
Jaesi melempar tasnya ke sembarangan arah lalu menarik rambutnya karena pusing hari pertama try out malah dikasih matematika tapi yang dipelajari buku kimia, gadis itu hampir aja botak kalau gak ingat sayang sama rambutnya. gadis itu air lebih memilih makan karena perutnya udah bunyi dan lapar sehabis mengerjakan soal-soal yang membuatnya pusing tujuh keliling tetapi nggak berselang lama otaknya kembali dibuat mikir oleh tingkah laku adiknya yang super duper nyebelin disebabkan orang tuanya baru saja pergi melakukan perjalanan bisnis ke amerika jadinya mereka hanya tinggal berdua seperti biasa papa dan mama pasti selalu melakukan hal itu tiap anaknya sedang melaksanakan hari-hari berat tetapi papa sama mama pasti selalu mendukung dari tempat mereka berada. contohnya kayak mengirimkan buku-buku yang berisi jawaban jawaban mudah untuk dipelajari oleh anak-anaknya serta buku-buku yang dapat dimengerti oleh anak-anak jaman sekarang.
Gadis itu selalu mengeluh pusing dan pusing karena ia takut kalau semua jawaban yang tadi dikerjakan nggak ada di buku kadang-kadang gurunya kalau ngasih soal suka nggak mikir jawabannya nggak ada di buku dan malah ada di internet dan itu nggak bisa membuatnya berpikir jernih kalau lagi ulangan atau ujian seperti ini. siang itu sang gadis mencocok jawabannya bersama teman satu ruangannya ya itu Darren, "gue mau jujur boleh gak sih?"
"GAK!! GAK BOLEH!! GUE TAU APA YANG MAU LOE BILANG!!" pemuda itu terlihat sangat kesal karena sudah bisa menebak apa yang bakal diucapkan oleh sahabat perempuan itu bahkan ia juga berpikir kalau temennya itu mulai bosan dan mau cepet-cepet menjauh darinya bukan hanya dari anak tetangganya.
"Yaelah, beloman gue ngomong."
"Gak usah, gak perlu udah ketebak." Jaeril melangkahkan kakinya kesal seperti sedang marah pada sesuatu tapi gak tau apa. sebagai seorang kakak, perempuan itu hanya bisa menatapi adiknya bingung dan berjalan mendekatinya namun betapa terkejutnya gadis ini ketika Jaeril berteriak pada seseorang ditelpon, padahal seharusnya gak usah sampai sebegitunya gadis itu mengurungkan niatnya untuk menegur dan mengajaknya turun ke bawah lalu ia lebih memilih buat ke taman belakang seraya membawa buku bukunya juga.
Jaesi agak gelisah namun gak segelisah tadi tetapi ia masih bisa mengontrol dirinya agar gak terlalu khawatir, gadis itu banyak melamun satu mengoreksi soal lalu sampai tidak sadar kalau anak tetangganya itu sudah berada di halaman depan rumahnya padahal ia nggak berniat buat mengajak cowok itu mengerjakan soal bareng tetapi sepertinya cowok tersebut ingin memiliki niat mengajaknya berbaikan. bukannya berbaikan Jaeran malah membuat kesalahpahaman semakin melebar dan tambah kacau, Jaesi harus mengendalikan emosinya karena Jaeran terus saja membuat konsentrasinya pecah sebagai sahabat Darren gak mau pertengkaran mereka berlanjut.
"Loe sayang gak sih sama gue?!!" bentak Jaeran yang mengusap wajahnya kasar lalu bergerak gusar.
"Ya."
"Terus kenapa loe selalu nyari masalah sama gue?!"
"Bukan gue!! loe sendiri yang melakukan itu!! udahlah mending pulang sana!!?" usir Jaesi yang sudah muak sama seluruh aktivitasnya. gadis itu juga menyuruh cowok bereyes smile di sampingnya pulang juga sama seperti anak tetangganya tetapi laki-laki bermarga Smith itu nggak mau melangkahkan kakinya keluar dari halaman rumah gadis tersebut dan itu semakin membuat sang pemilik rumah merasa kesal dan pertengkaran mereka pun akhirnya semakin panjang.
gadis itu hampir saja menangis di depan anak tetangganya itu lalu iya cepat cepat menghapus sisa jejak air matanya dan melangkahkan kakinya ke dalam rumah hingga sampai detik berikutnya tangannya di tahun lalu pelukan itu mengguncang batinnya sampai-sampai ia nggak mau melepaskannya sesungguhnya ia sudah memaafkan sahabat kecilnya itu tetapi kalau saja cowok itu mudah mempercayainya seperti dia mempercayai pacarnya itu pasti semua nggak akan seperti ini.
"Gue cuma mau minta maaf doang."
__ADS_1
"Gue selalu maafin elo, tapi tolong kali ini aja. loe harus percaya kalo Cilla gak sebaik yang loe pikir."
"Njaes, gue mohon kita baru aja baikan."
"Jadi loe lebih memilih Cilla daripada gue?" Jaeran membungkam seraya menatap temen masa kecilnya itu dengan tatapan yang sendu bahkan ia nggak berpikir kalau mereka akan berantem hanya karena satu masalah saja. malamnya gadis itu kembali melanjutkan pelajarannya dan mengulang soal yang sudah dibahas ketika ada di dalam kelas saat guru mata pelajarannya menjelaskan saat ini gak di situ sedang mempelajari pelajaran fisika.
Luas. (L) \= (p) panjang x (l) lebar. \= (m2) ...Volume. (V) \= (p) panjang x (l) lebar x (t) tinggi. \= (m3) ...Percepatan (a) (a) \= (v) kecepatan / (t) waktu. \= m (s-2) ...Massa Jenis (p) (ρ) \= massa (m) / volume (v) \= kg (m-3) ...Gaya (F) (F) \= massa (m) x percepatan (a) \= Newton (N)
Rumus Gaya Berat:
w \= m.g
Keterangan:
m \= masa benda (kg).
g \= gravitasi bumi (m/s2).
Rumus Gaya Normal
N \= N
Keterangan:
__ADS_1
N \= gaya normal.
Rumus Gaya Gesek:
Fg \= u.n
Keterangan:
Fg \= gaya gesek (N).
u \= koefisien gesekan.
N \= gaya normal (N).
Rumus Gaya Sentripetal:
fsp \= mv2/r
Keterangan:
Besar gaya sentripetal sebanding dengan kuadrat kecepatan objek (v) dan berbanding terbalik dengan jari-jari lintasan (r).
Gadis itu hampir saja berteriak karena nggak sanggup sama rumus-rumus fisika belum menghadapi rumus gaya iya sudah dihadapkan dengan rumus-rumus lain bahkan itu lebih jauh lebih sulit daripada menjawab soal matematika. gadis itu berpikir ulang untuk mengambil jurusan ketika memilih perkuliahan nanti tetapi iya nggak mau salah ambil jurusan saat waktunya sudah di babakan kalau perlu ia harus mengambil yang membuatnya nyaman dia enggan buat memilih masuk ke fakultas kedokteran walaupun otaknya mampu. "kak makan!" teriak Jaeril yang memanggilnya untuk makan. bahkan saat gadis itu gak berselera makan karena terlalu dipusingin sama pelajaran ia sudah berpikir selama seharian ini untuk enggak mengisi perutnya saat sedang belajar tetapi belum apa-apa perutnya sudah protes duluan karena sesiangan ini ia nggak makan sama sekali.
__ADS_1
"Bentar!" balas gadis itu. Jaeril gak akan mau berhenti teriak sebelum dirinya turun jadi menghindari berisiknya suara bass sang adik maka Jaesi putuskan untuk turun dan makan, gadis itu melihat bahwa adiknya sudah selesai makan tanpa mau menunggunya turun. dengan wajah tanpa merasa salah laki-laki yang berjalan meninggalkannya di depan meja makan itu hanya bisa memainkan ponsel seraya menatap kakaknya dengan tatapan meledek. bahkan gadis itu sampai berpikir kalau adiknya bener-bener menunggunya untuk selesai belajar namun nyatanya dugaannya salah laki-laki itu sama sekali nggak mau menunggu dirinya.