
Gadis itu duduk bersandar di kursi tunggu bioskop, setelah beberapa menit lalu ia mencuci penglihatannya dengan berbagai pakaian wanita serta pria di toko pakaian. Sekarang ia duduk di kursi tunggu bioskop, sendirian. Jaesi melirik arlojinya lalu menghela pelan saat sampai detik ini Jaeran tak mencarinya, apalagi ponselnya terus berbunyi nyaring membuat sang gadis merasa kesal. Tentu saja Jaesi masih mengacuhkan berbagai chat yang masuk ke dalam ponselnya tersebut, gadis itu mengulum bibirnya kecut ketika melihat sosok orang yang ia kenali. Itu Marco. Bersama adik kelas mereka yang Jaesi tak kenali.
Kenapa dunia sempit sekali?
Apa tak ada lagi hal yang paling mengejutkan selain dua hal yang ia kesali hari ini, Marco dan Jaeran. Tuhan kenapa semua sekarang seperti sedang menyembunyikan sesuatu darinya? Jaesi menghentikan langkahnya saat jauh dibelakang Marco terlihat Jaeran dan Cilla jalan hanya berdua saja, "mati gue. Mati. Mati." rutuknya yang langsung berlari menuju kamar mandi.
Gadis itu membalikkan tubuhnya lalu kemudian menyembunyikan wajahnya menggunakan majalah yang ia ambil, sesaat sebelum masuk kamar mandi. Jaeran telah lebih dulu menangkap kehadirannya dan berjalan menghampiri sang gadis. "Loe mau kabur dari gue ya?" tangkap Jaeran yang memegangi lengan gadis itu.
"Apa sih! Lepas!" Jaesi langsung melengos pergi meninggalkan tempat itu dan menimbulkan rasa penasaran pada sang pemuda, jelas gadis merasa ditipu oleh sang kekasih saat ia mengajak bertemu dengan tegas Marco menolaknya.
Jaesi tentu tak bisa menjawab pertanyaan tersebut, gadis itu diam sejenak mencari berbagai macam alasan agar terlolos dari situasi yang menyesakan hatinya itu. Dirinya mengaku mendukung atas hubungan Jaesi dan Marco, namun lelaki itu terus melakukan hal yang buat hatinya sebal. "Loe gak bilang mau ke bioskop? Kan bisa bareng gue!" tegur sang pemuda.
"Terus ganggu loe pdkt? Gak deh, makasih." kekeh gadis itu yang melangkah menuju keluar pintu bioskop, mengapa ia mendadak jadi sangat sensitive dengan tatapan menyapa Cilla. Sejak beberapa saat lalu mereka kenalan sama sekali tak membuka obrolan sama sekali, Jaeran tersenyum lalu mengusak rambutnya gemas.
"Jangan cemburu ya, elo tetap nomor satu!" Jaesi memutar bola matanya menahan diri agar tidak menendang tungkai pemuda itu.
"Gue cubit ginjal loe tau rasa! Dah lah gue balik," Jaesi berjalan langsung ke arah pintu namun saat baru hendak mencapai pintu, terdengar suara keributan dari arah belakangnya. Gadis itu terkejut ketika melihat sosok Jaeran sudah berada di atas lantai bioskop.
__ADS_1
Marco tentu tak akan diam saja jika melihat adik kelasnya sendiri dihina oleh pemuda lain, Jaeran menyeka darah segar mengalir dari pelipisnya. Cilla masih mengalami perubahan reaksi dan menarik lengan gadis yang lagi menatap wajahnya intens. Semua orang menatap ke arah kerumunan tersebut dan akhirnya melangkah menuju tempat itu. "Astaga! Jaeran! Marco!" keempatnya itu menoleh lalu menatap wajah sang gadis.
Jaesi agak malu karena menjadi pusat perhatian para pengunjung yang lain, "Jaes? Gak jadi balik?" kata pemuda yang berdiri seraya menyeka darahnya.
Gadis itu menghela panjang kemudian berbalik arah seraya menarik kedua tangannya sambil menunggu balasan pertanyaan yang pemuda itu lontarkan. "Gak! Apaan sih kalian berdua?! Ngapain bikin masalah kaya gini ditempat umum?!! Kamu Marco!! Kenapa kamu segitunya sama cewek itu!" Marco diam lalu mendengus dingin sambil melirik sedikit pemuda yang masih meringis kesakitan sebelah dirinya.
"Bukannya aku yang tanya kaya gitu? Ngapain sama Jaeran?" Jaesi hampir meledak saat itu juga. Hey! Bukankah seharusnya ia perlu bertanya seperti ini karena yang tertangkap sedang berada di bioskop dengan cewek lain itu si cowok ya?
"Aku gak ngapa-ngapain!! Dia, dia, sama crushnya!" seru gadis itu yang tak percaya perkataan itu keluar begitu saja dari mulutnya sendiri.
Jaesi memutar bola matanya malas pasalnya mereka benar-benar terlihat seperti seorang perusak, gadis itu mengulum bibirnya kelu kemudian memandang wajah pemuda yang kini telah mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Saat sampai rumah gadis itu langsung bergegas turun dan berjalan meninggalkan Jaeran yang masih memandanginya dengan wajah mencibir. "Duduk," titahnya yang kembali dengan kotak obat.
"Loe masih marah?"
"Menurut ngana?" sinis gadis itu yang menekan luka pada wajah sang pemuda, Jaeran terkekeh kecil sambil menahan rasa sakit pada bagian wajahnya yang sedang diobati.
"Gak usah marah," dengus pemuda tersebut lalu menggenggam tangan perempuannya itu erat. "Seharusnya loe dengarin gue, putus aja sama cowok kaya gitu." Jaesi menghentikan gerakannya kemudian menumbuk pandangannya pada pemuda tampan itu.
__ADS_1
"Loe bilang, loe dukung gue," ucapnya tak terima. Cowok itu mengangguk mengiyakan dan segera melanjutkan pergerakannya yang mengobati luka di bagian tangan.
"Iya, gue memang dukung loe, apa loe gak sadar? Dia mainin elo," Jaeran berusaha membujuk sang gadis yang masih bersikeras ingin mereka berakhir.
"Terus kenapa?" Jaesi memutar tubuhnya yang semula menghadap ke arah lelaki itu kini menjadi berpandangan lurus, gadis itu melirik sedikit pemuda yang lagi menatap manik legam Jaesi. "Terus kenapa, kalo gue gak mau. Ren, dengar ya, gue bukan bosen sama loe, sejak awal kita temenan. Sama loe, gue gak ada bilang, kalo gue gak suka loe dekat dengan cewek lain. Tapi kenyataannya sekarang banyak yang berubah, loe mending cari pacar deh, biar gak sibuk sama asmara gue." Jaesi membereskan peralatan obat dan melangkah menuju ke dalam rumah lagi.
Pemuda itu menghela panjang dan menggumam kecil, "gue sayang sama loe," gumamnya sambil mendorong motornya masuk ke dalam rumahnya sendiri.
Sesak rasanya saat melihat Jaeran seperti itu namun lelaki tersebut tidak bisa mencampur adukkan perasaan dengan urusan pribadinya terus, terlebih lagi Marco adalah pacarnya. Gadis itu melamun sendiri dikamar tanpa terasa air matanya berlinang membasahi pipinya. Terdengar suara pintu terbuka dari arah bawah, "Jaesi, mama bawa meat ball. Makan ya! Nanti habis sama adek!" pekik sang mama yang tampaknya keluar lagi dari rumah.
Mendadak gadis itu gak mood makan, "hhh, kenapa harus kaya gini." keluh Jaesi yang melengang keluar menuju balkon kamar.
Malam itu semua terasa sunyi senyap dan keheningan malam itu membuat sang gadis merasa jengkel karena lagi-lagi keluarganya bahkan bukan hanya keluarganya saja, sang adik juga meninggalkannya sendirian di rumah. "Apalagi nih?! Gue sendiri lagi?!" pekiknya mengomel ketika keluar dari kamar tidak ada siapapun.
Suara pintu terketuk kala itu membuat sang gadis mau tak mau harus membukanya, karena, hey! Dia sendirian. "Ada pesanan dari mama loe," pemuda itu langsung memberikan tanpa mengatakan apa-apa lagi dan melengang pergi dari hadapannya. Membuat gadis itu semakin mendesah kesal.
"Loe gak ada niatan minta maaf!! Woy!! Orang!! Anjayani memang." desis gadis itu kesal dan kembali melanjutkan aktivitasnya. Ya mau bagaimana lagi? Dia hanya sendirian saja, sang mama meninggalkan tempat ini dalam keadaan berantakan. Ya mau tak mau gadis itu jadi pembantu sehari dirumahnya, kalau rumah sedang ramai tak mungkin mengurus rumah seperti ini.
__ADS_1