Vilanian

Vilanian
73


__ADS_3

Gadis itu membuka tirai rumahnya sudah lama sekali kayaknya gadis tersebut gak membuka tirai kamar kesayangannya rasanya rindu banget kalau lama nggak menjumpai kamar itu yang membuatnya memberikan banyak kenangan dan juga luka secara bersamaan. suara gitar menyapa indra pendengarannya jelas tahu saja itu bukan sahabat masa kecilnya tetapi kakak dari teman lamanya namun entah mengapa ia jadi sering kepikiran masa-masa di mana keduanya masih saling bertemu walau hanya sebentar dan membuat kekacauan di komplek jujur gadis itu rindu teramat sangat apalagi masa-masa seperti itu jarang terulang kembali. Jaesi menghela panjang saat mendapatkan telpon dari Darren karena kesibukannya itu.


Jaesi membiarkan ponselnya berdering hingga telpon tersebut mati dengan sendirinya gadis itu hanya mau sendirian dulu sebelum memulai kembali langkah yang harus ia lalui benar-benar merasa cocok kepadanya dan ia memilih untuk gak mengatakan bahwa dirinya sedang berada di indonesia. "kak loe tau gak sih? bang Jae di Ausie." ujar Jaeril memulai topiknya lalu sang kakak hanya melirik sesaat sembari meraih gitarnya, seketika Jaesi memerhatikan pick gitar yang dirinya pegang lalu ia ingat bahwa benda kecil itu gadis tersebut ambil dari tetangga sebelah rumahnya.


"Tau," jawab gadis itu sekenanya.


"Kok bisa?"


"Apanya?"


"Kok loe bisa tau. bukannya kalian udah nggak pernah berkabar lagi kan udah lama juga kalian nggak pernah saling memberikan pesan ataupun telepon kenapa bisa tahu kalau sahabat lo itu ada di sana."


"Darren."


"Ouh, loe cari tahu melalui bang Eren?" gadis itu lama-lama jengah mendengar semua pertanyaan yang ditanyakan oleh adik laki-lakinya itu mengenai cowok yang saat ini berusaha untuk sang kakak lupakan tetapi adiknya tetap saja merasa bahwa kakaknya sama sekali gak pernah untuk mencoba membuang pikiran atau melupakan kenangan lama bersama sahabat masa kecilnya itu lantas adiknya itu nggak ingin kakaknya juga tahu bahwa mantan tercinta nya kini tengah berada di luar negeri juga. "kak—" Jaesi memasang wajah galak dan membuat Jaeril urung mengatakannya.


"Apa?!" galak gadis itu yang menatap adiknya dengan tatapan tajam.

__ADS_1


"Gak jadi." sepertinya sudah lama banget gak melihat wajah galak kakaknya rasa-rasanya Jaeril sangat merindukan momen itu dan sampai detik ini pemuda tersebut masih sangat merindukannya.


Sydney, Australia


Saat itu keadaannya nggak memungkinkan buat menolak keinginan ayahnya untuk nggak pergi ke negara yang saat ini menjadi tempatnya buat bertahan hidup tetapi rasanya sulit jika harus berjauhan dengan orang terdekatnya jelas pemuda itu tahu apa yang harus dilakukan saat ini sudah benar menurutnya tetapi ada kalanya ia melakukan semua hal yang diluar kendali orang tuanya. si bungsu kini tahu apa yang dirasakan oleh kakak laki-lakinya saat dulu setelah lulus sekolah menengah atas jadi seperti inilah perasaan memberontak yang nggak bisa ia lakukan atau utarakan perasaan yang sebenarnya menolak untuk pergi tetapi ia gak bisa berbuat banyak.


Jaeran mengembuskan napasnya panjang lalu berjalan masuk ke arah kelas sembari menggenggam gelas kopi ditangannya; sebenarnya ia enggan mengambil jurusan kedokteran tetapi ayahnya begitu memaksa dan ingin dirinya melakukan hal tersebut karena alasannya agar pekerjaan yang di geluti oleh istrinya menjadikan anak laki-lakinya itu generasi penerus meskipun nggak mau tetapi ayahnya itu tetap ingin anaknya mendapatkan pendidikan terbaik. "Jae!" panggil Cilla yang tersenyum pada lelaki di depannya, gak tau kenapa perasaan yang dulunya ada saat ini malah justru menghilang ... pemuda itu hanya tersenyum lalu melambaikan tangannya seraya menurunkan pandangannya dari ponsel kemudian ia berjalan masuk begitu tahu profesornya sudah tiba.


"Hm," sahut Jaeran yang tetap meluruskan pandangannya pada buku dolin ditelapak tangannya. bahkan laki-laki itu gak merespon banyak terhadap seruan sang kekasih dan Cilla merasa sudah terbiasa akan hal itu asalkan keberadaannya masih dianggap ada oleh pacarnya.


"Kamu aja, aku ada kelas sama profesor Thomas." lagi, gadis itu ditolak seperti yang sudah-sudah dan kali ini entah keberapa kalinya penolakan itu. Cilla masih tersenyum lalu menggenggam tangan pemuda di sampingnya: gak tau kenapa gaya hubungan mereka menjadi begitu racun setelah kejadian malam itu, malam di mana diam-diam Cilla menemui Jacob.


"Apa kamu masih marah soal kejadian satu bulan lalu?"


"Gak buat apa aku marah sama masa lalu." Jaeran berusaha untuk gak memperpanjang masalah yang ada dan berusaha tetap tenang: namun sayangnya gagal saat nama Jaesi disinggung dalam pertengkaran mereka lagi.


"Apa ini soal Jaesi?" Jaeran menghela panjang lalu menghentikan langkahnya sembari menatap kekasihnya itu, "aku benarkan? ini pasti soal dia, 'kan. kamu gak bosan merindukan orang yang bahkan gak merindukan kamu."

__ADS_1


"Jangan mulai, aku capek." sangkal lelaki.


"Kalo gak karena Jaesi hubungan kita gak akan seracun ini!?"


"Yaudah kenapa gak putus aja!" pemuda itu mengusap wajahnya kasar lalu ia mengalihkan pandangannya ke arah lain jujur dirinya sangat lelah karena permasalahannya selalu sama kekasihnya itu selalu membahas orang lain dalam hubungan mereka pada padahal ia sudah rela rela pergi dari indonesia hanya karena mengikuti keinginan kedua belah pihak agar hubungan mereka tetap baik dan akur. "aku capek! kamu selalu bahas Jaesi! Jaesi ini! Jaesi itu! Jaesi, Jaesi, dan Jaesi! bisa gak kamu berhenti sebut namanya!" Cilla membungkam lalu melepaskan genggaman mereka gak menyangka bahwa laki-laki yang ia pertahankan selama ini berbuat sekasar itu.


Cilla memundurkan langkahnya lalu menghela panjang. gadis itu benar-benar kaget dengan apa yang ia dengar barusan tetapi dirinya nggak mau kalau hubungannya kandas. "aku gak mau putus." lirih gadis itu kemudian menurut pada sang pacar.


"Kalo kamu gak mau putus. yaudah kalo gitu, cukup jalani aja semuanya tanpa melibatkan siapapun."


"Maafin aku." Jaeran merengkuh tubuh pacarnya lalu mengelus pelan kepalanya, pemuda itu juga bersalah gak seharusnya ia meluapkan emosinya terhadap Cilla dan menuangkan seluruh emosinya begitu saja tanpa memikirkan reaksi si pacar.


"Aku juga minta maaf." semudah itu mereka berbaikan akan tetapi itu gak semudah yang terlihat mereka memang menjalani hari-hari nya seperti biasa namun rasanya kini telah berbeda semua yang mereka lakuin nggak sama seperti dulu ketika mereka masih sekolah bahkan apapun yang mereka jalani saat ini selalu memicu pertengkaran. jujur Jaeran sudah gak sesayang itu sama Cilla pada saat masalah dihidupnya masih terkendali akan tetapi sekarang jelas masalahnya udah gak terkendali lagi.


"audiens introduce our new teacher."


"Hello, i'm Fransisco Pears." Jaeran memang berharap bisa balik ke indonesia akan tetapi itu semua cuma jadi kenangan. dikampusnya ada kabar yang beredar bahwa kampus mereka baru saja menerima dosen baru, Jaeran memang belum sadar kalo ini nantinya ada kaitan dengan masa lalunya. sedang Jaesi sendiri tau Frans baru memulai karirnya di ausie namun gak menyadari tempat mengajar sepupunya merupakan tempat yang menjadi titik takdir pertemuan keduanya lagi.

__ADS_1


__ADS_2