Vilanian

Vilanian
19


__ADS_3

Bukan karena masalah kedekatan Marco dan Jaesi mulai nyata dalam kehidupan sehari-hari persahabatan mereka, tapi ini karena emang ada yang berbeda dengan pria yang berkali-kali menyelingkuhi perempuan Pears itu. Agak menarik untuk mengetahui sesuatu yang sebenarnya bukanlah peristiwa yang sama terulang lagi. Tapi kalau melihat dari sudut pandangan Jaesi langsung kalian semua pasti paham kalau disakitin namun masih bisa panjang dengan ukuran yang dinamakan sebagai teman. Jaesi duduk bersama Marco yang lagi melambaikan tangannya pada Vanila, jadi obat nyamuk satu hal yang sama-sama tidak enak. Noleh kanan Jaeran lagi pacaran, ke kiri ada Marco yang lagi ngawasin pacarnya.


Jadi jomlo emang semiris itu.


Marco menolehkan kepalanya pada perempuan disebelahnya itu, lalu mengusap kepala Jaesi lembut seakan memberikan tanda mereka bakal balikan. "Aku gak mau ngalah lagi," celetuk pemuda itu tiba-tiba yang membuat sang gadis berkerut aneh.


"Gimana?"


"Aku gak mau kehilanganmu untuk yang kedua kalinya." Putus Marco sepihak, Jaesi tertegun saat cowok menyatakan bahwa dirinya tidak bisa bahagia. Gadis itu mencoba untuk berpikir santai, lalu mengatupkan bibirnya rapat pada pemuda depannya itu.


"Ko, ..." Lirih Jaesi yang menggenggam erat kukunya hingga mengucur deras darah. Marco yang melihat itu langsung panik dan membalut tangan kecilnya itu. "Aku gak mau jadi perusak. Kita pernah jalin hubungan, terus kamu yang buat semua jadi rumit ... Apa pantas kamu membuka lembaran baru dan mengulang kembali hal yang sama?" Jelas, Jaesi yang mencoba memberikan pengertian kepada pria dihadapannya.


"Tapi aku gak mau ngalah lagi,"


"Terus Vanila? Hubungan kalian? Ko, udahlah itu cuma masa lalu aku—" ucapannya kepotong saat Marco mencoba merampas haknya yang dulu hendak diberikan oleh Jaesi, dengan cepat gadis itu mengalihkan pandangannya.


Marco mengusak rambutnya gemas. "Aku harus gimana? Jaes, aku masih sayang sama kamu, ... Please." Pemuda itu merunduk dalam lalu mendengkus kecil dan pergi meninggalkan cewek itu yang melengos tak ingin melihat kepergian sang mantan.


"Kalo kamu nyesel, kenapa kamu putusin aku, kenapa-kenapa kamu putusin aku!" Geramnya dan itu membuat air matanya luruh berjatuhan.

__ADS_1


Marco berbalik arah dan memeluk tubuh kecil yang ringkih itu dengan penuh kasih sayang, tubuh besar pemuda itu dipukuli hingga tangisan anak perempuan itu pecah. "Aku minta maaf." Katanya yang benar-benar menyesal.


"Aku gak butuh itu,"


Marco masih mencoba untuk membuat gadis itu memaafkannya, pemuda itu berdeham dan menolehkan kepalanya heran saat tatapan mereka saling bertumpu satu sama lain. Jaesi beranjak kemudian melangkah menuju koridor sekolah, cowok itu tetap mengikuti langkah kaki gadis tersebut dan maniknya tak pernah dialihkan ke arah lain, Marco selalu memandang wajah perempuan yang tak mau melihatnya.


"Jaesi berhenti!" Kesal Marco. Jaesi menghentikan langkahnya dan menolehkan kepalanya sempurna pada pemuda yang lagi menatapnya jengkel.


"Apa!?" Balas, perempuan itu yang mendengus dingin dan agak meninggikan suaranya.


Intonasi suara keduanya pun berubah dan suasana menjadi mencekam karena aura yang menguar dari keduanya itu. "KAMU SAMPAI KAPAN?! BERHARAP SAMA COWOK ITU!!" amarah Marco meledak sesaat tak sengaja' melihat Jaeran yang lewat tampak asik mengobrol dengan kekasihnya.


"Terserah," acuh Jaesi yang kemudian dihentikan oleh lelaki itu.


Jaesi meringis ketika tangannya dicekal oleh pemuda itu hingga menimbulkan rasa sakit dipergelangan tangan gadis itu. Jaesi berteriak keras saat tangannya kesakitan dan mencoba melepaskan diri dari cowok bereyes smile.


"APA LAGI?! TERSERAH AKU! INI HIDUPKU?! URUS HIDUPMU SENDIRI?!! JANGAN IKUT CAMPUR?!!" teriak Jaesi yang menunjuk pada arahnya Vanila yang lagi memerhatikan mereka dari kejauhan.


"WOW KAMU PIKIR AKU BUKAN BAGIAN DARI HIDUPMU?! IYA!!" Marco yang tak mengenal malu langsung menyambar bibir gadis itu dan membuat mereka para murid, saling berbisik mencibir. Jaesi tentu saja terkejut dengan aksi tersebut, Marco seakan tak memberikan ampunan pada gadis itu dan mengeratkan genggaman tangannya pada perempuan Pears.

__ADS_1


"Iya kamu bukan bagian dari hidup aku!! Sejak hari itu?!!" Jaesi terus mendorong tubuh Marco dari depannya itu. Saat pangutan mereka terlepas, perempuan itu menampar wajah tampan itu dan berlari meninggalkan koridor. Wajahnya terus dibanjiri dengan air mata, pemuda itu merutuki kebodohannya yang menyamai Vanila dan mantan kekasihnya itu.


"Jaes!" Panggil Darren yang tak sengaja menabrak gadis itu. Darren mengerjap matanya bingung dengan tingkah lakunya sang sahabat itu.


Vilanian


Gadis itu merapihkan seragamnya dan membereskan semua perlengkapannya sampai membawa tas ransel itu keluar dari area kelas, sampai anak kelas menatapnya bingung karena udah membawa alat tulisnya keluar dari area sekolah. Marco menghentikan perjalanan cewek itu yang hendak menghubungi nomor sang adik.


"Jaes, tunggu kita bisa selesaikan ini." Tukas Marco yang langsung mendapat penolakan dari sang gadis.


"Jelasin apa?! Semuanya udah jelas banget, aku bukan siapa-siapa kamu! Dan Vanila cuma pelarian doang!" Tekan Jaesi yang kembali berjalan dan lagi, pemuda itu menghalanginya.


Pemuda itu memegang bahu gadis itu dengan kuat, lalu meminta Jaesi agar menatapnya beberapa menit, perempuan itu terus ajh mengalihkan perhatiannya ke arah lain. Marco yang tak mau kalah dari Jaeran akhirnya sadar atas apa yang telah ia lakukan kemarin. Keputusan untuk kembali ke gadisnya, ia pikir itu keputusan yang benar tanpa memikirkan bagaimana reaksi Vanila nantinya. "Aku mau kita balik apa salah?" Lirihnya, yang melepaskan cengkeraman itu.


Jaesi masih sangat berharap mereka bisa seperti dulu, namun itu hanya sebuah kebohongan saat mengetahui sifat asli Marco yang tukang selingkuh dan mencari kesenangan ajh. Gadis itu diam merapatkan bibirnya lalu mendengkus kecil. Ia tak bisa menjawab itu, dikarenakan dirinya tak mau menjadi perusak. "Kasih aku waktu," putusnya, yang memilih untuk berpikir kembali secara kritis. "Kita jadi teman ajh." Final Jaesi yang berlalu begitu ajh.


"Sampai kapan kamu mengharapkan Jaeran! Sampai kapanpun kamu gak bisa sama dia! Seandainya kalian bersama pasti maut yang memisahkan kalian!! Argghh!!!" Marco mengerang keras dan bergumuruh saat mendengar penolakan dari Jaesi.


Gadis itu bingung saat mendengar pekikan itu dan mencoba untuk berpikir bahwa hal tak akan terjadi ketika ia berada di koridor sekolah. Marco mengatakan hal yang seharusnya tidak Jaesi dengar lalu membuatnya jadi pikiran, cewek itu menatap lapangan basket dan anak memandang orang-orang yang bermain tanpa minat. "Kamu gak ngerti, Ko. Takdir cinta emang seburuk itu." Gumamnya, lirih. Darren mengerjap matanya ketika berdiri disampingnya sembari menatap lapangan basket.

__ADS_1


"Jaes?" Panggilnya, gadis itu tak mendengar dengan jelas.


Jaesi memegangi bibirnya yang merah, lalu memejamkan matanya yang kembali memanas. Jantungnya berdetak cepat seakan ia hampir ajh melakukan dosa besar, tiba-tiba mata gadis itu meremang dan kepalanya berkunang. Tanpa sadar Jaesi jatuh pingsan, Darren dengan sigapnya langsung menangkap tubuh kurus gadis itu. Rautnya berubah panik dan berusaha menyadarkan cewek itu yang tak sadar-sadar juga. Darren membopongnya kemudian membawanya ke UKS.


__ADS_2