Vilanian

Vilanian
8


__ADS_3

Rumor kabar tentang putusnya Marco dan Jaesi melebar ke mana-mana, kabar itu terdengar sampai ke telinga Marco sendiri. Vita yang menyebar fakta itu bahkan tak tau jika Marco dan Jaesi masih berhubungan dengan baik. Gadis yang selalu mengikuti Marco ke manapun cowok itu pergi, tersenyum bahagia. Ya, Vanila adalah cewek yang selalu mendekati Marco dengan alasan yang masuk akal. Atau membawa-bawa nama Marissa adiknya.


Giska berlari dengan terburu-buru untuk menanyakan kabar itu. Jaesi sendiri tak begitu yakin, pasalnya dirinya tengah membicarakan tentang tournament bareng Lionel. "Atur ajh gimana enaknya," sahut, Jaesi selanjutnya. Giska menepuk pundaknya lalu mengatur nafasnya yang tersengal.


"Gis—"


"Bentar, napas dulu." Sela, cewek berambut panjang itu kemudian menatapnya lekat. "Loe putus ya sama Marco?" Tanya, gadis yang tengah berdiri itu dengan serius.


Saat hendak menjawab pertanyaan tersebut, tiba-tiba Fero datang membodong pertanyaan yang sama dengan Giska. "Apaan sih, kagalah! Yang benar ajh!" Seru, Jaesi tak terima.


Apakah ini mendadak? Tentu saja tidak mendadak, karena itu telah direncanakan dengan amat mulus sama si pemuda bermarga Simoncelli tersebut.


"Tapi Marco ngeiyain itu," Fero mengangguk sambil bersandar pada bahu Giska. Jaesi membisu diam dan langsung melangkah menuju kantin sekolah. Untuk meminta penjelasan atas berita yang baru saja tersebar di seluruh sekolah.


Ruth dan Gricella melihat Jaesi lewat tak mau ketinggalan berita, keduanya mengikuti gadis itu dari belakang lalu menghentikan langkahnya saat Darren menghadang mereka. Pemuda berdimple itu mendorong kedua bahu teman sekelasnya itu menjauhi area kantin. Saat Jaesi sampai kantin manik matanya menatap Marco yang baru saja menembak pacar barunya yaitu Vanila. "MARCO!!" Teriaknya, marah dan langsung melayangkan tamparannya ke wajah pemuda putih itu.


"Jaesi kamu apa-apaan sih?!" Balas, Marco tak terima.


"Kamu yang apa-apaan!" Jaesi membuang muka kesal, ia terasa sesak saat menatap wajah gadis yang masih berada dibawahnya tersebut. "Kamu-!" Gadis itu tak sanggup berkata-kata lagi. "Kamu tega! Kamu masih punya aku?!! Terus kamu jedor dia!" Tunjuk Jaesi pada Vanila, "Wow! Marco Simoncelli! AKU PUNYA SALAH APA HUH?!!" jerit, Jaesi yang mulai muak dengan tingkah Marco. Cowok bermata sipit itu tersenyum bengis lalu memejamkan matanya sejenak. Kemudian ia kembali menatap wajah gadis yang berdiri tepat dihadapannya.


"Kamu tanya aku, kamu salah apa? Tanya sama diri kamu!! HARUSNYA AKU YANG TANYA KAYA GITU?!! IYA!! AKU SUKA VANILA! IYA! AKU LEBIH SAYANG SAMA DIA DARI PADA KAMU PUAS?!!" Jaesi tersentak lalu memundurkan langkahnya, bahunya melemas lalu menggeleng tak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Kenapa?" Air matanya meluruh jatuh seraya beriringan dengan turunnya nafas gadis itu. "Kenapa?! Kamu minta aku pertahankan posisi aku—posisi hubungan kita!!" Pekik, Jaesi tak tahan lagi.

__ADS_1


"Simple," Marco menggenggam tangan Vanila lalu menatapnya sejenak. "Aku gak mau kamu sama dia!" Tegas Marco yang mengeraskan rahangnya. Gadis itu meremas ujung roknya lalu berbalik pergi meninggalkan mereka berdua yang menatapnya pergi.


Jaesi berlari menuju ke rooftop. Yang dirinya perlukan saat ini adalah ketenangan jiwa, sungguh gadis itu masih belum bisa menerima kenyataan bahwa perkataan teman-temannya itu benar adanya. Fakta bahwa Marco selingkuh itu terpampang jelas di depan matanya namun itu tak membuatnya sadar.


"Kamu jahat, Ko. Aku pikir selama ini kita baik, ternyata penglihatanku yang bermasalah. Kenapa aku gak pernah percaya dengan mereka," gumam, gadis itu yang terjatuh duduk sembari menumpahkan kekesalannya pada pemuda sipit itu.


Sechan merasa terganggu dengan kehadiran gadis itu dan dengan santainya ia melangkah tanpa mempedulikan si gadis yang sedang menangis tersedu-sedu. Saat turun kebawah cowok asli Thailand itu berpapasan dengan Jaeran yang kebetulan sedang lewat. "Nyari Jaesi kan?" Tebak Sechan tanpa basa-basi. Jaeran mengernyit heran lalu menggeleng cepat sambil menyusul Cilla yang ada di depan tangga.


"Gak," sahut, Jaeran cuek.


Jaesi menekan tombol nomor pada handphonenya, lalu menghubungi nomor Jaeril. Saat sambungannya terhubung dengan adiknya. Gadis itu tak bersuara hanya menunjukkan Isak tangisnya, Jaeril yang merasa cemas memintanya agar terhubung dengan video call. Namun gadis itu menolaknya.


Vilanian


"Lha si bazeng, Jaesi kaga ngajak-ngajak bolosnya." Umpat Darren yang melihat kiriman foto dari gadis itu. Dengan kesal Darren membalas pesan cewek itu, lalu meletakkan handphonenya dengan menyentaknya.


Darren mengetik balasan dengan cepat lalu berlari ke arah atap sekolahan mereka tercinta. Karena pesan yang gadis itu kirim terakhir sebelum last seennya mati, sedang memegang satu batang rokok dan korek api. Pemuda berdimple itu tentu saja tau, Jaesi tak pernah menyentuh rokok jenis apapun karena dilarang oleh pelatihnya. Darren berlari dengang cepat, sampai depan kelas mipa lima dia mengambil minuman yang lagi dipegang sama Jantho kemudian ia minum sambil berlarian.


Brakk!


Suara pintu dibanting dari luar. Darren melotot ketika ia liat Jaesi hampir menyesap rokok tersebut, dengan cepat ia langsung menangkis barang haram itu dan membuat gadis itu menoleh kemudian melengos malas. "Ngapain sih," lirihnya, dingin.


"Loe yang ngapain?!" Bentak, Darren. Cowok itu menginjak-injak rokok tersebut dan menatapnya sendu. "... Jangan gila hanya karena Marco, loe— bahkan gak sampai satu detik gue liat Marco ketawa-ketiwi sama cewek lain, terus loe di sini nangis-nangis kaya orang stress!" Darren mengusak rambutnya kasar lalu menunjukkan ekspresi bahagia Marco bersama perempuan barunya.

__ADS_1


"Dar, please gue gak mau bahas itu dulu." Seru, Jaesi kesal pada cowok dihadapannya.


Pemuda dimple itu, menatap wajah Jaesi dalam kemudian melangkah menjauh dari gadis itu. "Terserah," ujar, Darren acuh dan bersikap abai pada perempuan yang kembali meneteskan air matanya lagi.


Matanya terlihat sangat bengkak karena terlalu sering menangis, Jaesi melangkahkan kakinya ke arah kamar mandi sekolah dan mencuci mukanya yang sangat bengep karena menangis. Ketika keluar dari kamar mandi, gadis itu tak sengaja menabrak Jaeran yang melengang begitu saja. Jaesi menunduk murung, dan tak berjalan me arah kelas namun ke arah uks.


Jaesi meminta Darren agar cowok itu bilang ke guru mata pelajaran terakhir, dirinya sakit. Namun cowok itu hanya membaca pesannya saja, tak berniat membalasnya. Gadis itu mendengus kecil, lalu merebahkan tubuhnya sesampainya gadis itu di uks.


Vilanian


Jam menunjukkan sudah pukul satu siang, bel sekolah berbunyi dan gadis itu ketiduran diuks. Darren melempar tasnya tak santai hingga mengganggunya tidur, pemuda itu duduk dikursi yang ada disebelahnya. Baru saja sampai namun Darren membawa Berita duka untuknya, berita tentang jadiannya Jaeran dan Cilla. "Bagus banget hari ini dua berita duka buat loe." Sungut, Darren yang menatapnya iba.


"Berita apalagi?"


"Jaeran jadian sama gebetannya," Jaesi mendengus lelah dan menerawang ke atas. Cewek itu sudah tak bisa mengeluarkan air matanya lagi. Karena hari ini terlalu banyak air mata, dan kesedihan.


"Maksud loe Cilla?" Darren mengangguk kecil. "... Cocok kok mereka," dengus Jaesi yang terlihat ngawang.


Gadis itu turun dari brankar uks. Jaesi melangkahkan kakinya gontai dan menatap seisi sekolah yang mulai sepi, Darren ternyata gak benar-benar meninggalkannya di dalam uks. "Lho, masih di sini?" Tanya, gadis itu heran.


"Ha? Hm," Darren mengangguk kecil lalu melangkah santai ke gerbang sekolah.


Jaesi mencari Jaeran yang tak pernah menengokinya dari tadi, gadis itu mendengus ketika ingat kalau temannya satu itu telah memiliki kekasih. "Loe ..." Gadis itu menggantungkan kalimatnya, "sendirikan?" Pemuda dimple itu mendengus kecil lalu mengajaknya bareng.

__ADS_1


"Ho!" Sungut, Darren kesal. Gadis itu tersenyum semuringah lalu menaiki motor cowok itu dengan riang, berhubung hari ini adiknya ada latihan jadi terpaksa Jaesi pulang sendiri.


__ADS_2