
Jaeran memutar badannya saat Cilla memanggil dari belakang tubuh pemuda itu, senyum bahagia yang ditunjukkan keduanya seperti pasangan berbahagia. di tempat lain Marco, Darren juga Jaesi baru selesai mengerjakan tugas dan berniat untuk pergi jalan pembicaraan Jaesi sama mantannya menarik perhatian Darren. mereka bertiga mengobrol santai lebih tepatnya hanya Jaesi sama Darren saja, Marco kebanyakkan diam tapi sesekali menyahut walaupun gak tau apa saja yang dibahas sama kedua bersahabat itu ... tetapi pemuda yang berjalan di belakang tersebut masih menunggu jawaban dari biar bagaimanapun setelah obrolan random itu gak ada pembahasan lagi soal baliknya mereka. "Marco ngajak balik menurut loe gimana?" tukas gadis itu yang meminta pendapat tetapi lawan bicaranya malah asik bermain game.
"Apa? tadi ngomong apa?" Jaesi memutar bola matanya malas lalu menghela kesal sama lelaki ini.
"Gak jadi."
"Dih, kok elo kesel?!" pekik Darren panik. sedangkan Marco hanya memantau sembari mengirim pesan pada adik kelas kesayangannya, agak jengah ketika serbu sama ribuan pertanyaan posesif sama Vanilla karena sewaktu pacaran dengan Jaesi gak ada pertanyaan seperti ini. "ya kan gue gak segitu denger, coba ulangin," ucapnya santai lalu menghenti motornya tepat di depan parkiran mall. Ketika lagi jalan ke arah dalam mall pandangan Darren mengeliling, pemuda berlesung pipi itu mencolek lengan teman perempuannya terus memberi isyarat supaya melihat ke depan.
"Apa, Ren. apa?" Jaesi menghela nahan kesal pada teman di sampingnya, gadis yang meluruskan pandangannya lalu menatap terpaku sama satu pasangan. sebenarnya Cilla juga melihat beberapa teman sekolahnya ada di area parkir tapi dia sengaja nggak mengatakannya sama sang kekasih takut mereka disuruh joinan, jadi mereka diabaikan begitu saja dan terus berjalan ke arah belakang parkir motor hanya mereka berdua aja yang sadar tapi mantan kekasih dari gadis di sebelah cowok berdimple itupun melihatnya."yaudah terus kenapa? punya kaki juga mereka. terserah aja." acuh Jaesi yang berjalan lebih dulu ke arah dalam saat berpapasan Jaeran langsung merasa kalau yang berdiri disebelah kanannya adalah tetangga rumahnya.
__ADS_1
"Seharusnya dia bilangkan kalo mau jalan? kenapa gak ngomong si." Jaesi gak bisa jelasin kenapa cewek ini menolak tawarin Jaeran ikut dengannya, gadis itu jadi merasa pening karena ada banyak sekali masalah.
"Yailah, gak usah rumpi gitu." cibir Jaesi yang menarik lengan Marco dengan sengaja. Jaeran meliriknya sinis gadis tersebut kemudian tiba-tiba kedua pasangan itu mengurungkan niat buat balik rumah, Cilla sudah menduga ini pasti terjadi: tapi gadis yang lagi berjalan ke arah sebaliknya itu menolak keputusan tersebut dan jadilah mereka ribut di antara kerumunan. Jaesi agak malu sih sebenarnya kalau dilihat-lihat lagi keduanya gak terlalu serasi soalnya sama-sama childish.
Darren memerhatikan kedua orang itu lalu melengang masuk ketika dua temannya memilih abai. "woy!" pekiknya dari depan pintu. Marco masih menatap ke arah genggaman tersebut kemudian melepaskannya secara paksa dan mendadak wajahnya memerah, Jaesi bingung di sini saat melihat perubahan ekspresi mantannya. gadis itu mengernyit memang benar pada saat mereka baru putus, si gadis mau minta balik lagi tapi kan itu dulu beda sama sekarang apalagi kalau liat wajah Vanilla yang barbar. "tega bener gue ditinggalin!" protes Darren.
"Lagian lama."
"Darren ayo makan! laper!" teriaknya yang cuma dibalas helaan sabar sama si cowok. Cilla masih gak mau menegurnya lalu meminta sang kekasih memberhenti motornya di dekat lampu merah, Jaeran bersih keras agar gak menurunkannya di sana tetapi Cilla gak mau dengar apa-apalagi: Jaeran bahkan hampir menabrak anak kecil dan bagus ia langsung menghenti gerak laju motor. Cilla menghela kesal. agak jengkel kalau liat Jaesi namun salahnya juga sih kenapa ia memberikan hak buat pacar agar bisa dekat lebih dari sekadar teman? bodoh sekali kan. biasanya dirinya akan dapat kabar kalau Jaeran sudah sampai rumah atau cuma buat mampir ke retal warnet.
__ADS_1
Jaeran gak sama sekali hubungin dia, "ini sama sekali gak chat gue apa?!" ketus cewek pirang itu. "gak peka anjim!" umpat Cilla dongkol, pemuda tersebut duduk di depan warung yang agak jauh dari rumah kekasihnya karena lokasi kejadiannya gak jauh jadi melipir sebentar. Jaeril memasukkan pakaian dalamnya lalu menoleh saat mendengar suara notifikasi sosmed, gak lama lelaki itu bergerak meninggalkan pakaiannya begitu saja. adik laki-laki dari Jaesi ini nggak pernah mempermasalahkan tentang status kakaknya bersama teman-temannya tetapi saat tahu kalau kakak perempuannya itu memiliki perasaan lebih terhadap sahabat baiknya ia selaku adik harus memantau kakaknya selalu ... karena ia nggak mau jika kakak perempuannya mengalami patah hati lagi untuk yang kesekian kali.
Jaeril meletakkan kembali ponselnya hanya notifikasi bodong dari google. "si kampret ke mana lagi," keluh pemuda itu padahalkan mereka harus menjemput orang tuanya. mama mengerutkan keningnya saat melihat anak laki-lakinya datang sendirian kemudian sang mama bertanya ke mana anak perempuannya.
"Lho kakakmu mana?"
"Gak tau, tadi bilangnya mau belajar bareng." ujar lelaki itu yang menarik koper besar orang tuanya, Jaeril menghela panjang saat menarik koper mama dan papanya. karena tas besar itu seperti tidak ringan hanya karena diisi pakaian kotor saja, sesampainya di rumah anak lelaki itu langsung saja geledah koper kedua orang tuanya yang berisikan oleh-oleh atau souvenir dari luar negeri. papa hanya menatapnya dengan tatapan gak habis pikir karena orang tua baru sampai anaknya udah nggak ada akhlak kaya begitu.
"kelakuan bener banget itu," cibir papa yang mencebikkan bibirnya julid. mama tersenyum penuh arti namun perempuan baya itu juga gak mendukung kejulidan suaminya ia hanya merasa senang karena anak dan suaminya lagi akur saja. mama tergelak semakin keras pada saat wajah papa disembur dengan kacang mede oleh Jaeril, papa mukanya udah masam banget tetapi itu gak membuat mama berhenti ketawa. "anak kurang ajar!" desis papa kesal dan langsung melengang masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
"Ma, kalo suami mama motong uang jajan Jae gimana?!" serunya khawatir mama membeliak saat dengar itu dan menoyor kepala anak laki-lakinya.
"Suami mama, kan papa kamu. sembarangan aja kalo ngomong!" omel mama yang memukul kepala anaknya, Jaeril mengaduh kesakitan sesaat setelahnya suara motor berhenti di depan halaman. pemuda itu bisa menebak siapa yang datang, ketika lihat wajah Marco penuh lebam Jaeril merasa pasti terjadi sesuatu yang menyenangkan dan Darren tampak santai.