
Sebenarnya Jaeran mau hubungannya kaya bagaimana kenapa cowok itu selalu membuatnya pusing dan gak tau harus melakukan apa, di tengah masa period begini biasanya yang membantu itu sahabat terdekatnya. Kaya sekarang mereka berdua Jaeril dan Jaesi sedang jalan-jalan ke mal buat beli bulanan di rumah namun di saat seperti ini gadis itu malah bocor dan membuat adiknya bingung harus berbuat apa, tapi di saat yang sama Jaeran dan Cilla juga lagi ada di mal yang sama sepertinya. Dengan inisiatifnya Jaeran mengikuti keduanya tapi malah masuk ke dalam toilet, kebetulan juga Cilla sedang kebelet buang air kecil dengan sengaja cowok itu melemparkan pembalut ke arah atas dan Jaesi mengira barang itu dari adiknya.
Jaeril kaget saat kakaknya baru keluar dan dirinya baru sampai dengan membawa barang pribadi kakaknya, "jaket loe kok beda ya? Tapi gak apa. Makasih adik gue yang jelek." Jaeril mengerutkan keningnya heran lalu menggeleng kemungkinan buruk yang terjadi, cowok tersebut benar-benar gak paham sama pembahasan sang kakak tapi Jaeril gak mencoba untuk menyinggungnya. Bahkan Jaeran tau detil bagaimana Jaesi hingga masa periodenya saat ini, laki-laki itu tetap saja harus memikirkan Cilla yang notabenenya adalah kekasihnya tapi perasaannya terhadap Jaesi gak mau lepas.
"Gue baru sampe tadi," jujur Jaeril yang membuat kakaknya bingung dan menatap gak percaya sama adiknya.
"ngibul." Jaeril menggeleng yakin lalu melengang seraya meninggalkan kakaknya yang jauh di belakangnya, gak lama keduanya masuk ke dalam Hypermart. Jaesi sengaja belanja ke dekat rumah saja agar gak terlalu jauh dari lokasi parkirnya, makanya dirinya berbelanja ke Metropolitan mal tapi tetap saja masih suka ketemu sama Jaeran padahal seingatnya juga Cilla tinggal di Cyber Park.
"Dih ngapain gue ngibul. kalo gak percaya sudah, ya itu berarti rejeki elo kak gak baek nolak. horor banget deh loe." Jaesi menciutkan nyalinya menjadi takut karena kejahilan adiknya sendiri tapi dirinya gak boleh berlindung di bawah ketiak Jaeril bisa besar kepala nanti adik cowoknya itu.
__ADS_1
"Mau makan di mana? udah hampir sore, daritadi belanja cuma muter-muter doang."
"Ya elo lagian pake bocor segala, kan jadi lama." Jaesi malas mendengarkan omelan adiknya dan lebih memilih duduk di kedai makan biasa namun sebelum memesan Jaeril lebih dulu memesankannya, jadi gak bisa memilih sendiri. adiknya itu terus saja mengusik apa yang sedang ia lakukan tapi nggak sedikitpun sang adik membiarkannya sendirian meski tahu jika kakaknya lagi masa periode dan memberikannya americano seperti pada biasanya ... kopi kenangan tampak ramai walaupun hanya membeli satu kopi saja tetapi terlihat sekali dari kejauhan, Jaeril juga gak begitu memerhatikan siapa yang datang dan pergi karena terlalu ribet akan bawaannya.
Jaesi menunggu dijalan dermaga pondok ungu biasanya Jaeran datang lebih cepat dari biasanya atau malah membuatnya mengomel sedikit agak lama tapi ini gak datang-datang, akhirnya gadis itu berangkat sendiri tanpa mau menunggu lagi. memang tadi bersama Jaeril adiknya tapikan adiknya itu sudah pulang karena bawa belanjaan mereka yang super banyak, selepas sampai di South Lake tempat itu gak keliatan seperti pantai melainkan danau. "asri banget, suka deh." monolognya sendiri saat lagi berkeliling gadis tersebut melihat seseorang yang juga berasal dari sekolahnya. Semuanya terlihat baik-baik saja tapi gak bagi Jaesi yang semakin hari malah semakin menyiksa dirinya bahkan saat bersama orang tercinta pun iti terlihat lebih menyedihkan baginya ... Jaeran memang gak berniat memermainkan perasaannya tapi kalau cara mereka menghindar justru lebih sesakit ini gak ada yang mau terjebak dalam sahabat jadi cinta kaya begini.
Jaeril agak malas ketika Misela memanggilnya masalahnya gadis kecil itu pasti akan menagih janjinya, "bocil jangan sekarang ya abang lagi ribet." tutur cowok itu berusaha sabar namun keliatannya gadis mungil ini enggan menunggu.
"Ya tuhan! kaga bocil!" Misela tetap gak mau menuruti keinginan Jaeril dan mengikuti pemuda tersebut.
__ADS_1
"Kaga! aku gak akan tertipu wajah tampan abang." Jaesi baru saja datang dari South Lake dengan wajah yang murung dan gak memedulikan sapaan dari Misela melengos begitu saja, Jaeril agak penasaran sama kepergian kakaknya itu. Jaeril gak membalas anak itu lagi sampai gadis kecil tersebut melengang pergi dengan kesalnya, Jaesi hampir menangis saat ada di dalam kamar namun itu tertahan begitu saja pada saat adik laki-lakinya masuk. sudah berapa kali dia berharap sama orang yang tidak pernah bisa menempati janji dan orang itu adalah orang yang selalu mengajaknya pergi tanpa mengabari pemberitahuan pembatalan tentang ajakkanya itu ... tapi gadis tersebut selalu mengajarkan hal yang sepele seperti ini dan menganggapnya itu tidak berarti apapun yang sebenarnya adalah hatinya hancur berkeping-keping karena menunggu kedatangan si pemuda.
Jaeril menghela panjang lalu menatap sang kakak yang tampak termenung sendirian, "kak udah berapa kali gue bilang? jangan naruh hati sama orang yang cuma anggap kita temen, itu bakalan berakhir toksik doang." cowok itu membelai rambut kakaknya yang lagi menatap kosong atap kamar.
"Gue punya salah apa ya dikehidupan sebelumnya? kenapa kayanya gue paling menderita."
"Apa gue hajar aja itu orang?" Jaesi gak sampai hati kalau melihat sahabat baiknya luka, ponselnya berdering dilihat dari notifikasinya si Marco yang kirim pesan. Jaesi lagi malas buat balas pesan siapa pun gak hanya dari mantan saja bahkan pesan dari Darren dianggurin begitu saja walau tau itu sahabat baiknya, Jaesi tetap memandang kosong atap kamarnya. mendadak suasana jadi sendu dan berakhir melow seperti ini gak ada yang bisa menduga kalau seorang Jaeran bisa mengingkari janjinya sendiri ... saat yang sama juga Jaesi memutuskan kalau liburan semester nanti mau ke tempat neneknya saja.
"Gue ke Paris kali ya?" Jaesi bukan tanpa alasan ambil keputusan ini tapi juga gak ada salahnya kalau dipertimbangkan lagi.
__ADS_1
"Loe mau ke Paris? lah gue gimana?" Jaeril agak sedih kalau dengar kata Paris masalahnya pasti Jaesi akan lama di sana, nenek mereka akan sangat menahan cucu perempuannya ini jika Jaesi pulang kampung.
"Ya loe di sinilah. gue gak lama, cuma sebentar kan bulan depan uts jadi gak bisa lama-lama." tukas gadis itu yang mengembuskan nafas pelan dan memandang Jaeril dengan tatapan sulit, adiknya rada gak ikhlas kalo sang kakak pulang ke kampung halaman karena kalau kakak perempuannya itu gak ada di sini dirinya bisa kesepian gak ada temen berantem atau temen yang bisa diajak ngobrol. Jaeril melengang pergi ke rumah sebelah dan bermain sama Jacob yang lagi nonton Danur satu, tapi adik dari Jaesi itu gak banyak bertingkah ketika ada di dekat Jacob.