
Kedua pasang mata itu saling bertatapan lalu mereka berdua saling memberi isyarat tanpa mengucapkan satupun kata tetapi gadis itu tahu apa yang akan ditanyakan oleh si pemuda makanya si cewek sudah menyiapkan satu jawaban untuk satu pertanyaan lantas ia enggak tahu kalau pertanyaan itu merupakan pertanyaan yang menjebaknya, sudah hampir dua jam mereka gak saling berbicara apa lagi mengobrol hanya untuk memecahkan keheningan. Jaesi beranjak lalu lengannya ditahan begitu saja ketika iya mau pergi dari sana saat itu si cowok agak gak ikhlas menerima keputusan dari cewek yang menepis tangannya itu.
Jaesi sendiri nggak tahu kalau sahabat kecilnya itu sudah mengetahui tentang kepergian nya namun bukannya mengurungkan niat malah gadis itu semakin memperkuat tekad nya untuk pergi, "apa loe gak bisa buat tetap stay?" ujar lelaki itu pelan.
"Loe berharap apa si? nenek gue gak ada?" pemuda itu menggelengkan kepalanya nggak bermaksud untuk berkata demikian tetapi sejujurnya pemuda itu bener-bener nggak rela kalau seandainya ia menjalani hari-hari nya tanpa sosok cewek yang ada di depannya, bahkan laki-laki itu nggak berani membayangkan bagaimana hambarnya kehidupan si cowok tanpa adanya Jaesi.
"Gue minta maaf kalo kata-kata gue menyinggung loe. gue cuma gak mau sendirian." Jaeran berkata yang sejujurnya hingga membuat Jaesi menghela panjang lalu tergelak renyah, gadis itu mengusap kepala teman laki-lakinya lalu tersenyum tipis sembari mengangguk-angguk mengerti akan ke khawatiran si Jaeran. gadis itu benar-benar memberikannya penjelasan yang singkat namun dapat dimengerti akan tetapi rasa yang menggelora di dalam tubuh cowok itu membuatnya seakan nggak mau mengerti dan memilih untuk menjadi pemuda yang egois ... Jaesi lama-lama kesal sama sifat gak mau ngalah dari Jaeran. "seenggaknya loe perginya pas kenaikan kelas aja," mohon Jaeran yang memandang lurus gadis itu.
"Main badminton aja kuy!" cewek itu mengalihkan topik yang lagi membuat suasana enggak karuan tetapi cowok yang ia tinggal itu tetap saja memaksanya untuk gak pergi kemanapun selain ke sekolah bersamanya, "Njae circle gue gak berhenti di elo doang." Jaeran terdiam gak percaya sama pernyataan sahabat perempuannya lalu melengang pergi dari sana.
"Jaeran!"
"Hm."
__ADS_1
"Mau loe apa?"
"Gak pergi ke Paris." Jaesi mengusak rambutnya frustrasi lalu mengiyakan keinginan si cowok agar gak semakin berulah, kurang sayang apa gadis itu sampai-sampai dirinya mengorbankan kepergian nya hanya karena si pemuda nggak marah-marah kepadanya lalu membencinya. "BENER!!" ujar cowok itu senang dan kemudian memeluk tubuh ramping Jaesi karena terlalu bahagia.
"Puas, kan?" tanya gadis itu agak kesal tetapi terselip rasa senang karena melihat tawa terukir diwajah cowok tersebut, Jaesi gak tau apa yang akan terjadi nantinya jika dia benar-benar meninggalkan jakarta tanpa harus membawa sahabat laki-lakinya ikut serta. bahkan jika kebencian yang nantinya menumpuk di dalam hatinya membuat si gadis terpaksa meninggalkan indonesia iya rela kalau harus meninggalkan cowok itu dalam keadaan bahagia bersama yang lain.
"Banget! makasih Njaes!"
"Ke Pakislah hayuk!" ajak Jaeran yang bergegas mengambil motornya dan membiarkan gadis itu menunggu di sana kali ini rencananya gak boleh gagal karena masalah kecil atau masalah yang Jaeran timbulkan, cowok itu meninggalkan ponselnya di dalam kamarnya dengan sengaja agar gak ada gangguan nanti selama berada di sana. "gimana udah siap, kan?" tanya si pemuda yang sudah sampai di depan parkiran taman.
"Pastinya." ini pertama kalinya gadis itu diajak ke tempat yang jauh menggunakan motor padahal sebelumnya yang gak pernah sama sekali diajak ke tempat yang lumayan jauh dari rumah karena itu pengalaman pertamanya gadis itu agar sedikit gemetar namun seiring perjalanan ia mulai rileks dan menikmati angin yang menerpa wajahnya. sesampainya mereka di pantai pandangan gadis itu tertuju pada satu titik ya itu pemandangan sunset yang baru saja iya lihat gak tahu kenapa laki-laki yang ada di sampingnya itu sengaja mengulur waktu agar dapat melihat pemandangan ini. "indah banget!" seru gadis itu yang tampak takjub.
Manik mata lelaki itu terarah pada satu gadis aja yaitu sosok yang lagi di sampingnya, "hm, indah banget." puji lelaki itu yang langsung berlari saat menyiprati Jaesi dengan air laut, keduanya bermain hingga gak sadar hari sudah mulai malam. Jaesi senang bisa menghabiskan waktu bersama seperti ini dan Jaeran tetap berada di samping gadis itu, minum kelapa berdua. sampai-sampai hujan tiba-tiba turun dan membuat mereka terpaksa harus memesan kamar di sesuatu hotel tetapi karena kamera semua fullbook jadi keduanya hanya memesan satu kamar saja.
__ADS_1
"Hn, gue ninggalin hape di rumah. loe telpon Jaeril aja biar bisa jemput loe sampe hujan reda." gadis itu mengangguk lalu menelpon adiknya dan meminta jemput namanya sayangnya sang adik sedang berada di perkemahan jadi tidak bisa menjemputnya, "gimana?" tanya pemuda tersebut.
"Jaeril gak bisa datang, dia lagi ada camp."
"Gue tidur di sofa dan loe di kasur. gue cowok gak mungkin biarin elo buat tidur di sofa." agak canggung karena keduanya gak pernah satu kamar berdua kaya begini, hey! meski kedua bertetangga dan memiliki kedekatan tapi itu masih dalam batas normal. Jaeran pergi mandi lebih dulu lalu setelah selesai sang pemuda langsung keluar dan bergegas membeli keperluan Jaesi, bahkan laki-laki itu setiap detailnya si cewek. Jaeran tetap lelaki normal yang memiliki banyak kekurangan saat masuk ke dalam kamar waktunya gak tepat, dirinya berbalik badan langsung meminta sahabatnya masuk ke dalam kamar mandi lagi.
"Loe udah datang?! kenapa gak ketuk dulu!!" pekik gadis itu yang langsung buru-buru masuk lagi, setelah selesai mengganti pakaian keduanya langsung buru-buru tidur agar gak terlanjur malu.
"Maaf gue pikir elo di dalam kamar mandi." lampu tidur dimatikan namun tanpa Jaeran sadari dirinya gak tidur di sofa dan malah tidur di sebelah gadis itu dengan tangan yang meraba bebas, Jaesi agak terkejut namun dirinya masih bisa menahannya untuk gak menegur lelaki di belakangnya.
"Hm." sahut Jaesi yang tidur membelakanginya, cowok yang ada di sofa itu menghela pelan. pagi itu gadis yang ada di dalam kamar mandi dalam keadaan menangis itu benar-benar telah rusak semalam adalah hari yang paling ia benci seumur hidupnya, Jaesi selama ini percaya bahwa persahabatan murni bisa dilakukan tanpa rasa suka namun nyatanya ia salah.
Jaesi mengutuk dirinya malam itu ia sudah berusaha menolak namun entah ada apa dengan Jaeran yang sama sekali gak sadar atas perlakuan tersebut, "Jaesi," panggil lelaki itu tampak seperti gak mengerti letak kesalahannya. gadis itu masih gak menjawab sama sekali lalu memintanya untuk pergi dengan suara paraunya.
__ADS_1