
Jaeran menghela ia sudah menduga gadis itu tak akan ada tumpangan seperti ini, "gila mau sampe jam berapa? Tega banget Marco." celoteh Jaesi yang terus berjalan hingga suara klakson mobil menyapa pendengarannya, pemuda itu tersenyum padanya lalu turun dan memegang lengannya. Jaeran pemuda itu adalah Jaeran sahabatnya, Jaesi menipiskan bibirnya tak habis pikir: bagaimana bisa ia memikirkan Marco namun yang datang Jaeran, gadis itu diam seraya memandang lurus kelopak mata pemuda tersebut. Jaeran memeluknya erat lalu merenggangkan rengkuhannya membuat gadis itu termangu memandang wajahnya yang terlihat sangat khawatir, perempuan itu melengos memerah.
"Tinggalin Marco," pelan pemuda tersebut yang tak bisa diterima oleh gadis di depannya jelas ia tak akan mau melakukannya, sebegitu besar rasa sayang pada Jaeran namun sebegitu besar pula rasa cintanya pada Marco. Tak akan semudah itu buat dirinya meninggalkan Marco kecuali lelaki itu sudah melewati batas, Jaeran tau bagaimana perasaan sahabatnya terhadap kekasihnya tersebut akan tetapi hal itu tak bisa menutupi rasa takutnya akan kehilangan sosok Jaesi.
"Loe kenapa sih?" jeda sebelum Jaesi melanjutkan omongannya, "gue tau loe gak suka sama hubungan ini. But i love him, loe gak bisa maksain itu." Jaeran kembali diam dan menatap wajah gadis itu dengan dinginnya, tidak ini bukan Jaeran yang ia kenal, Jaesi yakin akan hal itu.
Hening dan tak ada yang mau membuka suara, Jaesi membasahi bibirnya yang kering lalu menghela nafasnya panjang. "Loe pulang ajh." usirnya yang kembali berjalan namun pemuda itu tak menyerah, ia tetap mengikuti Jaesi.
"Jaesi gue cuma gak mau liat nangis terus, loe ngerti gak sih!" bentak Jaeran yang semakin kesal akan sikap keras kepala perempuan itu, bahkan setelah apa yang terjadipun Jaesi tetap tak mau mendengarkannya, dan lebih memilih meninggalkannya begitu saja. Jaeran berdiri diam memandang punggung gadis itu yang semakin jauh, Jaesi merasa semakin lama; gadis itu bersama sang sahabat, semakin susah untuk melepaskannya. Mama menegur saat melihat putri pulang dalam keadaan tak baik-baik saja, wanita baya itu tau jika Jaesi memiliki masalah akan tetapi sang mama tak pengin ikut campur dalam urusan anak remaja seperti mereka, mama menggeleng pelan lalu menghela pelan.
__ADS_1
"Adek daripada kamu kaya gitu mending anter kue kering ke tetangga sebelah sana!" Jaeril mendengkus pelan dan menyambar kue kering tersebut lalu mendumal pelan yang masih sempat terdengar oleh sang mama, "apa kamu bilang!!"
"Gak, mama, gak." Jaesi keluar dari kamarnya memandang sang mama yang masih sibuk dengan dapur, ibu dua anak itu mengulas senyum pada putrinya lalu menghela pelan, mengusap rambut Jaesi sebentar tak lama melanjutkan aktivitasnya. Jaesi menatap sang mama dengan sendu seperti ada yang ingin perempuan itu tanyakan namun sulit sekali menjelaskannya, bahkan ini lebih sulit dari Math.
Jaesi benar-benar diam saja selama makan tak seperti biasanya pikirannya melayang keman-mana bahkan saat ini ia tak berkonsentrasi pada makanannya, sang mama mendengus pelan lalu menatap putri kesal. Mama memukul kepalanya pakai spatula masak, tak lama gadis itu tersadar dan menanyakan hal paling random dari masa-masa pacaran sang mama dan yang paling lucu ketika membuat dirinya dan sang adik. Nah yang bagian itu tentu saja mama tidak menjawabnya meskipun kedua anaknya sudah cukup pantas membahasnya, itu privasi. "Mama sama papa ngapain aja dulu? Sering ribut gak kaya aku sama Marco?"
"Pertanyaan loe terlalu out of topik tau kak, kenapa gak bilang aja kalo sebenarnya naksir tetangga sebelah?" sahut Jaeril yang muncul dari arah belakang, Jaesi memincing kesal lalu menunjuk sang adik agar diam. Jaesi mendelik tak terima lalu memejamkan matanya beberapa saat dan berceletuk kesal pada pemuda yang duduk di bangku seberangnya, cowok itu tergelak kecil melihat ekspresi sang kakak.
"Alah kalo iya juga gak apa Jaes, mama seneng punya mantu kaya Jaeran." dukung sang mama yang membuat Jaeril merasa menang dari gadis itu. Jaesi menghela pelan kemudian menggeleng perlahan seraya memainkan kuah sayurnya, perempuan itu kembali meratapi kejadian cafe tadi. Ah, Marco selalu membuatnya kesal.
__ADS_1
"Idih, idih, mama kok ikut-ikutan Jaeril!" pekiknya tak suka lalu mendengkus sebal dan menyudahi acara makan malamnya tersebut, perempuan berjalan ke arah kamar saat di dalam kamarnya Jaesi berusaha menghubungi Marco, kekasihnya itu tampak sibuk dengan para perempuan. Gadis tersebut menghela panjang lalu memandang ke arah langit kamar, "apa gue ikutin aja mau Marco biar dia gak ghostingin gue terus? Tapi itu artinya gue harus ninggalin Jaeran." gumam Jaesi pelan, jika ia menghubungi Darren pemuda dimple itu sama sekali gak akan membantu.
Jaesi merapatkan tubuhnya pada Marco yang tengah berkunjung lalu gak lama tetangga sebelah datang dengan embel-embel oleh Bandung, raut wajahnya terlihat kesal lalu menatap sinis keduanya dengan pandangan sinis, Marco tau itu tatapan cemburu karena pemuda tersebut sempat saling melempar tatap satu sama lain. Jaeran mendengkus tak habis pikir dengan dirinya kenapa cowok itu begitu naif atas segala hal, Marco dan Jaesi baru saja berbaikan untuk kesekian kalinya, gadis itu benar-benar berniat menjauh dari teman kecil sendiri. Gadis itu menghela panjang sesaat Jaesi merasa sangat jahat pada sahabatnya, tapi dia harus melakukannya jika ingin hubungannya bertahan lebih lama, gadis itu mengabaikan Jaeran yang mencoba memanggil namanya. "Jaes, lamunin apasih?" sentak Marco yang tak senang dengan raut wajah perempuan tersebut.
"Gak ada," ucap Jaesi pelan lalu melengos masuk ke dalam dapur. Gadis itu terkejut saat Jaeran mengecup pipinya lalu tersenyum tengil dan melengang keluar dari sana, seraya memainkan alisnya. Jujur saja Jaesi ingin teriak saking terkejutnya perempuan tersebut tanpa sadar; gadis itu tersenyum-senyum sendiri dan dari arah lain Marco mengepalkan tangannya kuat seakan tak rela dengan pemuda yang dekat sama Jaesi.
"Apa?" balas, gadis itu yang melihat kehadiran sang kekasih, Marco menggeleng cepat lalu memeluknya erat dari arah belakang. Pemuda itu membaui aroma tubuh gadisnya lalu menipiskan bibirnya seraya mengingat apa yang terjadi barusan, pemuda tersebut tak ada pilihan lain selain melepaskan semua perempuan yang ia buat untuk memermainkan hati Jaesi.
"Gak apa-apa," cicitnya seraya tersenyum manis pada perempuan yang ada dipelukannya itu, tapi memungkiri bahwa dirinya mulai menaruh perhatian pada gadis itu. Tak hanya itu perempuan tersebut juga merasakan hal yang sama, jarang sekali Marco mau memeluknya seperti ini.
__ADS_1
"Jaes," panggil cowok itu lagi.
"Apa?" Marco ragu untuk mengatakan sesuatu yang ada di dalam benaknya namun jika ia tak mengatakan hal itu akan sangat menggangu sekali nantinya, perasaannya yang semakin membuncah membuat pria itu terus saja termenung sendiri. "Apa Marco."