Vilanian

Vilanian
21


__ADS_3

Sikap Jaeran saat di rumah Darren dan di rumah Jaesi berbeda sekali, ketika masih ada di rumahnya Jaeran sama sekali tak menunjukkan rasa khawatir dan malah banyak mengoceh tentang Cilla tetapi begitu sampai di tempat Jaesi lihat kelakukannya saja membuat Darren ingin muntah saat ini ... bagaimana gak Jaeran tampak telaten mengurus Jaesi yang lagi tidur. Mengganti kompresan, membawa minum dan makan, mengambil obat dan mengganti perban. Giska dan Ruth datang untuk melawat Jaesi yang lagi sakit keduanya mengerutkan alis heran melihat Jaeran dan juga Darren ada di sana, sejak kapan mereka menjalin pertemanan. "Ngapain?" tanya Giska yang duduk teras. Sedangkan Ruth masih sibuk sama ponselnya ksdua perempuan itu tak sadar kalau Jaesi dan Jaeran bertetangga, Giska beranjak masuk ke dalam rumah keluarga Pears lalu menaiki tangga.


"Get well soon, Jaes!" ucapan dari Giska membuat Jaesi terbangun dan mengulum bibirnya tipis saat melihat dua teman sekolahnya, Ruth memergoki Jaeran dan Marco —yang juga baru saja datang hampir setelah Giska serta dirinya datang— adu mulut karena masalah entah apa itu. Ruth mengerti sikap khawatir Jaeran akan tetapi rasa pedulinya gak wajar makanya gadis itu berniat untuk bertanya sama Marco akan tetapi malah tubuhnya terhuyung sama tarikan dari Giska, si gadis benar-benar kesal tak berselang lama kemudian Ruth memeringati agar Jaeran membayar kas kelas.


"Bayar kas! Kasian Icel, cuma elo doang yang nunggak!" Jaeran mengerjapkan matanya kaget lalu terkekeh kikuk. Jaeran melengos pergi dan meninggalkan keduanya yang masih tetap ada dilantai bawah bahkan Marco juga ikut pergi setelah adu mulut sama cowok itu tadi, agak kesal saat melihat pria lain ada di rumah kekasihnya akan tetapi itu bukan orang asing bagi Jaesi, ya walaupun suka main sama Vanilla tapi menurut Marco pacarnya tetap yang utama bukan adik kelas kesayangannya. Jaesi tersenyum saat melihat kedatang dari cowoknya tapi percaya gak percaya sebenarnya Marco gak sendirian dia sama Vanilla namun gadis tersebut menunggu di dalam mobilnya, itu yang membuat Jaeran beradu mulut sama Marco. Gak usah berharap dari hubungan semu yang cowok itu buat karena semuanya akan terbongkar jika suatu saat Jaesi mengetahui kebenaran yang sebenarnya, Jaesi gak melunturkan senyumnya ia terus menatap lurus ke arah pacarnya.


Jaeran merasa muak sama tingkah palsu dari Marco dan daritadi dia mencari keberadaan Darren namun tak ada kelihatan sama sekali, apa sudah pulang pada saat memanggilnya ponsel temannya tersebut rupanya ada di dalam kamar Jaeril. "gue cariin rupanya lo di sini? gue kira balik." Darren tergelak mengejek lalu mengusap wajahnya yang lelah tertawa.


"Ada siapa?" tanya Jaeril. Jaeran memgendikan bahunya acuh tak acuh tetapi cowok itu tetap menjawab namun jawabannya agak sedikit ketus, itu tak ada tanggapan lagi sang lawan bicara.

__ADS_1


"Marco," Jaeril beroh saja kemudian melanjutkan permainannya.


Marco terus bersikap palsu pada Jaesi berbanding terbalik sama Jaeran yang terus saja merasa cemas karena Jaesi ada di dekat kekasihnya sendiri, itu membuat Darren merasa risih dan gak tenang. Pemuda berdimple itu memukul kepala belakang Jaeran lalu segera memfokuskan matanya pada layar PS, Jaeril menatap keduanya secara bergantian tak lama mamanya berteriak memanggil adik laki-laki Jaesi. "Gue tinggal dulu, jangan berantem kalian berdua! Nanti saling suka!" Jaeran dan Darren pura-pura muntah karena jijik dengar ejekan Jaeril. Jaesi menurunkan senyumannya saat tau Marco akan segera pergi yang mana itu adalah sebuah kebohongan saja, gadis itu maunya pacar berlama-lama bukan malah jenguk tanpa kata dan pergi seperti angin kaya begini, perempuan merasa agak kecewa lalu melengos marah.


"Jangan kaya gitu, besok kan masih bisa ketemu di sekolah."


"Jaes, jangan kaya anak-anak deh." Jaesi sontak langsung menoleh dengan cepat dan menatap tak percaya sama Marco, pemuda itu bahkan tidak meminta maaf justru langsung melengang pergi.


"Ouh jadi menurut kamu, aku kaya anak-anak?! Mending kamu pulang," ujar gadis masih dalam batas sabar. Marco membalas tatapan Jaesi dan berdecak sebal karena sikap kasar yang menurut Marco gak pantas ada di seorang wanita, "kamu tau aku lagi sakit. Tapi kamu lebih memilih untuk pergi dari sisiku."

__ADS_1


"KAMU YANG SEHARUSNYA JAGA PERASAANKU!!" teriak Jaesi yang hampir menangis Marco hendak melangkah pergi namun gadis di atas kasur itu menahan lengannya dan membuatnya terjatuh begitu saja, Marco bahkan tak mengatakan maaf atau sekadar mengasihaninya, teriakan-teriakan itu terus saja menggema di kamar Jaesi sehingga sang adik dapat mendengarnya dengan jelas dan tak ada yang tau mereka meributkan apa. Jaeril tengah memerhatikan kamar kakaknya yang terdengar bising dari dalam kamarnya ada sebuah sekat yang sengaja dibuat sama papa saat keduanya masih kecil, dulu Jaeril takut sendirian makanya papa membuatkan pintu penghubung yang jarang diketahui orang. Sedari tadi laki-laki itu merasa khawatir atas sesuatu yang tidak jelas tetapi dua manusia di depannya masih terus bermain game miliknya, Jaeril bosan hanya memandangi pintu itu saat Jaesi terdengar membentak dan suara pecah gelas begitu nyaring Jaeril bergegas ke arah pintu itu dan melihatnya, Jaeril menggeram marah saat melihat Jaesi terduduk di bawah dan Marco seperti seseorang yang baru saja melakukan kejahatan.


"Lo apain kakak gue!!" pekik Jaeril tak terima atas perlakuan yang kakaknya dapat.


"Jae— akh!" ringis Jaesi kesakitan lalu menahan kaki adiknya seraya sembari memegangi dadanya yang sesak, "kamu pergi aja Marco! Sekarang." Jaesi dapat bernafas lega karena tak ada keributan yang bakal terjadi dan bisa saja itu mengundang perhatian warga jika Marco melayani tingkah dari Jaeril.


"Makan!" Sahut lelaki itu kesal yang melengang pergi seraya mendumalkan sesuatu. Jaeril hanya ingin kakaknya lekas sembuh dan membaik agar bisa di ajak berantem lagi, jujur saja ia merindukan Jaesi pada saat seperti itu maka dari itu ia bersikap sok tsundare pada kakaknya.


"Gak usah sok tsundare! Dasar ager-ager!" ketus Jaesi yang memiringkan tubuhnya agar dapat tertidur. Jaeran melihat dari balik pintu kamarnya Jaeril, pemuda itu tak sampai hati harus mengganggu sahabatnya yang lagi mencoba tidur sedangkan Jaesi terus saja memikirkan sikap kasar Marco padanya itu membuat si gadis merasa bersalah karena sudah melarang pacarnya pergi. Perbedaan terbesar antara kakak beradik itu adalah jika Jaesi menangis Jaeril menjaganya dengan sekuat tenaga namun jika Jaeril sakit Jaesi akan selalu ada bersamanya walau agak sedikit mengejeknya, kadang Jaeran iri dengan kebersamaan mereka berdua yang gak pernah terpisahkan.

__ADS_1


__ADS_2