
Jaesi keluar dari kamar mandi masih dalam keadaan mata yang sembab kemudian gak butuh waktu lama Jaeran memerhatikan cara jalan sahabatnya yang agak berbeda karena rasa linu gak tertahan, cowok itu jelas membaca sikap gadis yang sedang mencoba menutup sebuah rahasia darinya. "gue mau pulang. sendiri. jangan pernah muncul di hadapan gue lagi." ujar gadis itu dengan penuh penekanan, cowok itu benar-benar gak mengerti lebih tepatnya Jaeran berubah menjadi orang bodoh setelah melakukannya.
"Njaes kenapa? biar Njae yang antar." Jaesi diam saja gak bisa lagi membendung rasa amarahnya, ia gak akan mau satu kamar kalau tahu kelakuan bejat Jaeran setiap mau tidur. jujur gadis itu menyesali semua keputusannya namun udah gak ada yang bisa dikembalikan lagi, Marco walaupun suka selingkuh tetapi masih menjaga kehormatan Jaesi sebagai perempuan. namun Jaeran yang selalu menjadi bahan pertengkarannya sama mantannya itu malah merusak kehormatannya, Jaesi masih belum menjawab pertanyaan Jaeran.
"Gue gak mau."
"Kenapa?"
"Pikir sendiri."
"Jaesi loe sebenarnya kenapa? gue gak akan tau kalo gak bilang." akhirnya Jaeran lelah dengan semua yang sudah ia lakukan, gadis itu tetap bungkam sesaat si pemuda ingat atas perbuatannya. manik kelam kedua saling beradu satu sama lain, Jaesi mengangguk dan tangis kembali pecah: sahabat yang selama ini ia anggap baik rupanya gak lebih dari sekadar sampah masyarakat. "Jaesi, gue minta maaf."
"Apa maaf loe bisa balikin kehormatan gue?" lirih gadis yang sedang meredam amarahnya nyatanya seluruh emosinya menguap saat dengar pernyataan kosong yang gak berguna bagi gadis tersebut. "APA MAAF LOE BISA BIKIN GUE JADI PEREMPUAN NORMAL LAGI!!! HAH!!!" teriak Jaesi yang sudah gak kuat menahan kepedihannya.
"Jaesi, gue gak bisa bertanggung jawab sekarang. tunggu gue sampe selesai sekolah. mau 'kan?" pinta pemuda itu dengan nada memohon, jelas saja gadis itu juga gak bisa karena ada banyak mimpi yang harus relakan nantinya.
__ADS_1
"Terus Cilla? ayah? bunda? papa sama mama gue?" rentetan pertanyaan yang gak bisa Jaeran Jawab membuat gadis itu kian frustrasi, "Jaeril? Jacob? GIMANA? LOE MIKIR GAK?!!" bukan ini yang Jaesi harapkan dari cowok di depannya, gadis itu lekas memanggil supir papanya untuk memintanya menjemput. Jaesi harap rumahnya sepi karena kalau mendapat pertanyaan dari papanya apa yang akan ia katakan, saat sampai di rumah kenyataan gak sesuai sama harapannya. rumahnya rame. keluarganya ada semua gak terkecuali Jaeril yang juga baru pulang dari campnya, kala itu sang adik hendak membeli seblak di gang depan tanpa sengaja bertemu kakaknya.
"Kakak jalannya kenapa? kok aneh?"
"Tadi kepeleset," tukas gadis itu agak berbohong. bagi seorang perempuan melakukan sesuatu yang bukan seharusnya adalah sebuah aib keluarga, namun pernyataan itu tergantung dari bagaimana reaksi keluarga masing-masing serta kondisi yang ada. mama masih mengobrol sama salah seorang tantenya yang merupakan adik mama, namun ketika tau anaknya lewat mama gak langsung menegurnya dan membiarkan Jaesi berjalan agar gak mendapatkan pertanyaan teror dari tantenya.
mama masuk ke dalam kamar sembari mengetuk melihat anak gadisnya tengah menangis, "ma," Jaesi mengulum senyum tipis seraya mengusap air matanya.
"Kakak gak apa?" Jaesi mengangguk pelan. kadang ia merasa sangat beruntung meskipun mamanya suka ngeselin tapi amat perhatian, "kakak tadi jalannya agak beda? habis ngapain? jangan bohong mama gak akan marah."
"Ma, aku gak bisa jaga kehormatanku," isak gadis itu yang langsung dipeluk oleh mamanya. mama paham sama apa yang diutarakan anak perempuannya, wanita itu mencoba memahami putrinya ini bukan keinginan Jaesi sebab yang terjadi murni kecelakaan. bukan atas dasar saling menginginkan, "aku udah berdosa."
"Jaeran," mama sempat terdiam sebentar kemudian mengeluarkan senyum tipisnya.
"Nanti mama obrolin sama papa ya. kamu istirahat capek pasti 'kan?" sejujurnya mama sedih tapi itu sudah terjadi mama juga gak bisa berbuat banyak, gak bisa memaksa putrinya untuk menikah juga karena statusnya masih pelajar. kadang ke khawatiran kecil seperti yang membuat mama takut akan pergaulan anak-anaknya, tetapi selama masih bisa dipantau kenapa gak? toh kalau dalam batas normal mama akan membiarkannya tetapi jika sudah kelewat batas, mama menegurnya secara pelan-pelan.
__ADS_1
Jaeran memangku gitarnya lalu melirik kamar sebelah yang tampak gelap, "Jaesi loe benci gue ya?" Jaesi jelas dengar suara itu namun gak dirinya gubris. terlalu banyak pertanyaan dalam otaknya muncul, ketakutannya satu persatu mulai berdatangan. Matahari menyinsing Jaesi sudah mulai membaik, reaksi papanya juga gak kaya yang gadis itu bayangkan semalaman ... papa merengkuhnya lalu mengecup pelan puncak kepalanya. gak ada amarah, gak ada pengusiran dari rumah juga, papanya benar-benar memaafkannya.
"Papa nanti mau kafe, pengin beli kenangan. kakak ikut gak?"
"Gak ah, nanti suruh bayar sendiri."
"Ya iyalah papa gak mau rugi." Jaesi mengulum bibirnya bahagia karena memiliki keluarga seperti mereka, "kakak jangan sedih lagi. kalo nanti blendung papa yang tanggung jawab!" cengiran khas papanya mampu membuat suasana mencair.
"Dah sana sekolah," tukas mama. Jaesi seperti biasa berangkat bareng adiknya lalu mengajaknya mampir ke tukang nasi uduk depan, ketika sampai di sekolah gadis itu bertukar tempat sama Giska yang ada di sebelah Darren. untungnya cewek tersebut gak masalah dengan permintaannya, cowok berdimple yang baru saja datang itu menggebrak meja lalu terkikik karena melihat raut kaget Jaesi.
"Lha Nyai kok di sini? kenapa gak balik ke alam?"
"Gue duduk sama loe bodoh!" cibir Jaesi yang mencoba mengabaikan Jaeran di samping Darren, persahabatan mereka sudah selesai bagi gadis itu gak ada yang bisa diperbaiki lagi setelah kelulusanpun apabila nantinya hamil. gadis itu berharap hanya ia yang merawat anaknya nanti, gadis itu memfokuskan pandangannya pada catatan dan pekerjaan rumah yang gurunya berikan. sekuat apa pun Jaeran memanggilnya Jaesi menulikan telinganya, sampai pada detik berikutnya pemuda tersebut menghela kasar.
"Gue bakal putusin Cilla!"
__ADS_1
"Dan bakal ada satu hati lagi yang patah? sebaiknya gak usah. gue gak masalah kalo loe gak mau bertanggung jawab, yang kaya gue bilang kehidupan gue bukan hanya seputar elo aja."
"Jaesi gue menyesal," gadis itu udah gak merespon lagi. selanjutnya hanya protesan dari murid-murid kelasnya pada guru bahasa indonesia, Jaeran tetap memandang penuh berbanding terbalik sama teman sebangkunya yang merasa telah ketinggalan sesuatu.