesi mengigit bibirnya takut. Lalu kembali menggeleng. "Gue gak mau dia terluka." Cowok itu memutar bola matanya jengah kemudian beranjak dari tempatnya dan melangkah keluar.
__ADS_1
Jaeril menatap mata gadis itu lalu menyakinkan lagi. "Lo yakin?" Gadis itu mengangguk mantap.
"Lo mau ke mana?" Jaeril diam sebentar lalu mengatakan alasan yang seadanya.
"Keluar," Jaesi manggut-manggut lalu pemuda itu menyelimuti seluruh tubuh kakaknya. Gadis itu memejamkan matanya istirahat.
Dibawah Jaeril sudah siap untuk menghajar Marco. Jaeran menatap wajah cowok itu serius, pemuda itu sendiri tak yakin dengan keputusan yang diambil oleh juniornya itu. "Mau ngapain?" Tanya Jaeran berusaha mencegah. Cilla sendiri yang masih berada di sana takut dengan sikap yang tonjolkan oleh Jaeril.
"Urusan," sahutnya, agak melirik tak enak dipandang. Darren berdiri dan menarik lengan Jaeril, namun cowok itu menangkisnya.
"Sekali lagi gue tanya, mau ke mana?" Jaeran mengatur emosinya. Jaeril tetap tidak memberitahu tujuannya.
"Bukan urusan loe!" Desis Jaeril yang langsung pergi begitu saja.
Saat Jaesi mendengar suara geberan motor. Gadis itu langsung melek dan berlari ke arah garasi rumah mereka. Jaesi tak bisa membiarkan Marco memiliki luka karena adiknya. Atau siapapun. "JAERIL?!" teriak gadis itu yang masih belum mencuci muka.
Jaesi berhasil menghadangnya dan menarik kasar cowok itu masuk ke dalam kamar lagi. Meskipun demikian emosi Jaeril belum begitu reda sepenuhnya.
Jaeran hanya berjaga-jaga di bawah takutnya akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Darren pun turut serta membantu cowok itu yang lagi mengawasi Jaeril dikamar Jaesi. Sedangkan gadis itu sibuk meneriaki adiknya dan tidak peduli dengan lingkungannya saat ini.
Jaesi mendengus dan menatap wajah adiknya jengkel. "Gue bilang gak usah ya gak usah lo ngerti bahasa manusia kan?!" Bentak, gadis itu yang tidak disahuti oleh Jaeril.
Jaeril berdecak kemudian membuang muka ke arah lain. "Lo pikir pake otak!" Pemuda itu menggeram kesal dan mengepalkan tangannya kuat. "Mana ada adik yang mau kakaknya nangis-nangis kaya tadi hah?! Lo pikir gue gak sakit liatnya? Sakit!" Balas, Jaeril tak kalah tinggi. Jaesi diam saja lalu menarik lengan adiknya kasar dan mengusirnya.
"Keluar!" Teriak gadis itu frustrasi dan membanting pintu kamar dengan nyaring.
"Mau sampai kapan lo hidup kaya gini," lirih Jaeril yang melangkah gontai menuju ke arah garasi lagi. Bukan seperti tadi kali ini tujuannya berbeda dari beberapa jam lalu.
Jaesi meraung keras dan menyesali perbuatannya yang dulu pernah menerima Marco sebagai pacarnya. Sekarang mungkin sudah terlambat untuk gadis itu, karena bagaimanapun juga Jaesi sangat menyayangi Marco walaupun tidak memiliki rasa cinta dihatinya.
Gadis itu menangis sejadi-jadinya kala itu dan memberantakan barang-barangnya. Jaesi berteriak keras sehingga orang yang berada di luar ruangan itu langsung terlihat cemas dengan kondisinya.
Jaeran bangkit dan mengajak Cilla pulang. Selain karena tidak enak dengan orang tua gadis ini. Jaeran juga tidak bisa berlama-lama membiarkan dia ada di sini. Saat Cilla sudah berjalan kearah depan, dengan santai Darren menyeletuk hal konyol. "Jangan lama-lama anterin bini muda, kasian bini tua lagi stress. Hahaha." Celetuk Darren yang diselingi tawa meledek.
"Sialan lo, udah gue cabut dulu. Jagain nyai tuh." Sahut, cowok itu yang melangkah keluar.
Setelah mengantar Cilla pulang cowok itu balik lagi dengan membawa tiga mangkuk mie ayam. Lantas Darren yang melihat itu langsung ijo dong matanya. Karena tak pernah sekalipun dalam hidupnya melewatkan traktiran dari temannya yang satu ini.
"Jaes, turun kuy. Ada mie ayam sama bakso. Yang beliin temen lu!" Panggil, Darren yang tak sabar menyantap makanannya.
Jaesi turun dari kamar dengan mata sembabnya. Jaeran yang melihat itu langsung mengulas senyum dan menarik lengannya dengan semangat. "Dah, dah, gak usah mewek-mewek lagi. Makan ajh ayo, gue udah beliin lo special pake telor dua." Gurau, Jaeran yang ditoyor sama Darren karena dengar lawak konyol dari cowok itu.
__ADS_1
Darren memutar matanya malas. Lalu mengomel kecil pada Jaeran yang berbicara melantur, gadis itu tertawa renyah liat tingkah laku manusia di depannya itu. Jaeran yang tak terima dengan perlakuan Darren langsung membalasnya hingga cowok dimple itu tersedak kuah mie. Jaesi langsung tertawa terbahak-bahak menatap wajah Darren seperti orang bego.