
"Loe ngapain sih susulin gue?! Udah deh. Sana, gue lagi malas berantem sama loe, gue ada kepentingan pribadi."
Jaeran tak bergeming dari tempatnya, tapi dia tetap memantau kepergian dari sahabatnya itu. Sebenarnya Jaesi mengatakan itu agar bisa terbebas saja dari pandang cowok itu, tapi gak masalah juga jika gadis itu pergi sendiri. "Ke mana sekarang gue harus pergi," deru nafasnya lelah ingin sekali Jaesi menangis jika tak ingat kalau itu tempat umum. Berbanding terbalik dengan lelaki yang sudah berada di depan gebetannya lagi, perasaan Jaeran gak tenang saat melihat ekspresi sahabatnya tadi.
Cilla menghela panjang lalu memandang wajah pemuda itu gak kalah cemberut, "sayangku kenapa cemberut?" Tegur Jaeran. Cilla menggeleng pelan ponsel berdering nyaring tertera nama Fransisca dan Mita di sana, ah, apa ia harus mengajak pemuda itu juga? Rasanya akan sangat canggung jika teman-temannya meledek nanti.
"Gak apa-apa, aku mau pergi menemui temanku dulu, kamu kalo mau pulang. Pulang aja." Jaeran gemas dengan raut wajah itu lalu pemuda itu mengecupnya singkat dipipi membuat Cilla terkejut dan memerah seperti tomat. Jaeran melangkahkan kakinya keluar dari resto lalu memainkan kunci mobil, maniknya memincingkan mata curiga kemudian memerjelas penglihatannya. Benar itu Jaesi lantas kenapa perempuan masih ada disekitar sini bukankah gadis itu bilang ada urusan.
Cillaria
Jangan malam hari pulangnya ya, salam buat Jaesillya juga.
Read
__ADS_1
Jaesi hanya ingin menangis saat ini, menyesal tak memercayai teman lelakinya itu dan membuat semuanya menjadi semakin menggelapkan matanya, perempuan itu melangkahkan kakinya berlawanan arah dari pemuda yang masih tetap berdiri memandangi tubuhnya yang semakin menghilang dari pandangan matanya. Ponselnya berdering lagi lalu memeriksa siapa yang mengirimkan pesan kepadanya kala itu, ketika lelaki itu kembali memandang ke arah sahabatnya tubuh gadis itu sudah hilang dipertigaan toko kosmetik. Jaeran berdecak kesal lalu memeriksa kebeberapa tempat namun Jaesi tak ia temukan. Jaesi mengepalkan tangannya kuat lalu memalingkan wajahnya dari arah depan, langkahnya semakin besar saat sudah sampai ditempat sang kekasih, tanpa menghubungi nomor Marco gadis itu langsung melenggang ke arah kamar tidur kekasihnya. Gadis itu cukup dekat dengan Marissa, adik dari kekasihnya itu, dan perempuan itu juga tampak terkejut saat melihat dirinya yang tengah tersenyum manis.
"Marco adakan? Di kamar apa di mana?" Marissa benar-benar terkejut hingga tak bisa memberitahu sang kakak' siapa yang datang mengunjungi tempat mereka.
"Ada kok kak Jaes, gue tau loe kesel tapi ... Gue harap loe gak kepancing sama kakak gue ya." Jaesi hanya mengangguk tanpa memberikan sepatah katapun, perempuan itu tau apa yang harus ia lakukan namun tak menyangka saja jika pemuda yang selalu dirinya bela akan berkhianat terhadapnya.
Kurangnya perhatian apa dirinya hingga hampir setengah tahun, Jaesi selalu ada setiap lelaki itu butuh rumah disaat lelaki itu kembali mengalami masalah dengan keluarganya, Jaesi yang selalu menjaga dan merawatnya dengan baik agar lelakinya tetap sehat. Perempuan itu mencelos ketika membuka pintu kamar tidur kekasihnya, dan melihat hal yang paling dibenci oleh semua perempuan. Hubungannya rusak, Marconya bukanlah satu-satunya miliknya, gadis itu melihat sang kekasih mencium bibir gadis lain tanpa tau bagaimana keadaannya saat itu. Lelaki itu masih asik dengan dunianya. Air matanya tak bisa ia bendung lagi, gadis itu mengambil langkah mundur dan meneguhkan kembali hatinya, Jaesi semakin sesak. Marco terpaku melihat kehadiran seorang gadis itu selalu menjadi alasannya berpaling, lelaki itu merasa sangat bersalah dan tak seperti biasanya ia akan senang jika sang gadisnya itu merasakan kesedihan.
Jaeril mengerutkan keningnya saat melihat dirinya tengah tersenyum miris, "kak Yaya kenapa? Kok sedih?" Jaesi tak bergeming dengan pertanyaan itu lalu mengusap wajahnya pelan agar tidak terlihat oleh sang adik jika dirinya menangis.
"Kak makan siang skuy, gue laper. Aslian dah loe gak tau aja tadi gue hampir gigitin kaki meja." Gurau pemuda itu, Jaesi mengulum bibirnya tipis kemudian beranjak dari duduknya kemudian menghampiri tempat adiknya. "Gue kan udah bilang sama loe beliin seporsi nasi goreng Solar, dahlah capek gue!"
"Bacot! Berisik banget loe bambang!"
__ADS_1
Darren menatap garis wajah temannya yang terlihat begitu lelah dengan harinya itu, Jaeran tak banyak bicara itu yang membuat pemuda dimple tersebut menarik satu kesimpulan bahwa dia sedang tak baik-baik saja, jujur saja perasaannya semakin tak tenang semenjak mengetahui bahwa Jaesi tak bahagia bersama dengan Marco. "Ngape loe?" Tegur Ruhut yang berada didekat Darren. Tak hanya Ruhut bahkan Yoko dan Riski juga ada di sana tengah memerhatikan gurat gelisah pemuda tersebut. Darren mengernyitkan dahinya heran saat melihat nama yang tertera pada ponselnya.
"Pusing gue," keluhan dari Jaeran itu hanya dibalas ringisan oleh keempat temannya itu. Riski beranjak masuk ke dalam toilet lalu Yoko menepuk pundaknya pelan dan berjalan menuju dapur, Ruhut menawarkan bahunya namun lelaki itu menolaknya karena merasa jijik atas sikap temannya yang satu ini.
Darren mengangkat telponnya itu lalu memutuskan untuk menjauh dari yang lain, "halo, loe nangis?" Atensi pertama yang dilakukan oleh pemuda berlesung itu pada dirinya, Jaesi mengulum bibirnya kasar kemudian menggelengkan kepalanya yang asli tak akan terlihat.
"Gak nangis, cuma lagi keluar air mata aja."
"Sama aja bodoh!" Omel pemuda itu lalu dibalas dengan gelak tawa dari seberang sana, hatinya merasa sudah lega dengan mendengar lelucon Darren. Apa memang seharusnya pemuda itu yang menjadi kekasihnya, "gue udah bilang kan? Yang gak percaya siapa? Emang sampis itu si Marco. Ada ceweknya malah ***** kan tilil banget!" Cerocos Darren yang menggebu-gebu mendengar langsung cerita dari arah sana. Jaeran memandangi wajah sang sahabat yang tengah bercanda dengan seseorang entahlah siapa, namun perasaannya sendiri tak begitu baik hanya untuk mengetahui apakah orang tersebut Jaesi atau bukan. Jaeran melangkah mendekat ke arah Darren, telinganya masih cukup jelas.
Jaeran bukan tak mungkin menelpon Jaesi akan tetapi bagaimana bisa menelponnya jika gadis itu saja berada dipanggilan lain, Ruhut memerhatikan gurat gelisah temannya itu. Bukan hal yang asing bagi keempatnya memakai bahasa yang non formal seperti saat ini, apalagi Ruhut bukanlah dari sekolah mereka. "Perasaan ya? Gue perhatiin loe tuh bengong mulu kenapa sih?" Jaeran mendengus dingin, gak mungkin juga dia menggunakan alasan yang sama.
"Gue gak tau sih," jeda sebelum akhirnya mengeluarkan isi hati pemuda tersebut arah pandangnya pada Darren yang masih tertawa terbahak-bahak mendengar suara gadis diseberang sana. "Gue sayang sama Jaesillya sejujurnya, tapi gue gak suka dia suka sama yang lain'. Tapi gue cuma dianggap sahabat." Ruhut berani yakin jika sebenarnya pemuda di depannya itu memiliki perasaan lebih pada sahabatnya sendiri, saat sedang menerawang bagaimana raut wajah gadis itu yang selalu tertawa bersamanya. Bayangan Cilla muncul begitu saja.
__ADS_1
"Gunanya loe punya Cillaria tuh apa kalo gak buat move on?"