
Marco menahan tangan Jaesi dan meletakkan kotak obat di atas meja tatapan dalam mereka sangat tulus, lelaki itu benar-benar menyesali perbuatannya ketika di mall bahkan kata maaf saja gak cukup. Dirinya yang memberikan kesempatan tapi cowok itu juga yang menghina karena Jaesi terlalu cepat mengambil keputusan, gadis itu diam saja kini ia gak tau harus apa sama mantannya ini. Menerima Marco hanya buat pelampiasan doang bukan ide bagus, Jaesi merasa sesak dan akan meledak setiap saat ... gadis itu selalu mengontrol emosinya hanya dengan memberi pelajaran dua pemuda sialan tersebut. "persetan sama cinta!" Jaesi meninggalkan Marco begitu saja. Capek banget menyikapi sifat kekanak-kanakan Jaeran dan juga mantannya itu.
"Kenapa sih loe tuh terus aja merjuangin orang yang bahkan gak pernah ngelirik loe!" sarkas Marco yang hanya dianggap angin lalu sama Jaesi, orang yang sejahat dia aja masih bisa memikirkan kebahagiaan tetapi bagaimana dengan nasi persahabatannya selama ini keduanya bina. jujur aja Jaesi bingung harus bersikap seperti sahabat atau cewek ke cowok karena pada kenyataannya itu adalah Jaeran gak pernah menghargai sikapnya sebagai cewek, bohong kalau gadis itu gak baper atas perhatiannya selama delapan belas tahun.
"Ya terus apa urusannya sama elo?!" bentak Jaesi yang mulai jengah sama sikap boyfienya Marco. padahal mereka cuma menjalani hubungan biasa saja, "inget ya kita udah selesai. kata itu yang selalu elo tekanin."
"Ya gue kaya gini karena masih sayang sama loe!!!" Jaesi diam dan Marco juga baru sadar atas apa yang telah diucapnya, mereka berdua langsung melengos dan merasa malu satu sama lain, namun Jaeril memecahkan suasana yang terjalin saat itu juga.
"Kalian sebenarnya ngide balikan ya?"
"Kaga!"/"kaga!" sahut Jaesi dan Marco kompakan. Jaeril makin mengerutkan dahinya dalam-dalam lalu mengembuskan nafasnya kesal, kemudian tergelak ngeselin. pemuda itu berjalan ke arah bagasi mobil untuk mengambil koper mamanya, mama yang lagi di dapur terus saja berteriak memanggil nama putra bungsunya seraya mencerocosin Jaeril karena kelamaan ambil koper. Jaesi masih belum tau kalau ibunya sudah balik, tapi mama tau kalau mereka lagi ngumpul di ruang depan: gak sadar atau memang sengaja jelas Jaesi melihat adiknya menarik koper ibunya.
Jaeril hendak melanjutkan aktivitasnya dengan mengejek kakaknya lagi namun ketika sedang menoleh ke arah perdebatan kecil Jaesi sama Marco lalu mengalihkan wajahnya. perhatian Jaeril memang sempat teralih ketika suara pintu kebuka, "eh, bunda." sapa Jaeril yang melihat siapa tamunya. bunda Jaeran tersenyum tipis dan langsung memberikan kue mangkuk buatannya, hanya sekadar membagi saja, andai kata tadi bunda gak datang pasti Jaesi sama Marco sudah habis ia hujat. secarakan kapan lagi ngehujat kakaknya dalam keadaan seperti ini. Jaesi mengulum bibirnya lalu menghela pelan, ketika hendak membantu bunda Jaeran tapi adiknya lebih dulu menaruh piring tersebut akhirnya gadis itu memilih pergi ke kamar saja.
Saat masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya Jaeran mendekapnya dari belakang pintu, "oit!" Jaesi terperanjat dan langsung melepaskan tangan besar yang ada dipinggangnya.
"Kaget!"
__ADS_1
"Ululu, kaget nih? cie, yang balikan." ejek lelaki di sofa tersebut gadis yang duduk dikursi meja belajar itu langsung mengerling malas, karena semua orang sama saja. sama-sama menyebalkan, "bukannya elo gak mau balikan sama si monyet itu? kan mantan."
"Ya emang kalo gue gak balikan jadi urusan loe juga? kaga sih." seru Jaesi agak menyindir lelaki di sana, tapi tetap saja Jaeran gak merasa kesindir sama sekali.
"Ya urusan guelah, kan elo princessnya gue. terus gue guardiannya. hahaha!" saat mendengar gombalan itu Jaesi hampir saja melayang tapi pada saat ingat Cilla gadis tersebut berdecak sinis, "ya udah sepatutnya seorang kakak jaga adiknya."
"Kakak, tjih!" desis gadis yang melengang ke depan kasur lalu memanjangkan kakinya agar bisa nyantai. "udah diobatin belum?" ujar Jaesi menunjuk ke arah luka sang pemuda. Jaeran mengangguk seraya menatap wajah cemas Jaesi dan langsung tersenyum yang membuat si gadis merasa merinding lihatnya. "kenapa loe?"
"Kebayang gak sih kalo kita nikah? elo sama orang terus gue sama Cilla. gimana ya bencinya elo ke gue?"
"Idih, tiba-tiba ngomong kaya gitu. kesambet setan budek loe?"
"Ya gue juga. kalo elo gak mau gue benci, nikah aja sama gue. gampang, kan?" Jaeran tersentak tetapi gadis itu malah ketawa yang padahal dalam hatinya berdebar keras banget, agak canggung di detik berikutnya hanya bercanda kaya begitu saja sudah berakibat gak sehat buat jantungnya.
"Loe beneran mau nikah sama gue?" mendadak jadi tegang saat raut wajah Jaeran jadi jauh lebih serius dan gadis tersebut berkeringat banyak. saat hendak meminta maaf Jaeran menahan tawanya lalu tergelak kencang banget, "bwahaha! liat muka loe kaya takut gitu nikah sama!! bwahaahha!" gelaknya membuat Jaesi tercenung akan harapan yang sudah pemuda itu pupuskan, bagaimana bisa bayangan mereka menikah dan memiliki anak ada di dalam benaknya.
"Mending elo pulang aja sana," usir gadis tersebut yang sudah ada dibalkon kamar. sontak saja membuat Jaeran terkejut dan memikirkan kembali ucapannya tadi, pemuda buru-buru minta maaf dan berjanji gak akan mengulanginya. Jaesi memandang wajah temannya itu lalu mengangguk sembari mengulum bibirnya, "hopeles banget gue." gumam gadis itu pelan.
__ADS_1
"Udah makan?"
"Udah."
"Udah mandi?"
"Udah." jawab gadis bermalas-malasan sambil bermain komputer di mejanya, Jaesi melirik sekilas lalu mendumalkan semua kekesalannya pada cowok yang jadi teman baiknya.
"Udah berak?"
"Apa yang itu juga harus gue jawab?"
"Dwats rwight! maaf lagi makan!" Jaesi jadi memincingkan matanya menyelidik pada pemuda di hadapannya, ada yang gak beres sama cowok itu. Jaesi menghela pasrah tetapi gak mau menjawabnya terlalu kesal saat mendapatkan pertanyaan random itu, gadis tersebut diam saja sembari melamun suasana jadi makin senyap padahal baru beberapa saat lalu keduanya saling bertatapan ada hal yang mereka sadari yaitu persahabatan mereka gak sehat. "gue sayang elo." pernyataan sepihak dari Jaeran membuat si gadis gak bergeming.
"Gue juga." lalu mereka berpelukan dan berbagi kehangatan satu sama lain, Jaeran membelai rambut Jaesi yang dibalas dengan air mata kesakitan dari si gadis. pemuda itu tampak sudah bisa melupakannya dan hanya menganggapnya cuma sahabat.
"Besok free kan?"
__ADS_1
"Hn, kenapa?"
"Cfd skuy!" Jaesi rasa gak buruk ide itu, gadis yang lagi tiduran dibantal itu belum menjawab. saat Jaesi mau jawab Jaeran sudah keburu berjalan keluar kamar sembari memaksanya mengatakan iya, akhirnya terpaksa Jaesi anggukkan. pemuda itu senang dan berlari meninggalkannya sendirian, gak ada raut senang diwajah Jaesi