
Jaeril mengemas pakaian ke dalam tas gunung sebentar lagi akan ada perkemahan di sekolahnya lalu melangkahkan kakinya ke arah garasi mobil sejak Jaesi pergi dari rumah sekarang cowok itu menggunakan mobil kakaknya. Jaeril mengambil kunci lalu meminta izin pada mama buat berangkat, dari raut wajah sang ibu terlihat sekali gak ikhlas akan kepergian anak terakhirnya itu. Jaeril mengendarai mobilnya menuju daerah Villa Mutiara lalu memberhentikan laju kendaraannya tepat di depan sebuah rumah besar: pemuda itu menglakson beberapa kali dan muncul lah sosok Marissa, lagian bingung juga kenapa gadis ini mendadak jadi pindah rumah. "kenapa loe pindah?" tanya sang pemuda dengan alis bingung.
"Ya karena rumah kemarin itu terlalu gede buat gue tinggalin sendiri."
"Lha? ortu?"
"Menetap bareng kakak gue. banyak nanya loe." sebenarnya bukan tanpa alasan Marissa pindah dari rumah itu dan bukan hanya karena orang tuanya juga, tetapi dirinya sendiri yang memilih keluar dari rumah tersebut. Marissa sudah tidak mampu lagi menghadapi tingkah buruk sang ayah, bahkan gadis itu juga mulai bekerja disebuah minimarket. tentu yang dikatakan semua oleh Marissa adalah kebohongan saja karena dirinya lebih membela Jaeril saat bertengkar dengan kedua orang tuanya, namun gadis itu gak mau pemuda dihadapannya mengetahui hal tersebut.
Jaeril merasa ada yang disembunyikan oleh sang gadis makanya lelaki menahan diri untuk menanyakan banyak hal, dan dilihat dari jawaban Marissa seperti sedang ada masalah serius menimpanya. "kalo ada apapun bilang aja sama gue," pemuda itu meninggalkannya begitu saja selepas memarkirkan kendaraannya. Marissa menghela panjang kemudian berjalan ke arah kantpr guru buat membantu teman-temannya yang sedang sibuk ngosis, padahal seharusnya gadis itu beristirahat karena terlalu banyak melakukan altivitas.
Pemuda yang kini duduk bersama teman segengnya itu sama sekali gak menyadari ada yang salah, "loe tau gak sih? Icha katanya diusir." ucap siswa lain yang melewatinya saat dikantin namun cowok itu mengabaikan ucapan dari teman seangkatan mereka. Jaeril mengepalkan tangannya geram ketika ocehan itu terus berlanjut namun Julian berusaha menenangkannya disaat emosinya mulai mereda siswa lainnya juga turut membicarakan hal tersebut dan sontak saja membuat sang pemuda menjadi sangat penasaran akan kabar burung itu.
__ADS_1
sebenernya apa yang terjadi?
Juliana datang menghampiri Jaeril dengan kabar tersebut lalu mengulas senyum tipis. gadis ini berpikir skeptis atas informasi yang beradar, "loe kaya gini bukan karena mau jatuhin Marissa 'kan?" tukas Julian selaku kembarannya akan tetapi gadis di hadapannya sama sekali gak menunjukkan rasa tertarik terhadap berita tersebut ... Juliana menatap Jaeril dengan lamatnya lalu menggeleng pelan dan berbalik arah kemudian melangkahkan kakinya tak acuh.
Cewek itu menghentikan langkahnya tanpa menoleh dan dengan pedenya Juliana mengatakan bahwa pemuda yang lagi duduk dimeja kantin itu tetap akan mencintainya. "Jaeril bakalan terus suka sama gue," Jaeril sendiri gak peduli sama ocehan kembaran Julian yang menjadi temannya sendiri. cowok itu langsung bergegas pergi saat mendapatkan telpon dari kakak tercintanya, dirinya terus berjalan sampe gak sengaja menabrak guru bk: Jaeril bahkan belum sempat bilang apa-apa.
Julian berdecih, "tjih, elo gak usah ngarep. elo sendiri yang tolak Jaeril dulu. kenapa sekarang malah kaya pengemis?" cibir kakak kembarannya itu lalu melengos begitu saja. Jaeril menghela pendek kemudian mengusap wajahnya kasar karena kakaknya terus-terusan membuat dirinya emosi ... apa karena ini sudah terlalu lama gak saling bertukar kabar? cowok itu memutuskan sambungannya sepihak.
Padahal sudah diputus gadis itu tetap bersikukuh menelponnya. "HALO!?" teriak Jaesi.
"Ouh,"
__ADS_1
"Najis! bye!" Jaeril kembali memutuskan sambungannya namun kali ini dirinya juga mematikan daya ponselnya. adik laki-lakinya itu mengutuk sang kakak akan tetapi gak sungguh-sungguh, ini dikarenakan kekesalan anak itu saja: bahwa sesungguhnya laki-laki itu merindukan kakaknya. Mama hari ini mengantar bekal Jaeril tetapi anak bungsunya memilih untuk dikirim pakai ojek saja namun perempuan baya itu tetap mengantarkannya, sebenarnya tujuan mama memang hanya untuk itu tapi malah mendapatkan laporan jika anaknya Jaeril berkelahi dengan siswa lain; cuma karena membela Marissa saja.
Mama gak pernah melarangnya untuk les apapun atau mengikuti kejuaraan lain tetapi maksud mama alangkah baiknya jika ilmu yang anaknya dapat bisa dipergunakan dengan baik. kala itu mama gak bisa membendung rasa kecewanya terhadap sang putra, semula hanya izin untuk kegiatan sekolah sekarang malah pulang bersamanya. "pernah gak sih kamu mikir? kalo apa yang kamu dapat bisa membawa petaka ke dirimu sendiri? mama gak pernah larang kamu buat main sama siapa aja. tapi bisa 'kan kontrol emosinya?" terlihat jelas dari cara mama bicara begitu sedih terhadap perilakunya.
Jaeril merenung lalu menundukan kepalanya gak menyangka kalau ia bisa membuat mama menangis karena seorang gadis, "maaf, ma." tapi mama sudah terlalu kecewa dan butuh waktu buat kembali seperti semula pasti mama gak akan mau bicara dengannya.
"Kan kalo kamu sakit, hati mama yang teriris. di sini cuma kamu yang bisa mama jaga. kakak udah gak ada, udah ada kehidupan sendiri."
"Mama boleh pukul aku, mama boleh hukum aku. asal jangan marah sama aku." mama memeluk putranya dengan erat lalu menangis dalam pelukan tersebut, mama tau putranya sudah mulai tumbuh dan kini tugasnya hanya mengarahkan sang putra ke arah lebih baik. saat ini hanya Jaeril yang dirinya miliki bahkan Jaesi gak bagaimana kabarnya sekarang, sang suami juga lagi ada perjalanan bisnis ke tempat putri: bahwa ia hanya berdua di rumah itu sekarang.
Jaeril melepas pelukannya lalu ia mencoba untuk mensibuk kan diri dengan belajar karena semua sudah terjadi dan dirinya pun gak bisa ikut berpartisipasi dalam perkemahan itu, mama mengantarkan makanan ringan ke kamarnya. lalu segera pergi keluar dan membawa motor vario milik suaminya kemudian belanja ke pasar, ketika rt mereka memilih untuk berhenti gak ada pilihan bagi mama untuk tetap ikut bersama suami tercintanya makanya perempuan baya mengerjakan pekerjaan rumah sendirian. pemuda itu mengembuskan napasnya lelah: jujur aja Jaeril gak bisa kemana-mana karena dalam masa scorsing dan pasti semua temannya ikut dalam perkemahan tersebut. Julian menelponnya tetapi sama sekali gak cowok itu angkat, bahkan cuma buat nanya kabar aja.
__ADS_1
Mama berteriak memanggil nama putra bungsu nya sedari tadi tetapi cowok itu sama sekali nggak mendengar panggilan dari mama tercinta bahkan anak itu asyik mengobrol melalui telepon dengan teman sekolahnya. nama berusaha sabar dan mencoba untuk memanggilnya lagi tetapi kali ini dengan menyambangi kamar putranya tersebut, "masya allah, Jaeril kamu telpon sama siapa?!" Jaeril terkejut dengan keberadaan mamanya lalu mematikan panggilan tersebut.
"Sama Julian, ma." tapi belum sempat mengatakan mama udah keburu mengambil ponselnya lalu menyitanya.