Vilanian

Vilanian
7


__ADS_3

Pagi itu Jaesi terlihat sudah siap berangkat ke sekolah, gadis itu tengah menunggu adiknya yang masih bersiap di dalam kamarnya. Jaesi mengetikan pesan pada Marco, dan fyi gadis itu dan Marco— pacarnya — sudah berbaikan kemarin malam. Jaeril turun ke bawah dan menghampiri kakaknya yang lagi makan kripik kaca, pemuda itu mengambil satu dari tangan kakaknya kemudian melengos pergi memanaskan mesin.


Jaeril menatap kakaknya yang lagi serius membalas pesan Marco. "Kak liat dah," tunjuk Jaeril memberitahu sesuatu disosial medianya. Gadis itu menoleh pada layar handphone adiknya kemudian mengernyit heran.


"Siapa itu?"


Jaeril mengendikan bahu acuh. "Kata Julian itu elo, tapi kembarannya bilang itu member gurlband. Loe tau Juliana kan? Nah yang itu, tapi abangnya yakinnya itu elo."


"Gublu," Jaesi terkekeh geli dengan perkataan temannya Jaeril. "Juliana yang loe taksir itu kan?"


"Si tablo, bukanlah. Najisin amath naksir cewek barbar kea jea." Ujar, Jaeril yang mengeluarkan motornya dari garasi rumahnya.


Vilanian


Jaeran bermain sama Gizon yang lagi ngawasin adik kelas incarannya itu, saat melihat Cilla lewat namun tak menegurnya. Pemuda itu melemparkan bola pada Gizon dan pergi menghampiri cewek itu, Cilla yang tau kehadiran Jaeran mengabaikannya. "Semalam kenapa gak aktif?" Jaeran menatap perempuan yang jalan beriringan dengannya menuju kelas.


"Ketiduran," jawabnya, agak ketus. Jaeran menghentikan langkahnya yang membuat Cilla ikut terhenti juga.


"Kenapa? Marah? Kali ini apa masalahnya?" Cilla menolehkan kepalanya sempurna dan menatap mata pemuda itu kemudian mendengus dingin.


Cilla menunjukkan pesan kemarin sore dan memberikan handphonenya pada cowok itu. Cowok itu terkejut lalu memandang wajah Cilla yang hendak pergi. "Aku bisa jelasin, itu gak seperti apa yang kamu liat." Jaeran mengusap wajahnya kasar.


"Kalo kamu emang gak ada apa-apa kenapa sampe detik ini kita belum pacaran? Aku tau kamu itu punya perasaan lebih sama Jaesi kan? Jujur ajh kalo aku tau dari awal kamu punya perasaan itu, aku gak bakal berharap kaya gini." Jelas, Cilla yang melengang pergi namun ditahan oleh pemuda itu.

__ADS_1


"Cilla–" ucapannya terhenti saat melihat teman perempuannya itu sedang berjalan bersama cowok lain yang notabenenya adalah pacarnya sendiri. Cilla yang melihat itu berdecak kesal dan meninggalkan pemuda itu tak lupa mengambil kembali handphonenya.


Handphonenya berbunyi lalu cowok itu membuka pesan dari cewek yang baru saja pergi dari hadapannya. Ucapan Cilla sangat menohok hatinya kala itu, dan pemuda itu rasa gadis ini ada benarnya.


Cilla 😍


Kamu bahkan liat btpa bahagianya Jaesi sama Marco kan? Jangan jadiin perasaan aku pelampiasan sekalipun kamu tau apa yang sebenarnya terjadi


Read


Jaeran memukul dinding yang ada di dekatnya lalu pergi meninggalkan koridor gitu ajh. Langkahnya malas memasuki kelas namun ia tak bisa melewati jam pelajaran pertama. "Sampe sekarang juga kamu tau Cill. Itu gak mudah buat aku, dan gak akan tau perasaan cowok kaya gimana." Gumam, Jaeran yang menatap lapangan kosong.


Vilanian


Dalam kelas semua tampak ramai. Jaesi yang lagi nyatet pr terhenyak saat melihat Jaeran yang tiba-tiba bersandar di bahunya. Pemuda itu terlihat lemas dan banyak pikiran, "kenapa?" Tanya, Jaesi tak menolehkan kepalanya. Cowok itu tak menjawab itu, Jaeran memeluk tubuh gadis itu dan mencoba memahami perasaannya sendiri. Jaeran memeluknya erat dan membuat gadis di depannya tersentak kaget.


Jaeran mengeraskan rahangnya. Jaesi diam saja dan tidak mau berkomentar banyak, yang ia tau saat ini adalah pria yang tengah memeluknya itu sedang galau berat. Gadis itu mengusap lembut punggung Jaeran seakan beri ketenangan buat pemuda itu. Darren yang melihat hal, cuma mengulas senyum tipis lalu mengembuskan nafasnya panjang.


Darren sangat tau perasaan kedua orang itu, Jaesi dan Jaeran sebenarnya saling menyukai namun keduanya tak mau memikirkan perasaan masing-masing. Apalagi keduanya sudah memiliki kekasih, Darren bermain game diluar kelas. Matanya tak sengaja' melihat Marco sedang bersama gadis yang sama, pemuda berdimple itu menghampiri cowok sipit itu dan memukulnya.


Marco terkejut dengan pukulan tersebut. "Loe kenapa sih?!" Bentak, Marco yang tak terima.


"Loe yang kenapa! Jaesi kurang apa? Sampe loe tega selingkuh kaya gini!" Teriak, Darren tak kalah marah.

__ADS_1


Marco tertawa remeh pada Darren. Pemuda berdimple itu mengepalkan tangannya kuat. Ia memberi peringatan kepada cowok bermata sipit itu kemudian melengang pergi meninggalkannya begitu saja.


Darren balik ke dalam kelas. Mendadak dirinya menyesal masuk ke kelas karena melihat tingkah bucin kedua temannya itu yang luar biasa menjijikkan. Pemuda itu menggebrak meja dan membuat keduanya terkejut akan hal itu. "Hayo!" Gebrak cowok itu yang langsung duduk. "Modus loe ya?" Godanya yang seketika buat Jaesi salting.


"Modus apaan!"


"Dari mana loe?" Jaeran mengalih perhatian agar tak membahasnya lagi. Pemuda itu menatap wajah Darren yang terlihat kesal pada satu orang.


"Dari mana ajh, asal gak ngenes."


"Emang loe ngenes," celetuk gadis itu yang masih sibuk sama pr. Saat jam pelajaran ketiga gurunya tak hadir karena ada acara lain.


Setelah selesai dengan pr, Giska teman sekelasnya mengajak Jaesi pergi ke kantin sekolah dan menaruh pulpennya sembarangan. "Jangan taro sembarangan nanti ilang!" Tegur Gizon yang gak mau dapat aduan kehilangan pulpen lagi. "Abis dari kantin masuk kelas lagi nanti kena sama Bu Dian." Lanjutnya yang gak memandang wajah kedua temannya itu.


"Bu Dian ini," enteng Safir yang langsung mendapat geplakan dari Miko.


Sebenarnya tak jarang tingkah mesra Jaesi dan Jaeran menjadi perhatian anak-anak dikelas, karena sering kali mereka mengatakan bahwa mereka berteman namun itu sangat menggangu pikiran anak kelas. Kata berteman mereka bukan kata berteman biasa-biasa saja, namun mengandung arti lain.


"Si Jaesi kok jarang sama Marco lagi ya? Apa mereka sutup?" Ujar, Vita yang mulai bergosip bersama Dwi.


"Sutup gimana? Tadi gue liat dia sama Marco dikaridor." Sahut, Dwi yang masih sibuk sama make up. Vita mendengus kesal lalu berjalan keluar dan merasa Dwi tak percaya dengan perkataannya itu, akhirnya ia memutuskan untuk keluar kelas.


Dwi menghampiri Jaesi yang lagi bersenda gurau dengan Darren, Jaeran—pemuda itu menatap Dwi dengan wajah yang gak enak. "Loe putus sama Marco ya?" Tanya, Dwi yang tiba-tiba langsung to the point.

__ADS_1


Jaesi menoleh lalu terkejut dengan apa yang di dengarnya itu, gadis itu mengernyit heran Jaesi menggeleng kepalanya sambil menatap wajah itu tak suka. "Apaan sih loe!" Sahutnya, kesal.


Mengingat Vita adalah biang gosip jadi cewek itu hanya memastikan bahwa berita itu benar adanya. Namun sepertinya itu hanya bualan Vita saja agar gosipnya menjadi nyata, Dwi berjalan menjauh lalu meminta maaf kepada gadis yang lagi merenggut kesal itu.


__ADS_2