Vilanian

Vilanian
20


__ADS_3

Cilla menaruh dua pilihan sama Jaeran ketika ia dihadapkan sama permasalahan yang sama saat itu Jaeran tak tau harus bagaimana dan semua terjadi dengan cepatnya pada saat itu hanya satu yang bisa ia pilih, permasalahan yang terjadi gak gampang apalagi itu mengenai Jaesi dan Cilla, kalau bisa ia tak mau kehilangan keduanya dan tetap berada di samping keduanya. "Aku gak mau jadi nomor dua lagi kamu harus bisa pilih aku atau Jaesi yang jadi prioritas kamu, semuanya ada sama kamu. Kalaupun kamu pilih aku tapi prioritasin Jaesi, aku gak yakin bisa sama kamu terus." Jaeran sungguh tidak bermaksud untuk menyakiti hati pujaan hatinya, pemuda itu mengusak rambutnya frustasi dan tak tau bagaimana cara mengatasi konflik mereka berdua.


"Kalo kamu ngerti kenapa kamu kaya sekarang? sampai kapanpun aku hanya sama kamu dan Jaesi cuma bersahabat. Gak lebih aku janji bakal selalu utamain kamu." janji yang Jaeran utarakan pasti tak benar-benar dilakukan akan tetapi cowok itu bisa memegang janjinya, hanya perlu sedikit usaha saja, tetapi Cilla gak yakin kalau mereka cuma sahabatan. Mereka berdua terus saja berdebat dan mendebatkan hal yang gak ada akhirnya seperti ini. Cilla menangkis tangan besar Jaeran lalu melengang pergi begitu saja saat setelah mendengar perdebatan mereka tadi, Jaeran benar-benar kehilang akal sehatnya pada saat menghadapi masalah kaya begini.


"Kalau kamu memang serius sama aku resmiin hubungan kita segera." putus Cilla dan pergi berjalan masuk ke dalam mobilnya sedang Jaeran termenung sama keinginan dari gadis yang bahkan sudah tal terlihat lagi wujudnya, "mau sampai kapan kamu hidup dalam bayangan Jaesi." lirih Cilla yang memandangi jendela mobil. Sebenarnya Darren agak bosan jika hari-harinya cuma diisi sama Jaeran dan Jaesi tetapi kalau dilihat dari cara pemuda itu menyapanya kelihatan sedang ada masalah sama gebetannya, laki-laki itu belum mengeluarkan sepatah katapun tetapi sahabatnya itu sudah mengeluh kisah percintaannya pada dirinya di saat menit ketiga.


"Cewek itu ribet ya," Darren masih tetap diam saja gak menanggapinya tapi saat Jaeran mengambil jus alpukat miliknya disaat itulah si cowok dimple ini memrotesnya. Sesi curhat seperti ini seharusnya sudah sering terjadi kalau mereka berduaan saja tapi ini beda situasinya Jaeran gak lagi menceritakan tentang sahabat perempuan mereka ya itu Jaesi, Cilla sekarang lebih penting dari apa pun sekarang ini. "cara bujuk gebetan gimana?" Darren tersedak air jusnya.


"Yang pertama loe harus minta maaf dulu sama gue karena udah ambil jus gue. Terus kenapa loe tanya gue bambang!! Sedang gue aja jomblo!! Gimana bisa ngasih saran bahlul." dengusan Darren hanya dibalas helaan berat sama cowok di hadapannya, Jaeran pikir akan sangat berguna kalau ia bercerita sama Darren.

__ADS_1


"Gak ada gunanya gue ke sini," dumal Jaeran yang bergegas pergi dari halaman rumah temannya itu. Darren juga gak berharap ia datang di sore hari seperti ini kaya gak ada urusan saja pemuda itu larinya ke rumahnya, Darren mengepalkan tangannya kesal lalu melengos masuk ke dalam rumah. "gue curhat ke mana ya?" gumamnya pelan.


Darren menelpon Jaesi yang baru pulang latihan tak lama maniknya mengarah pada Jaeran yang masih berdiri di halaman rumahnya pemuda itu bahkan tak menoleh sama sekali padanya sesaat Darren merasa kasian padanya karena fakir tempat curhat, pemuda dimple itu akhirnya menurunkan egonya dan memanggil Jaeran.


"Woy! Mari! Masuk dalam, biar enak nangisnya." ejek cowok itu yang diselingi dengan tawa meremehkan, Jaeran memutar bola matanya malas tapi Jaeran tetap masuk ke dalam rumah dan duduk dengan santai, "mau curhat apa?"


"Ambilin minum dulu, haus."


"Sensi banget si pak," Jaeran memulai ceritanya lalu menghela panjang disela-sela bercerita. Ia tak memgerti kenapa Cilla begitu menuntut status bagaimana jika setelah mereka resmikan hubungan mereka masalahnya semakin sulit atau bisa jadi setelah ada status keduanya malah bertengkar terus ... pemuda takut jika mereka berakhir tak cocok satu sama lain. "gue harus gimana ya? Status perlu gak si?" Darren mendengkus pelan ia menaik bahu acuh karena sejujurnya temannya tersebut gak bisa tau tentang perkara rumah tangga orang.

__ADS_1


"Perlu." Jaeran mengerutkan keningnya tak paham. "Jujurli gue gak tau," keluhnya yang selesai mendengarkan kisah dari Jaeran.


"Maksudnya?"


"Ya gue gak tau nasib loe gimana," jeda sebelum melanjutkan obrolan mereka yang sempat tertunda karena panggilan tiba-tiba dari Jaesi karena sesungguhnya tadi pemuda berdimple itu matikan panggilan tersebut. "hallo? Apaan? Huh! Di mana!?" Darren langsung melesat tak mau mendengarkan keterangan lebih rinci dari Jaeril, Jaeran menatap gerakan spontan temannya ikut kena serangan panik yang membuatnya tergesa-gesa.


"Kenapa?!" tanya pemuda dengan panik. Darren menoleh lalu mengembuskan nafasnya dramatis, kedua pemuda itu berjalan beriringan lalu saat berada di atas jok belakang motor Jaeran langsung bilang alasannya dia panik.


"Jaesi keserempet becak pas pulang dari latihan," wajah dari Jaeran mendadak gak enak dipandang sama sekali gak keliatan khawatir. "terus dia sekarang di rumah gak bisa berdiri karena bagian belakangnya keseleo." lanjutnya yang menyelesaikan penjelasannya.

__ADS_1


"Elo panik cuma karena becak!?" sahut Jaeran terkejut mendengar pengakuan dari orang di belakangnya. Darren mengerling malas sama temannya ini apa Jaeran tak pernah merasakan keserempetan becak? Kan sakit juga. "cuma masalah becak loe besar-besarin! Giliran gue lagi curhat malah loe abaikan! Pilih kasih banget." Darren gak habis pikir sama jalan pikiran dari semua teman-temannya kenapa kalau datang ke dirinya hanya untuk masalah percintaan saja, Jaesi juga kaya begitu sama saja seperti yang lain tak ada bedanya. Berbicara tentang Jaesi sudah berhari-hari gadis itu menjadi gadis yang nolep, entah kenapa juga Jaesi seperti itu biasanya ia akan lebih menghabiskan waktunya di luar dengan teman laki-laki atau bertemu Gricella dan Giska.


"Loe gak pernah diserempet becak ya? Sakit tau! Apalagi kena pedal sepedanya. Beuh!!! Luar biasa sakit." Jaesi sama sekali gak menangis padahal habis jatuh dari becak dan perlu diperhatikan lagi sang adik mendadak jadi asistennya, dengan raut kesal Jaeril memberitahu Darren dan mengambil pesan gofood kakak perempuannya itu, Jaeril agak iri jujur saja. Bagaimana enggak iri jika mama memberikannya kelonggaran dalam latihan dan membebaskannya dari sekolah yang dalam artian tak diizinkan sekolah padahal Jaeril yang sering bolos dengan alasan sakit selalu mendapat teguran.


__ADS_2