Vilanian

Vilanian
60


__ADS_3

Jacob memerhatikan gadis yang lagi terbaring di tempat tidur Jaesi hamil fakta terbesar yang mengejutkan dirinya tapi mengenai kalo anak itu merupakan darah daging Jaeran gadis tersebut menyimpannya rapat-rapat bahkan gak ada seorangpun kecuali keluarganya yang berhak tau, akan tetapi hanya beberapa saja yang gadis itu beri tahu mengenai kehamilannya. Jaesi terkuat tapi sangat rapuh di dalamnya bahkan pemuda di depannya gak tau hal seperti ini akan terjadi sama gadis seperti Jaesi, "bawa apa loe kemari?" Jacob disadarkan dari lamunannya.


"Gue bawa padang," ujar pemuda itu demikian setelahnya mereka berdua mengobrol dengan santainya bahkan seperti gak terjadi apa-apa. Jacob terkekeh dan Jaesi menatapnya sebal gak lama teman-temannya datang buat menjenguk, ramai sekali yang datang gak hanya teman sekelas saja ada teman-teman dari club juga: Jaesi tersenyum namun senyum itu sirna saat melihat kedatangan Jaeran dan Cilla. gadis itu mengepalkan tangannya kuat lalu cepat-cepat menghapus air matanya tanpa sisa disusul sama Marco di belakangnya, Marco datang sendirian tanpa Vanilla.


"Gak sama Vani?" tanya Jaesi.


"Gue break sama dia."


"Kenapa?" Jaesi benar-benar mengabaikan Jaeran yang ada di sana dirinya menganggap hanya ada Marco, entah bagaimana gadis itu ingin memberi tahu tentang kehamilannya pada mantannya itu. terlihat dari reaksi Marco agak terkejut, Jaesi memberi isyarat tanpa yang lain sadar lalu melirik dua orang di hadapannya kala itu sejujurnya sang mantan terkejut mendengarnya. Marco takut buat bilangnya, pemuda itu gak mau Jaesi tersinggung nantinya tapi gadis di hadapannya keliatan berbeda dari biasanya: pemuda tersebut sampai bingung. "boleh minta tolong gak?"


"Hn? apa?"


"Beliin nanas." Marco mengerutkan keningnya heran tapi gak menolaknya tanpa mau tau niat gadis itu sebenarnya apa karena Jaesi ingin menghilangkan si bayi. Ruth baru saja datang dan masuk ke dalam ruangan itu lantas gak membuat Jaesi mengerlingkan matanya dari Marco, "tolong ya Ko." ujar Jaesi lagi saat orang lain tau apa manfaat nanas kalau untuk ibu hamil maka saat itu juga pasti akan langsung melarangnya. perhatian yang diberikan oleh sang mantan bukan semata-mata karena rasa kasihan dan keingintahuan dari pemuda itu namun jelas saja cowok nggak mengharapkan balik atas apa yang sudah iya lepas ketika tahu ada yang aneh sama sikap gadis itu sudah menjadi tugasnya untuk mencari tahu ... tanpa sengaja ketika keluar dari ruangan itu sang mantan mendengar jelas sangat sangat jelas obrolan keluarga gadis itu dan betapa terkejutnya laki-laki itu ketika tahu kalau sebenarnya cewek itu hamil.


Marco membatalkan niatnya untuk membelikan mantannya itu buah nanas lalu ia kembali masuk ke dalam dan menatap lurus Jaesi. "Jaesi," panggil cowok itu dengan serius lalu seluruh murid menatapnya penuh atensi. "biar apa loe kaya gini?" Jaesi gak paham sama arah pembicaraan mereka.


"Maksudnya?" tanya Jaesi benar-benar gak paham.

__ADS_1


"Siapa orangnya!" desis cowok yang mencengkeram lengan bajunya itu, Marco sungguh menatapnya intens kemudian kepalanya Jaesi teralih pada Jaeran yang tengah mengobrol. "kalian keluar dulu," ucap Marco masih sabar namun setelah semua keluar amarahnya meledak begitu saja. "apa begini cara loe buat move on dari gue? BEGINI JAESILLYA!!! HAHA!!!" Jaesi terperangah dan mengatupkan bibirnya rapat.


"Itu bukan salah gue," lirih gadis itu.


"Itu salah loe!"


"ITU BUKAN SALAH GUE!! INI KECELAKAAN!!!"


"GAK ADA YANG KECELAKAAN!!!?" semua orang jelas dengar apa yang mereka ribut kan dari dalam keduanya saling terpaut emosi dan tidak tahu membicarakan mengenai hal apa karena pada saat mereka berdua saling melempar rasa marah yang meliputi keduanya. "gue menyesal lepasin elo buat si bajingan itu, gak ada yang namanya teman. gak ada yang namanya sahabat semuanya bullshit!"


"Loe hamil!"


"Gak! itu bukan gumpalan daging!! cuma perut yang diisi angin!" Marco memeluknya lalu mengusap pelan bahu gadis itu yang kian lama kian luruh, sewindu telah berlalu kini Jaesi tengah merapat pada Jaeril yang mau mengajak nongkrong di kafe dekat rumah. Jaesi terjaga lalu menatap sekeliling dan suasana masihlah sama Jaeran ada di sofa tengah tertidur dengan cemasnya lelaki itu menghampiri si gadis, nafasnya tersengal lalu menatap ke arah perutnya dan area bawah: bahkan Jaeran gak mengerti sama tatapan sahabatnya.


"Loe kenapa?" tanyanya dengan heran karena dari tadi perempuan yang ada di atas kasur itu terlihat sangat nggak nyaman sama tidurnya.


"Kita gak berbuat aneh-aneh, 'kan?" Jaeran mengerutkan keningnya lalu tergelak keras sehingga membuat perutnya sakit, lalu memandang Jaesi penuh jenaka. dengan keusilannya cowok itu menunduk lalu wajahnya muram dan sontak saja membuat gadis itu bingung sekaligus penasaran ... Jaesi memandangi wajah pemuda itu serius lalu gelak tawa kembali menyambut mereka. Jaeran memegangi bahu gadisnya kemudian menggeleng dengan acuh serta meninggalkan Jaesi yang termangu di sana, keduanya berjalan ke arah lobi hotel ingatkan mereka di mana? ia mereka berdua masih di tempat yang sama.

__ADS_1


Kejadian itu cuma mimpi dan Jaesi malah termenung seperti orang bodoh. "aneh-aneh yang loe maksud tu gimana?" tanya lelaki tersebut lembut.


"Elo buntingin gue," Jaeran diam dan kembali mengusilinya. "muka loe kenapa? jangan bilang ..." Jaesi hampir berteriak marah namun satu detik kemudian Jaeran terbahak seraya pergi meninggalkannya. gadis itu merengut kesal sembari memukul keras lengan Jaeran seusainya mereka di rumah tatapan intens terarah padanya dan sahabatnya itu, tentu saja Jaeril gak akan mengajukan pertanyaan aneh.


Jaeril menoyor kepala kakaknya dan berjalan begitu saja. "dari mana sih?! papa sama mama pergi ke Swiss!! gue sendirian bambang!!" seru adik laki-lakinya marah. gadis itu nggak langsung masuk ke kamarnya ia menatap adiknya yang lagi menatapnya juga agak aneh dengan alasan kepergian kedua orang tuanya menggunakan perjalanan bisnis akan tetapi seperti ada yang ditutup tutupi oleh orang tua mereka. gadis itu melirik ke arah samping di mana teman laki-lakinya duduk di sofa dengan memainkan ponsel sesaat ada rasa penasaran yang memenuhi rongga dadanya.


"Jalanlah. pulang saja Njae."


"Gak ah."


"Dasar sinting!"


"Gue denger ya!"


"Cowok gila!"


"Heh apalagi yang itu!!" Jaeril terus saja mengeluh terhadap pertengkaran dua sejoli itu lalu nggak lama ia menyuguhkan minuman dan langsung pergi dari sana. sebab nggak akan ada akhirnya kalau mereka berdua sudah mulai ribut atau meributkan hal yang gak penting, Jaeril sudah memakai earphone sebelum keduanya melakukan pertengkaran lagi. adik laki-lakinya itu benar-benar mulai jengah dengan semua pertengkaran yang dilakukan oleh dua sahabat itu tetapi di sudut bibir sang adik laki-laki tertarik satu ukiran senyum yang gak bisa diartikan oleh siapapun yang maksud dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2