
Pada ngerasa kan kalau Jaeran jadi bucin banget?
Itu terbukti pas Jaesi liat latihannya, padahal di sana juga Cilla tapinya pemuda itu cuma senyumin gadis yang lagi nonton pertandingan sparing. Ya gak salah juga si Jaesi pada saat dia bilang mau nonton pertandingan sparing basket San sahabat. Itu emang bener adanya, namun kalau udah buat malu gadis itu jadi enggan mengakui cowok yang lagi main dilapangan itu temannya.
Hari bergulir dengan cepatnya, gadis itu berdiri dan beranjak pergi dari lapangan. Jaesi juga harus latihan untuk pekan nasional nantinya, gadis melewati tribun tanpa banyak bicara, ketika Jaeran menghampiri perempuan itu matanya membeliak kaget liat Jaesi berlalu gitu ajh. "Mau ke mana?" tanyanya, yang mendapat dengusan kesal.
"Yang latihan bukan loe doang!" Ketus gadis itu.
"Ikuttt!!!" Jaesi terus melangkah santai tanpa mempedulikan siapa yang mengikutinya dari belakang, gadis itu berhenti sebentar pada saat di depan loker sekolah. Cewek itu kembali melangkah ke dalam kelas dan berganti pakaian.
Jaeran dengan santai mau nerobos masuk ke dalam kelas, namun ketika dapat tatapan horor ia hanya tersenyum skeptis. "Maafkan," ucap pemuda itu menahan malu.
Di dalam kelas Villa menatap Jaeran yang menunggu gadis itu diluar, dengan isengnya cewek rambut sebahu itu berkata, "Jaeran bucinin loe ya? Hati-hati ya, barang kali naksir." Setelah itu ia keluar sama Firhan tanpa mengucapkan apa-apa lagi.
Jaesi tercenung lalu memungut semua bajunya yang ada di atas meja kelas. "Kok lama!" protes Jaeran merenggut.
"Suka-suka," balas, Jaesi terkekeh ringan lalu keluar dari kelas dan berjalan ke ruang latihan taibox. Pemuda itu sungguh aneh, kenapa wajahnya terlihat minta ditampol?
Padahal itu tak akan berpengaruh terhadap kesehatan hati sang gadis, itupun yang ada dipikiran Jaesi ajh. Gadis itu meringis sambil terus berjalan, tapi yang dibilang Villa itu benar juga. Jaeran duduk di bangku penonton, ia mengambil air yang lagi dipegang oleh Lio. "Ngapain?" Tanya cowok itu tanpa ekspresi. Pada Lio yang begonya malah diladenin sama cowok bongsor itu.
"Loe tanya gue? Terus gue tanya siapa? Kita—maksud gue, gue sama cees loe itu udah satu pelatihan dari kelas sepuluh." Jaeran memutar bola matanya jengah lalu menatap tajam wajah Lio.
"Bodo, Yo, bodo." Lio memandangi wajah Jaeran kesal lalu memukul kepala belakang cowok yang lebih kurus itu.
"Loe tuh pacaran sama siapa sih? Cilla apa Jaesi?" Random namun itu juga yang ada dibenak Jaeran saat ini. Pemuda itu diam dan membungkam mulutnya gitu ajh.
__ADS_1
Pemuda yang kini melangkah keluar itu menghela nafasnya mulai lelah, Jaesi yang tak berkonsentrasi pada latihannya terkena pukulan-pukulan secara bertubi-tubi. Hingga ia mendapat teguran dari sang pelatih, ia tak begitu konsentrasi saat melihat Jaeran keluar tanpa berpamitan dengannya.
Setelah latihan selesai Darren datang dengan tak santai dan membawa minuman yang biasanya ia gunakan sebagai minuman iso toniknya. "Kata si Lionel Richie tadi loe gak konsentrasi? Kenapa?" Jaesi menoleh sesaat kemudian mendengkus pelan. Ia menggeleng cepat sambil memikirkan hal yang baru ajh dirinya pikirkan.
"Tadi loe liat Jaeran keluar gak?" Alihnya, yang membuat alis Darren berkedut bingung.
"Lha? Dia tadi di sini? Gue liat sama Cilla," Jaesi diam dan tak mau membahas lagi hal ini lebih jauh. Bel istirahat kemudian berbunyi nyaring, jam ketiga akan segera dimulai dan gadis itu masih belum beres latihan karena tadi ia kurang berkonsentrasi pada latihan.
"Masuk sana," usir anak itu pada pemuda yang lagi menatapnya dengan heran. "Gue masih ada lagi satu kali. Udah dispen." Lanjut Jaesi yang kemudian mendapat anggukan kepala dari cowok yang berjalan keluar itu.
"Yang semangat! Biar pulang cepet," gadis itu tersenyum manis lalu mengancungkan jempolnya. Darren ikut tersenyum manis lalu melambaikan tangannya pada Jaesi, cowok dimple itu masih terlihat dari jendela ruangan ini.
Mungkin banyak yang mikir kalau jadi atlit sekolah itu menyenangkan hati, kadang kala iya dan kadang tidak. Jaesi tak mau kalau pahatan prestasinya itu cuma dibuat alasan jadi bolos sekolah setiap ada pertandingan.
Saat bel pulang sekolah bunyi yang dituju sama Darren adalah ruang latihan sekolah, saat masuk ke dalamnya gadis itu tengah berbincang tentang pertandingan nanti bersama pelatihnya. Cowok berdimple itu sadar bahwa sesinya selesai lebih cepat. "Nih," lempar pemuda itu yang langsung ditanggapi serius oleh gadis itu.
"Tunggu ye," Jaesi masuk ke dalam kamar mandi yang tersedia di dalamnya. Kemudian ia keluar dan pamit pulang pada pelatihnya, gadis itu terlihat bercanda saat mau pulang.
"Loe dekat sama coaching?" Jaesi mengangguk seadanya saja.
"Hm,"
"Semua anak?"
"Yoksi, semuanya dekat sama coach." Lalu keduanya berjalan ke arah parkiran. "Baek amat loe nungguin gue gak kea teman loe." Sindir, gadis itu pada oknum yang lagi menunggangi kuda besinya disamping Darren.
__ADS_1
"Ya elah," sahut, Jaeran yang merasa tersindir itu.
"Sparing partner di rumah saha?" Tanya, Jaeran yang memandang gadis itu tampak serius. Jaesi berpikir sebentar lalu ia tak yakin Jaeril mau diajak sparing bersama mengingat mereka berdua beda aliran.
"Gak tau," asalnya.
"Jaeril?"
"Dia Wushu coy! Yang ada ntar gue kena tenaga dalam berabe." Darren mengangguk lalu menyalakan mesin motornya dan melaju dengan kecepatan standar.
"Bukannya sama?" Jaesi melotot saat dengar itu hampir ajh ia menertawai kebodohan temannya itu. Yang benar ajh, masa sama sih itu lah yang ada dibenak gadis itu saat ini.
"Gila loe? Mau coba sparing? Besok gak bisa jalan asli!"
Selama perjalanan keduanya banyak bercerita tentang banyak hal. Termaksud pertandingan nanti, Jaesi gak pernah tau siapa yang bakal jadi lawannya nanti jika latihan soal menang kalah dirinya tak pernah mempermasalahkan hal itu. Dan syukurnya gadis itu selalu dapat emas kalau bertanding di manapun, itu udah lebih dari cukup baginya.
Darren tersengir saat Jaeril menatapinya aneh dan ingin mengajaknya masuk, cowok berdimple itu langsung ajh buru-buru pulang dengan alasannya yang konyol. Jaeril benar-benar merasa aneh dengan sikapnya Darren barusan, karena tak mau ambil pusing cowok itu berjalan memutari badan sang kakak yang pulang cepat.
Gadis itu melempari adiknya dengan batu kerikil yang ada di tanaman sang mama dan berlagak seperti orang dungu dengan wajah tanpa dosa. "******!" Umpat cowok yang lebih muda darinya itu lalu menyusulnya saat liat sang kakak udah melangkah masuk ke dalam rumah.
"Ngumpat terooossss!" Sungut, Jaesi bersemangat untuk cari masalah dengan adiknya itu.
Jaeril mendelik tajam kearahnya kemudian mendorong tubuh sang kakak dengan kasar akan tetapi itu hanya sesaat ajh. Setelah beberapa menit kemudian keduanya duduk diam disatu meja makan yang sama. "Ngumpat? Emang gue bocah! Loe tuh hujat gue terus, gak nyadar amat sama badan." Balas, Jaeril tak mau kalah. Gadis itu menimpuk pemuda yang ada dihadapannya itu dengan garpu, sang adik yang tak mau mengalah turut membalasnya dengan toyoran-toyoran menyebalkan.
Jadilah mereka berdua berantem sama tak ada yang mau mengalah satu sama lain. Hingga malam menjelang dan sang mama tak menegur hal itu sadar gak sadar si mamanya juga capek ngadepin mereka.
__ADS_1