
Jaesi lagi scroll twitter banyak cerita au di sana makanya gadis itu sering buka media sosialnya tapi ketenangannya diganggu sama satu manusia yang nyebelinnya minta ampun, padahal lagi jamkos tapi kalau gak buat kesel gak enak. Jaeran menempelkan pipinya pada pipi gadis di sebelahnya lalu meniup anak rambut Jaesi, seraya tergelak nasib orang jomlo memang kaya begini gadis itu menerimanya kok. satu saja sudah mengganggu nambah lagi si Darren, "agak aneh liat kalian kaya gitu, sweet banget." cibir Darren yang menelan cikinya.
"Agak aneh liat orang kaya loe itu sendirian, creepy banget." balas Jaeran yang gak kalah telak dari temannya itu, Jaesi tertawa pelan lalu menghela panjang kemudian berjalan dari kursi kelas. keliatan santai tapi sebenarnya ada yang sedang ia pikirkan bahkan gak sengaja menanbrak Giska teman sekelasnya, andai saja ada yang bisa ia lakukan tapi ini tidak sama sekali. bosen banget rasanya kalau terus-terusan ada di dekat Jaeran dan Darren sesaat ketika melamun tangan diseret paksa sama Vanilla dan gengnya.
Jaesi menghitung jumlah mereka dan dua di antaranya ada yang ikut kelas ekstraknya, "gue tandain loe satu-satu!" gumam gadis itu sebal. Giska sebenarnya gak mau ikut campur tapi dirinya mana tega melihat temannya dikeroyokin kaya begini, dua adik kelas itu masih tetap gak ada takut-takutnya.
"Eh, dek. kalian berduakan yang baru gabung di kelas thaiboxing gak sih? kalian berdua gak ngenalin wajah kakak ini?" tunjuk Giska pada Jaesi.
"Mereka mana kenal, Ka. udah gue tandain liat aja besok." Jaesi tersenyum manis lalu berjalan bersama Giska yang memandang kebelakang seraya mengamati dua bocah itu, "thanks banget. fyi aja itu yang tengah pacar baru Marco." jelas Jaesi yang agak moodyan ketika mengatakan itu, gak tau si kenapa kalau menjelaskan tentang mantan dirinya agak sensitif begitu. Giska mengangguk setelah membalas pesan dari Gustaf: kedua gadis itu menuju kantin selepas menghentikan kegiatan Vanilla barusan membuatnya sangat lapar. Giska menoleh ke arah pintu masuk saat mendapati Ruth dan juga Gricella berjalan ke arahnya pada saat yang bersamaan Cilla masuk dengan rombongannya.
__ADS_1
Ruth dengan sifat lemotnya itu mengisi keheningan mereka dan toyoran dari Giska memecah suasana, "ya tuhan gue punya dosa apa di masa lalu sampe-sampe dapet temen kaya Ruth." keluh teman-temannya yang hanya disambut tawa sama Jaesi. Gricella benar sangat bilang kalau Jaesi punya something miss dalam persahabatannya tapi sengaja gak diutarakan sama gadis itu, seperti halnya yang terjadi pada beberapa saat lalu. Jaesi daritadi juga hanya diam saja gak banyak omongan malah banyak melamun saja daritadi, gadis itu menghela kasar.
"Sabar aja."
"Gimana mau sabar Grace? orang ngeselin kaya gitu." seloroh Giska yang menatap galak Ruth, Jaesi hari ini benar-benar dibuat gak fokus saat mendengar suara siaran dari Jaeran yang memasang lagu andmesh tambah gak berkonsentrasi saja dirinya. posisinya persis bersebelahan tapi gak lama Jaeran datang dengan membawa tasnya dipunggung sembari memanggil kekasihnya tanpa memedulikkan kehadiran Jaesi di sampingnya, kala itu Giska memerhatikan dengan mirisnya. "gue gak ngerti lagi sama perasaan yang namanya friendzone, kenapa semenyakitkan itu ya?" celetuk cewek itu yang lagi menyeruput tea jus.
"Terus gue harus gimana? loenya aja gak pernah baca pesan dari gue," balas cewek itu agak kesal pada Darren yang lagi menatapnya penuh.
"Git, masalahnya itu elo anak olim terus populer. gue gak bisa kita frontal jalin hubungan, kalo loe mau kita backstreet." cowok itu mengusak rambutnya frustasi bahkan teman-temannya saja gak tau kalau dirinya punya pacar apalagi Jaesi kan lagi sensitif sama yang namanya hubungan, Darren mana bisa kasih tau hal kaya begini ke kedua temannya. mereka juga teman satu kelas lalu saling bertatapan walaupun elitnya pacaran di depan gudang kaya begini gak ada tempat lain yang paling aman.
__ADS_1
Jaesi bingung saat semua temannya memiliki hubungan. "gue jomlo paling berkelas waunjay." gumamnya seraya berjalan ke arah ruang latihan, gak lama ia memandang satu sosok yang paling familiar.
"Waunjay! jomlo aja bangga!" ucap Gustaf yang datang tiba-tiba. Jaesi memutar bola matanya malas kemudian melanjutkan langkahnya yang mengarah ketemu sama pelatihnya, tapi lelaki itu masih mengikutinya dari belakang. Jaesi cuma mengangguk ketika dengar ocehan dari Gustaf, apalagi saat menemui pelatihnya tadi di depan kelas X-2: gak tau kebetulan darimana juga pelatihnya keluar dari kelas sepuluh dua.
"Gak apa-apa yang berkelas." lanjut Jaesi yang tergelak karena receh banget liat muka Gustaf kelewat bobrok. keduanya saling adu mulut tapi saat ditanya sama guru guru yang lewat gak ada satupun yang bisa menjawab mereka sedang apa di depan kelas anak 10, percuma diajak ngomong juga sama dia berdua nggak ada yang penting-penting banget cuma satu hal yang membuat gadis itu menanggapi nya karena nggak mau diajak ribut. Gustaf bosan karena diam saja di depan pintu kelas 10 dan habis itu dia langsung bergegas berjalan menuju ruang sebelahnya gak ada waktu buat gadis itu bermain-main karena minggu depan sudah ulangan tengah semester.
Gustaf terus saja mengejeknya sampai kena baku hantam dari gadis itu. "jadi cewek yang anggun dikit napa?!" sinis lelaki itu yang langsung bergegas. gadis itu mencibir pemuda yang jalan mendahuluinya lalu sehabis gitu ia langsung ke ruang ganti buat latihan boxing dan melirik beberapa adik-adik kelas yang juga baru sampai dan anehnya lagi adik kelas itu yang tadi melabraknya.
"Halo adik manis! gue gak bakal kasih kalian ampun karena tadi pagi bikin kesal." ujar gadis itu dengan tegas dan membuat dua adik kelasnya itu yang sebagaimana temannya Vanilla kekasih dari Marco. gadis itu melatihnya hingga keduanya terjatuh dan seperti terlihat orang yang lemah, padahal kalau menurut Jaesi ini jurus yang sangat mudah, cewek itu benar-benar membalas perlakuan keduanya dengan latihan fisik yang gak main-main. pelatih melihatnya bukannya menghentikan malah mendukung aksi Jaesi yang membalas dendam, kedua adik kelasnya itu terlihat sangat takut terhadap perempuan itu di mana iya gak berani buat macem-macem lagi setelah melihat pembalasan dari si kakak kelas. Jaesi bukannya gak kasian sebenarnya, kasian jujur saja tapi ini perlu dilakukan karena biar gak ada lagi yang macam-macam sama dirinya.
__ADS_1