Vilanian

Vilanian
2


__ADS_3

Jaeril melepas semua atribut yang ia kenakan, pemuda tersebut menyelonjorkan tungkainya di atas meja lalu maniknya berkedip saat memandangi sang kakak perempuannya yang terlihat suntuk, pemuda itu bahkan tak berniat menghentikan gerakan tangannya saat menegur gadis yang masih melangkahi anak tangga menuju kamar tidur. Jaeril tau kakaknya sedang dalam mood yang tidak baik, maka dari itu ia tak mau mengganggunya. "Marahan?" tukas pemuda itu yang sedikit memiringkan kepalanya agar menatap manik biru milik Jaesi.


Gadis itu menggeleng kepalanya perlahan sambil tersenyum tipis pada sang adik, "sama Jaeran? Enggak," sahutnya sambil terus mengusapi telapak tangannya sendiri.


"Bukan, Marco maksud gue, loe kaya orang yang banyak beban, padahal belum berumur." Jaesi meliriknya sekilas lalu menghela panjang kemudian menutup pintu kamarnya dengan keras, adik lelakinya itu hanya terkekeh geli melihat ekspresi wajah sang kakak'. Gadis itu merebahkan dirinya di atas ranjang yang berukuran besar dan nyaman, Jaesi memandangi langit di dalam kamarnya benaknya penuh dengan sikap aneh yang ditunjukkan oleh Marco. Kekasihnya sendiri. Jaesi tak ingin menaruh kecurigaan apapun pada pemuda itu, atau mungkin saja ia sudah menaruh rasa curiga pada Marco. Hanya terhalang satu rumah dari rumahnya, tak menutup kemungkinan untuk Jaeran mengetahui apa yang dia lakukan saat ini. Memiliki rumah yang berdekatan dengan teman sekelasnya ada perasaan istimewa bagi Jaesi, pintu balkon rumah pemuda tampan terbuka membuat sang gadis menatapnya dengan pandangan heran. Namun perasaan takut juga menghinggapi gadis itu, Jaesi mungkin tahu jika Jaeran hanya menganggapnya sebagai seorang teman atau tetangga dekat. Namun apa itu berarti baginya untuk memiliki perasaan yang lebih?


Angin berhembus menerpa wajahnya yang menyapu seluruh rambutnya, tanpa Jaesi sadari gadis itu tengah diperhatikan dalam diam sementara lelaki itu bahkan mampu menarik satu sudut bibirnya kala memandang wajah gadis itu. Jaeril berteriak begitu nyaringnya hingga membuat gadis itu mendesis kesal, adik laki-lakinya itu tau dirinya sedang berada dalam mood kurang baik akan tetapi si bungsu Pearce itu selalu saja mengganggu ketenangannya. Jaeran tersenyum kecil sambil meraih gitar miliknya pemuda itu bersenandung pelan mengikuti kord lagu yang sedang ia mainkan, permainan yang ia mainkan semakin membuat pemuda itu masuk ke dalam alunan musik yang melantun dengan merdu, "the overtune sayap pelindungmu," seru Jantho yang tiba-tiba request sebuah lagu.


Pemuda itu mengganti lagunya lalu kembali memainkan kord itu, ah, lagu ini, lagu yang disukai para sadgirl. Lagu sayu yang mendayu bahkan Jaesi saja menyukai lagu yang tengah ia mainkannya ini. "Kapanpun itu mimpi terasa jauh, ouh ingatlah sesuatu ku akan selalu jadi sayap pelindungmu," Jaeran mengakhiri permainan gitarnya lalu meletakkannya begitu saja di dekat pintu.


Jaesi menghentikan suapannya lalu mendengarkan dengan seksama lagu yang lagi dinyanyikan oleh seseorang, pemuda itu— Jaeril memerhatikannya hingga mengernyit heran. Lelaki itu ikut menghentikan kegiatannya lalu menghela pelan, saat lagi-lagi sang kakak tak mendengar dengan jelas apa yang ia bicarakan. "Kakak!" panggil Jaeril dengan nada kesal.


"Ha?" sentak Jaesi yang mulai tersadar, pemuda itu meletakkan sendoknya agak sedikit bunyi. Kemudian berjalan menuju pintu keluar rumah dan mengalihkan pandangannya pada jendela sebelah, atmosfirnya begitu tak mengenakan. Ah, meskipun seperti itu Jaeril tetap berdiri seraya menatap wajah lelaki itu.

__ADS_1


Tanpa banyak bicara pemuda itu langsung menimpuknya menggunakan batu kecil, "berisik bang!" teguran keras itu membuat sang empunya merasa terpanggil dan menolehkan kepalanya seraya menarik tangannya membentuk tanda 'baiklah'.


"Ngapain?"


"Ngelap jendela! Ya keluarlah bego," desis Jaeril yang tak ditanggapi serius oleh sang kakak perempuannya.


Sayangnya pemuda yang lagi berjalan beriringan dengan dirinya hanya menganggapnya sebagai seorang adik atau seorang sahabat? Ya mungkin itulah yang membuat Jaesi tak memiliki pikiran akan bagaimana dengan hubungan keduanya nanti jika satu sama lain memiliki perasaan lebih. "Apa yang loe suka?" tanya Jaesi yang tidak fokus karena sedang berada di dalam toko Hoodie.


"Elo," sahutan itu meski spontan tapi mampu membuat pikiran para manusia di sana melalang buana. Seperti biasa, Jaeran selalu melontarkan pernyataan tanpa tau makan sebenarnya.


Setibanya mereka di chatime seharusnya mereka hanya bertiga, namun kini tidak lagi, karena ditengah-tengah kedua orang itu Jaeran mengajak satu temannya lagi, atau lebih tepatnya mengajak gadis tidak dikenal. Jaesi mengerutkan kening lalu menyenggol lengan besar Darren yang masih memandangi wajah cantik itu, "siapa?" bisik gadis itu yang malah mendapatkan balasan tak acuh dari cowok berdimple tersebut.


Agak sedikit merasa tak suka, entahlah, gadis ini merasa kurang nyaman berada di dekat orang baru. "Gaes, ayo kenalan dulu," usul Jaeran yang tersenyum pada gadis manis itu. "Nama loe siapa?" Tanya pemuda itu yang sedikit bingung saat memperkenalkan pada teman-temannya yang lain.

__ADS_1


"Cillaria, panggil aja aku, Cilla." Ucap gadis itu yang mengembangkan senyumnya. Jaesi agaknya mulai risih dengan keberadaan manusia disampingnya, Jaeran meliriknya sekilas lalu menghela panjang sesaat ketika tau dengan raut wajahnya Jaesi yang seperti itu.


"Aku, Jaeran. Yang itu, Darren, dan yang sebelah aku itu, Jaesi." Cilla mengulurkan tangannya memberi isyarat sebagai tanda perkenalan. Jaesi mengulas senyum tipis kemudian mengangguk sambil menatap sinis pemuda disampingnya, Jaeran juga membalas tatapan mata itu dan sedetik kemudian ia menampilkan senyum yang sulit buat Jaesi maknai.


Darren hanya bisa menjadi penengah antara Jaeran dan Jaesi kala itu, ingin banget gadis manis yang kini duduk bersebelahan dengan pemuda berdimple itu memanggil sang kekasih. Marco. Namun gadis itu hanya bisa sabar dengan sikap kekanakan dari pemuda yang sedang mengobrol dengan gadis lain. "Ouh, kamu satu sekolah sama kita? Wah! Dunia memang sempit ya? Ada Marco, dan sekarang ada Cilla juga! Bakal seru nih," sambung Darren yang mengompori lalu beranjak memesan makanan dan minuman.


Jaesi. Gadis itu mengulum bibirnya sebal lalu memainkan ponselnya dengan gerakan acakan, seketika suasana hati Jaesi kini jadi berubah menjadi buruk. Gadis itu melirik arlojinya kemudian menghela lagi, merasa diabaikan oleh pemuda yang kini telah mengajaknya pergi meninggalkan rumah itu. Jaesi menatap manik Cilla yang kebiruan, "cantik, gue mah kalah," gumamnya yang di dengar oleh sang pemuda tersebut.


Jaeran tersenyum kecil sambil mengusap rambutnya gemas, "loe juga cakep kok, makanya gue suka," cowok itu tergelak renyah lalu kembali mengacuhkan Jaesi.


"Gak usah sok," Jaesi melangkah keluar dari cafe tersebut dan berjalan kesekitar mall, karena merasa diacuhkan oleh Jaeran: gadis itu melihat pemandangan toko Hoodie lalu memasuki ke dalam toko tersebut.


Jaeran: loe di mana?

__ADS_1


Notifikasi dari ponselnya berbunyi namun itu sengaja ia biarkan karena hanya menjadi penonton saja jika dirinya kembali dan akan kembali diacuhkan oleh pemuda itu. Jaeran bahkan sampai lupa jika dirinya sangat tidak menyukai hal yang paling membuatnya merasa diabaikan. Darren merasa jengkel ketika mendengar alasan tak masuk akal milik Jaeran dan membiarkan Jaesi pergi meninggalkan cafe tanpa memberitahu dulu pada mereka.


__ADS_2